
"Rio kenapa di luar ada suara orang banyak ya ada apa sebenarnya," ibunya Rio terlihat gelisah dan dia juga tidak tahu kalau para warga desa sudah tahu
perbuatan mereka.
"Rio juga tidak tahu Bu apa kita keluar saja untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar," dia juga ingin tahu.
Ibunya mondar mandir dan memikirkan sesuatu dia yakin pasti ada yang tidak beres karena semua warga itu terlihat sangat marah sekali bahkan
mereka juga terus berteriak memanggil nama mereka.
Tapi dia belum tahu pasti apa yang menyebabkan mereka bisa semarah itu kepada mereka berdua.
"Apa jangan-jangan mereka marah karena waktu itu ibu tidak melarang pendaki itu untuk naik ke gunung
larangan," tanya ibunya Rio.
"Bisa jadi Bu, kita keluar saja dan kita langsung tanyakan kepada mereka semua apa yang sebenarnya terjadi," ajak Rio.
Lalu mereka berdua memutuskan untuk keluar rumah dan menemui para warga desa dan mereka akan
menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Rio membuka pintu terlebih dahulu terlihat banyak sekali warga yang sedang berkumpul di depan rumahnya itu.
"Ini dia manusia setengah iblis itu, kita Bu*uh saja mereka berdua," teriak salah satu warga dengan emosi.
Saat melihat wajah Rio dan ibunya para warga bertambah emosi dan merasa kesal, mereka bahkan ingin berbuat anarkis kepada mereka berdua.
Tapi untung saja Mbah Kliwon dan kepala desa berhasil mencegah masa untuk mengeroyok Rio dan ibunya di rumah mereka, kalau tidak ada Mbah
Kliwon dan kepala desa mungkin Rio dan ibunya sudah habis di tangan warga desa.
"Sudah tenang semuanya jangan seperti ini kita selesaikan semua dan kita akan menghukum mereka berdua sesuai apa yang telah mereka lakukan," kepala desa mencoba untuk menenangkan
warga.
Rio dan Ibunya masih bingung dan mereka belum tahu kalau kejahatan mereka sudah diketahui oleh semua warga desa, itu semua karena kesalahan
Rio sendiri yang telah meninggalkan petunjuk di gunung larangan.
Tapi memang itu yang seharusnya terjadi dan itu memang sudabh waktunya dia mendapatkan karmanya.
"Tunggu Mbah Kluwon, saya ingin bertanya ada apa sebenarnya sampai warga begitu marah kepada kami berdua padahal kami tidak merasa melakukan
kesalahan apapun selama tinggal di desa ini," dia pura-pura baik di depan semua warga.
"Manusia iblis kamu jangan berpura-pura baik di depan kita karena kita muak dengan wajah kamu dan
ibumu itu, kalian manusia iblis yang tidak memiliki hati," teriak salah satu warga.
"Betul kalian tidak perlu berpura-pura lagi di depan kami karena kalian manusia berhati iblis dan kalian
penganut iblis, " teriak warga lain.
__ADS_1
Terdengar suara yang sangat berisik dan ribut karena mereka semua bicara secara bersamaan bahkan mereka sudah tidak sabar ingin menghukum mereka
berdua sampai mereka merasakan penyesalan dalam hidupnya.
Rio yang mendengar itu baru sadar kalau ternyata semua warga sudah tahu perbuatan dia dan ibunya, tapi dia tidak akan diam saja dan dia pasti akan
membela dirinya.
"Apa maksud kalian bicara seperti itu, pasti ada yang memfitnah kami berdua karena aku dan ibu tidak pernah melakukan apa yang telah kalian tuduhkan,"
ucapnya membela diri.
"Kamu tidak perlu berbohong karena kami sudah tahu kalau kamu yang selama bersekutu dengan iblis di gunung larangan dan kamu juga yang telah menumbalkan banyak manusia itu penguasa gunung larangan itu kan," Mbah Kliwon akhirnya terpancing emosi dengan ucapan Rio.
"Tidak Mbah, itu tidak benar sama sekali karena kita tidak mungkin melakukan itu apalagi anak saya ini dia keluar rumah saja tidak pernah jadi mana mungkin dia melakukan itu, pasti ada yang memfitnah kami," ibunya pun melakukan hal yang sama membela dirinya yang memang telah berbuat
salah.
Rio juga masih ingin membela dirinya agar tidak terus di salahkan dia ingin selamat atas tuduhan itu.
"Saya tau pasti pendaki yang selamat itu kan yang memfitnah kami dan pasti mereka juga bicara yang
tidak-tidak tentang aku dan ibu, mana mereka biar ku Bunuh mereka semua," Rio terlihat sangat marah.
"Heh iblis, kami yang akan membunuh kamu dan ibumu itu," teriak warga lain.
Mereka semua masih berdebat dengan Rio dan Ibunya karena mereka tidak mau mengakui kesalahan yang telah mereka lakukan bahkan mereka
berusaha untuk memutar balikkan fakta yang sesungguhnya.
"Kalian berdua tidak bisa mengelak lagi karena kita sudah memiliki bukti, libat ini semua adalah alat ritual yang kalian lakukan. Dan pasti mereka habis
melakukan ritual karena ada bunga tujuh rupa yang ada di rumah mereka." salah satu warga yang masuk ke rumah mereka menemukan bukti.
Ada sisa sesaji dan bunga tujuh rupa yang kemarin mereka gunakan untuk mnemanggil penguasa gunung larangan dan ternyata mereka gagal tapi
semua masih tersisa.
"Wah, benar-benar penganut ilmu sesat mereka berdua ini lalu apa yang akan kalian katakan lagi kali ini apa kalian berdua masih tetap tidak mau mengaku kalau kalian telah melakukan perjanjian gaib dengan penguasa gunung larangan itu," kepala desa memaksa mereka untuk bicara.
Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan karena memang sudah ada buktinya jadi mereka tidak bisa
mengelak lagi atas apa yang telah mereka lakukan.
Lalu para warga menyeret tubuh mereka berdua bahkan memukuli Rio tanpa ampun, mereka sudah sangat marah dan emosi dengan perbuatan
mereka berdua.
"Lepaskan, jangan pukuli anak saya lepaskan dia jangan kalian siksa anakku atau kalian semua akan tau akibatnya" teriak ibunya Rio.
"Diam wanita tua kalau kamu bukan wanita tua renta maka nasibmu akan sama seperti anakmu itu," teriak
warga.
__ADS_1
"Aku bersumpah akan membalas perbuatan kalian semua, dan akan aku pastikan kalian mati di tanganku dengan cara yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya," teriak ibunya lagi.
Dia memang penganut ilmu hitam jadi bukan hanya penguasa gunung larangan saja yang bekerja sama dengan dia tapi ada lagi ilmnu hitam yang mereka
anut.
Seperti manusia berwajah rata yang mengambil buku sekte itu, Rio dan ibunya juga salah satu bagian dari
mereka karena Rio dan Ibunya juga mempelajari ilmu mereka.
"Hukuman apa yang pantas kita berikan untuk mereka berdua, apa kita bunuh saja mereka sekalian," tanya salah satu warga.
"Jangan kita tidak boleh melakukan itu karena itu akan mengotori desa kita yang indah ini, dan itu juga akan menimbulkan masalah baru kedepannya" kata kepala desa tidak setuju kalau harus melakukan itu.
Mbah kliwon hanya mengangguk kepala dan sepertinya dia juga setuju dengan ucapan kepala desa itu jadi dia memikirkan hukuman yang pantas
untuk mereka berdua yang telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
"Apa kita laporkan mereka ke kantor polisi agar mereka di penjara," usul Nek Ngah yang dari tadi hanya diam saja.
"Tidak kami tidak setuju kalau mereka di penjara karena suatu saat nanti mereka bisa bebas dan pastinya akan melakukan hal yang sama lagi,
hidup di penjara mereka masih keenakan bahkan tidak sebanding dengan perbuatan mereka," jawab
kepala desa yang tidak setuju.
"Baik, kalau begitu kita kucilkan saja mereka dari desa ini, kita kurung mereka di belakang desa ini bukankah disana ada gubuk yang tidak di gunakan
kita ikat saja mereka disana dan biarkan mereka mati secara perlahan disana, aku kira itu pantas untuk mereka yang telah membunuh banyak sekali manusia yang tidak berdosa," Mbah Kliwon
mengungkapkan masukannya.
Para warga berpikir sejenak dan mereka juga terlihat setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Mbah Kliwon itu, biarkan mereka mti dengan perlahan
jadi para warga tidak perlu mengotori jangan mereka sendiri.
"Setuju, ayo kita bawa mereka," Lalu para warga menyeret tubuh dua manusia jahat itu yang telah
merugikan banyak orang, dan bahkan telah membunuh banyak nyawa yang tidak berdosa.
Gilang dan teman-temannya yang melihat itu sebenarnya tidak tega tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena mereka berdua memang
melakukan kesalahan yang sangat fatal sekali.
Tapi mereka sekarang sudah lega karena dua orang itu sudah mendapatkan akibatnya dan janji
mereka kepada Yanti dan kakeknya sudah terpenuhi saat ini.
"Mereka sudah mendapatkan hukumannya dan kita sudah menepati janji kita kepada Yanti, kakek dan hantu pendaki itu. Mereka semua pasti senang
karena kejahatan sudah mendapatkan akibatnya," Gilang tersenyum puas.
Begitu juga dengan yang lainnya mereka juga bahagia karena kini tugas mereka telah selesai dan mereka bisa menemani Yanti dan juga kakeknya.
__ADS_1
"Kita temui mereka sekarang saja mumpung belum malam, kita temui mereka di kaki gunung" ucap Sasa karena dia sudah merindukan Yanti.