
"Maaf Bi, aku belum bisa kesana. Aku sedang ada urusan penting. Tapi tenang saja aku akan mengutus asisten ku untuk memeriksa Ayura."
"Baiklah! Tapi aku maunya perempuan." Walaupun sedikit tak terima Dani takkan datang memeriksa kondisi Ayura, tapi dia juga tidak bisa memaksa. Pikirnya Dani memang pasti ada urusan penting hingga dia menolak datang. Karena sepengetahuan Abi, pria itu sangat profesional saat bekerja dan tidak pernah mangkir dari tugasnya.
"Iya Bi."
Saat panggilan berakhir, Abi lalu melangkah kedapur meminta Bik Sumi untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Ayura dan diantarkan kekamar.
Saat kembali kekamar, Abi langsung terpaku melihat Ayura yang berdiri didepan kamar mandi, sepertinya gadis itu baru keluar dan dia pun mungkin terkejut dengan kedatangan Abi, hingga ikut mematung didepan kamar mandi.
Gadis itu terlihat sangat gugup, berdiri tidak tenang dengan menarik narik ujung baju yang terlalu pendek hingga menampilkan paha mulusnya.
Abi sendiri menelan salivanya dengan berat, melihat penampilan Ayura yang begitu menggoda denga kamija merah maron yang berpadu dengan kulit putih mulus Ayura hingga gadis itu terlihat sangat seksi dan ahhh.. Otak Abi jadi blank.
"Kamu sudah habis mandi.?" Tanya Abi memecah kesunyian
Ayura hanya menganguk dalam tundukkan.
Abi diam sebentar, tak tahu harus ngomong apa lagi, otak nya masih nge blank. Sampai Bik Sumi masuk dan mengantar sarapan untuk mereka.
"Den.. Sarapannya. "Ujar perempuan senja itu.
Abi lalu mengarahkan Bik sum, memintanya meletakn diatas meja. "Makasih Bik. Maaf merepotkan."Tutur Abi sopan. Dan ini yang sangat disukai oleh semuah art dikediaman utama atas kesopanan Tuan mudanya.
Beda dengan Krishna, walaupun dia juga sopan dan baik, tapi bila ada art yang berbuat salah dia tidak segan segan marah dan membentak mereka.
Bik Sumi sudah keluar. Meninggalakn Ayura yang masih mematung didepan kamar mandi, hingga suara Abi mengagetkannya.
"Mari Ay, kita sarapan dulu." Ajakan Abi tak membuat gadis itu bergeser dari tempatnya. Abi menghela nafas pelan. Berjalan menghampiri Ayura, menarik tangan Ayura membuat gadis itu tersentak " Kita makan dulu ya." Ajak Abi lagi dengan senyum lebarnya. Ayura hanya mengangguk. Mengikuti langkah Abi.
Keduanya lalu duduk bersisisn disofa panjang. Ayura yang tak nyaman dengan baju kamija Abi yang kependekan terpaksa menutup pahanya dengan handuk yang tadi digunakan untuk mengeringkan rambutnya.
Abi fokus menyiapkan semangkuk bubur ayam kehadapan Ayura. Dia hanya melirik sekilas karena dirinya juga sangat tersiksa dengan penampilan Ayura dengan rambut basahnya, apalagi tercium aroma shampo yang memabukan.
"Makan Ay." Ujar Abi sembari menggeserkan semangkuk bubur Ayam kehadapan Ayura
"Makasih Pak."
Abi mencoba menoleh sebentar memberikan senyuman. "Habiskan buburnya. Setelah ini aku akan mengobati luka mu." Ayura mengangguk dan membalas senyuman membuat tangan Abi terangkat mengusap pucuk kepala Ayura dengan lembut. Hati Ayura menghangat sedangkan hati Abi malah panas dingin.
Setelah menghabiskan sarapan Abi bergegas mengambil salep untuk mengobati luka pada tangan dan lutut Ayura yang terluka karena jatuh saat dikejar para preman.
"Ay, aku obati lukanya yah."
"Biar aku saja Pak." Tolak Ayura tak dihiraukan Abi, pria itu cuek dan langsung duduk disamping Ayura, menarik kedua tangan Ayura lalu mengolesi salep dengan pelan dan begitu lembut.
Melihat Ayura yang sedikit meringis membuat dia sesekali meniup tangan gadis itu.
"Aa...aku bisa sendiri Pak." Tolak Ayura hendak menarik tangannya tapi seketika langsung ditahan oleh Abi.
"Tapi aku juga bisa melakukannya Ay, aku memang bukan Dokter, tapi hanya untuk mengolesi salep ini aku juga bisa. Kamu meremehkan ku.?" Tutur Abi mendrama membuat Ayura melongo dan bingung
__ADS_1
"Ha...?" Akhirnya Ayura pun hanya pasrah melihat tampang Abi yang sedikit kecewa. Padahal sesungguhnya pria itu hanya berakting.
Tanpa disadari Ayura, Abi mengobati luka ditanganya dengan senyum penuh kemenangan.
Setelah dikedua tangannya Abi berniat melanjutkan mengobati luka pada lutut Ayura. "Sekarang dilutut mu" Ucap Abi sembari menatap Ayura , memberitahu padanya agar membuka handuk yang masih menutup paha nya.
"Biar aku saja." Tolak Ayura dengan cepat sambil mempertahankan handuk agar tidak terlepas.
Melihat reaksi Ayura yang selalu menolaknya membuat Abi menghela nafas kasar. "Aku hanya ingin mengobati luka mu Ay. Aku tidak berniat macam macam pada mu. Anggap saja aku membalas budi karena kau juga pernah mengobati luka ku saat di hajar sama Papa mu."
Abi memang sedikit kecewa tapi dia mencoba bercanda diakhiri kalimatnya, agar Ayura tak merasa tertekan dan juga santai dengannya.
Terbukti Ayura pun akhirnya mengangguk pelan, membuat Abi tersenyum lebar. "Good Girl." Ucap Abi sambil mengacak rambut Ayura.
Sedangkan Ayura walupun dia sedikit enggan tapi pada akhirnya dia menarik sedikit handuk keatas, tetap menutup paha nya dan membiarkan lutut nya sedikit terbuka.
Terlihat disana lukanya memang sedikit lebar. Abi lalu berjongkok dihadapan Ayura, membuat Ayura kaget. "Pak!"
"Rileks Ay." Abi lalu mengoles luka di kedua lutut Ayura. Tanpa menghiraukan keresahan gadis itu.
Baik Ayura maupun Abi, keduanya sedang menyembunyikan degupan jantung dan desiraan dihati mereka saat berada sedekat ini.
Lebih lebih Ayura, gadis itu sampai menahan nafasnya dan entah mungkin karena gugup, tanpa sengaja tangan Ayura malah menarik handuk kecil itu keatas hingga kini terpampang nyata kedua paha Ayura.
Abi yang sudah selesai mengobati luka pada lutut Ayura, saat hendak berdiri, netranya tanpa sengaja menatap paha sebelah kanan Ayura dengan bekas luka yang begitu panjang, persis sebuah sayatan benda tajam langsung terpaku.
Netra pria itu membulat penuh, dengan cairan bening yang langsung menggenang disana. Tangannya pun bergetar.
Abi malah menarik handuk itu dan membuangnya asal. "Pak..." Belum lagi Ayura melayangkan protes nya, gadis itu dibuat terkejut saat melihat tangan Abi sudah mengelus bekas luka pada paha nya, dan lebih terkejut lagi saat Abi mencium luka itu dengan tubuh yang bergetar. Ayura tahu Abi sedang menangis.
Tapi dia tidak tahu kenapa Abi malah menangis hanya karena melihat luka dipahanya itu. Bukankah itu luka lama, kenapa dia harus sesedih itu. Bingung...? Itu yang dirasakan Ayura saat ini.
"Pak..." Lirih Ayura.
"Aku mencari mu, lama ...sangat lama..selama ini aku selalu berharap bisa menemukan mu, dan sekarang Tuhan kembali menunjukan satu bukti kalau kau memang Putri ku, gadis kecil ku. " Tutur Abi dengan isakan.
Ayura tak paham dengan semuah ucapan Abi yang dianggap ambigu .
Semuah perlakuan dan ucapan Abi membuat Ayura bingung, apalagi kini Abi kembali mengelus luka nya dan kembali mencium luka itu dengan begitu lama, Ayura yang hendak mendorong tubuh Abi pun terpaksa tertahan melihat tubuh pria itu kembali bergetar menahan tangisan.
Dan kini Abi telah beranjak duduk disamping Ayura, menarik tubuh mungil Ayura dan mendekapnya erat. "Pak.." Tolak Ayura berusaha mengurai pelukan.
"Biarkan seperti ini Ay." Puas memeluk Ayura, Abi lalu melepaskan pelukan itu, lalu menangkup kedua pipi Ayura dan memberikan sebuah kecupan dikening Ayura, dilanjutkan kedua pipi Ayura dengan begitu cepat hingga tak ada waktu untuk Ayura menolak. "Kamu gadis kecilku. kamu Putri ku." Abi tersenyum lebar tapi air mata harunya tetap saja berderai.
"Ada apa..?" Tanya Ayura.
*
*
*
__ADS_1
Disebuah ruangan tepatnya disebuah kamar hotel nampak seorang pria duduk memakai kimono handuk menatap kosong seorang gadis yang tengah tertidur pulas diatas kasur dengan seprei yang terlihat berantakan. Gadis itu tak lain adalah Angel yang masih terlelap dengan selimut putih tebal yang membungkus tubuh polosnya.
Dia tengah berfikir apa yang akan dilakukan untuk menenangkan Angel bila gadis itu terbangun nanti. Helaan dan hembusan nafas terdengar begitu berat.
Sedangkan diatas kasur perlahan Angel membuka matanya. Ia masih merasakan sisah denyut dikepalanya. Dengan kesadaran yang belum utuh sepenuhnya. Ia meneliti seisi ruangan tempatnya berada.
Dia menjadi panik setelah menyadari sedang terbaring disebuah kamar asing. Buru buru beranjak dan bersandar pada head board hingga selimut nya melorot kebawah.
Angel belum menyadari ,kepalanya masih terasa pusing hingga dia berniat memijit pelipisinya tapi saat pandangan nya turun kebawha dia berteriak histeris melihat tubuh bagian atasnya tanpa tertutup sehelai benang pun.
"Aaaaaa, apa yang terjadi..?" Teriak Angel histeris sembari menarik selimut menutup seluruh tubuhnya. Dani langsung berlari menghampirinya.
"Angel..tenang Njel.." Ucapan Dani bukannya menenangkan malah membuat Angel kembali histeris .
"Ada apa ini, kenapa kau ada disini..? Apa yang sudah terjadi Dani..? Jangan bilang kalau kita telah..." Teriakan Angel terhenti. Dia tak sanggup meneruskan pertanyaan nya
"Angel aku mohon tenang lah. Aku akan menjelaskan semuahnya."
Tangis Angel semakin kencang, dia sadar sesuatu yang buruk telah terjadi antara dirinya dan Dani. Melihat penampilannya tanpa sehelai benang pun, keberadaan Dani dengan kimono handuk, terus merasakan miliknya yang terasa perih dibawah sana, semuanya ini sudah bisa membuktikan kalau dia dan Dani telah melewati malam panjang, melakukan sesuatu yang tak seharusnya mereka lakukan.
Ange masih terisak."Sebenarnya apa yang terjadi Dani.?" Dia memilih bertanya tak ingin langsung menyalahkan Dani, sepenggal peristiwa tadi malam dapat terekam dibenaknya sekarang.
"Dani..ku mohon sentuh aku..Aku menginginkan mu..Ini panas .."
"Lanjutkan! kita sudah sejauh ini."
Kata kata itu terus saja terngiang , dia sadar dia yang menginginkan semuah ini. Tak bisa menyalahkan Dani. Sekarang dia hanya kecewa pada dirinya sendiri, tak bisa menjaga diri. Apa yang akan dikatakan pada Mama nya nanti.
Wanita yang sudah menjaga nya dengan begitu ketat selama ini, walaupun terjun didunia penuh gemerlap, Angel tak pernah mengalami skandal skandal yang memalukan. Namanya begitu bersih dari dunia gelap karena sang Mama yang begitu disiplin menjaga pergaulanya.
"Jel, maaf..Aku tidak bisa menjaga mu dengan baik. Maaf aku telah menghancurkan hidup mu dan masa depan mu. Maafkan aku Jel." Ratap Dani penuh sesal.
Derai air mata semakin menganak sungai mendengar penyesalan Dani. "Kenapa bisa begini. Apa yang terjadi..?" Angel menatap Dani dengan derai air mata yang terus menetes, menuntun jawaban. Membuat hati Dani seperti dicabik cabik.
"Semalam kau mabuk parah dan seseorang memasukan obat perangsang kedalam minuman mu. Aku tidak tahu siapa dalangnya, tapi seorang laki-laki membawa mu kehotel ini. Dia ingin menggagahi mu. Tapi untung aku cepat. Tapi maaf justru aku yang...." Dani tidak meneruskan Ucap nya, karena dilihat Angel telah membuang muka, sepertinya dia tidak ingin mendengar cerita selanjutnya.
"Maaf Jel, aku harus melakukannya, karena aku tak ingin kamu tesiksa. Dosis obat ny terlalu tinggi, bahaya bila aku tak melakukannya." Dan Ucapan Dani membuat Angel memejamkan matanya dengan begitu kuat, begitu juga kedua tangannya meremas kuat ujung seprei yang tengah menutup tubuh polosnya.
"Kenapa harus menolong ku, kenapa tak kau biarkan saja aku mati." Angel semakin tergugu.
"Jel, apa yang kau katakan..?"
"Aku sudah hancur Dan, aku sudah hancur. Aku kotor Dan...Aku kotor." Tangis Angel semakin menjadi, Dani pun sangat terluka. Ditariknya tubuh Angel yang sedang bergetar hebat kedalam pelukannya.
Angel hanya diam tanpa perlawanan, sesungguhnya dia membutuhkan sebuah pelukan untuk menenangkan nya. Dan tak bisa dipungkiri pelukan Dani begitu hangat dan menenangkan.
"Aku akan bertanggung jawab. Bila perlu aku akan menikahi mu sekarang juga, kalau kau mau." Ucap Dani mantap.
Dan ucapan Dani membuat Angel mengurai pelukan, ditatapnya netra Dani mencari kesungguhan disana. Dani hanya tersenyum dengan netra yang terus beradu. "Aku serius." Ucap Dani lagi melihat Angel yang meragukan keseriusan nya.
Secara perlahan ujung bibir Angel tertarik keatas. Dani menjadi senang kemudian mendaratkan sebuah kecupan dikening Angel. "Aku mencintaimu."Dan ucapan sakral Dani membuat hati Angel melambung tinggi.
__ADS_1
Angel pun kembali merebahkan kepalanya didada bidang Dani. Setidaknya Dani mau bertanggung jawab dan tidak membiarkan dirinya sendiri yang menanggung aib ini.