
Hari ini tepat seminggu Ayura berada dirumahnya setelah kembali dari rumah sakit.
Dan sesuai rencana yang telah disepakti kedua keluarga , hari ini adalah hari pertunangan Ayura dan Krishna tepatnya sebentar malam disebuah hotel megah bintang lima.
Sebentar lagi semuah akan berubah, baik status dan kebebasannya. Tak ingin melangkah kedepan dengan sebuah rasa ketidak pastian dan penasaran Ayura ingin memastikan sesuatu sebelum melangkah lebih lanjut
Tepat didalm kamarnya bercat putih berjendela kaca yang lebar, nampak seorang Ayura tengah duduk didepan jendela dengan menatap nanar keluar jendela dengan tangan yang memegang ponselnya.
Terlihat dia sedang menghubungi seseorang. Netra gadis itu terus memandang kedepan, menatap kosong pemandangan diluar dari balik dinding kaca itu.
Tangan nya senantiasa mendial tombol hijau. Panggilan masuk tapi sepertinya tidak ada respon dari seberang sana. Tak patah semangat gadis itu terus saja berusaha.
Kembali dia melakukan panggilan, lagi dan lagi ,sampai entah yang keberapa kalinya. Netra gadis itu terus menatap kosong kedepan, sesekali melihat layar ponsel hanya untuk menanti keajaiban seseorang diseberang sana yang tengah dihubungunya mengangkat panggilannya.
"Kenapa tidak mengangkat panggilan ku kak. Aku tahu kamu mendengar panggilan ku. Kenapa bersikap seperti itu, Kenapa menjauh dari ku tanpa aku tahu kesalahan ku. Kenapa kak..,kenapa..?" Lirih gadis itu dengan deraian air mata.
Dia hanya ingin mendengar suara pria yang sudah mencampaknnya itu, pria yang sudah melambungkan angannya akan indah nya sebuah cinta lalu memghempaskannya dengan kuat kedasar kerah bumi yang paling dalam.
Dia hanya ingin mendengar alasan pria itu kenapa begitu tega memberikannya harapan palsu dan malah menyerahkan pada pria lain lebih tepatnya adik nya sendiri.
Sebelah tangannya memghapus tetesan air mata, dan sebelah tangannya lagi dengan jemari lentiknya menari nari diatas layar datar itu.
[Kenapa tidak mau mengangkat telpon ku kak.? Kenapa kau menghindar dari ku dan kenapa mencampakan ku..? Apa salahku hingga kak Abi melakukan itu pada ku, memberiku harapan kemudian menghempaskan ku .]
[Ka, hari ini hari pertunangan ku, apa kau tahu..? Ahh, tentu saja kau tahu, bukankah kau sendiri yang melemparkan ku pada adik mu..? Apa kakak tidakkah benar benar mencintaiku..? Apa kebersamaan kita selama dipulau itu tidak ada arti bagimu..? Perhatian mu, kasih sayang mu dan juga ungkapan cinta mu, apa semuah itu hanya sandiwara..? jawab kak, Beri aku satu alasan hingga aku bisa melangkah dengan ikhlas tanpa menoleh lagi pada mu.]
Dua pesan berisi kekecewaan terkirim lewat aplikasi berlogo hijau.
Sudah beberapa menit belum ada balasan dari seberang. Ayura yakin Abi sudah membaca pesannya.
Tetes air mata terus mengalir membasahi pipi mulus Ayura, mengingat sebentar lagi dia akan terikat dengan pria yang tidak dicintainya.
Dia hanya ingin bertemu Abi, mendengar alasan pria itu mencampaknnya
Menanyakan pada pria itu akan perasaannya yang selama ini diutarakan padanya, apa itu hanya omong kosong belaka, apa Abi sedang mempermainkan hatinya disaat dia pun memiliki perasaan yang sama terhadap pria itu.
Tatapan nya kosong kedepan dengan tetes tetes air mata yang terus berderai, tak seharusnya Abi melakukan ini padanya.
Jauh disudut hatinya yakin Abi sungguh sungguh mencintainya, tapi melihat cara pria itu yang mencampaknnya dan tak pernah menemuinya ataupun menghubungi nya membuat dia merasa Abi benar benar memepermainkan perasaannya.
"Tega kau kak.."
Cklick...
Pintu terbuka, Angel masuk dengan senyum binar, meluhat saudara tirinya yang belum menyadari kehadiran nya.
"Hei, gadis yang sebentar lagi bertunangan dilarang melamun, entar calonnya digondol maling." Canda Angel dan langsung melingkarkan kedua tangannya dileher Ayura yang tengah membelakanginya.
"Ay, kamu menangis..? Ada apa..?" Tanya Angel bingung saat menyadari mata Ayura sembab.
__ADS_1
Buru buru Ayura mengusap pipinya yang basah.
"Ada apa, Ay..?" Tanya Angel lagi dan langsung membalikan tubuh Ayura
"Aku nggak papa Njel. Hanya teringat almarhum Mama, hikh..hikh.." Dusta Ayura, tangisannya pun langsung pecah. Karena setelah mengatakan dusta itu dia benar-benar teringat almarhum Mamanya.
"Ohhh...Astaga sayang, jangan sedih ya, kan ada aku sama Mama disini, kami akan selalu ada untuk mu, apa pun yang kau inginkan, jangan sungkan katakan pada Mama, Ay. Kami keluarga mu sekarang. Memang, Mama Amara tidak bisa menggantikan posisi Almarhum Mama mu, tapi aku yakin Mama akan bisa membagi kasih sayang untuk kita, dia akan mengurus segala keperluan anak gadisnya yang akan bertunangan nanti. Jangan sedih ya, aku dan Mama sangat menyayangi mu, kamu tahu kan, Mama sudah berubah. Uuuuuu...Aku kan jadi ikutan sedih,hih..hikh."
Kedua saudar tiri itupun menangis dalam pelukan.
"Makasih banyak Njel, aku juga menyayangi kamu dan Mama. Papa juga"
"Iya sama-sama, jadi sekarang ngga usah nangis nangis lagi, ini hari bahagia mu. Kamu akhirnya bertunangan dengan pria yang kau cintai bukan..?" Cicit Angel sembari membawa tubuh Ayura duduk pada kursinya.
Gadis itupun menarik sebuah kursi dan duduk dihadapan Ayura.
Dapat dilihat wajah murung Ayura setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.
Tatapan Ayura menerawang keluar jendela. Angel merasa gadis ini tengah menyembunyikan sesuatu.
"Ay.."Panggil nya. Ayura menoleh. "Apa aku bisa menanyakan sesuatu..?" Sebelah alis Ayura terangkat. Gadis itu pun mengangguk pelan.
Angel menghela nafas pelan, menarik kedua tangan Ayura dan mengenggamnya. "Apa kamu mencintai Krishna..?"
Deg
"Tentu saja aku mencintainya Jel. Kalau nggak bagaiaman mungkin aku mau bertunangan dengan nya..?" Jawab Ayura dengan menambah sebuah senyuman.
Tapi Angel tidak bisa segampang itu percaya. Dia tahu Ayura sedang berakting, menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
"Terus bagaiaman dengan Abi..? Aku pikir dia juga mencintai mu, kalian berdua pun pernah berlibur bersama bukan..? Aku kira kalian berpacaran..?"
Ayura memaksakan sebuah senyuman, senyuman menyakitkan tentunya. "Kami tidak berpacaran Jel, dan dia tidak mencintai ku."
'Dia hanya mempermainkan perasaan ku.' Tambah Ayura dalam hati.
Kening Angel terlipat halus , dia sangat yakin kalau Abi menaruh hati pada Ayura. Terbukti dengan semuah perlakuan Abi selama ini pada Ayura, tatapan pria itu, sikap lembut dan perhatian yang hanya ditunjukan pria itu pada Ayura, Abi yang begitu menjaga dan melindungi nya, dia bahkan hampir mati ditangan pria arogan itu saat Ayura kecelakaan, keningnya dihantam pot bunga kala itu.
Dan beberapa minggu lalu pria itu pun sering mondar mandiri di kediaman mereka hanya untuk mengantar dan menjemput Ayura waktu bekerja, kalau bukan karena pria itu mencintainya terus apa namanya..?
Dari sikap pria itu semuah orang pun bisa menyimpulkan kalau Abi ada hati sama Ayura. Tapi kenapa saudari tirinya ini mengatakan kalau Abi tidak mencintainya. Seperti nya ada yang salah disini.
Dan kalau mau jujur sesungguhnya bagi Angel, dia lebih suka Ayura bersama Abi bukan Krishna.
Karena dia lebih yakin Abi lebih mencintai Ayura, dibandingkan Krishna. Pria arogan dan kasar yang tahunnya hanya membuat luka Ayura berkali-kali.
Dia pikir kedua orang itu tengah menjalin sebuah hubungan terbukti dengan kedua nya yang berlibur berdua, tapi dia dibuat bingung saat kedua orang tua Krishna datang dan melamar Ayura untuk Krishna, dan lebih kagetnya lagi langsung diadakan acara pertunangan yang terkesan seperti teburu buru.
Tapi dia hanya bisa mengedik bahunya, tak mau terlalu ikut campur urusan asmara Ayura, bagaimana pun hubungannya dengan Dani pun masih menggantung.
__ADS_1
Sampai sekarang pun dia dan Dani belum bertunangan, pria itu masih menemani Bapaknya berobat diluar negeri. Lagian bukankah, Ayura juga pernah menjalin kasih dengan Krishna.
Sah sah saja sih kalau pada akhirnya mereka kembali dipersatukan. Angel hanya bisa berhipotesa sendiri.
"Hei!!! Ada apa nih, kenapa malah duduk disini..?" Tanya Amara sembari berjalan mendekati kedua Putrinya.
Dia yang ingin menyusul Angel yang disuruh memanggil Ayura, tapi nggak balik balik, eh malah menemukan kedua anak itu malah mendekam didalam kamar.
"Apa kalian menangis..?" Tanya Amara melihat kedua wajah putri nya sembab.
Buru buru Ayura dan Angel mengusap wajah mereka yang basah karena air mata.
"Nggak ada apa apa Mah." Jawab Angel dengan nyengir.
"Nggak ada apa apa kok pada nangis. Kamu ganggu adik kamu ya hingga dia nangis gini" Tebak Amarah dengan menyorot tajam Angel.
Happp
Satu pukulan mendarat dilengan Angel." Kamu yah, adik mu itu sebentar lagi mau bertunangan kenapa kamu malah menganggunya..?" Kesal Amarah
"Apa apaan sih Mah, aku nggak gangguan dia, dianya aja yang cengeng. Orang tuh saat mau menjelang hari bahagia tuh senang, eh dia nya malah nangis. Nyebelin kan." Cicit Angel dengan berpura-pura kesal pada Ayura
"Ck! Aku nggak cengeng Njel, kamu tuh asal nuduh. Lagian kami juga nangis kan. Kenapa hanya bilang diri ku." Cecar Ayura dengan bibir mengerucut.
"Hei, kalau kau tak mengajak ku menangis, aku pun takan menangis tau. Kau..."
"Udah udah udah, lagian kamu disuruh panggil Ayura, malah nangis disini, ayo cepat kebawah, pihak salon sudah datang."
Ayura yang sedang mengusap airmatanya menjadi kaget dengan ucapan sang Mama tiri.
"Kenapa denga orang salon Mah..? Kenapa mereka malah kesini."
"Ck! Yah untuk melakukan perawatan lah, masa mau masak masak disini..?" Jawab Angel
"Kenapa mereka kesini, kerumah ini..?" Tanya Ayura bingung.
Angel memutar bola mata jengah." Aku dan Mama pun nggak tahu, kenapa pihak salon kesini dengan membawa semuah peralatan nya. Kita akan melakukan perawatan dirumah ini, khususnya kamu."
Kini kening Ayura yang mengerenyit, gadis itu masih bingung. Membaut Angel berdecak dan memutar bola mata jengah
" Itu semuah atas permintaan calon tunangan mu, dia tidak ingin kekasih belahan jiwanya pergi keluar, dia takut calon tunangannya digondol maling, makanya dia menyuruh pihak salon untuk kesini. Orang sultan mah beda yah." Sindir Angel. Tapi Ayura hanya melongo bingung.
"Ha.."
"Udah, ayo kita kebawha cepat. Mereka sudah menunggu" Sela Amara, semabri menarik tangan kedua anak gadisnya.
"Hati hati kamu Ay, belum apa-apa Krishna begitu posesif pada mu, tahu deh saat nikah nanti, pasti kaku dikurangi dalm kamar dua puluh empat jam."
"Huss! Jangan sembarangan kamu Ngel." Tegur Amara denga mendelik tajam pada putri nya.
__ADS_1