
Lanjut POV Gilang
Aku ingin melanjutkan perjalanan tapi masih takut kalau para hantu pendaki masih menunggu ku disana, jadi aku memutuskan untuk tetap di sini dulu sampai mereka benar-benar jauh dan tidak kembali lagi ke sini.
"Capek banget gue lari-larian terus dari tadi, itu hantu apa gak capek ya" aku bicara sendiri.
Aku hanya duduk-duduk saja dibalik pohon ini sambil menunggu waktu yang tepat untuk kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari teman-teman ku yang lain.
"Kayaknya sudah aman, aku akan lanjut mencari teman-teman ku yang lain" aku bermonolog.
Aku kembali berjalan menyusuri gelapnya hutan melewati ilalang yang panjang dan cukup sakit saat mengenai kaki, tapi aku harus tetap bertahan dan menyelamatkan keempat sahabatku.
"Ini semua salahku, andai aku tidak mengajak mereka ke sini, ini semua tidak akan terjadi, andai kita dengerin ucapan nenek dan berlibur di tempat lain, pasti kita saat ini sudah bersenang-senang menikmati hari libur" aku terus merutuki kebodohan ku dan malah membahayakan keempat sahabatku.
Aku akan menebus semua kesalahanku, aku akan terus mencari mereka dan aku berjanji akan membawa mereka turun dari gunung ini dengan selamat walaupun nyawa menjadi taruhannya, aku yang membuat mereka menjadi seperti ini di kejar-kejar hantu pendaki yang entah dari mana asal nya.
Tiba-tiba angin berhembus kencang menerpa tubuh ku dan bersamaan dengan itu keluar asap putih yang entah dari mana asal nya, asap itu terus mendekat ke arah ku, dan keluarlah sosok kakek- kakek berbaju putih dia mendekatiku.
"Cucuku, aku adalah kakek buyut mu jangan takut" ucapnya sambil terus mendekat ke arahku.
Sedangkan aku terus mundur karena takut kalau dia hantu jahat sama seperti hantu pendaki yang mengejar ku dari tadi.
"Kemari lah nak, kakek adalah kakek buyut mu, kakek bisa membantu kamu" ucap kakek itu lagi.
Tapi aku masih belum percaya dengannya karena di gunung ini banyak sekali makhluk jahat yang haus tumbal, aku takut dia akan membawa ku ke alamnya dan menjadikan ku salah satu dari mereka.
"Jangan takut, lihat lah kalung ini" sambil memperlihatkan kalung yang ada di lehernya.
"Kakek siapa" tanyaku masih tidak percaya.
"Kakek adalah kakek buyut mu nak" ucapnya meyakinkan.
__ADS_1
"Tidak mungkin, pergi kamu" aku terus berusaha menjauh.
"Perhatikan kalung ini, apa kamu tidak mengenalinya" ucapnya sambil terus memegang kalung yang ada di
lehernya.
Aku memperhatikan kalung itu dan aku seperti pernah melihatnya tapi aku belum tau pasti dimana aku melihat kalung itu.
"Aku tidak tau" jawab ku ketus walaupun sebenarnya aku seperti pernah melihatnya.
"Ingat-ingat dulu cucuku, pasti kamu akan ingat" dia terus meyakinkan ku.
Aku kembali melihat kalung itu dan terus memperhatikan nya siapa tau mungkin aku mengenalinya, dan setelah aku melihat nya dengan jelas aku baru ingat kalau kalung itu sama persis dengan kalung yang di pakai oleh nenek, aku tau karena dari aku kecil nenek tidak pernah melepaskan kalung itu dari leher nya, nenek bilang itu kalung warisan turun temurun dari keluarga kita.
"Itu kan kalung yang di pakai nenek, kenapa ada di kamu" aku bertanya pada kakek itu.
"Karena memang aku kakek buyut mu, semnua keluarga kita memiliki kalung ini" jelasnya.
"Iya cu, aku akan membantu kesulitan mu, aku akan menolong mu'" dia menawarkan bantuan.
"Benarkah kakek bisa menolongku" ucapku sambil berbinar karena ada harapan untuk keluar dari gunung ini.
"Iya cu, kakek bisa menolong kamu untuk keluar dari gunung larangan ini" jelasnya lagi.
Aku sedikit lega karena si kakek bisa menolongku dan aku akan segera keluar dari gunung ini dan juga bisa menolong Andi, Sasa, Heni dan Anton.
"Tolong bawa aku dan teman-teman ku keluar dari gunung ini kek, aku mohon" aku memelas pada kakek itu agar dia mau membantu ku.
"Aku bisa menolong kamu tapi tidak dengan teman- teman mu" ucap kakek itu.
Aku langsung kaget saat mendengar ucapan kakek buyut kenapa tidak bisa menolong teman-teman ku padahal mereka juga butuh bantuan dari si kakek.
__ADS_1
"Kenapa tidak dengan teman-teman ku, apa karena mereka bukan siapa-siapa kakek jadi kakek tidak mau menolong mereka" aku bicara agak berteriak karena kesal.
"Bukan begitu cu, kakek akan menjelaskan, teman-teman kamu bukan orang asli sini, mereka orang asing, yang bisa keluar dari gunung ini hanyalah orang asli desa ini dan keturunannya" kakek menjelaskan dengan wajah muram.
"Kenapa bisa seperti itu" tanyaku lagi.
"Orang asing yang sudah naik ke gunung ini mereka tidak akan pernah bisa keluar lagi, karena gunung ini dijaga oleh banyak makhluk halus yang haus dengan tumbal, seperti para hantu pendaki yang terus mengejar kamu dan teman-temanmu mereka juga korban dari gunung ini, mereka tersesat karena ulah penjaga gunung ini, hingga mereka mati kelaparan di gunung ini, mereka memang sudah mati, tapi jiwa mereka tetap berada di sini dan mencari teman" kakek menjelaskan dengan panjang lebar tentang gunung larangan ini.
"Apa karena alasan itu gunung ini di namakan gunung larangan" tanyaku pada sang kakek.
"Benar, karena siapapun yang datang tidak akan pernah bisa pergi" tambah kakek memberi tahu.
"Lalu kenapa para pendaki itu mencari teman, bukankah dulunya mereka juga manusia sama seperti kita" aku terus saja bertanya karena masih penasaran.
"Mereka di tugaskan oleh penguasa gunung ini untuk mencari teman, mereka di iming-imingi setelah mendapatkan teman jiwa mereka akan tenang karena sudah ada pengganti" lanjutnya.
"Lalu bagaimana nasib teman-teman ku kek" aku mengiba kepada sang kakek.
"Mereka tidak akan bisa keluar kecuali hanya keajaiban yang bisa menolong mereka" jawabnya sendu.
Sepertinya kakek juga merasa sedih karena tidak bisa menolong mereka terlihat dari ekspresi nya.
"Ayo lah cu, ikut kakek keluar dari sini, tempat ini tidak aman untuk mu dan juga sangat berbahaya untuk kamu, jangan sampai kamu jadi korban berikutnya" ajaknya.
"Tapi bagaimana nasib teman-teman ku kek, mereka juga harus keluar dari gunung ini" aku juga memikirkan nasib teman-teman ku.
"Kakek sudah menjelaskan semuanya mereka tidak akan bisa keluar" jawab nya dengan enteng.
"Tidak kek, aku tidak mau meninggalkan mereka" aku menolak ajakannya.
"Ayo lah cu, waktu kakek tidak banyak kamu harus keluar dari gunung ini secepatnya" dia terus memaksa.
__ADS_1
"Sekali lagi maaf kek, aku tidak bisa meninggalkan teman-teman ku begitu saja, aku yang mengajak mereka ke sini, aku bertanggung jawab dengan keselamatan mereka, jadi apapun yang terjadi aku akan tetap mencari mereka dan akan membawa mereka keluar dari gunung ini" ucapku lantang.