Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 64


__ADS_3

Lanjutan...


"Ingat ya perjalanan kita kali ini berbeda dari biasanya, kalian tidak boleh seenaknya karena hantu pendaki itu bisa di mana saja, bahkan bisa saja


mereka sedang mengintai kita saat ini, jadi kita harus tetap waspada" Yanti kembali mengingatkan.


"Iya Yan, sebisa mungkin kita akan terus berhati-hati jangan sampai kita tertangkap oleh hantu pendaki itu, bisa jadi perjuangan kita selama ini akan


berakhir sia-sia" aku membenarkan ucapan Yanti.


Hutan ini memang terlihat berbeda dari yang lainnya, begitu sepi bahkan aku jarang sekali mendengar suara hewan di hutan bagian ini.


"Kok aku gak melihat atau mendengar suara hewan sama sekali ya, apa di hutan sebelah sini tidak ada


makhluk hidup sama sekali" aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Yanti semoga aku bisa


menemukan jawaban dari si Yanti.


"Kan aku sudah bilang, ini kita menuju hutan paling ujung di Utara, jadi di sebelah sini jarang ada binatang karena disini sarang makhluk halus,


kalian tau itu" Yanti menjelaskan kepada aku dan Sasa.


"Ih aku jadi merinding tau gak, gini amat ya hawanya padahal masih siang hari, aku gak bisa bayangin gimana aur hutan ini saat malam hari pasti akan


lebih menyeramkan dari ini" Sasa mengelus tengkuknya yang merinding.


Aku merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Sasa, aku juga merinding saat memasuki wilayah hutan ini, benar-benar berbeda, pantas kalau disini dijadikan sarang jin.


"Nah itu kalian sudah tau mangkanya sebelum kesini aku sudah memperingatkan kalian agar


berhati-hati di hutan ini, karena apa yang kamu lihat kadang itu hanya tipu muslihat dari para penunggu di hutan ini, asal kalian tau dari dulu waktu gunung ini masih banyak pendaki hutan ini terkenal sebagai hutan yang paling angker, semua pendaki pasti akan tau, mangkanya hutan ini belum pernah di masuki oleh manusia dan mungkin saja kalian ini adalah manusia pertama yang masuk ke area hutan ini" Yanti menjelaskan kepada kami tentang hutan

__ADS_1


ini.


"Kenapa begitu Yan, kenapa tidak ada yang berani ke hutan ini, apa dari dulu hutan ini memang sarang para jin penghuni gunung larangan ini" Sasa bertanya kepada Yanti.


Aku juga pusing kenapa ada saja masalah di gunung ini, pantas saja tidak ada manusia yang berani mendaki di gunung larangan ini, hanya orang-orang


bodoh seperti aku dan teman-teman ku saja yang berani, itu pun karena kami bandel dan tidak mencari tahu dulu tentang gunung ini, malah kita main naik saja tanpa memberitahu siapapun.


Jadinya ya seperti ini, walaupun kita tersesat berminggu-minggu tidak akan pernah ada yang mencari kita bahkan tidak ada yang berani untuk


menyelamatkan kita dari gunung larangan ini.


Bahkan ini seperti dongeng dan takhayul, bahkan kalau aku tidak merasakan sendiri pasti aku tidak akan pernah percaya kalau ada tempat seseram ini, bahkan arwah penasaran yang masih terjebak di gunung larangan ini.


"Kalian berdua harus ingat dengan kata-kata ku ini, nanti jika kalian sudah sangat lelah saat berjalan, jangan pernah kalian tiba-tiba berhenti karena di hutan ini tidak semua tempat aman, aku ingatkan lagi ya, hutan ini berbeda dengan hutan lainnya jadi kalian harus hati-hati, kalau kalian lelah tinggal


bilang sama aku, nanti biar aku carikan tempat istirahat yang paling aman jangan asal berhenti saja, paham kalian" Yanti memperingati kami dengan tegas.


menganggap kami sebagai sahabatnya.


"Jadi kita gak boleh asal berhenti ya, harus cari tempat yang aman dulu" Sasa kembali bertanya.


"Ya, pokoknya kalau kalian capek jangan berhenti, tetap berjalan sebelum aku bilang berhenti baru kalian boleh berhenti, karena aku harus memastikan kalau tempat itu benar-benar aman untuk kita beristirahat" kata Yanti tegas.


Kami terus berjalan, dan keringat sudah mulai membasahi baju yang kami gunakan, hari sudah mulai sore karena matahari sudah tidak seterik tadi,


walaupun aku tidak membawa jam tangan tapi aku bisa memastikan kalau sekarang sudah pukul empat sore, dan mungkin kita sudah berjalan selama dua


jam tanpa istirahat, kuat tidak kuat kita harus melalui ini semua karena ini juga demi keselamatan kita bersama.


"Apa kalian sudah lelah, kalau iya aku akan carikan tempat untuk beristirahat sesaat, tapi hanya boleh sebentar saja" Yanti bertanya kepada aku dan Sasa.

__ADS_1


"Iya Yan, sepertinya aku juga sudah sangat lelah karena dari tadi kita tidak istirahat sama sekali, bahkan kita juga belum meminum air setetes pun" Sasa terlihat ngos-ngosan mungkin dia sudah sangat lelah karena berjalan dari tadi dan tidak berhenti.


"Iya aku juga sudah lelah, ayo kita cari tempat untuk beristirahat sebentar agar rasa lelahnya sedikit hilang" aku menimpali ucapan Sasa.


"Baik, kalau begitu tunggu disini sebentar saja aku akan terbang untuk memantau situasi ditempat ini, kalau memang sudah aman aku akan kembali"


tanpa banyak bicara lagi Sari langsung terbang meninggalkan kami di tempat ini, walaupun Yanti bilang cuma sebentar tapi hatiku tetap merasa was-was sejak kepergian Yanti, aku takut hantu pendaki itu akan tiba-tiba datang.


Tidak lama akhirnya Yanti kembali, ternyata dia memang benar-benar hanya sebentar meninggalkan kami disini, dan semoga Yanti sudah menemukan tempat yang aman untuk kita beristirahat sejenak.


"Ayo kita jalan lagi, di depan sana ada tempat yang cukup aman dan setelah aku berkeliling hantu pendaki itu tidak berada di sekitar sini, jadi kalian


aman" ucap Yanti sambil melihat ke sekeliling.


Kita kembali berjalan sambil mencari tempat yang menurut Yanti aman untuk kita, jadi aku dan Lia hanya urut saja dengan ucapan Yanti karena Yanti lah yang lebih tau dari pada kami.


"Disitu" Yanti sambil menunjuk.


"Kita kesitu" aku bertanya kepada Yanti


"Iya, kita istirahat di balik batu besar itu karena disitu tempat yang paling aman, hantu pendalki itu tidak akan bisa melihat kita karena tertutup oleh batu besar itu" Yanti menunjuk batu yang sangat besar untuk kita beristirahat.


"Ayo kita berjalan ketempat itu, aku sudah benar-benar lelah sekali aku ingin beristirahat walau hanya sebentar saja" Sasa langsung berjalan dengan cepat mendekati batu besar itu setelah sampai


dia langsung duduk saja.


Sepertinya Sasa sudah benar-benar lelah, karena dia langsung duduk dan bersandar di batu besar itu, lalu dia mengeluarkan botol dari tas ransel nya


lalu dia meminum air itu, seperti orang yang sangat kehausan.


"Aku juga mau duduk" aku langsung duduk di sebelah Sasa.

__ADS_1


__ADS_2