
Lanjutan...
"Iya Lo bener banget emang air seger" jawab Heni.
"Capek juga ya jalan dari tadi, padahal kan kita jalannya udah pelan" Heni mengeluh karena lelah.
"Namanya juga jalan Hen, sudah pasti capek lah" jawabku.
Kami duduk sebentar untuk meregangkan otot dan minum air secukupnya karena kita harus benar-benar irit air karena belum tentu nanti siang kita bisa menemukan air bersih untuk kita minum.
"Gimana lanjut sekarang gak?" tanya Heni.
"Semangat banget sih Lo, baru juga kita duduk udah ngajak lanjut aja" ucapku pada Heni.
"Habisnya gue pengen cepat-cepat keluar dari gunung ini, gue tuh pengen pulang" ucap Heni.
"Iya kita akan pulang secepatnya, pokoknya kita harus terus semangat" ucapku pada Heni.
"Tapi ingat kita juga tidak boleh memaksakan diri, kalau tubuh kita lelah kita harus segera istirahat agar kita tidak sakit dan tidak kecapean" tambah ku lagi.
"Iya juga sih, kayak aku kemarin sampai demam karena mungkin kemarin aku kelelahan ngejar kamu
yang palsu terus gantian di kejar-kejar sama kamu yang palsu" ucap Heni
"Mangkanya harusnya kamu kemarin istirahat dulu" kata ku.
"Ya gimana mau istirahat orang udah ketakutan ya lari aja terus tanpa peduli rasa lelah yang penting bisa kabur terus sembunyi" Heni malah kesal.
"Iya aku tau kok, kan cuma bercanda" jawabku lagi.
Untung saja hari ini cuaca sangat cerah sekali kalau sampai hujan kita pasti akan sangat kesusahan karena kita tidak membawa tenda sama sekali, dan
pasti kita akan kehujanan dan bisa saja kita akan sakit karena kedinginan.
"Srek srek" aku seperti mendengar suara langkah kaki seseorang.
"Kamu dengar gak, alku seperti mendengar langkah kaki manusia yang menuju ke sini" ucapku pada Heni.
"Kok aku tidak dengar apa-apa sih" Heni langsung menajamkan pendengarannya.
"'Srek srek" aku kembali mendengar suara langkah kaki itu lagi.
__ADS_1
"Iya aku juga mendengarnya, tapi dari mana arah suara itu" Heni bertanya padaku.
"Aku tidak tau, tapi sepertinya langkah kaki itu semakin mendekat"' aku terus menajamkan pendengaran.
"Apa mungkin itu Andi dan Sasa" Heni tersenyum senang karena mengira itu suara langkah kaki Andi dan Sasa.
Aku tidak yakin kalau itu suara langkah kaki Andi dan Sasa karena sepertinya langkah kaki itu bukan hanya
dari dua orang tapi lebih dari itu, jadi tidak mungkin itu suara Andi dan Sasa, kini perasaanku jadi tidak enak aku takut kalau itu suara langkah kaki hantu
pendaki yang mengejar kita dari kemarin.
"Ayo kita pergi dari sini" ajak ku.
"Jangan dulu, lebih baik kita pastikan dulu siapa tau itu teman-teman kita, kalau kita pergi kita gak akan
bertemu dengan mereka dong" Heni masih saja ngotot.
"Bukan Hen, itu bukan suara teman-teman kita kamu dengar kan dulu baik-baik dari suaranya sepertinya
itu lebih dari dua orang" aku terusbmeyakinkan Heni.
Heni mulai menajamkan pendengarannya lagi, dia terus memperhatikan arah datangnya suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah kita, tapi tiba-tiba datang seseorang yang sangat aku kenal, kemudian aku dan Heni sangat kaget dan kita langsung berdiri dan berlari sekencang mungkin.
Ternyata benar dugaan ku suara langkah kaki itu adalah milik mereka berempat para pendaki yang terus mengejar kita sampai saat ini, mereka memang sangat berbahaya dan mereka selalu bisa mengendus keberadaan kita di manapun kita berada.
"Tuh kan apa gue bilang itu bukan langkah kaki teman-teman kita, kamu sih ngeyel terus dari tadi" aku memarahi Heni.
"Iya maaf aku tadi sudah sangat berharap kalau itu benar langkah kaki teman-teman kita" Heni terlihat sangat menyesal.
Kini penyesalan Heni tidak ada artinya karena hantu pendaki masih terus berusaha mengejar kita dan
sekarang kita hanya bisa berlari mana tidak ada tempat untuk bersembunyi semua tempat lapang dan tidak ada yang bisa dipakai untuk bersembunyi dengan aman.
"Gimana ini lang, aku takut mereka semakin dekat" ucap Heni panik.
"Ya sama gue juga takut bukan Lo aja, udah pokoknya kita lari saja sekencang mungkin" ucapku pada Heni.
Aku dan Heni terus berlari dan sesekali menoleh ke belakang melihat keberadaan para hantu pendaki itu
takutnya mereka sedang semakin dekat, aku terus menoleh.
__ADS_1
"Gimana udah jauh apa belum mereka" tanya Heni.
"Mereka masih terlihat dan merekavmasih ada di belakang kita" jawabku.
"Gimana dong ini" Heni sudah ingin menangis karena ketakutan.
Aku melihat lagi ke belakang mereka sudah agak tertinggal di belakang dan saat melihat ke depan aku
melihat seperti ada pohon yang agak besar tanpa pikir panjang aku langsung menarik tangan Heni dan mengajaknyabbersembunyi di belakang pohon yang
cukup besar.
"Ayo kita sembunyi di belakangbpohon itu" ucapku sambil menarik tangan Heni
"Aku takut lang gimana kalau kita tertangkap" Heni menangis karena ketakutan.
Aku juga kebingungan dan aku hanya bisa berdoa semoga kita berdua tidak tertangkap oleh mereka semua, bisa selesai kita kalau sampai tertangkap
dan aku takut tidak akan ada yang bisa menolong kita saat ini.
"Udah kamu gak usah menangis, kalau kamu nangis tidak akan bisa mengubah keadaan lebih baik sekarang kita berdoa saja semoga mereka tidak
akan bisa menangkap kita" ucapku sambil mengusap air mata Heni.
"Ya habisnya gue takut banget nih, gue benar-benar takut kalau mereka akan kesini" Heni kembali menitikkan air mata.
Aku mengintip di balik pohon, dan melihat keberadaan mereka apakah mereka sudah jauh atau mereka masih ada di dekat sini.
"Gimana apa mereka masih ada di sekitar sini atau mereka sudah jauh" Heni bertanya padaku.
"Hust, mereka masih ada di sekitar sini kamu diam aja nanti malah mereka dengar" sambil menaruh jari telunjuk ku ke mulut agar Heni diam dan tidak berisik.
Aku melihat sekeliling, tapi para hantu pendaki itu masih belum juga terlihat entah kemana mereka sekarang, tapi aku masih belum lega dan perasaan
ku juga masih tidak enak mungkin karena aku saking takutnya kalau ketangkap sama mereka semnua, kaki ku rasanya sangat lemas aku bingung harus
apa sekarang.
"Kayaknya mereka sudah menjauh dan sudah tidak mengejar kita lagi karena dari tadi aku tidak melihat
mereka lewat sini jadi mungkin mereka tidak mengejar kita sampai ke sini" ucapku pada Heni.
__ADS_1
"Alhamdulillah berarti sekarang kita sudah anman dari kejaran hantu pendaki itu, dan kita bisa melanjutkan perjalanan dengan aman" Heni mengucap syukur karena kami mungkin saat ini sudah aman dari kejaran mereka para hantu pendaki.