
Lanjutan bab sebelumnya...
Masih POV Andi.
"Ayo kita berangkat sekarang juga biar kalian bisa cepat bertemu dengan teman-teman kalian yang lalu" ucap kuntilanak Yanti.
Kita kembali melanjutkan perjalanan menuju kearah selatan dan semoga saja apa yang di katakan Yanti
memang benar kalau teman-teman kita ada di sana dan semoga saja mereka baik-baik saja dan semoga bisa menghindar dari kejaran hantu pendaki yang terus mengejar kita.
"Apa masih jauh tenmpat nya" tanya Sasa mungkin dia sudah merasa lelah.
"Masih sangat jauh sekali, teman kalian ada di ujung hutan sebelah selatan sedangkan kalian mash ada di
hutan ujung Utara jadi masih sangat jauh lah" ucap Yanti.
"Kita jalan pelan-pelan saja, lama-lama kita juga akan sampai dan akan bertemu dengan Gilang dan Heni"
ucapku pada mereka.
Kita harus meningkatkan kewaspadaan karena hantu pendaki itu masih mengejar kita dan mereka bisa berada di mana saja saat ini jadi haru meningkatkan kewaspadaan lagi agar jika mereka berada di sekitar kita, kita bisa cepat bersembunyi ataupun berlari
yang penting tidak tertangkap oleh mereka semua.
Malam semakin larut dan udara juga semakin dingin, mungkin karena kita berada di atas gunung jadi hawanyablebih dingin dari tempat biasanya.
"Andai kita bawa handphone, pasti kita bisa cari bantuan ataupun bisa mengabari teman-teman kita yang lain'" Ucap Sasa.
"Percuma juga, kita bawa handphone pun gak akan bisa hubungi siapapun, lo lupa kalau kita sekarang
ada di hutan mana mungkin ada sinyalbdi dalam hutan kan gak akan ada" jawabku.
"Iya juga sih, gak akan ada sinyal juga ya" Sasa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Handphone itu apa sih" tanya Sari penasaran.
"Haha, masak Lo gak tau sih apa itu handphone norak banget jadi kuntilanak" Sasa menertawakan Yantii yang kebingungan dengan ucapan Sasa.
"Aku gak tau sama sekali, bahkan baru kali ini aku mendengar kata handphone" Yanti menggaruk kepalanya karena bingung.
"Masak sih kamu gak tau sama sekali" tanyaku penasaran.
"Kalian itu bego apa bodoh sih, kan aku ada di dalam hutan sudah ratusan tahun, jadi mana mungkin aku kenal yang namanya handphone" ucap Yanti karena dia kesal.
"Santai dong" jawab ku.
"Mangkanya sekali-kali keluar gitu dari hutan, kamu turun gunung jadi gak jadul kayak gini" ejek Sasa.
"Jadul itu apalagi sih, bahasa kalian aneh" ucap Yanti.
"Jadul itu kamu gak tau apa-apa tentang masa kini, kan kamu nangkring nya di pohon tengah hutan jadi gak tau apa-apa lah" kini aku ikutan mengejek kuntilanak Yanti.
"Iya bener kata Andi mangkanya jangan nangkring di atas hutan terus, sekali-kali tuh kamu turun gunung terus kamu nangkring di tempat rame gitu biar agak gaul dikit jadi kuntilanak, terus disana juga banyak cowok-cowok ganteng pokoknya kamu pasti senang
deh dan gak bakalan kesepian lagi" kata Sasa menimpali ucapan ku.
"Mana bisa, aku tidak akan bisa keluar dari gunung ini, karena ini sudah rumahku, lagian tempat keluarnya kan di jaga mana mungkin bisa keluar seenaknya" jawab si Yanti.
Kasian juga kisah hidup kuntilanak Yanti ini, dia sepertinya sangat sedih meratapi hidupnya dia disini di asing kan oleh teman-temannya yang lain, karena kuntilanak lain takut kalau si yanti itu jahat jadi tidak ada yang mau berteman dengan dia, mangkanya dia itu sangat kesepian dan butuh teman, padahal Yanti ini adalah kuntilanak yang baik dan tidak jahat.
"Handphone itu alat untuk kita berkomunikasi dengan jarak jauh, seperti sekarang ini kalau kita bawa handphone kita pasti bisa dengan mudah tau dimana teman-teman kitabyang lain tanpa bantuan kamu, gitu loh Yan" aku menjelaskan pada yanti.
"Oh gitu ya baru tau tuh aku kalau manusia bisa buat barang sekeren itu" ucap Yanti.
"Iyalah, manusia itu juga sama kayak kamu tidak semua manusia itu jahat kok, masih banyak sekali manusia yang baik dan pintar bisa menolong sesama manusia" Sasa menjelaskan pada Yanti.
"Iya deh, kalian memang manusia yang sangat baik kalian juga pemberani dan aku suka itu" jawabnya sambil tersenyum.
"Sekarang kan kamu sudah menjadi teman kita, jadi kami juga pasti akan baik sama kamu, nanti kalau kita sudah bertemu dengan teman-teman kita yang
__ADS_1
lain, kita akan mengenalkan kamu kepada mereka, dan mereka juga akan menjadi teman kamu, dan juga sekarang kamu punya banyak teman" ucapku menghibur Yanti.
"Terimakasih banyak ya kalian sudah mau berteman dengan aku" dia memegang tangan ku dan tangan Sasa sambil tersenyum.
Terlihat sekali rona bahagia di wajah yanti, mungkin dia sangat senang karena baru kali ini dia memiliki teman dan mau menerima dia apa adanya, dia memang mbak kunti yang sangat baik dan berbeda dari yang lainnya.
"Apa kalian tidak mau istirahat dulu malam ini, kalian pasti sangat lelah karena berjalan dari tadi" Yanti menawarkan kita untuk istirahat.
"Tidak yan, kita masih kuat kok, nanti kalau kita sudah tidak kuat lagi untuk berjalan maka kita akan berhenti dan istirabhat sejenak, tapi belum untuk sekarang" jawabku.
"Oke deh, silahkan kalian lanjut lagi" kata Yanti.
"Apa kamu mau ngikutin kita terus Yan?" tanya Sasa.
"Iya dong, kan kalian satu-satunya teman aku jadi akan terus mengikuti kalian dan akan terus menjaga dan membantu kalian sebisaku saja" jawab Yanti.
Sepertinya Yanti sudah sangat yakin untuk ikut dengan rombongan kita dan dia tidak mau kembali ke pohon tempat dia tinggal karena disana dia sangat kesepian, kasian sekali si Yanti ini nanti kalau kita sudah pulang dan keluar dari gunung ini pasti dia kembali kesepian.
"Oke deh kalau gitu terserah kamu saja" jawabku.
"Oh ya, penghuni gunung ini pasti sangat banyak ya" tanyaku lagi.
"Pasti sangat banyak lah, tapi sekarang mereka sedang berada di air terjun merah dan menanti kedatangan kalian untuk menjadi tumbal" jawabnya.
Jawaban Yanti cukup membuatku bergidik ngeri, ternyata mereka sudah menunggu kita dan akan menjadikan kita tumbal selanjutnya.
"Hii, aku jadi ngeri nih takut juga kalau sampai kita ketangkap" Sasa mulai merinding.
"Kalian pasti tau kan, betapa senangnya penguasa air terjun merah itu dengan kedatangan kalian sudah lama sekali tidak ada manusia yang berani naik ke gunung ini jadi sudah lama juga mereka tidak mendapatkan tumbal manusia dan pastinya mereka sekarang sangat antusias dan akan menyiapkan
segalanya untuk kalian mereka sudah siap untuk berpesta.
"Tapi bagaimana kalau para hantu pendaki itu tidak bisa menemukan kita" tanyaku lagi.
"Ya mereka akan selamanya menjadi bawahan di alam mereka sampai mereka bisa mendapatkan
pengganti" jawabnya lagi.
"Diri mereka itu sudah penuh dengan dendam, ada amarah yang mereka pendam dan mereka bawa mati, mereka sangat marah dan benci dengan temannya yang memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri tanpa memikirkan nasib mereka" ucap si Yanti.
"Apa dendam itu bisa diakhiri" Sasa gantian bertanya.
"Tidak akan pernah bisa, mereka mati dengan cara yang mengenaskan dan sudah dijadikan tumbal oleh
penguasa gunung ini, mungkin kalau saja mereka tidak mati membawa dendam maka arwah mereka bisa tenang, ataupun mereka bisa membawa teman
mereka yang dulu meninggalkan mereka maka dendam mereka akan hilang" Yanti menjelaskan tentang kisah hantu pendaki.
"Kalau arwah mereka bisa tenang apakah gunung ini bisa aman kembali untuk manusia yang akan mendaki" aku kembali bertanya pada Yanti.
"Tidak, karena gunung ini sudah di kuasai oleh ilmu hitam yang jahat, kalaupun hantu pendaki itu sudah
tenang pasti akan ada makhluk lain yang di tugaskan untuk mencari tumbal untuk penguasa gunung ini" jelasnya lagi.
"Percuma juga dong, gunung ini akan tetap menjadi gunung larangan, para manusia tidak akan bisa menikmati pemandangan yang sangat indah di
gunung ini" ucapku pada Yanti.
Kita terus berjalan menembus gelapnya malam dan dinginnya udara malam.
"Dingin banget ya hawanya malam ini" Sasa terlihat kedinginan.
"Iya kamu benar, kenapa bisa sedingin ini sih" aku juga merasakan hal yang sama.
"Mana ada dingin, gak dingin sanma sekali kok" ujar Yanti yang tidak merasa kedinginan.
"Ya iya lah, lo kan kuntilanak udah biasa keluar di malam hari sambil nangkring di atas pohon kan, jadi udah biasa dan gak akan kedinginan" ucap Sasa.
"Iya juga sih" Yanti malah tersenyum.
__ADS_1
"Dingin banget ini Ndi, gimana ini" aku langsung melihat ke arah Sasa.
Sasa terlihat kedinginan dia menyilangkan tangan nya dan menggigil kedinginan, wajahnya terlihat pucat dan tangannya terlihat bergetar sungguh membuat ku kaget dan juga ketakutan.
"Sa, lo gak papa kan" aku bertanya pada Sasa dan dia terlihat lemas.
"Sa, jawab gue lo gak papa kan, jangan seperti ini dan jangan bikin gue khawatir" aku semakin khawatir karena Sasa terlihat sangat kedinginan.
"Dingin Ndi" hanya itu yang diucapkan oleh Sasa.
"Jangan merem, dan jangan tidur lo harus tetap terjaga agar suhu tubuh lo kembali normal" aku memperingati Sasa agar dia tidak tertidur.
"Gue ngantuk banget Ndi, dingin" dia kembali memejamkan mata.
"Ya Allah, Sasa lo jangan sampe tidur dengerin Ucapan gue lo harus baik-baik saja jangan seperti ini dong" aku semakin khawatir.
Aku langsung merebahkan tubuh Sasa dan memangku dia, aku bingung harus berbuat apa sepertinya Sasa terkena hipo, kondisinya terlihat sangat lemas sedangkan aku tidak tau harus berbuat apa.
"Bangun Sa, jangan tidur dong gue bingung nih harus apa sekarang, please bangun jangan seperti ini Sa aku mohon" aku mulai meneteskan air mata, pikiran ku sudah sangat kalut aku kebingungan.
"Kenapa nih si Sasa" Yanti bertanya padaku.
"Dia kedinginan, gimana dong aku harus apa" tanyaku pada Yanti siapa tau dia bisa membantu ku.
"Gimana ya aku gak pernah ngerasain soalnya" kata Yanti.
Kesadaran Yanti malah semakin menurun dia malah tertidur sedangkan seharusnya dia tidak boleh tidur dalam kondisi seperti ini, aku benar-benar semakin takut harus apa aku saat ini, otakku terus bertikir gimana caranya agar aku bisa menyelamatkan Sasa.
"Emm. Lebih baik sekarang kamu bawa Sasa ke tempat yang aman dulu, takutnya nanti hantu pendaki itu kembali ke sini" ucap yanti kepadaku.
Benar juga apa yang di katakan Yanti, kita harus mencari tempat yang aman dulu karena tidak mungkin Sasa bisa melanjutkan perjalanan dalam keadaan seperti ini, aku harus menggendongnya dan mencari tempat yang benar-benar aman dari hantu pendaki itu.
"Kita harus kemana Yan, dimana kita harus bersembunyi untuk membantu Sasa, aku sudah benar-benar kalut dan bingung aku takut terjadi apa-apa dengan Sasa tolong kita Yan" aku memelas aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
"Kamu tunggu sini, aku akan cari tempat yang aman untuk kita istirahatkan Sasa " Yanti kembali terbang
dan mencari tempat untuk bersembunyi dan dia juga mencari tahu apakah hantu pendaki ada di sekitar sini.
Aku hanya bisa menunggu Yanti dengan hati berdebar, aku khawatir kalau kita kenapa-napa dan aku tidak akan memaafkan diri ku sendiri kalau
sampai terjadi sesuatu dengan Sasa, karena aku sudah berjanji aku akan selalu melindungi dan menjaga Sasa apapun yang terjadi.
Lama menunggu tapi Yanti belum juga kembali, aku semakin panik, tubuh Sasa sangat dingin dan bibir nya agak membiru aku hanya bisa menangis melihat kondisi Sasa tanpa bisa melakukan apapun.
"Sasa, tolong dengar aku Sa, cepat bangun jangan seperti ini" aku menangis.
"Ya Allah, tolong selamatkan Sasa aku benar-benar bingung harus berbuat apa sekarang, tolong aku ya Allah aku mohon sembuh kan Sasa" aku masih
menangis terisak.
Setelah agak lama, akhirnya Yanti datang juga aku sedikit tenang saat dia datang semoga dia menemukan tempat yang aman untuk kita terutama Sasa, karena kita harus segera menolongnya.
"Gimana, ada tempat yang aman kan" tanyaku pada Yanti
"Ada, kita ke sebelah sana saja, disana aman dari pantauan hantu pendaki karena tempatnya tersembunyi" ucap Yanti menunjuk ke suatu tempat.
"Ayo, aku akan gendong Sasa" aku ingin menggendong Sasa.
"Tidak usah, aku yang akan membawa Sasa sambil terbang, kasian dia nanti kalau kamu gendong pasti akan lama nyampainya, kamu ikuti aku tapi kamu juga harus lari agar kita cepat sampai" ujar Yanti angsung membopong tubuh Sasa dan mengajak nya terbang.
Alhamdulillah ada Yanti yang mau menolong kita, entah apa yang akan terjadi kalau tidak ada Yanti yang membantu aku dan Sasa, aku langsung lari sambil mengikuti Yanti yang sedang membawa Sasa, cepat juga dia terbangnyabjadi aku harus terus berlari dengan kencang agar tidak ketinggalan jejaknya.
"Hati-hati yan kamu bawa Sasa jangan sampai dia terjatuh, kasian dia" ucapku pada Yanti.
"Tenang saja, aku pasti hati-hati kok, kalau cuma bawa Sasa doang gampang banget buat aku, itu perkara kecil banget" Yantii sedikit berteriak.
Aku mempercayakan Sasa pada Yanti karena kalau aku gendong pasti kita sampai nya akan lama dan aku juga baru saja sembuh karena membopong Sasa
tadi saat kakinya sakit.
__ADS_1
"Gimana masih jauh gak tempat nya kok gak sampai-sampai sih Yan" aku bertanya lagi pada Yanti