
Angel dan Amara baru saja keluar dari ruang Dokter kandungan.
Dapat dilihat wajah sembab kedua ibu dan anak itu. Tak ada senyum, kedua nya membisu dengan wajah tersirat sebuah masalah besar yang menimpa.
Melihat Angel dan Mama tirinya keluar, buru buru Ayura beranjak bangkit, mendekati keduanya.
Dia sendiri memilih menunggu dikursi tunggu pasien bersama Krishna tentunya.
"Kalian tunggu saja disini, Mama mau menebus obat dulu." Ucap Amara pada kedua Putrinya.
"Biar aku saja yang pergi Mah." Tawar Ayura.
Amara tak menjawab, diliriknya kebelakang Ayura, disana ada Krishna yang langsung beranjak bangkit setelah mendengar ucapan tunangannya.
Pikir pria itu kalau Ayura yang pergi menggantikan Mamanya menebus obat, maka dia harus ikut menemaninya.
Ayura pun ikut melihat kebelakang, dapat dilihat Krishna yang sudah berada tepat dibelakang nya.
"Tidak usah. Biar Mama saja yang pergi, kamu tunggu saja disini." Ucap Amara datar dan langsung berlalu.
Ayura tahu, pasti Mamanya merasa tak enak ada Krishna disini. Dia pun merasa tak enak, seharusnya dia tak mengajak pria ini tadi.
Keadaan tidak baik sekarang, dari wajah kedua wanita beda generasi ini dia bisa tahu kalau apa yang mereka takutkan semalam terjadi.
Ini Aib, dan tak seharusnya dia mengajak orang luar untuk bergabung saat ini, walaupun Krishna adalah tunangannya tetap saja dia adalah orang luar.
Baik Angel maupun Mama Amara pasti masih shock dan merasa malu saat ini.
Ayura menghela nafa kasar. Dipapanya tubuh Angel dan mendudukinya dikursi kosong itu.
Tak ada suara, Ayura memilih bungkam dan takan menanyakan apa yang terjadi didalam tadi, karena secara garis besar dia sudah bisa menebaknya.
Dia pun duduk disamping angel, mengusap lembut lengan saudara tirinya itu.
Ayura melempar senyuman hangat saat Angel menatapnya, ada kesedihan disana. Mantan model itu hendak mewek tapi Ayura menggeleng kepalanya dan memberi kode dengan memejamkan matanya cepat, mengatakan jangan katakan apapun.
Angel kembali tertunduk, Ayura menarik kepala gadis bermulut pedas itu dan menyandarkan dibahunya. "Tenanglah, semuah akan baik-baik saja hmm " Ayura merangkul bahu Angel kemudian mengusap lengannya pelan.
Krishna mendekat, duduk disamping Ayura, membuat Ayura tersentak dan kemudian menoleh.
"Aku ada urusan sebentar. Tidak papa kan kalau kamu pulang bersama Tante Amara dan Angel..?"
Pucuk dicinta ulang pun tiba, memang itulah yang di inginkan Ayura, tapi dia tak enak ngomongnya, takut Krishna tersinggung kalau meminta pria itu pulang dan dia ikut pulang bersama kedua wanita ini.
"Iya Krish. Makasih udah mau antar tadi." Jawab Ayura dengan memulas sebuah senyuman hangat.
Pria itu pun balas tersenyum, kemudian mengecup pelan pucuk kepala Ayura. " Iya sayang, pamitkan juga pada Angel dan Tante Amara. Beri kabar pada ku kalau sudah sampai dirumah, hmm."
"Iya Krish. Hati hati dijalan."
"Iya sayang." Pria itu kemudian pergi. Tanpa pamit kepada Angel dan Mamanya.
Dia sudah merasa risih melihat tatapan Amara padanya tadi. Dia mengerti saat ini mereka ingin sendiri dulu. Dan tak ingin membuat mereka menjadi canggung dan dengan berat hati dia memilih pergi meninggalkan kekasih hatinya bersama keluarganya.
Dikediaman Bramantyo.
Setelah sampai Ayura langsung mengantar Angel kekamarnya, gadis itu terlihat sangat lemah. Mungkin shock mendengar berita ini.
__ADS_1
Dari rumah sakit sampai didalam kamar Ayura tak pernah beranjak dari sisi Angel, gadis itu pun sesekali menghibur dan mengucapkan kata kata semangat untuk saudara tirinya ini.
"Kamu istirahat dulu ya. Lihat wajah mu sangat pucat. Jangan terlalu dibawa pikiran, semuah akan baik-baik saja hmm." Hibur Ayura, kemudian membantu Angel berbaring diatas kasur.
Angel menolak dan hanya memilih duduk diatas kasur bersandar pada headboardnya. Ayura kemudian menarik selimut sampai menutup pinggang Angel.
"Cepat hubungi pria itu dan katakan apa yang terjadi. Dia harus tahu Angel." Tegas Amara saat masuk kedalm kamar.
"Mah.." Ayura memelas pada Mamanya. "Biar Angel istirahat dulu, nanti kita bicarakan lagi."
Pinta Ayura tak digubris perempuan paruh baya itu, dia hendak membuka suara lagi, tapi Ayura kemudian menunjuk wajah memelasnya, berharap Mama tirinya mau mendengar sarannya.
Amara menghela nafas kasar dan akhirnya memilih melangkah pergi dari kamar anak kandungnya ini.
"Makasih Ay." Dua kata yang baru diucapkan Angel saat keduanya berangkat kerumah sakit sampai pulang lagi kerumah.
Ayura tersenyum. Duduk ditepi kasur. "It's ok! Jangan terlalu dipikirkan. Bumil dilarang stres kasihan calon ponakan aunty nanti ikutan stres juga." Meraba perut Angel dan mengusapnya perlahan. Ayura kembali tersenyum.
"Bagaimana hasilnya tadi, apa kata dokter Jel. Ponakan ku baik baik saja kan..?" Tanya Ayura tanpa menatap Angel, fokusnya hanya pada perut rata Angel. masih dengan mengelus perut itu.
"Usianya masih enam minggu. Dia sehat Ay." Jawab Angel dengan senyum tipis. Sesungguhnya dia sangat bahagia dengan kehamilan nya, karena ini yang ditunggu tunggu Dani selama ini.
Hanya saja memikirkan kedua orangtuanya membuat dia sedih, karena merasa sudah mencoreng nama baik kedua orangtuanya yang sangat menyayanginya ini.
"Benarkah kah..?" Ayura terlihat sangat antusias. "Saat USG tadi dia sedang apa, apa dia sedang berlengggak lenggok dicatwalk atau sedang memeriksa pasien..?" Canda Ayura dengan menampilkan wajah polosnya, menyinggung pekerjaan kedua orangtua sang calon ponaan ini.
Sontak saja hal ini membuat tawa Angel pecah. "Apaan sih kau Ay, calon bayi nya aja masih sebesar biji jagung, masa udah bisa berlenggak lenggok, yang benar saja kamu, Canda kamu nggak lucu tau, hahaha.." Tawa Angel kembali pecah.
"Cih, nggak lucu tapi ngakak samapi segede itu" Desis Ayura pelan sembari melempar tatapan mengejek.
Tapi kemudian dia pun tersenyum, merasa berhasil membuat gadis yang sudah tidak gadis lagi itu bisa tertawa setelah hampir diam setengah hari ini.
Seseorang yang tak lain Ibu kandung dari mantan model itu masuk dengan segelas susu ditangannya.
Melihat itu membuat Angel spontan mengatupkan bibirnya. Dia tak ingin Mamanya berpikir kalau dia bahagia dengan aib yang telah dibuat ini.
"Minum dulu susunya, setelah itu istirahat." Menyodorkan segelas susu pada Angel. Dan diterima oleh gadis itu dengan hati menghangat. Semarah marahnya Mamanya dia tetaplah Mamanya yang perhatian dan sayang padanya.
"Susu apa ini Mah..?" Tanya Ayura.
"Yah susu hamil lah, masa susu bayi."
"Lah kali aja Mah, lagian kapan beli susu hamilnya. Perasaan pulang tadi Mama nggak beli apa apa tuh." Tanya Ayura bingung.
Amara berdecak kesal pada putri sambung nya ini. "Mama baru membelinya Ay, dimini market terdekat."
"Mama menyuruh supir yang membelinya..?" Tanya Ayura lagi. Karena sepengetahuan nya, Mamanya paling malas berbelanja kebutuhan dapur, kecuali belanja pakayan, tas branded dan berlian, maka wanita ini jagonya.
"Ya Mama sendiri lah yang beli, masa suruh supir sih, mana tau dia susu yang bernutrisi baik buat ibu hamil."
"Ah Benarkah..? wah..Mama hebat begitu antusias menyambut calon ponaannya aunty."
"Aunty..?" Beo Amara
Giliran Ayura yang berdecak. " Aku Mah." Jawab Ayura membuat Amara kembali berdecak tapi kemudian memulas senyum tipis.
"Terus susu buat aku ada nggak Mah.?"
__ADS_1
"Emang kamu juga hamil..?"
"Haiss, apa aku harus hamil dulu baru minum susu.? Ck, Mama nggak adil." Gadis itu langsung bersedekap dada dengan bibir yang mengerucut tajam.
Sontak hal ini membuat Amara menyembur tawa kencang sedang Angel hanya mengeluarkan tawa santun.
"Hahaha, jadi kamu mau susu juga..? Yah udah ikut Mama, biar Mama buatin buat kamu."
"Benarkah...?"
"Hmm"
Amara langsung mengambil gelas kosong yang isinya telah dihabiskan oleh bumil, menyuruh Ange untuk istirahat. Dan mengajak Ayura keluar.
"Ayo! Mama akan buat susu kuat buat kamu, biar nanti saat malam pertama kamu bisa mengimbangi suami kamu itu."Goda Amara.
"Mah.." Ayura merajuk mendengar candaan Mama tirinya.
"Hahaha..."
Angel pun ikut tersenyum, melihat interaksi kedua wanita beda generasi itu. Hatinya menghangat. Walaupun awalnya kesel tapi pada akhirnya Mamanya bisa menerima kenyataan kalau anak gadisnya telah hamil diluar nikah. Karena ini merupakan diluar kuasanya.
Bukan dia sengaja melakukannya tapi ini adalah musibah, dan untungnya pria dari Ayah calon bayi nya juga mau bertanggung jawab.
Dia pun bersyukur memiliki saudara seperti Ayura, yang tak henti hentinya menghiburnya dari tadi tanpa sedikitpun menyinggung dirinya atau men judge nya yang tidak tidak.
Dia juga sudah menceritakan pada kedua orangtuanya dan juga Ayura tentang kejadian yang menimpa dirinya dan Dani pada malam kelam itu.
Setelah kepergian Mama Amara dan Ayura, Angel bergegas bangun, diraihnya ponsel diatas nakas dan langsung menghubungi seseorang, dia harus cepat mengabari pria itu.
Pria itu juga harus tahu apa yang sudah menimpanya, sekalian ingin tahu reaksi pria itu, senang ataukah malah pria itu sudah berubah dan malah kecewa padanya.
Dua panggilan pertama berlalu begitu saja hingga pada panggilan ketiga seseorang diseberang sana yang sudah menanam benih dalam rahimnya menjawab panggilan nya dengan suara hangatnya.
"Halo sayang.." Dua kata itu membuat bibir Angel bergetar, netranya langsung berkabut. Entah mengapa dia merasa merindukan pria itu dan ingin memeluknya sekarang. Dia ingin berbagi kesedihannya. "Halo Angel sayang, kamu masih disana kan..? Maaf ya dua hari ini aku tidak menghubungi mu. Keadaan Dady kembali drop. Kamu nggak marah kan sayang..? Halo Angel."
"I..iya Mas. Nggak papa, aku ngerti kok. Apa Daddy sudah membaik..?" Tanya Angel dengan suara bergetar.
"Sayang kamu menangis, ada apa Angel..? Apa ada yang terjadi..?" Dani panik mendengar suara bergetar calon tunangannya, ditambah suara Angel yang sedikit parau, dapat dipastikan kalau kekasih hatinya sudah lama menangis.
"Nggak kok mas, aku baik baik saja."
Click
Angel begitu terkejut, mengetahui Dani mematikan panggilan nya.
Tapi kemudian ponselnya bergetar tanda panggilan masuk tapi kali ini Dani melakukan VC.
Angel menerima panggilan itu, keduanya terdiam dengan netra yang saling bersitatap, ada kerinduan yang begitu besar dari sorot mata kedua pasangan yang sebentar lagi menjadi orangtua itu.
Halo sayang, kamu baik-baik saja kan, kenapa wajah mu sembab, apa ada masalah..? Dani semakin yakin ada sesuatu yang telah terjadi dengan melihat wajah sembab kekasih pelipur laranya itu. Ditambah wajah Angel yang terlihat sendu.
Angel mengangguk, wajah nya menunduk dengan bahu yang terlihat bergetar membuat Dani menjadi panik diseberang sana.
"Angel sayang katakan sesuatu, jangan membuat aku panik. Lihat aku dan katakan apa yang terjadi sayang."
Angel kemudian mengangkat wajahnya menatap wajah tampan kekasih yang sangat dirindukan itu.
__ADS_1
"Mas aku hamil..."