
Butuh tenaga ekstra disertai deraian air mata baru bisa menjauhkan tubuh keduanya putranya yang sedang bersitegang.
Airin yakin jika saja tadi dia terlambat datang maka sudah dipastikan ruang tamu ini sudah berganti menjadi ring tinju.
"Ada apa dengan kalian, kenapa harus berkelahi, Kali ini apa lagi yang kalian perselisihkan ha..? Hikh hikh.." Tangis Airin pecah
"Seluruh dunia tahunya aku adalah Ibu yang sangat beruntung memiliki dua putra yang tampan, sangat hebat dan pekerja keras tanpa tahu kalau aku sering bersedih karena kedua putra ku saling bermusuhan. Mereka kira aku hidup bahagia dan selalu tertawa tanpa tahu kalau aku sering menitikan air mata pada malam hari karena tidak tahu cara mendmaikan mereka, hikh hikh, aku Ibu yang buruk."
"Mah..." Panggil keduanya dengan raut penuh penyesalan mendengar curahan hati Mamanya.
Keduanya pun sangat merasa bersalah karena telah membuat bidadari tercinta mereka menangis.
"Mah..." Dari luar terdengar suara Ardiansyah sedikit ngos ngosan. Dia yang sedang berada ditaman depan langsung berlari setelah mendengar laporan dari art nya kalau kedua putranya sedang bersiteru.
Dia langsung memeluk tubuh isteri tercintanya yang sedang bergetar menahan isak. "Apa yang kalian lakukan hingga isteriku menangis seperti ini ha..? Dasar anak anak laknat. Masih belum cukup selama ini kalian bersitegang. Dan sekarang apa lagi masalahnya..? Tidak bisahkah kalian membiarkan kami menjalankan sisa sisa hidup kami dengan tenang..? Apa kalian tidak kasihan pada Mama kalian yang hampir setiap malam menangis memikirkan cara mendamaikan kalian. Dan sekarang masalahnya apa lagi hingga kalian ingin adu jotos disini, dihadapan kami ha..." Dia sudah tidak tahu lagi cara mengatasi kedua putranya ini.
Melepas tubuh isterinya dia bahkan hampir memukul kedua anaknya, tapi langsung ditahan oleh Airin. "Pah hentikan!" Airin menarik lengan suaminya yang hendak melayangkan pukulan.
Kalau tidak langsung dicegah, bisa dipastikan kedua wajah tampan putranya bakalan babak belur.
Bukan tak mungkin, umurnya saja yang sudah tua tapi pria paruh baya itu masih memiliki tenaga yang sangat dahsyat karena seringnya berolahraga dan nge gym. Ditambah lagi latihan karate dan taekwondo yang sering dia lakukan.
Mengikuti perintah isterinya, dia menurunkan kepalan tangannya. Tak ingin membuat isterinya semakin sedih kalau sampai dia menghajar anak anak yang dikatakan laknat ini.
Bisa panjang urusannya kalau dia samapi menyentuh wajah tampan kedua putranya dihadapan sang mulia ratu.
Merangkul tubuh mungil sang isteri, Ardiansyah bermaksud mengajak isterinya untuk pergi dari ruangan panas ini. Tapi sebelum dia benar-benar pergi dia kembali berseru. "Dan untuk kalian berdua, ini terakhir kalinya aku melihat kalian berselisih, kalau sampai kalian mengulanginya lagi, aku tidak segan segan mematahkan tangan kalian. Dan kau" Netranya menyorot tajam Krishna "Kalau kedatangan mu kerumah ini hanya untuk mencari gara gara mendingan kamu tidak usah lagi datang, dengar itu." Ancaman Ardiansyah tak main main, karena pria paruh baya itu tak pernah main main dengan ucapannya.
"Pah.." Sang isteri tak terima dengan ucapannya yang ditujukan kepada kedua putra kesayangganya, lebih lebih pada Krishna.
"Biarkan saja Mah, untuk apa menjaga hati mereka, mereka sendiri saja tidak pernah menjaga hati kita." Merangkul pundak isterinya yang sempat terlepas mereka berlalu pergi. "Anak cuma dua biji kok nggak ada yang benar, dari dulu sampai sekarang taunya buat orangtua bersedih, kapan mereka berpikir untuk membahagiakan kita." Omel pria tua itu sembari melangkah pergi tapi masih didengar dirungu kedua putra badungnya.
* * * * *
Dikediamn Bramantyo.
Lain di kediaman mewah milik Yudistira, lain pula dikediaman Bramntyo.
Di sana mungkin sedang ada ketegangan dan perselisihan, maka disini kebalikannya.
__ADS_1
Keadaan rumah terlihat sunyi senyap saat Ayura sampai setelah diantar oleh Abi.
Sebenarnya dia pun berat untuk kembali karena merasa tak enak harus berhadapan dengan Angel dan Mamanya yang pastinya sedang bersedih karena kejadian tadi pagi.
Dia tidak tahu harus ngomong apa bila berhadapan dengan mereka, lebih lebih pada Angel, saudara tirinya yang akhir akhir ini rasa saudara kandung.
Ayura mencoba menarik dan membuang nafas dengan pelan, menetralkan perasaan sebelum bertemu dengan kedua wanita itu.
Tapi dia sedikit bersyukur karena keadaan sedikit sunyi, mungkin mereka didalam kamar atau mungkin sudah tidur. Pikirnya
Tapi saat melewati ruang keluarga, Dia melihat tivi dalam keadaan menyala, dan disana dia dapat melihat sebuah kepala tengah bersandar pada sofa.
Walaupun hanya bisa melihat sedikit,tapi dia bisa memastikan kepala siapa itu.
Dia tidak berani untuk menyapa, karena selama ini pun mereka tidak saling menyapa. Dan tak ingin mengganggu, dengan pelan dia melangkah kekamarnya.
"Kamu baru pulang..?" Satu suara menghentikan langkahnya. Walaupun masih terdengar sinis setidaknya ini lebih ramah dari biasanya.
Ayura berbalik. "Kau belum tidur..?" Tanya nya balik membuat lawan bicarakan berdecak kesal.
"Tidak bisahkah kau menjawab pertanyaan ku tanpa balik bertanya ha...?" Ketus Angel.
Sebenarnya ingin sekali dia memeluk tubuh ramping nan sintal itu, sekedar ingin menguatkan dan mengatakan jangan bersedih, Ada aku bersama mu.
Tapi di urung niatnya karena melihat Angel yang baik-baik saja dan sepertinya ingin mengajaknya perang.
Maka dia dengan senang hati melayani nya, karena mungkin dengan sedikit adegan konyol mereka, mereka bisa sedikit bersenang senang dan melupakan kesedihan.
"Kau...." Dengan kesal Angel mengarahkan jari telunjuknya kearah Ayura .
"Kenapa..? Turunkan jari jelekmu ini kalau tak ingin aku gigit" Ancam Ayura membuat gadis itu cepat cepat menurunkan jarinya,karena dilihat bibir gadis itu sudah terbuka hendak menjalankan aksinya.
Ayura mendengus, Angel pun meradang dan langsung bersidekap dada.
Keadaan seketika hening. Hingga suara Ayura memecah kesunyian. "Maaf!" Lirihnya.
Angel kaget dan melirik gadis disampingnya. "Untuk apa..?"
Ayura mende*ah pelan "Untuk kejadian tadi pagi, maaf kalau aku tak bisa berbuat apa-apa" Sesal Ayura dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
Hati Angel menghangat, dia terharu, tapi sebisa mungkin dia menahannya karena tak ingin larut dalam kesedihan yang Ayura ciptakan. Bagaimana pun dia sudah sangat berusaha sedari pagi menutup hatinya yang begitu sangat terluka, sedih dan kecewa yang mendera.
Tapi dia juga tidak ingin menunjukan pada siapapun, tidak pada Ibunya, apalagi Ayura. Tidak! Tidak boleh ada yang mengetahuinya. Karena dia tidak ingin seseorang pun mengasihani nya.
Angel menarik nafas dengan kasar. "Untuk apa meminta maaf, bukan kamu kan yang melakukannya. Tapi kekasih arogan dan jahat mu itu, jadi suruh dia yang meminta maaf bukan kamu." Sarkas Angel.
"Aku tahu dia salah, taoi tolong jangan maki dia Jel, dia tidak jahat kok" Ucap Ayura dengan bibir sedikit memgerucut. Nggak mau kekasihnya dimaki maki oleh Angel.
"Cih dasar bucin. Emang nggak ada laki-laki yang lain ya, sampai kau harus berpacaran dengan pria jahat seperti dirinya." Melihat raut tak rela Ayura karena dirinya sudah memaki sang kekasih membuat Angel merasa senang dan kembali ingin mengganggu saudara tirinya itu.
"Enak saja, dia pria baik tahu, dan yang jelas dia itu pemberani. Bukan kaya pengagum rahasia mu itu yang bisa nya cuma mengirim bunga tanpa mau menunjukan ujudnya. Jangan jangan dia bukan manusia tapi makhluk jadi jadian "Umpat Ayura tak kalah pedas disertai dengan menjulurkan lidahnya membuat Angel mengeram kesal.
"Kau...Apa yang kau katakan..?" Tanganya panjangnya sudah terulur hendak menjambak rambut Ayura, tapi gadis itu sigap dan langsung berlari kebelakng sofa.
"Apa..? Week.." Ayura kembali menantang Angel, hingga drama kejar mengejar pun kembali terjadi, keduanya masih mengitari sofa tempat favorit mereka kala berantem. Sambil berteriak saling menghina hingga satu teriakan melengking menghentikan pergerakan keduanya
"Stooooppp....!" Teriak Amara dengan emosi karena acara menonton drama koreanya diganggu oleh kedua gadis labil ini. "Apa kalian tidak punya malu hingga terus berantem seperti ini ha...?" Netranya menyorot tajam kedua gadis yang masih berdiri dibelakang sofa itu.
"Dia Mah yang duluan." Adu Angel menunjuk Ayura.
Ayura mendelik tak terima. "Bukan aku, tapi dia yang duluan."
Angel hendak kembali membuka suara tapi tertahan oleh suara Mamanya. "Diam kalian. Dan kembali kekamar masing-masing, sampai Mama mendengar kalian berantem lagi, Mama akan memukul kalian pakai sapu." Tapi sebelum dia memutar tumit, kembali dia mengumpat. "Anak cuma dua biji kok kelakuannya seperti selusin. Ribut sekali. "
Bukanya kesal, sedih atau pun marah, hati Ayura malah menghangat mendengar omelan sang Mama tiri, apalagi kalimat anak cuma dua biji membuat dia benar benar terharu, merasa kali ini dia diakui sebagai anak oleh Ibu tirinya yang sudah sangat jahat terhadapnya selama ini.
Bolehkah dia merasa senang..? Bolehkah dia menangis haru dalam pelukan wanita senja itu...? Dan Bolehka selanjutnya dia berharap lebih dalam hubungan dingin mereka selama ini..?
Masih banyak permintaan permintaan yang bersarang dihati, dan hanya bisa dia simpan sendiri.
Patuh dia melangkah keatas kamarnya dengan tetesan air mata haru.
Di kediaman Yudistira Airin sedih dengan hubungan kedua putranya tang semakin memburuk.
Sedangkan di kediaman Bramantyo, Amara tengah menangis haru, mengingat kelembutan hati anak tirinya dan hubungan yang begitu hangat kedua putrinya.
Dan kejadian hari ini benar-benar membuka mata hatinya akan kelembutan dan kebaikan hati Ayura. Dan dia berjanji akan berubah menjadi lebih baik dan hangat pada putri tirinya itu seperti permintaan Angel selama ini.
Dia berjanji akan menjadi Mama yang baik, perhatian dan adil untuk kedua putrinya.
__ADS_1
Masih belum terlambat kan..?