Gadis Masa Lalu

Gadis Masa Lalu
Lomba Makan


__ADS_3

"Hei! Katanya lagi makan,kenapa malah tidur..? Apa kau begitu ngantuk hingga tertidur disini..?" Seperti biasa dia dengan caranya akan menghibur Ayura tanpa harus mengorek kesediha nya.


Karena baginya tanpa ditanya pun dia sudah tahu semuahnya, semuah tentang gadis itu.


Abi memilih duduk santai dihadapan Ayura, sebelah kakinya terangkat bertumpuh pada sebelah kakinya. Jari telunjujnya diketuk ketuk pada meja. Pria itu terlihat santai, bersikap seperti tidak terjadi apa apa.


Sedangkan Ayura, apa yang terjadi. Yang jelas dirinya sangat terkejut dengan kehadiran Abi yang begitu cepat


Perasaan baru lima menit yang lalu pria itu menelponnya tapi mengapa sekarang sudah ada dihadapannya. Apa dia juga sedang berada direstoran ini..? Apa dia melihat dirinya yang sedang mennagis..? Ahhh memalukan. Rutuknya dalam hati.


Dengan pelan diangkat wajahnya, membuang muka kesamping sembari dengan cepat jari lentiknya mencoba menghapus jejak bulir bulir kristal yang tersisa.


"Bapak kenapa bisa ada disini..? Jangan bilang Bapak mengikuti ku." Curiganya, dengan berusaha sebisa mungkin bersikap dan mengatur ritme suaranya.


Tapi sayang, tetap saja wajahnya sembabnya tidak bisa disembunyikan dan suara seraknya pun tak bisa memanipulasi untuk ukuran seakliber Abimanyu.


"Mana mungkin aku mengikuti mu. Aku lagi makan malam dengan klain ku disini Ay. Ck!Kamu selalu mencurigakan ku." Kesal Abi sembari mencebik.


"Tapi mengapa aku merasa Bapak selalu ada dimanapun aku berada..?"


"Mungkin karena kita memang berjodoh."Ucap Abi sembari mengedip sebelah matanya.


"Ha..? Ck!" Gadis itu mencebik kemudian membuang muka.


"Oh iya, katanya makan dengan Krishna, mana dia..?" Tanya Abi sembari celingkuk kanan kiri, pura pura mencari sosok yang ditanyakan.


Walaupun dia tahu kejadian yang sebenarnya tapi dia tetap saja berakting dengan apik agar gadis itu tidak curiga kalau dia tau kejadian yang sesungguhnya.


"Jangan bilang dia sudah pulang dan meninggalkanmu disini, itu tidaklucu kan, hehe"


Hati Ayura terasa dicubit cubit mendengar pertanyaan Abi. 'Dia tidak meninggalkanku, dia mengabaikanku. Hikh..hikh..'Tangis gadis itu pecah dalam hati.


"Maaf Pak, aku harus pergi " Buru buru disematkan tali tas dibahunya, gadis itu beranjak pergi. Tak ingin Abi mengetahui suasana hatinya yang berantakan.


Tapi Abi pun nggak kalah gesit dia pun dengan cepat bangkit menarik tangan Ayura sebelum gadis itu benar-benar pergi. "Tunggu Ay." Abi mencekal tangan Ayura. "Temanin aku makan dulu, aku mohon" Pinta Abi dengan wajah memelas. "Aku belum makan Ay, dan saat ini aku sangat lapar." Pinta nya dengan penuh harap.


Sesungguhnya dia memang belum makan, karena saat bersama klainnya tadi dia hanya sedikit menyentuh makanannya, karena otaknya sedang terbagi antara Ayura dan para klainnya.


Tapi meminta gadis itu menemaninya makan pun itu salah satu alasan, karena sesungguhnya sekarang dia hanya ingin menghibur nya, seperti biasa membutnya kembali tersenyum sebelum akhirnya pulang kerumah.


Ayura masih bergeming, tak menolak tak mengiyakan juga. Abi tak kehabisan akal, seutas seringai muncul dibibir tebalnya, dia mengeluarkan kekuatannya dihadapan Ayura.


"Apa kau masih ingat dengan kekuatan batu ini..?" Tanya Abi sambil menunjuk sebuah batu putih ditelapak tangannya.


"Yaakk! Apa yang Bapak lakukan. Ini hanya sebuah batu dan tidak memiliki kekuatan apa apa lagi. Jadi Bapak tidak usah mengancam ku dengan batu ini." Kesal Ayura hendak merampas batu itu dari tangan Abi, niatnya ingin membuangnya, tapi Abi sigap dan langsung mengepal dan menarik tangannya hingga Ayura tidak bisa merampas batu putih itu.


"Eitss, kata siapa tidak ada kekuatannya lagi. Batu ini masih berfungsi tau. Udah..Nggak usah cemberut gitu.Jelek tau. Sekarang temani aku makan." Ujar Abi semabri menarik tangan Ayura.


Dan Abi kembali tersenyum dan bersorak sorak dalam hati saat Ayura mengikuti langkahnya tanpa perlawanan.


Keduanya akhirnya duduk dikursinya masing masing. Keduanya hanya diam sambil menunggu makanan yang sudah dipesan.


Tak berselang, terlihat beberapa pelayan menghidangkan begitu banyak menu makanan membuat Ayura melongo.

__ADS_1


"Tunggu! Kenapa banyak sekali makanannya..? Tanya Ayura bingung melihat tumpukan makanan diatas meja.


Abi tersenyum tipis. "Aku ada sebuah permainan." Ucap Abi saat dilihat pelayan meletakan makanan yang terakhir.


"Mbak, jangan pergi dulu. Tetaplah disini." Instrupsi Abi, menahan pelayan yang hendak berlalu.


"Baik Pak."


Kening Ayura terlipat halus.


"Kita lomba makan, siapa yang lebih banyak menghabiskan makanan ini, dia akan jadi pemenangnya. Dan sebagai hadiahnya dia bebas meminta apa saja pada pihak yang kalah. Bagaimana..?"


Ayura kaget. "Nggak mau, Bapak pasti curang nanti "


Abi tersenyum. "Ada dia sebagai jurinya." Jelas Abi sembari melirik pelayan yang sedang berdiri disamping mereka. "Dia yang akan sebagai saksinya. Iya kan mbak..?" Tanya Abi pada sang pelayan hanya dengan melirik kecil.


Pelayan itu tersenyum dan membungkukan badannya. "Iya Pak."


"Bagaimana..?" Ayura terlihat sedang berfikir sedetik kemudian gadis itu pun tersenyum menyanggupi tantangan Abi. "Baiklah. Boleh minta apa saja..?" Tanya Ayura dengan semrik


Abi mengangguk.


"Bagaiaman kalau aku minta perusahaan Bapak"


"Maka aku akan memberikannya." Jawab Abi pasti membuat Ayura mencebik dan Abi terkekeh.


"Catat ya mbak, dia akan memberikan perusahaanya kalau aku yang menang nanti." Ucap Ayura pada pelayan. Dan lagi pelayan itu hanya bisa tersenyum.


"Tentu saja. Bersiap siaplah, Bapak akan menangis darah nanti saat tahu aku lah pemenangnya." Jawab Ayura pasti dengan jumawa. Membuat Abi menyemburkan tawa kencangnya.


Pelayan itu sampai tertegun mendengar tawa sang pria kaku itu.


"Baiklah, sepertinya kamu harus bekerja keras, karena perutku masih kosong dari tadi." Ucap Abi disela tawanya..


"Ck!!


Dan interaksi keduanya disaksikan sang pelayan dengan wajah tak percaya.


Melihat tamu vvip dan menjadi member tetap restoran mereka memiliki sifat yang berbeda dan bertolak belakang dengan apa yang dilihatnya selama ini.


Pria yang dikenal dingin dan tak banyak bicara ini, terlihat lain dan hal yang membuatnya sangat merasa beruntung malam ini adalah berada sedekat ini dengan Pria tampan ini, pria yang sering dibicarakan sesama pelayan saat pria itu datang berkunjung.


Pria yang tak banyak bicara dan minim senyum tapi selalu memberi tip yang besar buat para pelayan yang melayaninya.


Dan pria itu sekarang ada didepannya dengan jarak yang begitu dekat. Apalagi tadi Abi menyapanya berbicara dengan nya, memintanya menjadi juri. Sumpah demi apapun, pelayan ini saat ini sangat berbunga bunga.


Dia hampir tak percaya melihat nya tersenyum dan tertawa. Dia bahkan ingin mengabadikan momen langkah ini dengan kamera ponselnya, tapi takut membuat dia hanya bisa merekam kejadian langka ini dalam otak.


Diapun sempat bertanya tanya, siapa gadis beruntung yang sedang bersama Abi ini. Pastinya gadis yang sangat spesial hingga bisa membuat pria dingin, datar dan kaku ini bisah tersenyum dan bersikap konyol.


Lomba pun dimulai, Ayura begitu bersemangat melahap semuah makanan diatas meja, dan satu yang disyukurinya adalah semuah makanan ini adalah makanan favorit nya .


Abi tersenyum senang melihat Ayura menyantap semuah makananya dengan begitu lahap.

__ADS_1


Bukankah ini niatnya..? Dia yakin dengan cara ini Ayura bisa diajak makan, karena kalau tanpa membuat ide seperti ini dijamin gadis itu tidak akan menyentuh makanan ini bahkan sudah memilih pulang.


Abi menjadi gelagapan melihat setengah makanan Ayura sudah dilahap gadis itu, dia tidak menyangka walaupun memiliki tubuh yang kecil ternyata Ayura sangat kuat makan.


Sedangkan piring piring yang berisi nasi dan semuah lauk yang sudah dibagi rata dengan Ayura, miliknya tampak masih banyak bila dibandingkan dengan milik gadis itu.


Tak ingin kalah, Abi memutar otak keras untuk berfikir. Kemudian dia menyeringai saat mendapat ide konyol dalam otaknya.


Dia melirik pelayan, dan bersyukur karena pelayan itupun sedang melihat kearahnya. Dia lalu mengedipkan matanya, memanggil pelayan itu mendekat dengan gerakan matanya.


Pelayan itu mengerti, dengan pelan dia mendekati Abi, Sepertinya pelayan itu memang terlatih untuk mengerti semuah kode, buktinya dia begitu paham keinginan Abi hanya dengan gerakan mata.


Ayura masih sibuk dengan semuah makanannya, dia terlalu bersemangat untuk menang hingga tidak tahu kalau Abi sedang memindahkan semuah makanan kedalam piring.


Dengan sembunyi sembunyi dia memberikan piring penuh yang berisi makanan.


Dengan hati hati pula pelayan itu menerima piring itu dan menyembunyikan dibelakang pot besar dibelakangnya.


Tepat Waktu yang disepakati bersama habis. Pelayan itu pun berseru."Stop! Waktunya sudah habis"


"Ahhh, perutku hampir meledak." Ujar Ayura bersandar pada kursinya sembari mengelus perutnya.


Abi terkekeh memandang reaksi Ayura yang menggemaskan itu.


Pelayan itu terlihat sedang menghitung piring yang kosong dengan banyaknya makanan yang tersisah.


"Setelah ku hitung dan kulihat, aku menyatakan kalau Pak Abi lah pemenangnya. " Ucap pelayan itu membuat Abi berseru "Yes!" Sedangkan Ayura kaget "Apa..?" Langsung menegakan tubuhnya.


Dia hanya mencebik kesal saat menyadari memang piring Abi banyak yang kosong dengan menyisahkan sedikit makanan.


"Terimakasih. Kamu boleh pergi. Dan tunggu saja aku akan memberikan kamu bonus yang besar." Ucap Abi pada pelayan sembari memgedipkan matanya.


Pelayan itu hampir saja jatuh,keseimbangan goyang kala Abi memgedipkan mata padanya. "Ya Tuhan, hari ini aku tidak ingin tidur, kalau bangun takutnya cuma mimpi." Pelayan itu melangkah pergi dengan perasaan yang membuncah.


"Bapak jangan minta yang macam macam ya." Ancam Ayura dengan melirik tajam


Abi hanya terkekeh. Dia lalu berdiri menghampiri Ayura, membuat Ayura pun ikut berdiri.


Diraihnya kedua tangan Ayura dan menggenggamnya, Ayura hendak menariknya. tapi Abi cukup kuat menahannya.


"Kamu ingin tahu apa permitaannku..?" Tanya Abi dengan suara lirih.


Ayura mengangguk. Dia tak bersuara, menatap Abi dalam diam. Pandangan keduanya pun terkunci satu sama lain


"Aku hanya minta jangan bersedih, jangan menangis lagi, karena air matamu cukup berharga untuk hal hal sepele yang kau tangisi." Ucap Abi sembari mengusap pipi Ayura yang masih sembab "Berjanji lah untuk tidak menangis lagi, hmm."


Ayura terharu, hatinya menghangat, begitu pula dengan netranya pun ikut menghangat, membuat matanya berembun.


Abi melihat itu."No! Aku sudah katakan jangan menangis."Ucap Abi dengan meletakan kedua tangannya dipipi Ayura, kedua ibu jarinya terangkat mengusap kelopak mata Ayura yang berembun.


Ayura semakin terharu dan kembali bersedih, dia sudah berusaha menahan kristal bening itu agar tak tumpah, tapi tetap saja air mata sialan itu menghianatinya dengan bebasnya mengalir dipipi mulusnya.


Dia bahkan terisak, Abi terluka melihatnya, hatinya teramat perih seperti dicabik cabik benda tajam. Ditariknya tubuh mungil Ayura, didekapnya dengan penuh sayang. "Menangislah, tapi cukup hanya hari ini hmm.."Ucap Abi sembari membelai surai hitam Ayura.

__ADS_1


__ADS_2