
Abi dan Ayura kini berada di depan sebuah bangkai pesawat. Kesan pertama yang Ayura lihat adalah pesawat terlihat bersih dan terurus. Banyak pertanyaan muncul diotaknya terkait pesawat ini.
"Kak, apa pesawat ini mengalami kecelakaan dan terdampar disini..?" Tanya Ayura dengan netra yang masih meneliti badan pesawat itu.
"Hmm.."Abi menjawab dengan sebuah deheman. Dan Ayura langsung menoleh kearahnya.
"Apa ada korban..?" Selidik Ayura was was.
Abi mengangguk kearah gadis itu. "Semuah penumpang beserta pilot dan pramugari dinyatakan meninggal dan ada juga korban yang belum diketemukan sampai sekarang."
Blussh...
Seketika bulu kuduk Ayura berdiri. Dia yang memang takut dengan setan, hantu atau sejenisnya langsung menyorot Abi dengan penuh takut.
Abi yang menyadari itu langsung terkekeh pelan melihat reaksi Ayura. Dia tidak menyangka gadis kecilnya masih sama seperti dulu takut dengan setan dan kawan kawannya.
"Kamu takut.?" Tanay Abi sesaat Ayura merapat tubuhnya kesamping nya, dan tangan gadis itu langsung merangkul kuat lengahnya.
Ayura mengangguk pelan. "Aku takut. Kak...Kenapa malah mengajak ku kesini. Kita sedang menikmati pemandangan indah disini, bukan sedang ikut jejak misteri kan..?" Cicit Ayura dengan semakin merapatkan tubuhnya membuat Abi tergelak kencang dengan ucapan nya.
"Kak..jangan tertawa, ini nggak lucu. Aku nggak mau disini, Kita pulang aja ya." Rengek Ayura
Melihat ketakutan Ayura yang semakin besar, membuat Abi dengan sedikit paksaan melepaskan rangkulan tangan gadis itu. Abi lalu memegang kedua bahu Ayura dan menghadap kearahnya.
"Hei dengar! Kamu nggak usah takut dan kuatir, disini aman. Aku jamin itu. Ayo kita masuk kedalam, aku akan menunjukan sesuatu kepada mu."
Ayura tentu saja menolak, gadis itu menggeleng hebat saat Abi menggenggam tangannya dan menarik nya dengan sedikit paksaan kedalam pesawat itu. "Tapi aku takut kak."
"Percaya pada ku hmm.."
Tanpa menghiraukan rengekan Ayura yang teurs meminta pulang Abi terus saja mengajak paksa dirinya kedalm pesawat.
Dan benar saja, saat sudah didalam pesawat itu, Ayura dibuat tertegun dan kemudian gadis itu terkesima melihat dekorasi dalam pesawat itu yang didekor dengan indah menyerupai sebuah hunian mewah dengan dilengkapi sedikit perabot yang tertata rapi.
"Bagaimana..? Apa kamu menyukainya..?"Tanya Abi kemudian meletakkan sebuah keranjang yang berisi bekal mereka diatas meja.
Didalam juga terdapat sebuah kasur kecil untuk ukuran dua orang.
Ayura mengangguk pelan, dirinya masih menyapu seluruh ruangan dengan berdecak kagum.
🍒 🍒 🍒
Abi dan Ayura baru saja pulang setelah menikmati pemandangan dipulau tersebut. Berbekal kamera Canon keduanya mengabadikan setiap tempat yang dianggap indah. Abi bahkan banyak mengambil foto Ayura tanpa sepengetahuan gadis itu.
Waktu sudah menunjukan jam dua siang, Keduanya baru saja masuk kedalam pesawat karena sudah waktu jam makan siang.
Kini keduanya tengah menikmati santap siang mereka. "Apa kak Abi sering kesini..?" Tanya Ayura membuka obrolan diesela makannya.
__ADS_1
Abi tidak langsung menjawab, terlihat pria itu sedang berfikir. "Hmmm...ini yang ketiga kalinya." Jawab Abi kemudian kembali menikmati menu ikan bakar kesukannya dan Ayura.
Sesekali dia membersihkan tulang ikan dan diletakan diatas piring sang gadis.
"Benarkah..? Apa bersama pacar kak Abi..?" Pertanyaan Ayura membuat Abi seketika menghentikan makannya, dirinya pun langsung menatap Ayura yang juga tengah menatap nya. Kemudian menggeleng.
"Ck! Aku nggak percaya." Cebik Ayura.
"Terserah." Jawab Abi cuek.
"Emang kak Abi nggak memiliki kekasih..?" Abi kembali menggeleng. "Mantan..?" Tanya Ayura lagi, sesungguhnya dia sangat penasaran dengan kehidupan Abi yang sepertinya tidak pernah dia tahu.
Dan pertanyaan Ayura membuat Abi menghela nafas kasar. Dirinya kemudian meletakkan sendok diatas piringnya. Lalu menatap dalam netra Ayura.
"Aku tidak memiliki kekasih, apalagi mantan karena gadis yang kusukai menolak ku semalam."
Blussh...
Pernyataan Abi membuat Ayura kesusahan menelan salivanya. Dia langsung memutuskan tatapannya.
Dia merutuki dirinya sendiri, tak seharusnya dia menyinggung masalah semalam bukan..? Baik Dia maupun Abi sudah berusaha untuk tidak membahasnya atau lebih tepat menghindari tentang kejadian semalam, tapi kenapa malah dia yang membukanya. 'Hufff! Kenapa aku sebodoh ini sih.'
Ayura langsung menunduk, mengaduk ngaduk makannanya, dia terlihat salah tingkah membuat Abi kembali menghela nafas.
"Makan Ay." Titah Abi.
"Ay jangan banyak banyak sambalnya. Ini terlalu pedes. Nanti kamu sakit perut" Tegur Abi sembari menggeser mangkuk sambal itu dari hadapan Ayura. "Kembalikan." Titah Abi, menyuruh Ayura mengembalikan sesendok penuh sambal yang sudah diletakan diatas piringnya.
"Tapi aku baru memakannya sedikit kak." Rengek Ayura tak terima, tapi bila dia lihat wajah ketus pria itu membuat dia mau tidak mau menyendok kembali sambel diatas piringnya dan mengembalikan kedalam tempat asalnya dengan wajah cemberut.
Abi menarik nafas pelan, Sebenarnya dia juga nggak tega melihat raut kecewa Ayura, maka dengan berat hati dia kembali menggeser mangkuk itu kehadapan Ayura. "Janji, sedikit ya."
Ayura langsung mengangguk patuh dengan wajah yang berbinar.
"Aku akan memarahi para pelayan itu yang sudah lancang memasuki sambal ini kedalam keranjang."
Ucapan Abi membuat mata Ayura membulat penuh, karena dia sendiri yang meminta pelayan itu mengisi sambal itu tanpa sepengetahuan Abi.
"Ck! Jangan begitu kak. Aku yang memintanya. Lagian aku hanya memakannya sedikit, takan membuat perutku sakit. Kak Abi Janji jangan memarahi pelayan itu ya..ya..ya...?" Pinta Ayura dengan menampilkan pupy eyes nya, membuat Abi terkekeh kecil sambil menggeleng kan kepalanya.
Dan satu lagi nilai tambah untuk pria itu, Abi selalu tahu tentang dirinya luar dalam dan menjaganya dengan baik sampai hal sekecil ini. Berbeda dengan Krishna.
Teringat sebuah kejadian saat dirinya makan dengan Krishna, pria itu tak pernah menegurnya atau pun memarahinya saat Ayura memakan sambal atau cabai dalam jumlah yang banyak.
Alhasil setelah itu, dirinya mengalami sakit perut yang parah. Krishna dengan perasaan kuatirnya langsung mengantarnya kedokter.
Tapi besoknya Ayura yang memang bandel, ingin kembali memakan makanan berwarna merah terang itu, dirinya bahkan sudah meletakkan sambal itu keatas piring nya, tapi teringat dirinya kemarin menderita sakit perut yang begitu melilit membuatnya langsung mengembalikan sambel itu kedalam tempatnya
__ADS_1
"Kenapa dikembalikan..?" Tanya Krishna bingung.
Ayura menggeleng. "Nggak kenapa kenapa Krish" Jawab Ayura disertai sebuah senyuman.
Krishna pun tersenyum. Pria itu kembali melanjutkan makannya.
Seharusnya Ayura merasa senang dengan sikap Krishna yang seperti nya tidak pernah melarangnya mengkonsumsi makanan kesukaan nya yang selalu saja membawa petaka saat dia mengkonsumsinya dalam jumlah yang banyak. Tapi jauh disudut hatinya dia pun merasa sedikit sedih mengetahui Krishna tak pernah peka dengan dirinya.
"Ay...Hei.. Ay.." Panggil Abi sambil melambai tangannya didepan wajah Ayura membuat gadis itu tertarik kembali dari lamunannya. "Kamu kenapa. Apa kamu baik-baik saja..?" Tanya Abi penuh kuatir membuat hatinya menghangat.
Abi selalu saja begitu, tahu apa yang dirasakan. Dan selalu memberi kenyamanan untuknya.
"Aku nggak papa kak." Jawab Ayura dibarengi senyum sendu, meletakkan sendok diatas piringnya, tangan Ayura terulur menggenggam tangan Abi membuat pria itu terkesiap.
Ayura memberanikan diri meraih tangan Abi dan menggenggamnya.Tangan yang mampu dan sering menariknya bangkit dari keterpurukan. Tangan itu pula yang telah mengangkatnya naik setelah terjembab dari jurang kehancuran.
"Ada apa hmm..?" Tanya Abi melihat raut sendu gadisnya. Sebelah tangannya terangkat mengelus tangan Ayura yang masih menggenggam tangannya.
"Terima kasih kak. Terima kasih untuk semuah perhatian dan kasih sayang kak Abi. Terimakasih karena selalu ada untuk ku disaat aku bersedih, disaat aku terluka dan disaat aku terpuruk. Terimakasih karena selalu menjaga ku dan selalu membuat ku nyaman.Terimakasih kak." Ucap Ayura sendu, netranya bahkan sudah berkaca kaca.
Hati Abi terenyuh, diusapnya pipi mulus Ayura. "Itu sudah menjadi kewajiban ku untuk menjaga gadis kecil ku hmm."
'Gadis yang kucinta, dari dulu dan sampai kapan pun.'
🍒 🍒 🍒
Ayura duduk sendiri didalam pesawat itu. Abi sedang pergi menerima panggilan telpon dari Willy. Keadaan dalam pesawat yang tak ada sinyal membuatnya haru berjalan keluar mencari sinyal.
Dia terpaksa meninggalkan Ayura sendiri didalam pesawat itu, bukan karena kehendak gadis itu untuk memilih tinggal dalam pesawat itu ,tapi karena paksaan Abi. Karena dia tak ingin Ayura mengikutinya mengingat cuaca diluar sangat panas, Matahari bertengger dengan gagahnya diatas langit, menimbulkan terik yang sekan membakar kulit.
Dia hanya tak ingin Ayura merasa kepanasan. Itu sebabnya dia memaksa Ayura untuk tinggal walaupun gadis itu menolak keras dengan alasan takut sendirian didalam pesawat.
Tapi sedikit paksaan membuat Ayura mau tak mau mengiyakan permintaan Abi walau dengan wajah ditekuk parah.
Setelah menerima panggilan. Abi bergegas menghampiri Ayura, saat masuk kedalam, Abi tertegun hatinya pun menghangat, senyumnya pun terkembang melihat gadis yang entah sejak kapan, masuk dan menguasai seluruh isi hatinya tertidur pulas diatas kasur kecil itu dengan tubuh membelakanginya.
Abi mendekat, ditatapnya sisi kanan wajah Ayura yang tertutup rambutnya. Dengan pelan dan hati hati ia duduk diatas kasur itu. Dirapikan rambut Ayura yang menjuntai diwajah.
Senyumnya terkembang sempurna melihat wajah damai Ayura dalam tidurnya. Dia bahkan tak terusik saat Abi merebahkan tubuhnya disampingnya. Bahkan tangan pria itu sudah terangkat dan memeluk erat pinggang nya dari belakang.
Tak butuh waktu lama, Abi pun langsung masuk kedalam buaian indah dalam peraduan.
Dua jam berlalu kedua anak cucu Adam, tertidur dalam satu ranjang dengan wajah saling berhadapan. Tak berselang, Ayura yang merasa sedikit berat dipinggangnya, disertai hembusan nafas seseorang mengenai wajahnya membuat netranya perlahan terbuka.
Dan seketika dirinya menjadi sangat kaget. Saat melihat siapa yang sedang berada didepannya dengan jarak wajah yang begitu dekat. hampir saja dia berteriak kencang, tapi akhirnya dia bisa menguasai keadaan, hingga dirinya hanya memekik tertahan.
Belum juga dia merasa tenang, tapi kemudian kembali kaget saat melihat kebawah, tangan kokoh pria itu mendekapnya erat.
__ADS_1