Gadis Masa Lalu

Gadis Masa Lalu
Ada Apa Dengan Angel..?


__ADS_3

Keadaan di aula hotel sudah terlihat kondusif, dua orang penyusup sudah dibekuk oleh Willy dan anaknya buahnya.


Sempat terjadi perlawanan, hingga Willy terpaksa melayangkan dua kali tembakan di kaki kedua penyusup tersebut.


Krishna dan Ardiansyah turut kebawah aula untuk membantu Abi, Willy, Adam dan anak buah mereka.


Baik Airin maupun Ayura sempat menahan keduanya agar tidak turun tangan mengingat sudah ada anak buah ketiga orang itu yang menyebar hampir setiap sudut gedung hotel.


Lagian mengingat kondisi Krishna juga belum begitu fit.


Tapi keduanya menolak, bagi kedua pria beda generasi itu mereka bukanlah pecundang, yang hanya berdiam diri dan bersembunyi dan membiarkan Abi sebagai anak oleh Ardiansyah dan kakak oleh Krishna berjuang sendiri dibawah sana.


Walau pun keduanya tahu, Abi dan yang lainnya bisa mengatasinya tapi tetap saja, naluri pertarungan memanggil keduany untuk turut andil dalam mengatasi kericuhan itu.


Satu jam berlalu, keadaan dalam hotel tepatnya di aula akhirnya bisa terlihat aman. Banyak tamu yang memilih pulang.


Klick...


Bunyi pintu kamar presiden suit terbuka, baik Airin maupun Ayura langsung berdiri dari duduk resah mereka.


Keduanya bernafas lega melihat Ardiansyah dan Krishna dalam keadaan baik-baik saja.


"Pah, bagaimana keadaan dibawah, apa semuahnya sudah aman..?" Tanya Airin langsung menghampiri sang suami.


Dan anggukan suami menjawab pertanyaannya.


"Krish, kamu tidak papa kan, kamu nggak terluka kan..?" Pria itu mengangguk. Kekuatiran Ayura membuat senyum Krishna mengembang. Merasa diperhatikan.


"Aku baik-baik saja Ay. Kamu juga nggak papa kan..?" Tanya Krishna balik sembari menarik tubuh Ayura dan mendekapnya erat. Dia bersyukur Ayura baik baik saja, penjahat itu belum bertindak lebih, karena kehadiran mereka sudah dapat terdeteksi lebih awal oleh anak buah Abi.


Kedua penyusup itu membawa senjata api. Target mereka adalah Ayura. Kalau terlambat sedikit saja, dia tidak tahu apa yang terjadi pada gadisnya ini. Dia bisa menggila bila Ayura sampai saja terluka atau terkena timah panas itu.


Membayangkan itu membuat dia memejamakan matanya guna merileksasikan suasana hatinya yang sedang menahan amarah.


"Iya, aku baik baik saja. Sebenarnya apa yang terjadi Krish..? Kenapa terjadi penembakan..?" Tanya Ayura lagi, mendongakan kepalanya dalam dekapan Krishna


" Hanya terjadi kesalah pahaman saja Ay, dan tembakan tadi hanya sebuah peringatan. Tidak terjadi apa-apa dibawah sana. Keadaan sudah aman." Dusta Krishna, melonggarkan pelukannya, menunduk untuk melihat wajah Ayura. " Kenapa..? Apa kamu takut..?" Tanya pria itu sembari menelisik netra Ayura, kemudian menikmati wajah cantik tunangannya dalm jarak dekat yang masih dalam dekapan nya.


"Iya, aku sangat takut Krish, tapi Syukurlah kalau kamu bilang tidak papa. Tadinya aku kira terjadi perkelahian yang hebat mengingat ada bunyi tembakan." Gadis itu menghela nafas, "Tapi sekarang aku sudah tenang setelah mendengar penjelasan mu." Jawab Ayura kemudian mengurai pelukan.


Klick..


Pintu kembali terbuka, semuah orang menoleh kearah pintu, begitu juga Krishna dan Ayura. Semuanya pun kaget saat melihat siapa yang datang.


Pria yang baru saja datang itu melangkah, melewati Airin dan suaminya. Pria itu bahkan tak menjawab pertanyaan Mamanya.


Karena fokusnya hany pada gadis yang berada didepannya yang sedang menatap dirinya.


"Kamu tidak papa..? Kamu tidak terluka kan..? Apa ada tang sakit..?" Tanya pria itu pada Ayura saat tubuhnya sudah berdiri tepat dihadapan gadis itu.

__ADS_1


Ayura sangat tertegun dengan kehadiran pria ini, apalagi mendengar serentetan pertanyaan bernada kuatir membuat gadis itu hanya bisa mengangguk tanpa membuka suara.


"Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku sangat takut kalau sampai kau terluka." Ucap pria itu yang tak lain dan tak bukan, Abi.


Pria itu kemudian tanpa permisi menarik tubuh Ayura dan memeluknya.


Deg


Sebelah tangan pria itu mendekap pinggang Ayura sebelahnya lagi berada dikepala Ayura bergerak mengusap surai hitam Ayura.


Ayura sangat kaget. Tubuh gadis itu menegang hebat. Darahnya berdesir hebat. Jantungnya pun berdetak dengan kencang dalam dekapan hangat pria yang tadi mengatakan tidak mencintainya itu.


Tubuh Krishna mundur beberapa langkah, dadanya langsung terasa sesak, tapi dia tidak bisa berniat menarik tubuh tunangannya dalam dekapan sang kakak.


Karena dia juga tidak tahu kemana sikap posesifnya selam ini pada Ayura. Dia yang tidak suka Ayura didekati, atau pun ditatap pria lain apalagi sampai memeluknya seperti ini. Apalagi yang melakukannya ini adalah rival abadinya.


Tapi dia juga cukuo tahu diri, melihat pengorbanan dan cinta Abi yang begitu besar pada Ayura membuat dia bergeming. Dengan memendam perasaan sakit yang bercokol dihati.


Setelah mengatakan itu, Abi lalu melepaskan pelukan itu, dan melangkah pergi tanpa kata.


Ayura masih mematung memandang pintu yang tertutup hingga beberapa detik sampai suara Krishna mengagetkanya.


"Ay..."


Gadis itu tersentak, kesadarannnya kembali, dia merasa tak enak pada Krishna dan kedua orangtuanya melihat dirinya dalam dekapan pria yang bukan tunangannya.


Tapi kejadian begitu cepat, dia sangat kaget sehingga tak ada waktu untuk menolak.


"Ssttt..." Krishna meletakkan jari telunjuknya di bibir Ayura. Pria itu menggeleng, meminta Ayura tidak melanjutkan ucapannya.


Dia tahu apa yang akan diucapkan gadis itu, Sebuah penjelasan. Dan dia rasa itu tak perlu karena dia tahu Ayura tidak bersalah, baginya Abi pun tidak bersalah. Jadi tak ada yang harus dijelaskan lebih lanjut.


"Sudah nggak usah ngomong apa apa lagi. Aku tidakpapa. " Pria itu memulas sebuah senyuman hangat. Agar gadisnya tidak merasa bersalah atau merasa tak enak. "Kamu mau melihat keadaan Angel..? Dia dilantai ujung." Pungkas Krishna mengubah topik.


Seketika Ayura langsung teringat saudara tirinya yang sempat pingsan tadi. Buru buru gadis itu pun mengangguk kuat saat Krishna mengajaknya untuk melihat keadan Angel.


"Iya Krish aku mau melihatnya."


Dan disinlah mereka sekarang. Terlihat Angel sudah siuman, Dokter yang memeriksanya pun sudah pergi disaat Ayura dan Krishna datang.


Mereka berjumpa dengan Dokter Daren dipintu kamar. Pria paruh baya, teman kedua orangtua Krishna baru saja memeriksa mantan model Yudistira Entertaiment itu.


Saat keduanya masuk kedalam kamar, disana ada Angel yang sedang terduduk diatas kasur dengann wajah menunduk.


Sedangkan Kedua orangtuanya duduk disofa, Amara terlihat memalingkan wajahnya saat Ayura menatapnya. Sementara Pak Bramantyo terlihat menghela nafas pelan.


Kemudian pria itu beranjak bangkit melangkah mendekati Putri kandungnya. " Bagaiamana keadaan mu sayang, kamu baik-baik saja kan..? Kamu nggak terluka kan..?" Tanya Bramantyo.


Walaupun bingung dengan kekuatiran semuah orang akan dirinya dengan pertanyaan yang sama Kamu tidak papa kan..? Kamu tidak terluka kan..?

__ADS_1


Tapi dia bersikap wajar, positif tingkhing saja, mungkin itu tandanya dirinya disayang semuah orang.


"Aku baik baik saja Pah." Jawab Ayura dengan memulas sebuah senyuman.


"Syukurlah." Kata Bramantyo kemudian menarik tubuh Ayura dan mendekapnya. Tak lama pria paru baya itu pun melepas pelukan itu.


"Mah."Panggil Ayura saat bersitatap dengan ibu tirinya. Amara tak menjawab, dia hanya tersenyum kecut.


Setelah menyapa kedua orangtuanya, Ayura langsung mendekati ranjang yang sedang diduduki Angel


Kening Ayura terlipat halus saat mendengar isakan kecil saudara tirinya itu.


"Angel kau kenapa.? Apa yang sakit..?" Tanya Ayura setelah gadis itu meletakkan bok*ngnya diatas kasur.


Sedangkan Angel yang tak kuasa dengan apa yang sedang menimpanya langsung memeluk tubuh Ayura sambil terisak. Sontak saja hal ini membuat Ayura bingung.


Ayura bertanya lagi tapi Angel tidak menjawabnya, hanya terdengar isakan dari bibir Angel. Ayura tentu saja bingung sekalian penasaran dengan penyakit yang tengah diderita saudara tirinya ini tapi dia memilih diam. Membiarkan Angel tenang dulu baru dia kembali bertanya.


Hingga suara Amara yang sudah berada disamping keduanya membuat kening Ayura mengerenyit dalam.


"Seperti saran Dokter Daren, besok pagi, kita akan kedokter obgyn. Istirahat lah, jangan menangis lagi. Semuah tidak akan mengubah keadaan." Ujar Amara. Kemudian menepuk pelan punggung Angel dan Ayura.


Setelah menyampaikan itu, perempuan paruh baya itu hendak berlalu tapi buru buru Ayura mencekal tangan sang Mama tiri. " Ada apa Mah..?" Sesungguhnya dari apa yang Amara ucapkan, Dia sudah bisa menarik kesimpulan akan apa yang telah terjadi pada Angel tapi dia ingin lebih memastikan lagi dari Mamanya.


Amara sendiri hanya menghela nafas dalam dan menghembusnya secara kasar. "Mama belum bisa menjelaskannya, tapi besok kita akan tahu apa yang sudah terjadi pada saudar mu. Temanin saudara mu besok kerumah sakit." Jawab Amara dan langsung berlalu, memilih duduk disamping suaminya. Dan disana masih ada Krishna yang tengah mengobrol bersama Pak Bramantyo.


"Sudah jangan nangis lagi Jel, sekarang kamu harus istirahat, lihat wajah mu sangat pucat." Ucapan Ayura bukannya membuat Angel tenang, malah membuat tangisan Angel semakin menjadi, tubuhnya bahkan bergetar hebat.


"Ay, aku...aku...hikh hikh..aku.." Ucap Angel terbata, sesungguhnya dia ingin berbagi kisah bersama saudara tirinya yang sudah dianggap saudara kandung ini, tapi bibirnya tak bisa untuk berkata kata.


"Ssttt.. Udah diam! Jangan terlalu dipikirkan. Apapun hasilnya besok kamu tetap Angel yang kuat dan tegar. Semuahnya takan merubah apapun, kamu tetap putri Mama dan Papa dan juga saudara ku, hmm." Sesungguhnya saat ini Ayura pun kuatir dengan hasil yang akan diketahui besok, tapi dia hanya berusaha menenangkan saudara tirinya ini.


Begitu juga dengan Angel, dia pun sangat takut dengan hasil nya besok, tapi ucapan Ayura memang benar. Apa pun hasilnya besok dia harus tetap kuat dan tegar, walaupun apa yang dilakukannya salah dan membuat malu kedua orangtuanya tapi paling tidak, ada Dani yang akan bertanggung jawab. Bukankah pria itu memang sangat mengharapkan sesuatu dari dirinya selama ini..?


Angel telah tertidur, Ayura pun berpamitan pada kedua orangtuanya hendak kekamarnya. Sesungguhnya dia ingin sekali pulang dan beristirahat dirumah tapi baik Krishna maupun kedua orangtuanya melarang nya, dan menyarankan untuk menginap dihotel malam ini.


"Krish, apa tak berlebihan aku tidur dikamar sebesar ini..?" Tanya Ayura saat keduanya sudah berada didepan kamar presiden suit.


Krishna hanya tersenyum, " Kalau begitu, bagaimana kalau kita tidur berdua. Aku rasa kasurnya juga sangat besar .Kita bisa berbagi kasur malam ini bukan." Ucap Krishna dengan memulas senyum menggoda.


"Jangan sembarangan kamu." Sangkal Ayura dengan memukul lengan pria itu membuat Krishna tergelak.


"Lah, kamu sendiri yang bilang kamarnya kebesaran, merasa nggak enak. Jadi apa salahnya aku menyarankan hal itu, agar tidak mubazir bukan."


"Diam kamu. Saran mu nggak ada yang benar." Kesal Ayura dengan bibir memgerucut. " Yah udah aku mau masuk." Ucap Ayura hendak masuk kekamrnya, setelah pintunya dibuka oleh Krishna.


"Langsung istirahat dan jangan pikirkan apapun. Pakayan ganti mu ada dikoper. Kalau membutuhkan sesuatu, telepon saja, aku ada dikamar samping." Seloroh Krishna dengan menahan lengan Ayura yang hendak masuk.


Gadis itu tersenyum dan kemudian mudisn mengangguk. "Krish." Panggil Ayura saat Krishna berbalik. Pria itu langsung kembali menghadapi Ayura. " Besok temanin aku kerumah sakit, boleh..?"

__ADS_1


Pria itu tersenyum lebar. "Apa pun untuk mu sayang." Jawab Krishna, menarik tubuh Ayura kemudian memeluknya, mendaratkan sebuah kecupan hangat dipucuk kepala Ayura. "Masuklah, ini sudah sangat larut."


__ADS_2