Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 118


__ADS_3

"Gak apa-apa yang penting sekarang kalian kan sudah aman dan kalung ini bisa melindungi kalian semua" Gilang menenangkan.


Gilang kembali teringat dengan Carrier hantu pendaki yang dia temukan, lalu Gilang berniat untuk membukanya, siapa tabhu dia menemukan petunjuk


baru agar bisa menemukan keberadaan mayat hantu pendaki itu.


"Ini tadi aku menemukan tas carrier dari hantu pendaki itu, mungkin disini ada petunjuk untuk kita bisa menemukan jasad mereka ataupun kita bisa tahu keluarga mereka, jadi nanti kita bisa mengabari keluarga mereka juga, karena aku yakin keluarga mereka juga pasti belum tahu kabar mereka


semua" kata Gilang sambil memperlihatkan carrier yang dia temukan.


Mereka mulai membuka Carrier itu, dan sepertinya itu milik pendaki wanita karena terlihat dari isinya, mereka membuka semuanya isinya dan hanya


ada satu buku kecil dan satu buku besar, tapi buku itu terlihat seperti buku kuno karena sampulnya terlihat aneh.


"Buku apa ya ini" Gilang membuka buku itu.


Yang tidur akan bangun, yang mati akan bangkit, yang sakit akan sembuh, yang miskin akan kaya, yangjelek akan menjadi sempurna, bangkitnya jiwa


akan terlaksana.


Wareksanakasana


waminatikalimatina


kuriwamancasakullima.


Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang sekali membuat mereka semakin merinding.


"Buku apa ini dan ini seperti mantra, apa yang ada di dalam buku ini kenapa sangat aneh sekali" Gilang langsung menutup buku itu.


"Itu seperti buku sekte aliran sesat, apa jangan-jangan mereka punya tujuan jahat di gunung larangan ini" Yanti menduga-duga.


"Apa iya seperti itu Yan" mereka semua langsung tercengang karena kaget dengan ucapan Yanti.


Apa mungkin hantu pendaki itu memiliki tujuan yang buruk di gunung larangan ini, sehingga mereka tidak bisa keluar selamanya, Gilang dan yang lainnya harus mencari tahu, karena itu bisa menjadi informasi untuk mereka agar bisa menyelamnatkan para hantu


pendaki yang sudah menjadi budak oleh penguasa gunung larangan.


Mereka di alam jin sudah menjadi tawanan, dan mereka diperlakukan seperti budak, mereka dipaksa untuk bekerja setiap hari dan setiap saat, kalau

__ADS_1


mereka melakukan kesalahan maka penjaga akan menyiksa mereka, memang sangat pedih nasib yang dialami oleh para hantu pendalki itu.


Semoga saja Gilang dan teman-temannya tidak mendapatkan nasib yang sama dengan mereka karena mereka ditempat ini tidak memiliki niat


jahat sedikitpun, mereka hanya berniat untuk menghabiskan waktu liburan mereka dengan bersenang-senang ditempat ini tidak lebih dari itu.


Tapi jelas sekali kesalahan yang mereka buat adalah tidak menuruti orangtua bahkan mereka juga


membohongi orangtua mereka, jadi mungkin itu salah satu penyebab mereka bisa tersesat di gunung larangan ini.


"Bisa jadi, karena mantra yang ada di buku ini memang mengarah ke ilmu sesat, mangkanya setelah Gilang membaca mantra itu angin langsung


datang dengan sangat kencang menyambut mantra itu, dan mungkin alam mengira akan ada yang


menyembah ilmu hitam di tempat ini" Yanti berkata dengan sangat serius.


"Jadi maksud kamu para hantu pendaki gunung larangan itu punya niat jahat di tempat ini, mereka menyembah dan mencari ilmu hitam untuk niat


jahat" tanya Andi masih tidak percaya.


"Apa mungkin itu penyebab mereka di bawa dan dijadikan tumbal, jiwa mereka terombang-ambing ditempat ini karena kesalahan mereka sendiri yang


"Ya, mungkin itu salah satu penyebab mereka mati ditempat ini,memang waktu itu aku yang menakuti mereka sampai mereka jatuh, tapi aku tidak tau pasti kenapa mereka bisa sampai di tawan oleh penguasa gunung larangan bahkan di jadikan budak oleh


mereka" Yanti menjelaskan apa yang dia ketahui.


Akhirnya mereka diam dengan pikiran mereka masing-masing, dan tidak ada yang bicara lagi, tiba-tiba mereka dibuat merinding karena angin


yang tiba-tiba datang dan awan tiba-tibaberubah menjadikan sangat gelap, mereka kedinginan tapi juga ketakutan.


Jangan sampai buku itu juga membawa pengaruh buruk untuk mereka semua, karena mereka tidak ada


sangkut pautnya sama sekali dengan buku itu.


"Wah, mau hujan nih kayaknya, mana gelap banget lagi kabutnya juga tiba-tiba tebal banget" kata Andi sambil memperhatikan selkitarnya yang sudah


tertutup oleh tebalnya kabut.


"Iya sepertinya mau hujan, kita cari tempat untuk berteduh dulu yuk biar nanti gak kehujanan" usul Sasa sambil menatap mereka.

__ADS_1


"Kamu benar Sa, kita harus segera mencari tempat untuk berteduh, dan sepertinya tempat ini sudah tidak aman lagi untuk kita, aku merasa disini sudah


banyak yang hadir karena mantra itu" kata Gilang sangat awas.


Mereka langsung pergi dari tempat semula tanpa banyak bicara lagi, dan mereka langsung pergi mencari tempat yang aman untuk berlindung dari angin dan hujan karena mereka tidak membawa tenda sama sekali.


Yanti terlihat sangat was-was, entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, dan sepertinya Gilang dan


teman-temannya tidak sadar dengan ekspresi Yanti yang tiba-tiba berubah tegang dan seperti kebingungan.


Yanti semakin gelisah dan risau, dia melihat sekeliling dan alam terlihat sangat berbeda, dia takut ada yang akan menyerang mereka, dan Yanti tau betul seperti apa buku yang sekarang ada di tangan Gilang, buku itu sangat berbahaya untuk mereka tapi itu juga sebuah petunjuk baru untuk mereka.


Tapi Yanti tau kalau mantra itu tidak akan bisa tembus dan terjadi gesekan antara dua alam kalau tidak ada alat yang bisa menghubungkannya.


Tapi mantra itu hanya dibaca saja alam sudah berubah seperti ini, menjadi lebih mencekam seperti akan ada sesuatu yang besar akan terjadi. Yanti


tahu betul seluk beluk gunung larangan ini dan juga seperti apa penguasa gunung larangan ini.


"Gimana nih, kita mau cari tempat berteduh dimana lagi, keburu hujan dan nanti kita bisa basah gara-gara hujan" Heni mungkin sudah merasa lelah.


"'Sabar dulu ya, kita cari tempat yang benar-benar bisa melindungi kita dari hujan, karena anginnya sangat kencang sekali, kalau di bawah pohon kan bisa berbahaya" Anton mengingatkan.


Anton memiliki pengalaman mendaki gunung yang cukup banyak, karena dia sudah sering kali mendaki gunung dan sudah banyak merasakan sensasi di atas gunung, jadi dia cukup tau dan mengerti tentang situasi saat ini.


"Gimana Yan, apa kita berteduh di sana saja" sambil menunjuk ke suatu tempat.


Yanti hanya diam saja karena dia tidak fokus dengan apa yang mereka katakan, saat ini Yanti sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, jadi dia tidak mendengarkan ucapan mereka.


"Yantii" Gilang memanggil Yanti karena dia tidak menjawab sama sekali.


"'Yantii" Heni jga memanggil Yanti cukup keras dan itu mampu membuat Yanti mendengar ucapannya.


"Eh iya, ada apa dan kenapa kalian memanggilku" Yanti malah bertanya.


"Kamu kenapa sih Yan, masak tadi kamu tidak mendengarkan kita bicara, padahal tadi kita lagi ngomong sama kamu loh Yan, tapi malah kamu tidak mendengarkan" Heni terlihat kesal.


"Maaf ya maaf banget aku gak denger ucapan kalian" kata Yanti.


"Eh itu kalian lihat deh, disana ada gua kita bisa berteduh disana dan pasti disana akan sangat aman untuk kita semua" Anton menunjuk goa.

__ADS_1


__ADS_2