
"Apa maksud mereka temanku yang satu lagi juga ada yang membantu" aku berpikir siapa temanku yang juga mendapatkan bantuan.
Sedangkan kakek buyut bilang di antara teman-teman ku yang lain hanya aku yang keturunan asli desa ini, lalu siapa makhluk yang membantu temanku itu.
Aku juga berpikir bagaimana caranya agar aku bisa memberi tahu mereka bahwa kita dalam keadaan
bahaya, hantu pendaki itu semakin bersemangat untuk menangkap kita semua, mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan kita dan
menjadikan kita tumbal di air terjun merah.
Air terjun merah berarti tempat yang dan berbahaya untuk kita sambangi, kenapa aku dan teman-temanku sangat bodoh bahkan tujuan utama kita adalah ketempat dimana air terjun merah berada, kalau saja saat itu kita jadi ke air terjun meralh
pasti kita semua sudah tertangkap dan tinggal menunggu waktu untuk menjadi tumbal penguasa gunung larangan ini.
"Untung saja aku dan temanku tidak jadi kesana, kalau tidak bisa gawat.
Terus sekarang aku harus apa, kenapa kita bisa sebodoh itu tidak mempercayai ucapan nenek ku nek Ngah yang sangat aku hormati dan alku sayangi, kenapa aku justru membohongi dia dan tetap
pergi ke tempat jahanam ini, tempat berkumpulnya semua makhluk jahat yang ada di dalam gunung larangan ini" lagi aku bergumam sangat pelan agar
mereka tidak mendengarkan suaraku.
Aku melihat ke bawah untuk memastikan bahwa mereka masing ada disini, dan ternyata mereka masih di tempat yang sama yaitu di bawah pohon
yang aku naiki.
"Kenapa sih mereka masih ada disini dan kenapa mereka tidak juga pergi dari sini agar aku bisa cepat turun dari sini dan mencari cara untuk
membebaskan Heni dari tempat jahanam ini" aku merasa kesal kepada hantu pendaki itu.
Tiba-tiba tubuhku merasa sangat gatal sekali, seperti di gigit oleh banyak semut dan saat aku melihat ke sekeliling ternyata benar, banyak sekali semut kecil berwarna hitam di pohon ini.
"Aduh gatel banget lagi, mana mereka masih ada di bawah gak mungkin aku tiba-tiba loncat ke bawah,
__ADS_1
itu sama saja aku cari mati dan menyerahkan diri kepada mereka" aku sambil menggaruk badanku yang sudah sangat gatal sekali gara-gara semut nakal itu.
Badanku benar-benar sakit dan gatal, tadi berasa sangat perih gara-gara kena rumput berduri eh sekarang malah di gigit semut kecil dan itu rasanya
sangat luar biasa, badanku sudah sangat sakit sekali dan aku benar-benar tersiksa di atas sini.
"Ya Allah, aku mohon bantu aku untuk bertahan dalam situasi yang seperti ini, tolong beritahu semut-semut ini untuk menjauh sebentar saja, aku
mohon ya Allah berikanlah aku kesempatan" aku berdoa dalam hati, karena aku takut terdengar oleh mereka berdua yang ada di bawah.
"Haduh kenapa bisa gatal banget sih, aku harus apa" aku membungkam mulutku agar tidak berteriak ataupun mengeluarkan suara apapun, aku harus
tetap bertahan dalam keadaan yang seperti ini.
Aku terus berusaha untuk diam walaupun sebenarnya aku sudah tidak kuat menahan rasa gatal dan sakit, perih menjadi satu.
Aku melihat ke bawah lagi berdoa agar mereka bisa segera pergi dan aku juga berusaha untuk fokus dan
mendengarkan apapun yang sedang mereka bicarakan karena aku yakin pasti ada informasi dari mereka tentang sahabatku yang lain atau informasi
"Lalu bagaimana apa sekarang kita harus kembali pulang dan memberitahu yang lain kalau kita kali ini gagal lagi untuk menangkap anak itu" ternyata
mereka masih saling ngobrol untuk menentukan keputusan mereka.
"Sepertinya jangan dulu karena sebenarnya anak ini adalah kunci utama kita untuk menangkap teman dia yang lain" ucap hantu pendaki itu.
"Maksudnya apa dia sebagai kunci utama kita, kan kita sudah menangkap satu jadi seharusnya dia yang akan menjadi kunci utama kita dan alat kita untuk memancing temannya yang lain" jawab temannya.
Aku mendekatkan telinga karena aku sangat penasaran dengan apa yang hantu pendaki itu katakan, kenapa dia bisa bilang kalau aku adalah kunci utama mereka untuk menangkap
teman-teman ku yang lain.
"Apa kamu tidak tau kalau anak itu seperti si sialan yang sudah membuat kita terperangkap di dalam gunung larangan ini selamanya" dia mengepalkan tangannya tanda kalau dia sedang sangat marah.
__ADS_1
Aku masih mendengar ucapan mereka dengan jelas, semoga aku menemukan teka teki dari masalalu
mereka berempat.
"Maksud kamu anak itu adalah salah satu keturunan dari warga desa sini dan dia bisa pergi dari gunung ini dengan selamat kapanpun dia mau" temannya itu terlihat sangat kaget.
Kalau itu alasannya ya aku sudah tau karena kakek buyut sudah menjelaskan semuanya kepada aku
waktu pertama kali kita bertemu bahkan dia juga sudah berkali-kali mengajak aku untuk keluar dari gunung larangan ini tapi aku selalu menolaknya karena teman-teman ku juga sangat penting
dalam hidupku jadi aku tidak mungkin bisa untuk meninggalkan mereka di tempat jahanam ini.
"Iya kamu benar, anak itu sama seperti penghianat itu, tapi bedanya anak itu mau mencari temannya dan dia tidak tega meninggalkan teman-temannya sendiri di gunung larangan ini, beda dengan penghianat itu yang meninggalkan teman-temannya
tanpa peduli dengan nasib kita" hantu pendaki itu terlihat sangat marah, terlihat wajahnya memerah mungkin juga rasa dendam telah menguasai
dirinya.
"Kita tidak perlu lagi mengingat tentang manusia jahat itu, dia bukan teman kita dan anggap saja kita tidak pernah mengenal dia sama sekali, anggap juga dia sudah mati" temannya itu menenangkan dia.
"Tidak, sampai kapanpun aku akan selalu mengingat sikap dia kepada dia, hati kita sudah terlanjur terluka karena dia, jadi kita harus membalas dendam
kepada dia, setelah ritual penumbalan itu selesai kita akan turun dari gunung ini dan mencari manusia bajingan itu, dia harus bernasib sama seperti kita" dia
mengepalkan tangannya.
"Ya kamu benar kita harus membalas dendam yang sudah kita pendam bertahun-tahun, setelah itu baru kita bisa hidup tenang di gunung larangan ini, kita tidak akan menyimpan dendam lagi kalau kita sudah berhasil membalaskan dendam ini" mereka saling lihat dan seperti saling menguatkan satu sama lain.
Menyedihkan juga nasib mereka, aku masih ingat betul saat mereka saling bercerita tadi siang dan sekarang mereka menumpahkan lagi rasa yang lama
mereka pendam, mungkin dengan begitu mereka bisa mengurangi rasa sakit yang ada dalam hati mereka.
Aku tidak menyalahkan mereka atas dendam itu, karena aku tau betul betapa sakit rasanya di khianati oleh sahabatnya sendiri, kalau aku melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh teman mereka mungkin keempat sahabatku juga akan
__ADS_1
merasakan hal yang sama seperti mereka.