
"Krish...?" Lirih Ayura pelan. Mencoba tersenyum dia melangkah mendekati Krishna yang masih menatap nanar kearahnya.
"Kenapa berdiri di luar, kenapa nggak masuk..?" Tanya Ayura, Krishna bergeming di tempat tanpa suara. "Sudah lama..?" Tanya Ayura lagi.
Dia sudah kehabisan kata-kata, melihat sikap Krishna yang hanya diam dengan tatapan yang ahhh, sulit dijabarkan olehnya
"Tiga jam." Jawab Krishna dingin dan singkat
Ayura kaget, sudah tiga jam pria ini menunggunya, hampir saja mulut nya mengatakan, kenapa nggak menghubungi ku, kemudian dia teringat kalau ponselnya disabotase oleh Abi. Menutup mulutnya dia bersyukur kata kata itu tak sampai keluar dari bibirnya
"Ayo masuk, kamu pasti capek berdiri di luar." Ucap Ayura kemudian menarik tangan Krishna, rasa kesal sedari tadi dipupuk, berangsur sirna kala tangan Ayura menyentuh tangannya.
Patuh bak anak SD, dia mengikuti Ayura. "Kemana saja kamu seharian ini..? Kemana saja bersama Pak Abi..?" Tanya Krishna pada akhirnya setelah beberapa detik yang lalu memilih bungkam.
Langkah Ayura terhenti, mendadak. lidahnya keluh untuk menjawab Krishna, hampir saja melepaskan genggaman tangannya tapi buru buru Krishna menahan tangannya yang hampir tak sengaja terlepas.
Pria itu menaikan kedua alisnya menunggu jawaban Ayura, tapi satu suar berat menyapa mereka membuat atensi mereka teralihkan
"Ayura sayang kamu sudah pulang..? Kemana saja, nak Krishna menunggumu darah tadi loh nak." Bramantyo baru saja menyelamatkan anaknya.
"Hehehe, maaf Pak!" Nyengir Ayura, bingung mau jawab apa, akhirnya gadis itu hanya bisa nyengir.
Bagi Ayura dia sangat bersyukur dengan kehadiran Pap nya, karena dia tidak usah repot repot menjawab pertanyaan Krishna.
Tapi.. eh tunggu tunggu.. Ngapain aku harus takut menjawab pertanyaan Krishna kalau seharian ini aku bersama Pak Abi, lah aku kan bukan pacar nya, kenapa tingkah ku seperti sedang kedapatan berselingkuh ya..? Pikir Ayura
Tapi mengingat tatapan kecewa dan nanar Krishna tadi saat menyambut nya membuat dia harus bisa pandai untuk mengelola kata kata saat ini. Ayura mend*esah pelan.
"Sayang, tadi Krishna udah minta izin sama Papa, kalau lusa kalian akan ke Jepang" Ucap Bramantyo memecah kesunyian.
Ketiganya kini sedang duduk di ruang tamu.
Ayura menatap Krishna, kemudiannya menatap Papa nya Bingung. Sepengetahuan nya Papanya orang yang selalu melarang nya untuk bepergian dengan lelaki mana pun apa lagi sampai keluar negeri, tapi apa ini..? Kenapa Papanya terlihat santai dan merestui dengan begitu mudah.
Padahal dia sendiri bingung bagaimana cara meminta izin pada Papanya agar pergi bersama Krishna ke Jepang, setelah dia menyetujui tadi siang.
Ayura bingung, Pak Bramantyo yang menyadari kebingungan putri tersayang nya akhirnya buka suara. "Kamu tahu..?" Ayura lalu menatap Papanya "Krishna ini pernah menolong Papa saat perusahaan Papa difitnah." Ayura mengerutkan keningnya.
"Saat itu perusahaan Yudistira entertainment melakukan kerjasama dengan perusahaan Bapak dalam pengadaan kain pembuatan busana, kalau tidak salah dalam acara pergelaran fashion show..?" Ucap Bramantyo sembari melirik Krishna bertanya benarkan yang dikatakannya dan dianggukin Krishna
"Nah, ternyata ada pihak yang iri dan menyabotase kain kain yang Bapak kirim dan menggantikan nya dengan kain kain yang kualitasnya jelek. Bapak sampai shock mendengar kabar dari pihak Yudistira entertainment, mereka marah dan mengancam akan menuntut Bapak, tapi memang karena Bapak yang nggak salah, akhirnya Tuhan mengirim nak Krishna menjadi dewa penolong Papa, dia yang sering menggunakan produk produk dari perusahaan Papa, sehingga dia bisah tau kalau kain yang berada di Yudistira entertainment itu bukan dari perusahaan Papa. Dengan beberapa bukti yang dia miliki. akhirnya orang yang menyabotase itu ditangkap dan nama Papa juga menjadi bersih lagi berkat nak Krishna."
Bramantyo menatap Krishna seakan mengisyaratkan ucapan banyak banyak terimakasih. Krishna mengangguk dan tersenyum, seakan mengatakan tidak Papa Pak.
__ADS_1
"Kamu tahu nak, Papa sangat senang tadi saat nak Krishna datang kerumah kita, apa lagi mengatakan kalau kalian bekerja diperusahaan Yudistira entertainment dan menjadi stylish nya. Papa senang dengarnya. Dan setelah sekian lama akhirnya Papa bisa bertemu lagi dengan nya dan mengucapkan terimakasih padanya secara benar. " Ucap Bramantyo diakhiri dengan kekehan.
"Yah udah, kalian ngobrol aja dulu, Papa tinggalin. Nak Krishna jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri" Ucap Bramantyo sebelum akhirnya berlalu, Krishna hanya tersenyum sedangkan Ayura mendelik.
"Ay, ajak nak Krishna makan, dia belum makan dari tadi."
Sepeninggal nya Bramantyo, hening melanda. Ayura menunduk, karena Krishna sedang memandang nya dengan tatapan yang baginya aneh, entah itu marah kecewa atau bahkan sedih.
Sampai sura Krishna memecah keheningan tapi malah membuat Ayura gusar. "Kenapa ponsel mu nggak bisah dihubungi..?"
Jeduuarrr...
Mampus mampus mampus, apa yang harus ku jawab coba..? Pikir... pikir... pikir.... cepat pikir Ayura. Tidak mungkinkan kamu menjawab Pak Abi yang sengaja mematikannya, bisah perang Dunia nih, hubungan Krishna dan Pak Abi aja masih berantakan. Terlihat beberapa kali mereka berantem dan berdebat, apa lagi sikap Krishna yang selalu cemburu dan merasa disisihkan oleh Ayura saat bersama Abi.
"Ay... " Suara Krishna menyadarkan nya.
"Eh.. baterai nya habis Krish dan aku belum sempat ngecas."
'Wahh! Ternyata aku pintar banget mencari alasannya.' Ayura tersenyum didalam hati.
"Cih!" Krishna berdecih. Ayura hanya bisa tersenyum kikuk.
Tak berselang gadis itu mengingat sesuatu, dia tidak melihat dua makhluk tak kasat mata berlalu lalang didalam rumah, perasaan ini masih jam sedu dan tidak mungkin kan merka sudah tidur..?Krishna menyadari nya.
Ayura melirik Krishna dan ber oh ria.
Krishna hendak membuka suara lagi, menanyakan tentang dirinya yang pergi bersama Abi tadi siang, tapi sebelum bibir itu mengucapkan pertanyaan dengan sempurna Ayura cepat cepat menikung nya, dengan mengajaknya makan malam.
"Makan yuk, kamu belum makan kan, ini udah jam berapa, entar kamu lapar loh, ayok!" Ajak Ayura gesit lalu berdiri dan menarik tangan Krishna.
Krishna hendak menolak tapi melihat tangannya yang sudah ditarik Ayura, membuat nya melupakan apa yang ingin ditanyakan, lagi lagi genggaman tangan Ayura selalu bisa menghipnotis nya.
Ayura sedang melayani Krishna dimeja makan, mengambil nasi dan lauk untuk pria itu, bak isteri sholeha yang sedang melayani suaminya, Krishna benar benar bahagia senyumnya tak lepas dari bibir nya.
Ayura pun ikut mengabil nasi dan lauk untuk dirinya, menemani Krishna. Sebenarnya dia sudah kenyang dan berniat hanya menemani Krishna makan tapi takut pria itu tersinggung dan bertanya tentang kebersamaannya dengan Abi seharian ini membuat dia terpaksa ikut makan.
Sedangkan Pak Bramantyo, sudah makan bersama Angel dan Amarah, itu yang dikatakan asisten rumah tangga nya tadi.
Krishna memandang Ayura " Jadi kamu belum makan..? Emang kamu nggak ditraktir sama atasan mu.. ? Ck! Pelit banget dia. Jalan sama cewek pulang pulang bawa perut kosong. Sekere itukah dirinya..?" Sarkas Krishna dengan senyum mengejek.
Ayura memandang sekilas kemudian menundukan kepalanya, tak tahu mau bilang apa, nasi didalam mulutnya tiba tiba berubah menjadi keras seperti batu tak bisah untuk dikunya apa lagi buat ditelan.
'Hufff, aku memilih makn bersamanya agar tidak kecewa dan bertanya yang aneh aneh tentang kepergian ku tadi siang, eh dia malah memojokkan Pak Abi. Tau begini mendingan aku jujur saja tadi ya. Maaf Pak Abi gara gara aku,kamu difitnah' Desah Ayura dalam hati.
__ADS_1
Sedangkan belahan bumi di bagian lain, terdengar seseorang sedang bersin bersin. " Kok aku bersin bersin..? Pasti Bibi lupa membersihkan kamar ku."
Setelah menyelesaikan sesi makan malam, kini Krishna berpamitan pulang. Kini keduanya sedang berdiri di teras depan
"Besok tidak usah kekantor, cukup dirumah saja, siapkan pakaian secukupnya yang mau dibawah, istirahat dirumah saja, hmm.." Pesan Krishna sembari menepuk pelan pucuk kepala Ayura.
Ayura mengangguk. Dan melambai saat Krishna sudah didalam mobil. Ayura menghela nafas pelan, memutar tumit menuju kamarnya.
"Ahhh tempat tidur ku.. "
* * * * *
Dikamar, Ayura baru saja membersihkan diri, kini duduk di meja rias melakukan ritual membersihkan wajah dilanjutkan mengoles krim dan menyemprotkan serum. Beralih ke kasur saat nya mengukur tempat tidur.
Baru saja kepalanya menyentuh banta, bunyi dering telpon memaksanya beranjak dari kasur, diraih ponsel nya diatas nakas. Keningnya terlipat halus mengetahui siapa yang tengah menelponnya.
"Halo Pak!" Sapa Ayura setelah menekan tanda hijau pada layar ponselnya.
"Ay, apa aku mengganggu istirahat mu..?" Tanya pria di ujung telepon.
"Tidak juga Pak.. hmmm, ada apa ya Pak..?"
Pria diujung telepon terdiam sesaat. Tak tahu harus menjawab apa saat ditanya seperti itu karena sebenarnya dia juga bingung mau mengatakan apa karena sesungguhnya dia hanya ingin mendengar suara gadis itu.
"Pak Abi." Panggil Ayura
"Hmmm, aku hanya ingin mengatakan, besok aku ingin bertemu dengan mu."
"Maaf Pak tapi aku nggak bisa ." Tolak Ayura tak enak hati, bagaimana bisa dia pergi menemui Abi, sedangkan tadi Krishna berpesan untuk tidak kekantor.
Ayura sebenarnya bingung dengan posisinya sekarang, menjadi bawahan Abi, tapi malah diperintah oleh Krishna dan kenapa Abi hanya diam.
"Kenapa..? Apa kau lupa dengan peraturan yang kau sendiri yang buat..?" Ingatkan Abi pada pertandingan yang mereka lakukan di air terjun tadi.
Ayura menepuk jidat ' Mampus aku, kenapa aku sampai lupa ya..? Huff tapi Krishna kan menyuruh ku untuk tetap dirumah..?'
"Besok aku nggak kekantor Pak, aku mau siap siap, lusa ke Jepang." Jawab Ayura tak enak hati
"Benarkah..?" Abi menyeringai.
Ayura mengangguk, padahal pria diseberang tidak bakalan tau karena mereka tengah melakukan panggilan biasa.
'Cih! dia bahkan mempermudah usaha ku'Decak Abi tersenyum devil.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN N VOTE YA.. 🥰🥰