
Keadaan menjadi hening setelah Abi mendeklarasikan perasaannya tadi. Sampai bunyi vibrasi dari ponsel Ayura mengalihkan atensi keduanya.
"Halo Pah." Sapa Ayura.
"Kamu dimana sekarang..?"
Ayura mengerenyit saat mendengar suara Papa nya yang terdengar sedikit ketus.
"Aku dalam perjalan pulang Pah. Ada apa...? Papa baik baik saja..?" Tanya Ayura sedikit kuatir.
Atensi Abi teralihkan mendengar kekuatiran Ayura.
"Dengan siapa kamu..? Apa Abi bersama mu.?"
Ayura melirik Abi, dia semakin yakin kalau memang ada sesuatu. " Iyah Pah." Lirih Ayura
"Baiklah, cepat pulang."
Panggilan pun dimatikan, entah apa yang
terjadi tapi tiba tiba saja perasaan nya menjadi tak tenang
"Ada apa..?" Tanya Abi
Ayura menggeleng. "Tidak ada apa apa."
"Benar..?" Abi memastikan.Ayura mengangguk.
Mobil hitam milik Abi memasuki pekarangan Ayura. Ayura lalu turun di ikuti Abi.
"Makasih Pak." Ucap Ayura pada Abi yang sudah berdiri disamping nya. "Apa Bapak mau mampir..?" Tawar nya.
Abi menggeleng "Lain kali Ay, aku masih banyak pekerjaan dikantor. Masuklah aku langsung berangkat." Abi hendak memutar tumit masuk ke dalm mobil tapi dilihatnya Pak Bramantyo yang baru saja keluar dari dalam rumah, tengah berdiri di teras dengan tampang datar.
Merasa tak sopan kalau langsung pergi tanpa pamit, Abi langsung menuju teras berniat menyapa Pak Bramantyo
"Siang Pak" Sapa Abi sembari membungkuk.
Tapi saat dia mengangkat kepalanya dua bogem mentah Bramantyo layangkan ke wajahnya pria itu.
Bugh...
Bugh..
Darah segar langsung kelur dari sudut bibir Abi. Pukulan begitu kuat, seharusnya Abi bisah saja tersungkur ke lantai kalau saja dia tidak memiliki pertahanan tubuh yang kuat.
"Aaaa, Papa... kenapa ini..?" Teriak Ayura berlari menghampiri Papa nya.
"Papa..." Teriak juga Amara dan Angel dari dalam rumah.
Semuah orang terkejut termasuk Abi, dengan serangan Bramantyo yang secara tiba-tiba.
Tapi sebelum Ayura sampai, Bramantyo kembali melayangkan dua pukulan mengenai wajah tampan Abi. Dan kali ini Abi hanya menoleh kekiri dan kanan karena pukulan Bramantyo yang mengenai pipi kanan dan kiri nya, tanpa menggerakkan tubuhnya sedikit pun.
"Brengsek, aku akan membuatu mati hari ini" Teriak Bramantyo penuh emosi.
Bukh..!
Bukh...!
Dan lagi dua pukulan dilayangkan pria itu.
"Pah.. hentikan, kenapa Papa memukul Pak Abi..?" Teriak Ayura memeluk Pak Bramantyo mencoba menahan Papanya agar tidak menyerang Abi lagi.
__ADS_1
"Mas ada apa..? Semuanya bisa dibicarakan dengan baik baik, kenapa harus dengan cara kekerasan seperti ini..?" Timpal Amara ikut kuatir.
"Diam kamu Mah, kalian nggak tahu apa yang bajingan ini telah lakukan pada Ayura."
"Lepaskan Ayura, aku akan membunuh bajingan ini." Teriak Bramantyo, emosinya kembali tersulut.
Ayura menggeleng dengan deraian air mata. "Nggak Pah, nggak.. hikh... hikh.. ini ada apa Pah, kenapa Papa jadi begini, hikh.. hikh.." Tangisan Ayura pecah.
"kamu bilang ada apa..?" Teriak Bramantyo keras sembari melepaskan pelukan Ayura dengan kasar "Kamu yang kenapa, kamu yang ada apa dengan dirimu hingga masih berhubungan dengan bajingan ini setelah apa yang dia lakukan pada mu ha..?" Bramantyo sangat marah, rahangnya terlihat mengeras dengan bola mata yang memerah .
"A.. apa maksud Papa..?" Wajah nya pias, dia yakin Papanya sudah mengetahui masalah yang terjadi antara dia dan Abi.
"Jelaskan Papa tentang vidio itu." Bramantyo lalu menyodorkan ponselnya pada Ayura dengan kasar.
Dia juga merasa kesal pada Ayura yang telah menyembunyikan pelaku nya dan sekarang malah berteman dengan Abi.
Ayura kaget, bagaimana bisa Papanya mendapat rekaman vidio ini, sedangkan menurut Abi dia sudah menghapusnya.
"Kenapa kamu masih berhubungan dengannya setelah apa yang dia lakukan pada mu ha..? Papa kecewa pada mu Ay. Kenapa kamu tidak memberi tahu pada Papa saat Papa bertanya pada mu saat itu..? Apa dia mengancam mu, hingga kamu bungkam ha..?" Tanya Bramantyo sembari melirik Abi dengan lirikan tajam.
Terlihat pria itu hanya diam, bergeming tanpa bersuara dengan darah segar yang mengalir dari kedua sudut bibirnya dan kedua sisi pelipisnya.
"Pah.. Tapi semuahnya bisa dibicarakan dengan baik baik kan Pah, kenapa harus dengan kekerasan seperti ini. hikh hikh.."
Rahang Bramantyo kembali mengeras, dia menatap Ayura putri semata wayangnya dengan nyalang. " Kamu bilang semuahnya bisa dibicarakan dengan baik baik.? Apa saat itu dia juga bicara baik baik dengan mu, apa dia mendengar penjelasan mu ha..? Jawab Ay.. jawab.."
Emosi nya kembali mengudara saat mengingat vidio itu, dengan amarah yang masih menumpuk dia hendak kembali menyerang Abi
Melihat itu, Ayura langsung berlari berdiri didepan Abi mencoba menahan serangan Papanya, tapi naas pukulan Bramantyo sudah melayang, Ayura yakin kini kepalan tangan Papanya akn mengenai wajah nya, dia pasrah memejamkan matanya.
Satu detik...
dua detik...
gadis itu masih gemetaran dengan mata yng masih terpejam, tapi dia tidak merasakan apa apa, dengan perlahan dia membuka matanya, matanya membola melihat tangan Papanya yang menggantung didepan wajahnya
Abi menahan serangan Papanya dengan mengepal begitu kuat tangan Bramantyo.
"Pukulah aku sebanyak yang anda bisa, tapi jangan coba coba menyentuhnya, karena aku akan sangat marah." Ucap Abi dingin, lalu mendorong tangan Bramantyo dengan kuat hingga pria paru baya itu mundur beberapa langkah.
Abi lalu mendorong tubuh Ayura kesamping, pria itu lalu menjatuhkan tubuhnya ke lantai, berlutut di hadapan Bramantyo.
"Pukul aku, aku memang bersalah, aku pantas mendapatkan pukulan ini bahkan yang lebih dari ini. Aku tahu semuah maaf ku takan bisah mengembalikan kehormatan Ayura dan nama baiknya, tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
"Pak Abi.." Lirih Ayura dalam isakan. Dia ingin mendekat meminta Abi untuk berdiri, walau bagaimana pun, dia adalah atasannya dan masalah mereka sudah selesai, tapi suara tegas Bramantyo menghentikan langkah nya.
"Jangan membantunya Ay, lepaskan saja dia seperti itu, aku bahkan ingin membunuh nya dengan tanganku ini."Geram Bramantyo dengan mengepal kuat kedua tanganya hingga buku buku jarinya memerah.
"Pah, aku mohon hentikan.." Pinta Ayura
"Pah, hentikan Pah".Ucap Angel ikut memohon. Gadis itu pun terisak melihat wajah pria yang begitu dicintai babak belur seperti ini.
"Ay.." Panggil Abi sembari menggelengkan kepalanya, meminta gadis itu untuk tidak memohon untuk dirinya, baginya dirinya pantas mendapat kan semuah ini, agar dia bisah hidup dengan tenang dan tidur dengan nyenyak. Karena selama ini dia dibayangai rasa bersalah nya terhadap Ayura. "Maafkan aku Pak, katakan apa yang harus aku lakukan agar, Bapak memaafkan aku."
"Jauhi Ayura, tidak usah lagi bertemu dengannya. Dan aku pastikan besok kamu akan mendapatkan surat pengunduran dirinya. Beserta uang dendannya .Pergilah!" Bramantyo lalu melangkah masuk kerumah tak lupa menyeret Ayura ikut bersamanya.
"Pah, lepaskan aku, bagaiaman dengan Pak Abi, dia terluka Pah." Pinta Ayura menghiba.
"Angel! Urus dia" Titah Bramantyo pada putri tirinya, dia terus melangkah tanpa memperdulikan permintaan Ayura yang sedang diseret nya itu.
Hati Abi menghangat melihat perhatian Ayura padanya, baginya tak apa dipukul dengan sebegini teruk, tak masalah. Tapi melihat gadis kecilnya menangis hatinya tercubit. Sakit
Melihat Angel mendekat hendak menolongnya, seketika Abi mengangkat tangannya mengisyaratkan Angel untuk tetap ditempat karena dia memang tidak ingin ditolong oleh gadis itu.
__ADS_1
"Bi, aku mohon izinkan aku menolong mu, luka mu sangat parah" Pintar Angl dalam isakan.
"Terimakasih, tapi aku bisa sendiri." Tanpa menghiraukan Angel, Abi lalu berdiri dan melangkah pergi. Beberapa kali dia menoleh kebelakang mengharap Ayura mengejarnya.
Tapi rasanya itu sangat mustahil, bahkan esok dia masih dapat bertemu lagi denganya ataupun tidak, dia tidak tahu.
Abi menjalankan mobilnya menuju sebuah rumah sakit, langkah pertama yang ditempuh adalah mengobati luka nya.
Satu yang disyukuri nya, dia tidak sedang bersama Willy . Ceritanya akan lain kalau pria itu ikut tadi , dia yakin keadaan Bramantyo pun pasti akan sekarat seperti dirinya, mungkin lebih parah.
Pria tanpa perasaan itu tak takut dengan siapa pun, bahkan Pak Ardiansyah, Papanya Abi sekalipun. Dia hanya tunduk dan hormat pada sang atasan.
Baginya keselamatan sang atasan nomor satu yang harus dijaga, ia tidak pernah membiarkan seseorang atau musuh sekalipun menyentuh sang atasan, apalagi mendapat Abi dengan wajah babak belur begini. Dipastikan dia bisa mengamuk dan bertindak brutal tadi.
Abi menghela nafas kasar.
Abi memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah sakit, dan langsung melangkah menuju ruang Dokter Dani.
"Astaga, apa ini kau Abi." Pekik Dokter Dani melihat wajah Abi yang hampir tak dikenalnya itu.
"Ck! Berisik. Cepat obati luka ku."
"Tunggu, tapi apa yang terjadi, kenapa sampai babak belur begini, dan kemana si kenebo kering itu..?" Rentetan pertanyaan Dani membuat Abi berdecak kesal.
"Hei! Wajah ku sangat sakit, tak bisa kah kau langsung mengobati nya tanpa harus cerewet seperti ini..? Bahkan bicara saja aku hampir tak bisa, bagaimana kau mewawancarai ku seperti seorang wartawan..?" Kesal Abi.Dia mengomel dengan suara yang begitu pelan, karena kedua sudut bibirnya terasa perih untuk digerak.
"Berbaringkah, biar aku mengobati luka mu."
"Ngak usah, aku belum sekarat" Tolak Abi.
"Dia memang keras kepala".Gumam Dani
" Diamlah cerewet."
Dani langsung Bungkam, dia lalu mengambil cairan antiseptik untuk membersihkan wajah Abi. " Ya ampun Abi, ini sangat parah, sebenarnya kamu dikeroyok atau apa..? kau bahkan terlihat tidak membela diri. Apa ini Abi yang ku kenal ha..?"
Dani melihat punggung tangan Abi, tak ada memar atau pun memerah disana, itu buktinya Abi tanpa melakukan perlawanan. Semakin heran karena ini bukan Abi, pria yang dikenal jago bela diri dengan mengantongi sabuk hitam, tidak mungkin dia menjadi parah begini. tanpa perlawanan sama sekali.Dokter itu benar-benar bingung.
"Ya ampun Bi, lukanya terlalu banyak dan ini parah." Keluh Dani masih membersihkan wajah Abi dari darah dan bakteri yang menempel pada luka luka itu.
"Auuww, pelan pelan Dani, ini sakit."
Tak berselang bunyi dering telpon darin ponsel Abi. Pria itu lalu merogoh saku jasnya guna mengambil ponselnya, diletakann diatas meja tanpa berniat untuk melihat siapa penelponnya apa lagi mengangkatnya. Saat ini dia tidak ingin diganggu.
"Hei! Kenapa tidak diangkat, siapa tau penting..?"
"Kamu nggak tahu kondisi ku..? lagian bibir ku sangat sakit untuk berbicara, cukup lakukan pekerjaan mu dan tidak usah terus mengajak ku ngobrol, ini terlalu sakit untuk meladeni semua ocehan mu.".Omel Abi.
Dan ponsel kembali berdering, Abi masih tak mau menanggapi, matanya terpejam menahan perih saat Dani membersihkan wajahnya.
"Gadis kecil ku" Gumam Dani membaca nama. sipenelpon.
Sontak Abi membuka matanya, pandangan langsung tertuju pada posnselnya, betapa bahgianya melihat siapa penelpon, dengan kasar dia lalu mendorong tubuh Dani, meraih ponsel diatas meja kerja Dani, dan menghindar.
"Hei! Aku belum selesai mengobati luka mu." Teriak Dani kesal.
"Stttt, diam kamu." Ucap Abi tanpa suara.
Abi lalu menggeser tombol hijau,panggilan terhubung, tapi baik Abi maupun sipenelpon masih bungkam beberapa detik, sampai sura Abi memecah kesunyian.
"Ay.." Lirih Abi."
* * * * * *
__ADS_1