
Terdengar helaan nafas dalam dari seberang sampai akhirnya Abi memutuskan sesuatu. "Baiklah, besok pagi aku menemuinya." Tutur Abi pada akhirnya.
Hal ini membuat Ardiansyah sangat bahagia. Dan panggilan pun berakhir.
"Kamu boleh pulang!" Ucap Ardiansyah pada Willy dan mengembalikan ponsel pria itu. Ardiansyah lalu bergegas kedalam ruangan dimana putranya tengah dirawat.
Dengan senyum lebar dia mendekati isteri dan putranya yang tengah menunggu berita dari Abi.
"Bagaiaman Pah, apa kak Abi akan datang...?" Tanya Krishna dengan cepat, dia bahkan langsung beranjak duduk.
"Pelan pelan nak, bangunnya. Kenapa harus terburu buru, Papa mu nggak akan kabur sebelum memberikan kabar pada mu." Ucap Airin sedikit kaget melihat putranya yang dari tadi terbaring lemah, langsung beranjak duduk hanya karena ingin mendengar berita dari Papanya.
"Iya nak. Besok pagi dia akn kesini menjenguk mu." Jawabn Ardiansyah membuat Airin dan Krishna tersenyum lebar.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya Pah." Ucap Krishna dengan senyum multi arti.
Dimata kedua orangtuanya, terlihat dia sangat bahagia dengan kedatangan Abi, tapi sesungguhnya pria itu tersenyum bahagia karena rencana besarnya akan terlaksanakan.
"Kamu begitu bahagia nak." Tanya Airin sembari membelai lembut rambut anaknya.
Krishn menanggapi pertanyaan Mamanya dengan sebuah senyuman.
"Jangan membuat masalah lagi dengan kakak mu, minta maaf padanya dan mulailah jalin hubungan baik dengan nya." Pinta beserta nasihat diucapkan oleh Airin.
"Iya Mah, aku akan berusaha memperbaiki hubungan kami." Janji Krishna dengan semangat membuat Airin tersenyum bahagia.
"Papa pegang ucapan mu Krish. Papa harap kamu bisa memegang kata katamu." Ucap Ardiansyah pada akhirnya.
Sebenarnya dia sedikit curiga dengan anaknya ini, sebagai pria yang terkenal dengan kelicikan dan kecerdasan dikala mudanya, dan semuah itu belum pudar seiring berjalan nya waktu, pria senja itu bisa membaca gelagat yang kurang baik dari putranya.
Dia menaruh curiga, sepertinya Krishna tengah merencanakan sesuatu, tapi dia belum tahu apa itu. Hingga dia langsung mengultimatum Krishna agar memegang kata katanya yang berjanji akan meminta maaf pada Abi dan mau menjalin hubungan yang baik dengan kakaknya.
Karena memang inilah yang diharapkan dia dan istrinya. Melihat kedua putranya bisa saling memaafkan.
"Pah, apa maksud mu berbicara seperti itu..?" Tanya Airin tak terima. Ardiansyah tak menjawab, dia malah terlihat menatap dirinya kemudian berbalik menatap Krishna dengan begitu datar.
"Aku akan pergi sebentar, aku mau bertemu dengan kolega dari India. Mama tetap disini jaga anak itu agar tidak berulah." Titah Ardiansyah dan langsung berlalu. Meninggalkan Airian hanya menggeleng kesal dengan sikap suaminya, sedang kan Krishna sendiri juga mencebik kesal.
Sepeninggalan Ardiansyah, Airin lalu mendekati krishna "Istirahat ya nak, jangan dengarkan omongan Papa mu. Mama mau mandi dulu, udah gerah anget nih" Airin pun langsung membantu Kkrishna untuk berbaring.
Setelah memastikan tubuh Mamanya benar-benar menghilang dibalik pintu kamar mandi, Krishna buru buru bangun dan duduk bersandar pada headbord, dia langsung mengambil ponsel dari dalam laci pada nakas disebelah tempat tidurnya dan bergegas menghubungi seseorang.
"Kalian sudah menemukan titik lokasinya bukan..?" Tanya Krishna pada seseorang diseberang saat panggilan terhubung.
"......."
"Kerja bagus. Bersiap lah, besok pagi kalian harus bertindak. Jangan buat kesalahan sedikitpun, aku harap kali ini misi kita berhasil..Aku mengandalkan mu, Dam." Ucap Krishna kemudian menutup panggilan dengan seringai puas.
🍒 🍒 🍒
Sedangkan belahan bumi bagian lain, tepatnya disebuah kamar. Setelah menutup panggilan tadi, terlihat seorang pria berdiri di depan kaca jendela yang lebar.
Sorot matanya begitu tajam menikmati pemandangan laut didalam hari dengan perasaan yang kacau.
Terdengar helaan nafas dalam dilakukan beberapa kali. Guna menetralkan suasana hati yang sedang tidak baik baik saja setelah menerima telepon dari Papanya.
__ADS_1
Lamunan buyar, saat terdengar dering vibrasi dari smartphone nya.
"Ada apa..?" Ketus nya saat panggilan nya terhubung.
"Maaf Pak, aku telah melakukan kesalahan." Sesal pria diseberang telepon
Abi menghela nafas kasar. "Aku tidak percaya, kamu bisa seceroboh ini Will." Ucap Abi dingin
"Maafkan aku Pak, Tuan besar yang memintaku untuk datang menemuinya. Aku tidak bisa menolak." Sesal Willy.
"Tidak papa, aku harap anak manja itu tidak sedang merencanakan sesuatu. Besok aku akan menemuinya. Kirim pasukan khusus untuk menjaga Ayura disini."
"Baik Pak."
"Pastikan semuahnya berjalan dengan baik saat aku tidak ada besok. Dan pastikan ahli IT kita tetap menjalankan tugasnya dengan baik dan lebih berhati hati lagi. Karena kemarin aku mendapat ada sinyal asing yang ingin menerobos keamanan kita."
"Iya Pak. Aku tahu itu dan kami sudah menghalau pengganggu itu. Dan untuk sekarang semuahnya aman."
"Hmmm..."
Panggilan berakhir, Abi kemudian beranjak pergi dari kamarnya, dia ingin menemui gadisnya dan memberitahu padanya besok dia akan pergi.
Sedangkan dikamar sebelah, nampak Ayura tengah mematuk dirinya dicermin. Sebelah tangannya mengangkat ponisnya, dengan netranya yang terfokus pada keningnya yang terlihat ada bekas luka yang terdapat dikedua sisi keningnya itu
Bekas luka sebelah kanan karena terhatam pot bunga karena dia berusaha menolong Angel waktu itu. Sedangkan sebelah kirinya karena jatuh dan menghantam ujung meja saat Krishna mendorongnya.
Mengingat itu membuat hatinya kembali sakit, tapi dia cepat menepisnya. Dia sudah sejauh ini membenah hati dan tak ingin terus meratapi kejadian yang lalu.
Terlihat wajah cemberut, dengan bibir maju beberapa senti, merasa kesal karena bekas itu belum sepenuhnya hilang.
"Apanya yang nggak hilang, Ay...?" Tanya seseorang pria yang tau tau sudah berdiri tepat dibelakang nya, membuat Ayura terlonjak kaget.
Sibuk mengumpat bekas luka yang belum menghilang membuat dia tidak menyadari kehadiran Abi. Bahkan pintu kamar yang tertutup pun tak menimbulkan bunyi saat pria itu membuka nya tadi.
Mungkin karena dia yang terlalu fokus atau mungkin Abi sendiri yang mempunyai bakat maling, entahlah, dia juga tak tahu.
"Kak.., kenapa senang sekali mengagetkan ku." Kesal Ayura dengan berusaha sedikit beranjak dari tubuh Abi yang dirasa sedikit menempel padanya.
"Eh... kak...," Dan belum sempat gadis itu menghindar, Abi kembali mengagetkannya dengan melingkarkan kedua tangannya diperut Ayura.
Sontak saja Ayura benar-benar dibuat kaget. Melihat tangan Abi yang sudah mendekapnya erat. Ditambah kini dagu pria itu diletakan diatas bahunya mebuat jantungnya seketika berdegup kencang.
"Kak.., kumohon, jangan begini.." Pinta Ayura tak enak. Dia cukup merasa risih dengan perlakuan Abi.
"Aku hanya ingin memeluk mu Ay." Pinta pria itu dengan menatap Ayura dari pantulan cermin.
Hanya..? Apa pria itu tidak tahu dampak dari kata hanya nya...? Sesungguhnya kata hanya sudah membuat tubuh gadis itu sudah tidak baik baik saja. Nafas tercekat, jantug berdegup kencang, tangan tremor dan tubuhnya pun dirasa bergetar dengan pelukan pria itu yang dibilang hanya.
"Tapi kak..."
"Biarkan seperti ini Ay." Pangkas Abi cepat. Dia tidak ingin mendengar penolakan dari Ayura
Dan lagi lagi, pria itu bertindak sesuka hati, menyandarkan kepalanya dia bahu Ayura dengan wajah menghadap ceruk leher Ayura. Sehingga membuat Ayura kesulitan untuk sekedar bernafas, apalagi hembusan nafas Abi menerpa ceruk lehernya, membuat tubuhnya meremang.
"Eh..eh..." Ayura kembali dibuat kaget. Abi sepertinya sedang melatih mentalnya, dengan tingkah lakunya yang sangat meresakan tubuh, jiwa dan raganya.
__ADS_1
Abi malah dengan santainya menikmati wajah tegang Ayura, gadis itu telihat salah tingkah dan sangat gugup. Pria itu malah memulas senyum tipis tanpa dosa.
Sudah sejauh ini dirinya selalu memberikan sentuhan sentuhan kecil, memeluknya bahkan sesekali mengecup keningnya walaupun dengan hasil mencuri tapi kenapa gadis ini selalu merasa gugup, gemetar dan salah tingkah seperti ini.
Dan semua reaksi wajah dan tubuh Ayura dianggap menggemaskan dimata Abi.
Menyadari tubuh Ayura yang menegang, dan terlihat gadis itu menahan nafas membuat dirinya tak tega. Dia pun langsung melepaskan belitan tangan nya, tapi sebelum dia mengurai pelukan dan menjauh dari tubuh gadis itu kembali mendaratkan sebuau kecupan diceruk leher Ayura membuat bola mata Ayura membulat sempurna.
Blushhh..
"Kak Abi.." Pekik gadis itu degan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Hahaha..." Tawa pria itu pecah membuat Ayura memberengut kesal.
Merasa sedang dikerjain, Ayura langsung membalikan badanya, dengan penuh emosi di memukul dada bidang Abi, karena pria itu tak henti hentinya menertawakanya.
"Ihh kenapa tertawa coba, Kak Abi jahat, " Ayura hendak kembali memukul dada pria itu, tapi Abi langsung menangkap kedua tangan Ayura hingga pergeraknnya terhenti.
"Jangan memukulnya, kalau dia terluka dimana lagi tempat mu untuk bersandar dan menumpahkan keluh kesah mu." Ucap Abi dengan memulas senyum menggoda membuat ayura memalingkan wajahnya.
Dirinya masih kesal dan Abi tetap mempertahankan senyum nya karena selalu merasa gemas dengan tingkah gadis berhidung mancung itu.
Dan keadaan menjadi hening sesaat, tangan Ayura pun sudah dilepas oleh Abi. Ayura hendak berlalu tapi ucapan Abi kemudian membuat dia mengurungkan niatnya untuk beranjak dari hadapan nya.
"Besok aku kekota." Ayura lalu menatap wajah Abi, menunggu penjelasan pria itu. "Ada urusan penting. Apa kamu mau ikut..?"
Ayura menggeleng. "Aku masih ingin disini. Apa itu lama..?" Dan jawaban Ayura membuat Abi merasa senang.
Sesungguhnya dia hanya sekedar basa basi menawar Ayura untuk ikut. Dan sama sekali tak ingin mengajak gadis itu ikut dengannya. Karena dia tak jngin Ayura kembali bertemu dengan Krishna, apalagi melihat keadaan Krishna nanti, dia takut hati Ayura terenyuh dengan kondisi adiknya, dan malah memilih merawat Krishna seperti yang sudah sudah. .
Terdengar jahat mungkin tapi saat ini dia hanya ingin mengamankan miliknya. Bagaiman pun dia sudah berusaha sejauh ini, bahkan hati dan cinta Ayura belum didapat, dia tak ingin Ayura kembali pada Krishna setelah melihat kondisinya dan penyesalan pria itu.
Abi tersenyum. "Aku janji hanya sehari. Sorehnya aku sudah kembali. Aku tidak akan lama disana, hmm."
"Janji tidak akan lama..?"
Abi kembali memulas senyum, hatinya menghangat melihat Ayura yang terlihat berat atas kepergiannya. Itu berarti gadis itu sudah nyaman bersamanya.
"Iya aku janji Ay. Setelah urusan ku selesai aku langsung pulang. Dan besok kamu harus masak yang enak, dan buatkan aku caramel cake. Karena aku akan makan malam disini."
Ayura kemudian mengangguk dan tersenyum. Dan entah apa yang dirasakan gadis itu hingga sedetik kemudian dia langsung memeluk Abi dengan kedua tangan mendekap erat pinggang pria itu.
Hal ini tentu saja membuat pria yang masih berusaha meluluhkan hati gadis itu seketika tertegun. Pelukan Ayura yang begitu tiba tiba membuat tubuhnya sedikit bergerak kebelakang.
Tak ingin membuang waktu, Abi pun langsung membalas pelukan Ayura dengan tak kalah erat.
Hatinya menggangat. Senyumnya terkembang sempurna. Apalagi melihat Ayura yang tengah mendusel dusel wajahnya di dada bidangnya.
"Kenapa..? Apa kau tak ingin aku pergi..?" Tanya Abi dan Ayura hanya menggleng, tanpa mengangkat wajahnya, karena sesungguhnya dia masi menikmati pelukan hangat pria itu.
Walaupun sering dipeluk dan terkadang dia pun membalas pelukan Abi tapi kali ini dirasa ada yang berbeda.
Dia merasa sepertinya enggan untuk melepas nya.
Begitu juga Abi. Dia pun merasakan hal yang sama. Pelukan ini terasa berbeda. Entah mengapa hatinya tiba-tiba berdenyut ngeri.
__ADS_1