Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 58


__ADS_3

Lanjutan...


"Apaan silh kamu tuh gak jelas banget sama saja seperti Yanti memang cewek tuh sama saja gak ada bedanya" aku membalas tatapan tajam dari Sasa.


Dia makin menatapku dengan tatapan seperti ingin memangsa, aku terkejut tapi aku tidak memiliki rasa


takut sedikitpun sama dia, biarlah aku tidak akan peduli sama sekali terserah dia mau apa, aku akan tetap mengintrogasi si Yanti karena dia memang bersalah.


Setelah aku tahu apa alasan dia pergi sangat lama dan jika alasannya memang mendesak dan bisa ditolerir maka aku akan langsung meminta maaf


kepada Sari dan akan mengakui segalabkesalahanku karena sudah berpikir negatif terhadap dia, tapi jika alasannya tidak masuk akal aku tidak akan mau


untuk meminta maaf karena aku tidak salah.


"Kamu baru ditinggal sebentar saja sudah kangen sih, kan aku gak sampai sehari ninggalin kamu disini" ucap Yanti manja sambil bergelayut di tanganku


tapi aku langsung menepisnya.


Aku menepis tangan Yanti tapi tidak terlalu kasar karena bagaimanapun dia adalah perempuan ya walaupun dia kuntilanak tapi kan tetap dia perempuan yang harus diperlakukan dengan lembut


meskipun hatiku sekarang lagi dongkol padanya.


"Udah Yan, aku itu bicara serius tolong dong kamu jawab dengan serius juga jangan bercanda terus kamu itu" aku menatap Yanti dengan tajam agar dia


tidak bercanda terus.


"Kok gitu sih kamu" Yanti bersikap manja bahkan dia memanyunkan bibirnya, aku baru tau kalau ada


kuntilanak yang seperti itu.

__ADS_1


Sifat Yanti kenapa bisa sangat persis dengan sikap manusia, apa mungkin dia belajar dari Sasa karena Sasa selama ini kalau marah juga suka memanyunkan mulutnya persis sekali dengan yang yanri lakukan saat ini.


"Baik, kalau begitu aku akan bicara baik-baik sama kamu Yanti, sekarang jawab ya kamu dari mana saja Yanti kenapa kamu lama banget kamu tau tidak kalau aku udah kelaparan, tapi bukan itu saja aku pikir kamu itu sengaja ninggalin kita berdua disini agar kita kelaparan" aku ngomong sangat halus kepada Yanti agar dia mau menjawab pertanyaan dariku.


"Ya gak mungkin dong sayang aku tega ninggalin kamu disini saat kamu sedang kelaparan, aku pasti akan kembali dan akan mencari kemanapun agar bisa menemukan makanan yang layak untuk kalian berdua" Yanti membalas ucapan ku juga sangat lembut bahkan dibuat mendayu-dayu aku malah semakin jijik saja.


"Terus kalau kamu dari tadi cari makanan dimana ya makanannya kok aku gak lihat kamu bawa makanan sih Yan" aku celingukan mencari makanan yang Yanti maksud karena jujur aku memang sangat lapar dari tadi.


Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa aku jadi sering marah-marah karena aku merasa sangat lapar, perut kosong membuat pikiranku kemana-mana bahkan membuatku tidak konsentrasi sama sekali, aku jadi tidak bisa berpikir dengan jernih karena rasa


lapar ini.


"Iya aku bawa kok, ini dia" Yanti membawa kotak yang entah apa isinya tapi dia bilang itu makanan, aku tidak tau pasti apakah makanan yang


dimaksud oleh Yanti karena aku belum membukanya juga.


"Makanan lah, kan kalian nanya makanan gimana sih gitu aja gak tau" jawab Yanti sambil mendengus kesal.


"Aku buka ya" aku izin pada Yanti untuk membukanya.


"Ya buka saja" tanpa banyak kata aku langsung membuka kotak yang Yantiberikan padaku, aku dan Sasa sontak terkejut bercampur kesal saat melihat isi dari kotak yang dimaksud oleh Yanti.


"Apa ini yan, ini tuh kembang kamu pikir kita ini kuburan baru apa dikasih kembang" Sasa melihat kearah Yanti mungkin dia juga sangat kesal karena


kita sudah menaruh harapan besar kepada Yanti.


"Yanti masak aku sama Sasa disuruh makan kembang sih, kamu kan tau kalau kita itu manusia bukan setan Yan" aku juga sedikit merasa kesal pada Yanti.


"Hehe, iya aku tau tapi kan aku juga gak nyuruh kalian berdua untuk makan itu, kan kalian tanya makanan ya itu makananku" Yanti malah tertawa cekikikan seolah dia sudah puas untuk mengerjai aku dan Sasa.

__ADS_1


"Terserah kamu lah Yan bodo amat deh" aku merasa dipermainkan oleh si Yanti.


"Iya maaf deh, kan aku cuma bercanda gak serius ngomong seperti itu, ini makanan untuk kalian berdua susah tau nyarinya dan itu kotak makanan


untuk aku, sekarang kita makan bareng ya kan kalian bilang udah sangat lapar" Yanti mengeluarkan sesuatu yang dibungkus daun dan saat aku buka


ternyata isinya adalah ikan yang sudah dibakar dan ikannya ada empat itupun besar-besar pasti kita bisa kenyang.


"Wah, besar banget Yan ikannya terus ini kamu panggang sendiri ya, kok kamu bisa sih" Sasa tersenyum senang saat melihat ikan yang dibawa oleh Yanti mana ikannya sudah matang lagi, jadi


kita berdua tinggal makan saja.


"Ternyata kamu benar-benar bisa di andalkan Yan, terimakasih banyak ya gak sia-sia kami berteman sama kamu, kamu memang sangat baik" aku


menyanjung Yanti saking senangnya melihat makanan di depan mata.


"Iya dong, Yanti gitu loh pasti sangat bisa diandalkan, oh ya aku mau ngomong serius nih sama kalian berdua, tapi nanti ya setelah kalian selesai makan, pokoknya sekarang kalian berdua makan aja dulu" Yanti menyuruh kami berdua untuk makan.


"Ini sih bisa sampai nanti malam Yan, jadi nanti malam kita tidak perlu repot-repot mencari makanan lagi dan kita juga tidak akan kelaparan seperti tadi lagi aku tersenyum sangat senang sambil melihat Yanti yang juga tersenyum menatapku tapi aku tidak terpengaruh sama sekali.


Aku juga bingung kenapa kuntilanak bisa suka sama manusia kan dia harusnya juga tau kalau aku dan dia


tidak akan pernah bisa bersama, apalagi di hatiku sudah tertulis dengan jelas nama Sasa seorang, tapi aku tidak pernah menyesal karena sudah bertemu dan berteman pada Yanti, dia memang kuntilanak merah yang terkenal sangat jahat tapi Yanti berbanding sangat terbalik karena Yanti memang sangat baik kepada aku dan Sasa.


"Ya sudah ayo kita makan bersama-sama dibawah pohon ini karena matahari sangat terik sekali nanti


bisa-bisa aku terbakar oleh matahari itu" Ucap Yanti dia langsung duduk dibawah pohon yang tadi aku tempati untuk istirahat dan tidur.


Aku dan Sasa langsung mengambil masing-masing satu ikan yang tadi dibawa oleh Yanti, ikannya cukup besar dan saat aku lihat ini seperti ikan mujair entah enak atau tidak karena Yanti sendiri yang telah membakarnya di tempat, dia bilang ikan itu enak dimasak saat masih segar, tapi memang benar juga yang dia katakan.

__ADS_1


__ADS_2