
Hari pertama kerja dijalanin Ayura dengan bahagia karena mendapat teman yang sangat baik dan ramah dan begitu juga dengan semuah tim kerja nya terlihat kompak dan humoris membuat Ayura merasa bersyukur.
Tapi hanya satu yang membuatnya resah dan takut yaitu berjumpa atau berdekatan dengan Abimanyu sang CEO.
Rasa trauma masih ada dihatinya, takut berbuat salah atau menyinggung sang CEO dan berakhir diusir,diseret dan caci maki membuatnya sebisa mungkin menghindar dari pria kaku itu. Karena yang terekam di memorinya hanya perlakuan kasar pria itu.
Tapi apa bisa menghindar mengingat hari hari kedepannya akan selalu bertemu dengannya.
Dan kenyataannya tidak perlu menunggu hari hari kedepannya, karena hari ini juga dia telah diminta untuk menghadap ke ruang CEO. Mengetahui dia di panggil ke ruang CEO, seketika tubuhnya menjadi tremor, keringat panas dingin mengalir dari dalam tubuhnya, perasaan cemas dan gelisah membuat nya bergeming.
"Hei! Kamu di panggil ke ruang CEO, tapi kenapa malah bengong disitu..? Tanya Nanda bingung melihat Ayura hanya mematung di tempat.
" Nan, temani aku ke ruang CEO ya..?" Pinta Ayura menghiba.
Menyadari kegelisahan Ayura, membuat Nanda mendekat memegang tangan Ayura yang terlihat dingin dan bergetar. "Kamu kenapa Ay..?"
"Aku takut Nan."
"Kenapa..? Apa kamu ada buat salah..?"
Ayura menggeleng "Tidak"
"Lah, terus kenapa..? Kamu tuh seharusnya senang bisa berdekatan dengan CEO nya, ini jarang terjadi loh Ay."
"Benar tuh Ay." Putri menimpali "Pak Abi tuh jarang banget berada di kantor ini, jadi saat dia ada disini kami akan berlomba lomba mencari perhatiannya agar bisa di panggil keruangannya." Tutur Putri membuat Ayura melongo.
Ayura tak habis pikir dengan kedua temannya ini, di panggil ke ruang CEO kok malah senang, bagaian mana yang membuatnya senang,menurutnya selain kaku, datar dan arogan, apa yang patut di senangin dari seorang Abimanyu, gantengnya..? Cih, Krishnan ku pun nggak kalah ganteng.
Eh, tunggu tunggu tunggu, kenapa pikiran nya sampai lari ke Krishna ya.. ? Terus apa tadi..? Krishna ku..? Ayura menjadi geli dengan dirinya sendiri.
"Ayo buruan kesana, jangan membuat dia menunggu dan marah, ribet urusannya" Suara Putri membuyarkan lamunanya.
'Nah, kan tau dia itu ribet, kok malah bilang senang bila bertemu dengannya..? Cih! Nggak ada yang benar.' Rutuk Ayura dalam hati.
"Hufff.. " Dan dengan berat hati gadis itu pun melangkah ke ruang sang CEO. Setelah menetralkan rasa takut dan termornya dengan menarik nafas panjang dia lalu mengetuk pintunya .
Terdengar suara bariton Nan berat dari dalam mempersilakan dirinya masuk.
Ceklek..
"Selamat siang Pak, boleh aku masuk..?" Sapa Ayura saat pintu terbuka.
__ADS_1
"Masuklah!" Ucap Abi datar tanpa mengalihkan pandangan dari berkas berkas yang sedang ditandatanganinya.
Ayura pun dengan patuh masuk, berdiri di depan meja pria itu sambil menunduk.
"Silahkan duduk." Mempersilahkan Ayura duduk disofa. "Tunggu aku disana, aku menyelesaikan beberapa berkas dulu. Ucap Abi lagi tanpa melihat sedikitpun kearah Ayura.
" Baik Pak!" Balas Ayura dan langsung menuju salah satu sofa di ruangan itu.
Setelah menandatangani berkas berkasnya, Abi lalu menghampiri Ayura. Dan memilih duduk di sofa di seberangnya yang berhadapan dengan Ayura. Gadis itu seperti biasa selalu menunduk, karena melihat wajah Abi membuat tubuhnya selalu gemetar dan cemas.
"Bagaiman dengan pekerjaan mu hari ini..? Apa semuanya lancar..?" Tanya Abi membuka topik
"Iya Pak." Jawab Ayura singkat.
"Apa ada kendala..?"
"Tidak Pak." Jawab Ayura sambil melirik sekilas lawan bicaranya, lalu gadis itu kembali menundukan pandangannya (Ayura kaya anak pesantren yah, yang selalu menjaga pandangannya dari lawan jenis, ck ck ck)
'Ada apa dengan dia, apa dia memanggilku hanya untuk menanyakan hal hal yang tidak penting ini..?' Kesal Ayura dalam hati.
"Maaf kalau aku menanyakan hal hal yang mungkin kamu anggap tidak penting ini"
Gadis itu kaget menyadari Abi mengetahui isi pikirannya, pikirnya apa pria dihadapannya ini cenayang, kok bisah membaca isi hatinya.. ?
"Aku harap kau bisa bersikap profesional. Dan bisa melupakan apa yang pernah kuperbuat dulu. Walaupun aku tau kamu tidak akan bisa melupakan peristiwa itu. Bisa dimengerti..?"
"Iya Pak." Jawab gadis itu. Dan kemudian keadaan pun menjadi hening."Kalau tidak ada yang mau disampaikan lagi, aku mohon undur diri."
Abi menghela nafas kasar untuk kesekian kalinya melihat Ayura mengambil ancang ancang hendak berdiri dari duduknya, tapi suara pria itu kembali membuat *@**** Ayura kembali ke tempat duduknya.
"Dan untuk masalah vidio itu, aku sudah membereskannya." Ungkapan Abi membuat gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Abi dalam.
"Aku minta maaf untuk semuah kesalahan ku, walaupun aku tau kamu sudah memaafkanku bila aku sudah membereskan vidio itu, tapi disini sekarang ini aku tetap ingin meminta maaf pada mu. Aku ingin mendengar sendiri kalau kamu sudah memafkan kau. Aku ingin semuah nya clear dan tanpa ada dendam kedepannya."
Entah apa yang dirasakan pria itu, tapi melihat wajah Ayura yang selalu menunduk bila berinteraksi dengannya, dan terkadang Abi mendapat kecemasan dan ketegangan diwajah cantik gadis itu membuat hatinya serasa dicubit. Dia tidak pernah menyangka apa yang pernah dilakukannya meninggalkan rasa cemas dan ketakutan yang begitu dalam pada diri gadis itu.
Dia bahkan tak tahu kalau sebenarnya bukan hanya takut dan cemas, bahakan lebih parah lagi gadis itu pun memiliki rasa trauma bila berjumpa dengannya, membuat Ayura selalu menunduk untuk menghilangkan rasa takut nya pada pria ini.
"Maukah kau melupakan peristiwa itu..?" Tanya Abi pelan.
"Haaa..?" Hanya Itu yang keluar dari bibir tipis gadis itu membuat Abi merasa miris.
__ADS_1
"Aku tau kamu pasti sulit melupakan peristiwa itu. Baiklah.. pergilah" Abi merasa sedikit kecewa mengetahui reaksi Ayura yang begitu dingin dan minim bicara, pria itu lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan matanya.
"Bukannya aku bilang sudah memaafkan Bapak, kalau Bapak sudah mengembalikan nama baikku..?" Dan suara Ayura membuat pria itu membuka matanya dan langsung menegakan tubuhnya.
"Kalau Bapak sudah melakukannya aku rasa Bapak tidak usah meminta maaf lagi padaku. Tapi untuk melupakan peristiwa itu, aku rasa perlu waktu untuk itu."
'Dasar CEO kaku seenaknya saja menyuruhku melupakan peristiwa itu, melihat wajah mu saja tubuhku sudah bergetar hebat seperti orang lagi meriang, Bagaiman bisa melupakan nya..?' Rutuk Ayura tapi hanya bisah didalam hati.
"Kalau begitu aku permisi dulu Pak."
Dan dengan cepat Ayura berdiri dan langsung berlalu, lama lama dengan pria kaku ini dalam satu ruangan membuat gadis itu kehilangan banyak oksigen. Tapi saat hendak membuka pintu, suara Abi menghentikan tanganya yang hendak menekan knop pintu itu.
"Ay, apa kamu sudah makan siang..?"
"Haa..?" Ayura jelas saja kaget, dia tidak mengerti kemana arah pertanyaan Abi akan berlabuh. Apakah sekedar basa basi atau mau mengajaknya makan siang bareng...? Entahlah, hanya dia dan dewa saja yang tau
"I.. iya, su.. sudah Pak. "Jawab gadis itu gelagapan.
"Aku lapar, bisakah kau memesan makanan untukku..?"
"Haa..? "Ayura pun kembali dibuat kaget dengan permintaan Abi yang dirasa konyol.
" Hufff, lupakan.."Ucap Abi sambil menyandarkan tubuh lelahnya pada sandaran sofa. Sebelum mata pria itu tertutup kembali dia berujar "Pergilah!"
Ayura lalu membuka pintu dan buru buru keluar, sebelum pria kaku itu mengeluarkan kata kata yang aneh atau konyol...
"Kenapa dia..? Kenapa menyuruhku..? Bukankah dia ada asisten dan sekertaris nya.. ? Dasar aneh." Omel gadis itu. "Aku kira dia bakalan mengajakku makan siang diluar, eh tau nya malah menyuruhku memesan makanan untuknya, dasar pria kaku tak bermodal" Sambil melangkah pergi gadis itu tak habis habisnya mengoceh.
ππππππππππππππππππ
Ck ck ck Ayura.. Ayura... Jadi kamu mengharap ditraktir sama pria kaku itu.. ? Bukankah kamu selalu tremor bila di dekatnya..?(Author)
Aku hanya becanda kali thor, siapa juga yang mau makan dengan pria kaku itu. (Ayuraπ)
**JANGAN LUPA...
LIKE... π·
KOMEN... π·
VOTE... π·
__ADS_1
πΉ HAPPY READING πΉ**