
Jarum jam sudah menunjukan angka 10 pagi dan Ayura belum juga keluar dari kamarnya. Itu berarti sudah satu jam Abi menunggunya. Padahal keduanya sudah sepakat semalm setelah makan malam, kalau pagi ini jam 8 Abi akan mengajaknya ke pulau sebelah. Ada sesuatu yang ingin Abi tunjukan pada gadis itu.
Tapi ini sudah lewat dua jam dari kesepakatan mereka. Abi yakin Ayura sudah bangun. Perasaan nya mengatakan Ayura tengah menghindar darinya.
Dia menghembus nafas kasar dan pada akhirnya dia beranjak dari sofa melangkah ke kamar Ayura.
Tok...Tok...Tok...
"Ay..." Panggil Abi lembut sembari mengetuk pintu kamar.
Tak ada sahutan dari dalam.
"Ay.. Bukankah pintu nya, aku tahu kau sudah bangun." Belum juga ada sahut dari dalam. Abi menghela nafas kasar.
"Ay..Dalam hitungan ketiga kalau kau tidak membuka pintunya, aku akan mendobraknya." Ancam Abi pada akhirnya.
"Satu..."
"Du.."
Klick...
Pintupun langsung terbuka, tapi Ayura hanya membukanya setengah, sepertinya dia tidak ingin Abi masuk kedalam kamarnya seperti biasanya.
Ayura terlihat belum mandi, penampilannya pun masih seperti semalam.
Abi melempar senyum teduh. "Kenapa belum siap, bukankah kita berjanji untuk berangkat jam 8. Apa kamu lupa..?" Tanya Abi dengan lembut.
Dia tidak ingin mengungkit atau membahas kejadian semalam, karena dia tak ingin Ayura merasa semakin canggung atau menjadi tak nyaman.
Pria itu bahkan mendorong pintu kamar yang masih ditahan Ayura. Gadis itu mau tidak mau ikut melangkah mundur membiarkan pintu semakin terbuka lebar. Dan pria itu melenggang masuk dengan santainya. Seperti tidak terjadi apa-apa.
"Aku tidak ingin pergi." Ucap Ayura pada akhirnya.
Abi langsung menoleh kebelakang, Dahinya mengkerut. "Kenapa..? Apa kau tak enak badan..? Apa kau sakit..?" Tanya Abi penuh kuatir, dia bahkan langsung meletakkan telapak tangannya dikening Ayura. Dan Ayura langsung menepisnya dengan pelan.
"Aku tidak papa kak." Ucap Ayura dengan grogi.
"Lalu..?: Tanya Abi lagi, sembari mendekati Ayura membuat dia mau tak mau harus ikut mundur.
"Apa karena masalah semalam kau ingin menghindar dari ku.?" Tanya Abi dengan netra menyorot tegas netra gadis itu dalam jarak dekat. Ada rasa kecewa disana, dan Ayura tahu itu..
"Tidak!" Jawab Ayura cepat. "Bukan karena itu."
"Benarkah..?" Ayura mengangguk pelan. "Kalau begitu cepatlah bersiap. Aku memberi mu waktu 30 menit untuk bersiap siap. Dan lakukan dengan cepat karena kita sudah terlambat." Ucap dan titah Abi tanpa ingin dibantah.
Kemudian mendorong tubuh Ayura kedalam kamar mandi. "Jangan lama lama Ay." Teriak Abi kemudian menutup pintu kamar mandi. Dia tersenyum tipis.
Abi pun langsung bergegas kekamara nya ,dia juga harus secepatnya bersiap siap.
__ADS_1
Dan tepat 30 menit, keduanya keluar dari kamar mereka yang bersebelahan bersamaan. Abi lalu melempar senyuman.
"Ayo, kita sarapan dulu." Ajak abi kemudian menarik tangan Ayura.
Keduanya pun menikmati sarapan sepotong sandwich dan cokelat panas. " Maaf, hanya ada ini. Aku tidak sempat membuat nasi goreng, karena aku juga terlambat bangunnya." Sesal pria itu merasa bersalah, karena semalam Ayura memintanya membuat nasi goreng untuk sarapan mereka.
Tapi karena dia yang terlambat bangun membuatnya tidak memaksa nasi goreng pesanan Ayura tadi malam.
Nasi goreng yang dibuat semalam menurut Ayura sangat enak, hingga dia meminta Abi memasaknya lagi untuk sarapan pagi ini.
"Tidak papa kak, lain kali saja." Ucap Ayura mencoba menenangkan Abi. Karena yang dilihat nya, Abi sepertinya sangat merasa bersalah.
Ayura memang mengakui bersama Abi, dia selalu merasa nyaman, pria itu tahu cara membuat suasana menjadi nyaman.
Seharusnya Abi bisa saja merasa kecewa padanya karena sudah meninggalkan dia tadi malam, tapi pria itu terlihat biasa biasa saja, bahkan dia juga tidak menyinggung tentang kejadian semalam. Abi selalu saja bisa membuatnya nyaman disegala situasi.
🍒 🍒 🍒
Keduanya kini sudah ada didalam kapal pasir mewah milik Abi, yacht.
Kapal pesiar mini yang ditaksir harga milyaran rupiah yang akan mengantar keduanya kepulau seberang.
Abi membantu Ayura untuk naik kapal mewah itu. Di ikuti seorang pelayan yang membawakan sebuah keranjang, bekal mereka berdua.
Dan kini tinggalah keduanya didalam kapal, Ayura terkesima saat mengetahui Abi sendiri yang mengemudikan kapal mewah itu.
"Kak, kau bisa membawa nya..?" Tanya Ayura dengan raut penuh kagum. Dan Abi tahu itu. Pria itu bahkan tersenyum melihat ekspresi Ayura.
"Benarkah...?"
Abi mengangguk. "Saat kita pulang kekota, aku yang akan membawa helikopter nya."
Ayura malah menyipitkan matanya. "Kenapa..? Apa akau tidak percaya..?" Selidik Abi dengan ikut menyipitkan mata kearah Ayura.
"Ck! Aku hanya tidak ingin mati muda kak." Ucapan Ayura meragukan kemampuan nya membuatnya melirik tajam kearah gadis itu.
"Jahat kau Ay. Kau meragukan kemampuan ku. Aku akan buktikan suatu saat nanti." Ucap Abi dengan menampilkan raut kesalnya
Ayura malah terkekeh. Melihat ekspresi Abi yang sedang kesal. Membuat Abi pun ikut tersenyum tipis.
Untuk sesaat keadaan menjadi hening, Abi fokus dengan jalan didepannya. Ayura pun menikmati pemandangan laut yang berwarna hijau. Dan pandangannya kemudian menyapu isi kapal, dia berdecak kagum dengan kemewahan kapal itu hingga dia menyadari sesuatu. " Kak, kok hanya kita berdua..? Kemana para pelayan itu..?"
Setahunya tadi ada beberapa pelayan yang ikut masuk kedalm kapal, tapi kemana pergi pelayan itu..? Tidak mungkin kan dia dan Abi saja yang akan pergi kepulau tak berpenghuni itu. Mengingat itu membuatnya merinding.
Abi yang melihat kecemasan Ayura hanya bisa mengulum senyum. "Ck! Kenapa kalau hanya kita berdua..? Lagian kalau mengajak mereka semuah. Kapalnya akan penuh, terus kita berdua nya bagaimana, apa kmau mau duduk diatas laut..? Ucapan Abi bernada candaan membuat Ayura mencebik, pria itu malah terkekeh.
Keadaan menjadi senyap, Ayura kembali menikmati pemandangan laut didepannya, sesekali netra nya melirik Abi yang terlihat fokus ,dia terlihat semakin tampan berkali-kali lipat dan begitu mengagumkan dimata Ayura.
Dia tidak menyangka Abi bisa sehebat itu. Dia bahkan merasa bangga bisa mengenal pria itu. Pria yang selalu ada saat dirinya bersedih ataupun terluka. Dia yang selalu ada dan pertama kali datang disaat saat dia mendapat masalah atau musibah, bahkan Papnya saja tak secepat dan sepeka dirinya.
__ADS_1
Pria itu bahkan bisa mencairkan suasana, bisa mengendalikan segala situasi menjadi baik baik saja dan menjadi nyaman untuk Ayura. Memberi warna dan kebahagiaan untuknya.
Seperti saat ini, Ayura bahakn sudah melupakan peristiwa tadi malam, bahkan sikap santai Abi dan cara pria itu mencairkan suasana yang kaku membuat keadaan menjadi nyaman untuknya.
Ayura merasa sangat bersyukur dan bangga padanya.Tapi bagi Ayura hanya sebatas itu, tak lebih.
Dia sendiri belum menyadari sepenuhnya bagaimana dengan hatinya untuk pria itu.
"Melamun apa hmm..?" Suara lembut Abi membubarkan lamunan Ayura. "Apa mau berdiri disini..?" Tunjuk Abi pada kemudi kapalnya.
"Emang boleh..?" Tanya Ayura dengan antusias.
"Hmm, aku akan mengajari mu." Ucap Abi dan dianggukin Ayura dengan penuh semangat.
Dia pun langsung berdiri dibelakang kemudian kapal. "Apa begini caranya..? Tanya Ayura dengan kedua tangan telah diletakan diatas kemudi kapal itu, dan digerakannya pelan.
"Hmm." Abi mengangguk. kemudian memajukan tubuhnya Hingga posisinya begitu nempel dengan Ayura, Ayura begitu kaget dengan situasi ini, di belum sempat menolak tapi pria itu kembali meletakkan kedua tangannya di atas tangan Ayura yang berada diatas kemudi kapal.
Keadaan benar benar membuat darah Ayura berdesir hebat. Detak jantungnya pun berdetak tidak karuan. Baru saja dirinya memuji kalau Abi selalu membuatnya nyaman, tapi apa ini. Pria itu bertingkat seenak jidatnya tanpa memikirkan perasaan Ayura yang sudah kacau balau.
"Kak..." Lirih Ayura tak terima dengan keadaan ini dia bahkan sedikit menoleh menunjukan wajah protesnya.
"Diam dan fokus kedepan Ay. Jangan sampai kita nyasar kepulau hantu." Ucapan Abi bernada ancaman membuat Ayura kaget dan langsung kicep..
Pulau hantu..? Yang benar saja. Gadis itu langsung bergidik ngeri membayangkan itu. Dan sekejap melupakan keberadaan Abi yang masih menempel dibelakang nya.
Sedangkan Abi sendiri, pria itu mengulum senyum bahagia, berada sedekah itu dengan gadis ya g sudah menempati seluruh hatinya. Menghirup aroma tubuh Ayura, tanpa sungkan.
Apalagi melirik kedua tangannya yang tengah menggemggam tangan gadisnya. Ahh.. Dia terlalu bahagia untuk saat ini.
Ingin sekali dirinya meletakkan dagunya diceruk leher gadis ini dan menyesapnya sedikit, dan tangannya pun terasa gatal ingin mendekap erat pinggang Ayura, tapi itu sebatas wacana tanpa bisa direalisasikan. dia tak ingin Ayura merasa risih dan malah menjauh
🍒 🍒 🍒
Tiga puluh menit berlalu, keduanya kini telah samapi di pulau seberang. Abi langsung bergegas turun, setelah itu dia membantu Ayura untuk turun dari kapal.
Karena dipulau itu tak ada dermaga membuat Abi harus menurunkan Ayura dengan cara menggendongnya.
Dengan sedikit canggung Ayura mengalungkan kedua tangan nya dileher Abi.
Jarak tubuh mereka yang begitu menempel membuat Abi maupun Ayura seketika berhenti bernafas. Abu menikmati pelukan erat Ayura.
Sedangkan Ayura sendiri menikmati aroma parfum mahal dari tubuh tegap Abi
Ayura selalu terlihat salah tingkah tapi tidak dengan Abi, pria itu selalu saja menikmati momen momen langkah ini. Sesekali menikmati raut wajah Ayura yang terlihat malu malu bahkan kadang memerah. Sungguh sangat menggemaskan
Abi menurunkan Ayura dengan pelan dan hati hati. Pria itu memperlakukan Ayura seperti boneka porselin yang gampang pecah membuat Ayura melting.
Melepaskan kecanggungan yang sempat terjadi Ayura kini menikmati pemandangan indah yang kini tersuguhkan didepan matanya.
__ADS_1
Gadis itu berdecak kagum. Pemandangan dipulau ini tak kalah indah dengan pulau pribadi milik pria yang Ayura tidak bisa bayangkan sebanyak apa kekayaannya dan sebesar apa kekuasaan nya.
"Kak, apa itu..?" Pekik Ayura melihat sebuah pesawat yang terdampar tak jauh dari sana .