
Saat keluar dari kamar rawat inap Krishna, Ayura yang hancur, kecewa dan merasa telah dipermainkan memilih pergi dengan menggunakan taksi yang sedang terparkir didepan rumah sakit, taksi yang baru saja mengantar seorang penumpang.
Tujuannya sekarang adalah taman kota. Kepergiannya pun dikawal oleh dua mobil pasukan khusus yang pastinya tanpa sepengetahuan Ayura tentunya.
Ditaman kota Ayura hanya melamun, memikirkan nasib percintaan nya yang begitu menyedihkan.
Tiba-tiba netra nya menangkap sesosok wanita yang sangat dikenalnya, dari penampilannya sepertinya dia adalah penjual makanan yang berada ditaman ini.
Dengan senyum dia mendekati wanita yang sedang melayani seorang pembeli. "Laras..?" Panggil Ayura. Wanita itu pun langsung mengangkat wajahnya.
Netra wanita itu langsung membola, "Ayura... Astaga Ay apa kabar mu. Ya ampu sudah lama tak bertemu, kamu makin cantik aja Ay." Ucap wanita itu sembari memindai penampilan Ayura dari atas sampai bawah.
"Ck! Apaan sih Ras. Perasaan biasa aja dari dulu."
"Ahh, duduk dulu Ay, aku layanan pembeli dulu."
"Baiklah."
Ayura pun memilih sebuah kursi yang memang disiapkan untuk pengunjung. Dari tempatnya duduk dia melihat seorang ana kecil diperkirakan berumur dua tahun sedang bermain mobil mobilan.
Bisa dipastikan bocah ini anaknya Laras. Karena selain melayani para pembeli, netra wanita itu sesekali melirik ke bocah laki-laki itu.
"Apa kabar mu Ay. Lama sekali yah kita tidak bertemu setelah resign dari kafe." Ucap Laras yang sekarang sudah duduk di sampingnya. "Alif jangan jauh jauh nak main nya." Tegur Laras pada bocah itu.
"Aku baik Ras." Jawab Ayura sembari melirik bocah kecil yang dipanggil Alif. "Dia anak mu..?"
Laras mengangguk pelan, menatap nanar Alif.
"Lucu sekali anak mu. Dimana Ayahnya, kenapa hanya kalian berdua. Dan kapan kau keluar dari kafe Senja.?"
Laras terlihat sendu. Menarik nafas dalam dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Alif nggak ada Bapaknya Ay. Bapak nya pergi setelah menanam benih dirahim ku kemudian menghilang." Ayura kaget mendengar cerita dari Laras, dia mencoba mengusap punggung tangan Laras yang terlihat sedih.
"Aku keluar dari kafe sebulan setelah diri mu. Saat itu umur kandungan ku menginjak tiga bulan, aku malu dan akhirnya memutuskan untuk resign."
"Sabar ya Ras." Tak tahu harus mengatakan apa, hanya tiga kata itu yang terucap.
Laras tersenyum. " Nasib ku lebih mending Ay, kamu ingat si Nunung, wanita yang sering jahatin kamu, dia malah lebih tragis, disiksa sama kekasihnya, hingga meninggal ditangan pria iblis itu."
"Apa..?"
Dan mengalir lah semuah cerita tentang semua teman temannya yang sepertinya sudah pada resign dari kafe itu, ada yang memulai hidupnya dengan kebahgianan tetapi banyak pula yang mengalami kisah hidup dan percintaan yang menyedihkan termasuk Laras dan Nunung.
Tak ingin menganggu teman baiknya yang sedang melayanin pelanggan, Ayura memilih duduk jauh dari tempat Laras berjualan.
Dia merunungi semuah peristiwa yang menimpa temannya. Kemudian membandingkan dengan kisah percintaan.
Satu pemikiran positif mengalir dibenaknya, setidaknya nya hidupnya jauh lebih baik, yaa...walaupun kisah cintanya sedikit menyedihkan tapi paling tidak kedua pria itu tidak melakukan hal hal yang merugikannya atau pun menghancurkan masa depannya.
"Nona, aku datang untuk menjemput mu." Ujar seorang pria membuat Ayura terkejut.
"Kau.."
"Iya saya Nona."
"Apa Krishna menyuruh mu untuk menjemput ku..?"
__ADS_1
"Tidak Nona, hanya saja anda sudah terlalu lama berada disini, lagian anda juga belum makan dari tadi pagi."
"Kau mengintai ku..?" Tanya Ayura dengan kesal.
Pria itu hanya menunduk kepala membuat Ayura mencebik.
"Tunggu disini, aku akan membeli bubur ayam disana dulu." ucap Ayura sembari menunjuk gerobak Laras.
"Biark aku saja yang membelinya." Tawar Adam.
"Tidak usah, dia itu teman ku sekalian aku mau pamit padanya. Kau tunggu disini."
Ayura kemudian melangkah cepat kearah gerobak Laras tapi baru beberapa langkah dirinya ditabrak oleh seorang pria hingga gadis itu hampir saja jatuh, tapi dengan siga pri itu menarik pinggangnya hingga dia tidak terjembak ketanah.
Tapi siapa yang menduga, secara bersamaan Adam dan lima pria berserakan hitam dengan body tegap dan kokoh berlari bersamaan kearah Ayura.
"Nona...!!!" Pekik Adam dan kelima pria itu bersamaan
"Nona anda tidak papa...?" Tanya Adam langsung menarik pria itu menjauh dan membantu Ayura yang hampir terhuyung kebelakang karena pria itu melepas rengkuhannya dengan tiba-tiba.
Bukh...
Bukh...
Bukh..
Sedangakn pria tak berdosa itu kini menjadi amukan para pasukan khusus itu.
"Dam, siapa mereka dan kenapa mereka memukul pria itu..?"
"Biarkan saja Nona, dia memang salah." Ucapan Adam membuat Ayura mendelik tajam.
"Minta maaflah pada Nona kami! Hari ini kau selamat tapi kalau besok kau sengaja menabraknya lagi, mereka tidak akan segan segan mematahkan kaki tangan mu." Tegas Adam membuat pria yang sudah babak belur itu menjadi gemetar.
Pria itu langsung mengambil langkah seribu setelah meminta maaf pada Ayura.
Ayura mendelik tajam paa Adam, kemudia menatap curiga pada kelima pria itu, banyak pertanyaan ingin dilontarkan nya tapi melihat dirinya dan kelima pria itu menjadi bahan tontonan para pengunjung taman membuat dirinya mengurungkan niatnya.
Dirinya menghampiri gerobak Laras dengan sedikit kikuk karena sahabat nya pun tengah menatapnya dengan tatapan yang hanya dia yang tahu artinya.
"Ras, pesan bubur ayam nya sepuluh porsi."
"Ahh..Ba..baiklah." Jawab Laras gelagapan. Ayura menghela nafas kasar. Laras bahkan merasa canggung padanya.
Ayura kemudian tersenyum canggung pada para pelanggan Laras yang sedang menatapnya.
Dia tahu semuah orang kini berpikir yang aneh aneh tentang dirinya. Mungkin dalam hati mereka pasti bertanya tanya siapa dirinya. Kenapa sampai dikawal oleh pengawal sebanyak ini, mana dari penampilan keima orang itu termasuk Adam bukanlah pengawal sembarangan.
Dan sekarang dia pun hanya bisa berteriak dalam hati
Woiii, jangan melihat ku seperti itu, aku bukan siapa siapa dan aku pun sama dengan kalian, aku tidak tahu siapa kelima pria kejam itu. Jadi berhentilah menatap ku dengan tatapan aneh kalian.
"Ay siapa sebenarnya diri mu, apa kau adalah anak seorang pejabat negara..?" Bisik Laras sembari menyerahkan kantong bubur ayam pesanan Ayura.
"Ck! Kau ngomong apa sih. Sejujurnya aku juga tidak tahu siapa mereka. Sungguh! Jadi tolong bilang pada para pelanggan mu untuk berhenti menatap ku dengan tatapn aneh itu." Balas Ayura ikut berbisik.
__ADS_1
"Nih uangnya. Kembaliannya berikan pada ponakan ku yang ganteng itu, kapan kapan aku kesini lagi." Cicit Ayura sembari menyodorkan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah.
Tentu saja uang dan sebuah atm didapat dari Airin. Karena sejatinya dirinya memang tidak memiliki apa apa setelah kejadian dimana dia pergi dari kantor Krishna tanpa membawa tas. Bahkan ponselnya pun masih bersam pria itu.
Dan karena sibuk merawat dan mengurus pria manja itu membuat dia selalu lupa menanyakan tas dan ponselnya.
"Astaga Ay, ini kebanyakan." Ucap Laras dengan begitu terkejut. Satu lembar uang saja masih tersisa banyak apalagi sepuluh. Apa nggak berlebihan ini. Semakin yakinlah siapa Ayura sebenarnya. Dia bahakn berpikir Ayura menikah dengan orang petinggi atau pejabat negara hingga kemana mana dikawal oleh pengawal.
Didalam mobil yang disupiri Adam, Ayura yang memang sedang penasaran dengan kelima pria itu tak bisa menahan lagi untuk bertanya.
"Dam katakan pada ku siapa kelima pria itu. Apa mereka pengawal yang diutus Krishna untuk menjaga ku..?"
" Iya Nona."
"Keterlaluan pria itu, apa dia takut aku kabur darinya hingga menyewa pengawal khusus sebanyak itu untuk menjaga ku. Berlebihan sekali" Umpat Ayura penuh kesal.
Masih ingat di ingatannya, ucapan Angel tentang pasukan khusus itu. Kalau mereka adalah pasukan khusus yang bayaran nya sangatlah mahal. Dan untuk apa dia sampai menyewa pasukan itu haya untuk menjaganya agar tidak kabur. Terlalu berlebihan pikirnya.
Adam sendiri hanya menghela nafas kasar. Dia tidak ingin berbicara lebih lanjut lagi karena sudah bisa dipastikan gadis yang sedang cemberut dibelakang nya pasti shock bila mengetahui kejadian yang sesungguhnya.
Sesampainya dipikiran rumah sakit, Ayura langsung menyerahkan sekantung bubur ayam kepada Adam. "Nih, bagikan pada para pengawal itu." Ucap Ayura dan langsung berlalu
"Terimakasih Nona."
"Tau saja kami belum sarapan." Ucap Adam yang hanya didengar dirinya sendirian.
Didepan ruangan Krishna, Ayura yang hendak masuk dibuat kaget saat melihat pintu dibuka dari dalam dan keluarlah Dokter Daren dan seorang perawat.
"Satu jam lagi tolong cek kondisinya Sus, aku tak tahu lagi dengan pasien ini, baru saja semalam dinyatakan sembuh, pagi ini drop lagi." Ucap Dokter Daren
"Baik Dok "
Ayura tertegun didepan pintu kamar. Krishna drop lagi..? Apa itu karena kejadian tadi pagi..? Ayura hanya bisa menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
Dengan pelan dia membuka pintu kamar. Dan melangkah kedalam dengan pelan juga. Nampak Krishna sedang tertidur dengan Tante Airin yang sedang mengusap punggungnya. Sedangkan Pak Ardiansyah tidak ada.
"Pagi Tante.." Sapa Ayura pelan tepat disamping Airin.
"Hei sayang, kau sudah pulang..?" Tanya Airin ramah. Membuat Ayura tak enak hati.
Bisah saja kan Airin marah ataupun kecewa padanya karena secara tidak langsung menyebabkan Krishna sering drop, tapi ini bukanya marah Airin bahkan terlihat selalu bersikap ramah dan perhatian padanya. Dia menjadi merasa sangat bersalah .
"Iya Tante. Aku bawakan bubur ayam. Apa Tante mau sarapan bersama ku..?"
"Ahh kebetulan, Tante belum sarapan. Ayo kita makan berdua, Tante udah sangat lapar." Ajak Airin membuat Ayura menyunggingkan senyum senang.
Meninggalkan Krishna yang sudah terlelap, keuda wanita beda generasi itu duduk disofa menikmati waktu sarapan mereka tang sudah berlalu.
"Apa Krishna drop lagi Tante..?" Tanya Ayura dengan tak enak hati.
Airi mengangguk, "Maaf.." Lirih Ayura merasa bersalah.
"Ck! Untuk apa meminta maaf nak, ini bukan salah mu, dianya aja yang lemah, payah, cemen." Cicit Airin sembari menyuap sesendok bubur Ayam kedalam mulutnya.
"Wah, ini enak sekali Ay, kamu beli dimana..?"
__ADS_1
Ayura tersenyum senang, " Benarkah..? Aku beli ditaman kota Tante." Ayura pun menyuap sesendok bubur ayam. Wah betul, ini sangat enak." Ucap Ayura antusias.
Airin tertegun, dia menggigit sendok, menatap Ayura dengan perasaan was was.