Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 40


__ADS_3

Masih POV Gilang.


"Belum tentu, karena kita tidak tau dimana mereka sekarang berada kita juga tidak tau apakah mereka masih ada di sekitar sini atau tidak" jawabku.


"Tapi suara mereka juga sudah tidak terdengar lagi jadi itu artinya mereka sudah menjauh dari tempat ini mungkin mereka mencari kita di tempat lain" Heni begitu yakin.


"Kamu mau kemana" tanyaku pada Heni.


"Mau keluar, mereka tuh sudah tidak ada di sini lagi, dan pastinya mereka sudah pergi dari sini" ucap Heni masih saja ngeyel.


Heni memang perempuan yang sangat keras kepala, dia sama sekali tidak mau mendengarkan ucapan ku dia tipe orang kalau sudah punya keinginan pasti harus di penuhi, tapi sifatnya itu tidak bisa dia lakukan di gunung larangan ini karena disini kita harus betul-betul waspada dan harus sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan karena kalau tidak kita akan menyesal selamanya.


"Percaya deh sama omongan gue, kita harus disini dulu untuk sementara waktu kita harus benar-benar


memastikan kalau para hantu pendaki itu sudah pergi dari sini" aku menahan Heni untuk pergi dan keluar dari tempat persembunyian kami sekarang.


"Udah pasti mereka tidak ada disini, Lo lihat aja tuh kanan kiri sudah aman mereka pasti sudah pergi menjauh dari sini" dia masih saja ngeyel itulah sifat Heni dari dulu sampai sekarang.


"Bisa saja mereka masih ada disekitar sini, bisa juga mereka bersembunyi untuk mengecoh kita berdua agar kita keluar dari tempat persembunyian kita" aku masih belum mengizinkan Heni untuk keluar.


"Tapi kita itu harus segera pergi dari sini, kita kan harus segera melanjutkan perjalanan untuk mencari Andi, sasa, dan juga Anton mereka semua pasti sekarang sedang menunggu kita disana jadi buat


apa sih kita harus mikir lagi" Heni terus saja ngeyel, dia tidak pernah mau mendengarkan nasihat dari orang lain.


"Aku rasa belum aman untuk saat ini, perasaan ku masih tidak enak takut mereka masih ada di sekitar sini dan terus mengawasi gerak-gerik kita, kamu


ngerti dikit dong" aku masih terus berusaha untuk menasihati Heni.


Aku rasa Heni memang benar-benar keras kepala, tapi aku memang sudah tau dari dulu kalau sifat


Heni memang seperti ini adanya, tapi bagaimana pun sifat Heni dia tetap sahabatku dan aku akan terus berusalha untuk melindungi dia dari bahaya


apapun di gunung larangan ini.

__ADS_1


Setelah aku terus saja mematahkan pendapatnya kini Heni hanya diam dan sudah tidak membantah lagi, mungkin dia sekarang hanya pasrah dan


mengikuti omonganku, karena aku rasa memang itu yang terbaik.


Para hantu pendaki itu bukan orang biasa, mereka itu jin dan bukan manusia jadi mereka bisa melakukan apapun dengan kekuatannya, bisa juga mereka


menyamar menjadi apapun untuk mengecoh kita, jadi kita harus benar-benar lebih waspada lagi.


"Udah ngambeknya Heni, aku bukannya gak mau dengerin ucapan kamu tapi ini juga demi kebaikan kita bersama aku sudah berjanji akan selalu melindungi kamu begitu juga dengan Sasa, andi, dan Anton jadi apapun yang aku katakan itu yang terbaik untuk kita, kamu harus ngerti ya" ucapku untuk


membujuk Heni karena dari tadi dia hanya diam dan terlihat jengkel.


"Terserah lo aja deh kalau gitu, gue ngikut aja" jawabnya singkat.


"Jangan gitu dong, aku cuma takut kalau hantu pendaki itu masih ada di sekitar sini" aku terus berusaha untuk membujuknya


"Kamu ngerti gak sih, kita itu harus segera menyelamatkan Andi, sasa dan Anton kalau kita hanya disini kapan kita bisa menemukan keberadaan mereka, aku tuh cuma pengen kita cepat-cepat


"Aku faham dan aku tau Hen, aku juga ingin segera bertemu mereka dan bisa segera keluar dari gunung larangan ini tanpa kurang suatu apapun, mangkanya kita harus hati-hati sama hantu pendaki itu jangan sampai kita tertangkap oleh mereka" aku masih


terus berusaha untuk membujuk Heni agar tidak marah lagi.


"Kita kan juga sudah sama-sama tau kalau mereka sudah pergi jauh dari sini" Heni masih tidak mau mengalah.


"Kalau mereka bersembunyi gimana, terus kalau kita keluar dari sini terus kita tertangkap bagaimana" ucapku lagi.


"Ya gak akan lah, kan kita sudah aman, mereka pun sudah pergi jauh" Heni masih tidak bisa di nasihati.


Aku mulai pusing memikirkan omongan Heni aku masih takut untuk keluar dari sini karena perasaan ku


masih tidak enak.


"Kalau tiba-tiba mereka keluar dan menangkap kita bagaimana" aku bertanya pada Heni karena dia masih belum juga percaya dengan ucapan ku.

__ADS_1


"Tidak akan, aku bisa jamin itu, kita akan baik-baik saja, percaya deh kamu sama aku" dia masih saja ngeyel.


Aku juga bingung apakah harus menuruti omongan Heni atau mengikuti kata hatiku yang yakin kalau para hantu pendaki itu masih ada di sekitar kita, kalau aku tidak menuruti ucapan Heni maka dia akan terus cemberut dan marah, tapi kalau aku turuti aku tidak yakin dengan keputusan ini karena terlalu bahaya bagi kami berdua.


"Kalau begitu kita tunggu saja sebentar lagi, kalau masih tidak terlihat pergerakan dari mereka maka kita akan keluar dan melanjutkan perjalanan lagi"


ucapku semoga saja Heni mau mengerti.


Aku tau Heni itu tidak suka dibantah, tapi ya apa boleh buat aku yakin keputusan ku ini adalah yang


terbaik untuk kita berdua, jadi kita harus terus berhati-hati dalam mengambil keputusan.


"Terseralh kamu saja lah" ucapnya datar.


"Sabar sebentar saja, lima menit habis itu kita lanjut jalan lagi" aku membujuknya.


"Oke, lima menit tidak lebih ya" peringatnya.


Aku terus saja mengawasi keadaan sekitar sini, pandanganku beralih ke segala arah untuk memastikan apakah benar-benar sudah aman atau belum, aku terus saja berdoa dalam hati berharap ini akan segera berakhir agar aku dan teman-teman ku bisa segera keluar dari gunung ini dengan selamat.


"Gimana, ini sudah lima menit seperti yang kamu janjikan, keadaan sekitar sepertinya juga sudah aman mungkin ini saatnya kita keluar dari persembunyian ini" Heni terus saja berkata seperti itu.


Aku sudah berusaha mencegahnya tapi tetap saja tidak bisa, Heni terus saja membantah semua ucapan ku, aku sendiri jadi pusing di buatnya karena dia terus saja ngeyel untuk keluar dari sini


sekarang juga.


"Apa kamu tidak mau bersabar sedikit saja agar kita bisa aman" aku bertanya lagi pada Heni mengenai


keputusannya.


"Tidak, aku sudah sangat yakin kalau kita sudah aman dari kejaran hantu pendaki gunung larangan ini, kita harus segera melanjutkan perjalanan"


ucapnya masih ngotot.

__ADS_1


__ADS_2