Gadis Masa Lalu

Gadis Masa Lalu
Perang Bibir


__ADS_3

Terhitung Sudah seminggu lebih, baik Krishna maupun Ayura masih saling diam.


Tapi tidak seperti hari hari awal saat baru terjadi gencatan senjata, sekarang Krishna sudah tidak menyuruh Adam yang membuatkannya kopi. Ayura sendiri lah yang membuatnya.


Dan pagi ini Ayura tengah membawa secangkir kopi dari pantri dengan santun meletakan diatas meja."Ini Pak kopi nya " Ayura menyapa dan meletakn secangkir kopi panas dihadapan Krishna dengan santun


"Hmm" Dan seperti biasa Krishna hanya berdehem tanpa menatap Ayura sama sekali.Gadis itu sudah terbiasa. Sang karep mu lah. Begitulah isi hati Ayura selalu bersorak malas.


Ayura hendak berlalu tapi suara Krishna menghentikan langkahnya. "Apa saja jadwal ku hari ini..?" Mengalihkan wajahnya dari berkas nya dan memandang Ayura datar.


"Jam 10 nanti ada pertemuan dengan Pak Reza Alexander. Dan jam 1 siang nanti akan ada rapat dengan Deluxe Group, sekalian makan siang. Setelah itu jam Bapak kosong."


"Kalau begitu bersiaplah, siang nanti ikut aku kita makan siang bersama Pak Bramantyo." Titah Krishna kali ini dengan sebuah senyuman kecil.


"Maaf Pak, tapi aku tidak bisa. Pekerjaan ku masih banyak. Dan aku nggak mau kena semprot lagi." Tolak Ayura dengan raut kesal.


Teringat kemarin dia disemprot pria dihadapannya ini habis habisan karena laporan yang diminta pria itu belum dikerjakannya.


Masalahnya saat pagi Pria itu memberikan berkas yang lain untuk dikerjakan dan saat siang dia minta berkas yang berbeda yang belum Ayura sentuh sama sekali karena gadis itu masih menangani berkas yang di minta Krishna kerjakan yang katanya urgen itu.


Sesungguhnya pria itu hanya ingin berinteraksi dengan Ayura saja, tapi caranya saja yang salah. Bukannya di menarik perhatian Ayura dengan cara yang manis, ini malah ngajak berantem, bukannya tambah baik malah memperburuk keadaan.


"Serahkan semuahnya pada Adam, apa susahnya. Kembali lanjutkan pekerjaan mu dan siapkan dirimu untuk makan siang nanti.Aku tidak ingin membuat beliau kecewa bila mendapat anak gadisnya tidak ikut makan siang bersama." Krishna sudah berultimatum, Ayura bisah apa.


Karena memang dia sudah diminta oleh Bapaknya, Pak Bramantyo untuk makan siang bersama saat pertemuan dengan Krishna, karena Deluxe Group merupakan perusahaan Papanya.


"Baiklah."Jawabnya dengan wajah sedikit ditekuk. Krishna tersenyum senang walaupun respon Ayura sedikit tak mengenakan hati.


Ayura masih sibuk dengan pekerjaannya ketika Krishna datang menghampiri meja kerjanya."Apa ini begitu sulit hingga dari kemarin belum kelar kelar..?" Tanya Krishna mengundang badai.


Ayura melirik tajam "Bapak kasih kerjanya kebanyakan udah gitu banyak mau, dan banyak perintahnya dari kemarin, gimana mau selesai coba. Baru aja disentuh, Bapak udah minta laporan yang lain.Baru mau dimulai Bapak merengek minta laporan inilah itulah.. Sebenarnya Bapak maunya apa sih..?" Ketus Ayura dengan wajah penuh emosi.


Bukanya tersinggung atau pun marah,pria itu hanya bisa mengatupkan bibirnya demi menahan tawa.


"Apa mau dibantu..?" Krishna sepertinya sudah lelah diam. Dan sekarang bendera putih telah dikibarkan pria itu ingin berdamai .


Ayura mendongakn kepala, menatap sekilas kemudian kembali fokus pada angka dan aksara yang terurai sempurna pada kertas putih itu.


"Emang Bapak nggak ada kerjaan apa, ganggu orang mulu dari tadi. Kalu mau bantu ya bantu aja, nggak usah pakai ditanya."


Krishna tersenyum senang mendengar omelan Ayura. Gadis itu sudah sedikit mencair. Tinggal sedikit usaha lagi mungkin dia sudah bisa menarik gadis itu dalam pelukannya.

__ADS_1


Didekati tempat duduk Ayura, berdiri dibelakang Ayura ,pria itu memandang layar laptop yang tengah menyala, dia tengah melihat hasil pekerjaan Ayura. Hingga tanganya ikut diletakan diatas tangan kanan Ayura yang tengah memegang mouse.


"Lihatlah banyak kesalahan yang kamu buat Ay."Ucap Pria itu sambil menggerkan gerakan tangan Ayura pada mouse.


Bibir Krishna tepat disamping wajah Ayura hingga bisa tercium aroma mint dari mulut pria itu. Belum helaan nafas Krishna yang berhembus menerpa pipi mulusnya, membuat Ayura meremang.


Tangan Krishna masih menari nari menggerakkan mouse yang masih digenggam Ayura. Gadis itu tak dapat fokus, dengan semuah penjelasan yang tengah Krishna jelaskan. Otaknya sedang terkontaminasi dengan perlakuan Krishna yang mendebarkan, yang mampu memacu degupan jantung menjadi semakin berantakan.


Krishna tersenyum, dia tahu Ayura sedang tegang dengan kedekatan mereka, terbukti dengan tangan gadis itu yang mendadak dingin dan sedikit gemetar dalam genggamannya.


Apalagi melirik kesamping didapati pipi Ayura yang memerah. Dia pun tak dapat memungkiri kalau jantungnya pun sekarang sedang bertalu talu, terlalu bahagia di mengikis jarak, hingga pipi keduany bersentuhan.


Serrrrhh...


Bunyi desiran dihati mereka berdua saling berlomba.


Ayura sudah tidak kuat dengan semuah ini, buru buru bangkit, membuat tubuh Krishna reflek ikut terangkat dan mundur kebelakang.


"Bapak aja yang selesaikan, aku mau keluar sebentar." Ucap Ayura, kemudian menduduki Krishna dikursi kerjanya.


"Kenapa begitu..?" Krishna merasa kesal, Ayura menghancurkan momen indah yang tengah dia buat.


"Aku mau ketoile"


"Aku sudah nggak tahan."Ucapnya lagi sambil pura pura meringis. Sesungguhnya dia hanya ingin memghindar dari kejadian yang bisa menyebabkan sakit jantung ini.


Krishna hanya mendesah kesal. Tapi sedetik kemudian dia kaget saat Ayura melangkah terus kepintu keluar.


"Mau kemana kamu..?"


"Ketoile Pak, emang mau kemana lagi..?" Jawab Ayura dengan sedikit kesal.


Krishna mendekat, ditariknay lengan Ayura "Kenapa ikut situ" Menunjuk pintu keluar dengan menggerakn dagunya. "Kenapa nggak didalam aja.?"


Ayura memutar bola mata jengah. "Biasanya juga aku ikut sini dan Bapak diam saja. Tapi kenapa sekarang Bapak malah marah."


"Karena sekarang aku sedang menunggu laporan yang belum selesai selesai itu, kalau kamu menggunakan toilet umum, itu akan memakan waktu yang lama, belum lagi kamu akan bertemu dengan taman teman mu, pasti say hai nya berjam jam. Terus kapan laporan itu bisa ada dimeja ku..?"


"Jadi sekarang, cepat masuk kedalam gunakan toilet itu dan cepat keluar dan cepat selesaikan apa yang aku minta." Ujar Krishna panjang lebar kemudian membalikan badan Ayura dan mendorong tubuh mungil kedalam ruangan pribadinya.


Ayura pun akhirnya pasrah masuk kedalam ruangan pribadi milik Krishna, tapi sebelum itu dia melempar lirikan tajam pada Krishna membuat pria itu tergelak kencang

__ADS_1


Ayura baru saja menyelesaikan hajatnya, lebih tepatnya mencoba menghindari Krishna guna menetralkan degupan jantung dan mendinginkan tubuhnya yang sempat panas akibat ulah Krishna.


Dia baru saja membuka pintu toilet sambil merapikan ujung bajunya, tapi Ayura menjadi kaget saat langkahnya sudah dihadang Krishna.


"K..Krish, ngapain kamu disini..?" Ayura sangat kaget, mendapat Krishna berdiri dihadapannya sekarang , Baru saja dia menetralkan reaksi tubuhnya yang panas dingin, sekarang dihadapkan lagi dengannya didalam ruangan pribadinya pula.


"Ketoilet kaya kamu lah, emang mau apalagi coba ..?" Jawab Krishna diselingi dengan senyum menyeringai membuat Ayura waspada.


Apalagi dilihatnya Krishna melangkah mendekat. Ayura yang kuatir langsung menunduk dan melangkah pergi, tapi saat melewati tubuh Krishna, langkahnya terhenti karena tangannnya sudsh dicekalkuat oleh Krishna.


"Ay.." Lirih Krishna langsung berbalik menatap punggung Ayura "Maaf.."Tak ada reaksi dari depan hingga Krishna sekangkah maju dan langsung memeluk Ayura dari belakang.


"Krish.."Kaget Ayura dengan tubuh menegang.


Dia mencoba melepaskan tangan Krishna. tapi belitan Krishna semakin mengerat . "Biarkan seperti ini Ay, aku sangat merindukanmu." Ucap Krishna dengan sendu, dan langsung meletakan dagunya pada bahu Ayura membuat gadis itu memekik.


"Krish.." Ayura menghela nafas. "Kalau rindu kenapa mendiamkan ku. Kenapa dingin pada ku. Aku tahu aku salah, tapi kamu juga salah Krish. Terus kenapa tak mengajak berbicara kenapa memilih dingin dan mengacuhkanku." Cecar Ayura dengan suara bergetar


Krishna tertegun sontak mengangkat kepalanya yang bertengger pada bahu Ayura. Dibalikan badan Ayura hingga keduanya kini bersitatap.


Ayura menatap Krishna dengan mata berkaca kaca membuat Krishna merasa bersalah, seketika dadanya terasa sesak seperti dihantam dengan ghondham yang besar. Sesak dan sakit melihat kekasih hatinya terluka karena sikap dinginnya.


Dia fikir Ayura tak terluka, dia pikir Ayura cuek saja dengan sikap dindingnya hingga dia terus mendiaminya sampai detik ini. Tak pernah menyangka kalau Ayura pun sama terlukanya dengan dirinya.


"Maaf sayang, maafkan aku ,aku yang salah" Tangan Krishna terulu mengusap lelehan kristal bening yang tengah berderai. Didekatkan wajahnya dan mengecup kedua mata Ayura bergantian.


Ayura tertegun, tapi kemudian tanpa menunggu Krishna kembali mengecup kedua pipi Ayura, dilanjutkan dengan hidung gadis itu. Kemudian netranya menatap dalam bibir Ayura, Ayura hanya diam dan memejamkan matanya saat bibir Krishna mendekat membuat Krishn tersenyum senang dalam hati.


Tanpa menunggu disesapnya bibir mungil Ayura yang sudah sangat dirindukan itu. Sesapan berganti menjadi lum*tan dan pag*tang yang menuntun semakin dalam dan lama.


Ayura menikmati dalam diam, sesungguhnya dia pun merindukan semuah ini, dikalungkan kedua tangannya dileher Krishna, dia pun ikut larut dalam permainan bibir dan lidah Krishna yang memabukan.


Pag*tang itu masih berlangsung, keduanya bahkan saling memiringkan kepala kadang Kekiri kadang pula kekanan agar hidung mancung mereka tak bersentuhan agar tidak mengganggu silahturahmi bibir mereka.


Krishna akhirnya melepaskan tautan bibir mereka saat dirasa Ayura kehabisan oksigen, dia tersenyum melihat Ayura tengah mengatur jalanan pernapasan. Gadis itu meraup udara dengan rakusnya.


Diusapnya bibir Ayura yang basah karena salivanya dengan ibu jarinya .


"Aku mencintaimu sayang." Dibelianya pipi merah merona nya Ayura. Gadis itu hanya diam, merasa malu membuat dia menggigit bibir bawahnya, tanpa sadar hal itu malah memancing hasrat Krishna kembali mengudara


Tanpa menungguagi pria itu menarik tengkuk Ayura, dan kembali mem*gut bibir Ayura dengan rakus karena dia fikir Ayura tengah menggodanya .

__ADS_1


Digesernya tubuh Ayura hingga berdiri membelakngi kasur tanpa melepaskan sedikit pun pag*tan itu, pria itu kemudian melangkah pelan, menekan tubuh Ayura hingga tubuh gadis itu jatuh diatas kasur empuknya. Diikuti dirinya yang masih menyesap, mem*gut dan mel*mat habis bibir mungil sang kekasih.


Dan perang masih berlanjut karena keduanya larut dalam pertempuran Sengit bibir mereka. Diiringi Bunyi decitan bibir mereka menggema diseluruh ruangan.


__ADS_2