Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 93 Orang Ketiga


__ADS_3

Pertarungan kembali dilakukan dengan sengit, karena saat ini Gilang telah di bantu oleh teman-temannya secara gaib yang di tuntun oleh Yanti, jadi dengan sendirinya tenaga Gilang kembali


pulih seperti sedia kala.


"Aku akan melawan kamu semampuku, sampai aku berhasil melenyapkan iblis jahat seperti kamu,


semua manusia berhak untuk menikmati keindahan alam ini, bukan hanya kamu dan golongan iblis lainnya, ingat kata-kata ku itu" Gilang berteriak


dengan keras yang membuat jin itu kembali murka karena ulahnya.


"Tidak akan aku biarkan manusia jahat kembali menikmati keindahan alam gunung ini, kalian hanya perusak yang tidak tahu malu" jawab iblis itu, dan wajahnya semakin memerah akibat amarah yang ada pada dirinya.


Iblis itu kembali menyerang Gilang dengan hebat, Gilang hampir saja terpental tapi dia mampu untuk


melawan iblis ini, entah kenapa tenaga Gilang serasa terus terisi jadi dia tidak merasakan lelah sama sekali saat melawan iblis ini, dan itu semua karena


bantuan dari teman-temannya yang selalu menjaga Gilang dari jauh.


Gilang melawan iblis itu dengan sekuat tenaga, hingga pukulannya mengenai jantung iblis itu, dengan pukulan yang sangat kuat membuat iblis


itu tersungkur dan kesakitan, lalu tiba-tiba dia menghilang dari hadapan Gilang, dan Gilang sangat lega dan bersyukur karena telah berhasil


melumpuhkan iblis itu.


"Alhamdulillah, aku telah berhasil mengalahkan iblis jahat itu, dan sekarang aku bisa kembali melanjutkan


perjalanan untuk menemukan keberadaan Anton " Gilang bernafas lega, tapi entah kenapa tenaganya seakan tidak berkurang sama sekali.


Ditempat lain, teman-teman Gilang yaitu Heni, Sasa dan juga Andi, mereka bersorak senang karena api yang ada di hadapan mereka sudah menyala dengan


sangat terang, itu artinya Gilang bisa melewati rintangannya kali ini, dan mereka telah membantu Gilang untuk melawan iblis jahat.


"Akhirnya apinya kembali stabil tidak seperti tadi yang hampir mati, dan itu artinya Gilang sudah selamat dari marabahaya yang mengintai dia, dan


kita harus terus mnenjaga api ini agar tetap menyala kita harus melakukan apapun agar Gilang bisa selamat" ucap Sasa sambil menghapus air mata yang dari tadi terus mengalir deras karena memikirkan nasib anton dan gilang disana.


"Iya, sekarang apa lagi yang harus kita lakukan, apa kita hanya akan diam saja dan terus menjaga api ini apa tidak ada cara lain agar kita bisa membantu


perjuangan Gilang " Andi menimpali ucapan Sasa.

__ADS_1


"Andai ada cara lain agar kita bisa sama-sama pergi ke sana pasti aku mau, kita memang harus berjuang bersama tidak seperti ini" ucap Heni.


"Asal kalian semua tau, yang kalian lakukan ini sudah sangat membantu Gilang, kalian juga sudah sangat berjasa, asal kalian tau ya dengan begini kalian


sudah membantu Gilang melawan jin jahat yang telah menyerang dia tadi, kalian telah membantu Gilang dengan cara mengirim tenaganya" ucap Yanti


yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Yanti kamu sudah kembali, kita dari tadi mencari keberadaan kamu tau" ucap Sasa sambil melihat kearah Yanti.


"Maksud ucapan kamu apa Yan, kita tidak membantu apa-apa karena dari tadi kita hanya ada disini dan


menjaga api ini" jawab Andi.


"Sekarang apa yang kalian rasakan, apa kalian merasa lelah atau ngos-ngosan" tanya Yanti.


"Iya sih, aku merasa kaya lemas gitu, capek kaya habis ngapain gitu padahal dari tadi aku hanya diam" jawab Heni.


"Terus kalian berdua bagaimana, apa kalian juga merasakan hal yang sama seperti Heni" Yanti melihat kearah Andi dan Sasa.


"Iya, apa yang Heni rasakan juga kita rasakan, kaya capek gitu" jawab Sasa yang dibalas anggukan oleh Andi.


mengalahkan iblis jahat itu dengan mudah dan itu semua karena bantuan dari kalian semua" Yanti tersenyum sambil melihat kearah mereka satu per satu.


"Apa itu benar Yan" tanya Andi.


"Itu sangat benar, kalian telah membantu Gilang" ucap Yanti.


Mereka sedikit lega karena mereka ternyata juga bisa membantu Gilang disana, karena itu artinya gilang tidak berjuang sendiri karena mereka selalu siap untuk membantu Gilang.


Persahabatan mereka berlima memang selalu membuat semua orang merasa iri, mereka kompak dan selalu membantu satu sama lain, bahkan


mereka juga saling menjaga, itu pula yang menjadi alasan hantu pendaki tidak menyukai mereka, karena hantu pendaki itu sangat iri dengan


persahabatan mereka.


Sedangkan teman mereka tega meninggalkan mereka di gunung larangan ini sehingga mereka mati sia-sia dan menjadi arwah gentayangan sampai saat ini, mereka sangat marah dan merasa dendam terhadap teman mereka yang telah meninggalkan


mereka di tempat ini.

__ADS_1


"Kalian harus terus menjaga lilin itu dengan benar, ingat alau terjadi apa-apa dengan Api itu kalian harus


segera berpegangan tangan" ucap Yanti.


"Lalu apa lagi yang harus kita lakukan Yan" tanya Andi.


"Aku akan mengajarkan kalian sebuah mantra" ucap Yanti.


"Ing wayah bengi ana ing alas gunong madhep mangidul mantra tak woco Yen lumaku ana Ning alas kanggo roh lan sukma, Cahya mangan raksa, aja kangganggu gawene awake golek sandhang pangan dhewe-dhewe"


"Baca mantra itu sambil menahan nafas, ingat baca mantra itu selama 3 kali maka kalian akan mentransfer energi kalian lebih banyak ke tubuh


Gilang dan dia akan bisa melawan apapun yang menghalangi niatnya untuk mencari keberadaan Anton" Yanti berucap dengan sangat serius.


"Tapi Yan, kita belum hafal mantra itu, bahkan kita tidak mengerti apapun tentang mantra itu Yan, apalagi mantra itu memakai bahasa Jawa, jadi kita tidak faham dan susah untuk mengucapkannya" ucap Andi sambil menggaruk kepalanya.


"Oke, aku akan mnencatatnya tunggu sebentar" Yanti langsung terbang entah kemana dia hanya pamit untuk mencatat mantra yang dia berikan tadi.


"Mau kemana sih si Yanti" tanya Heni.


"Tunggu aja sebentar, eh tapi mana ada alat tulis di hutan gini, terus si Yanti mau mencari alat tulis dimana ya" tanya Sasa bingung.


Lama mereka menunggu, dan akhirnya Yanti kembali dengan cepat, ternyata Yanti tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menulis.


"Apa mungkin Yanti secepat itu menemukan alat tulis ya, apa mungkin di hutan ini ada yang jualan alat tulis" ucap Sasa bingung.


"Dasar aneh Lo mana ada di hutan yang jualan alat tulis, di pakai dong itu yang ada di jidat, gimana sih" ucap Andi kesal.


"Ya kan gue cuma nanya, santai dong Ndi, kan gue cuma penasaran sama Yanti dimana dia mencari alat tulis gitu loh" Sasa terlihat kesal dengan jawaban Andi.


"Udah gak usah berantem, kita tunggu saja Yanti nanti kita tanyakan ke Yanti aja langsung" Heni menengahi mereka berdua.


"Ngapain kalian ribut" tanya Yanti sambil melihat kearah Andi dan Sasa.


Sebenarnya Yantii sudah biasa melihat Sasa dan Andi bertengkar, tapi ini kan masa genting dan seharusnya mereka tegang bukan malah bertengkar


seperti biasanya.


Gak penting banget mereka berdua bertengkar disini, justru malah membuat suasana semakin kacau

__ADS_1


mereka memang aneh sekali.


__ADS_2