Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 150


__ADS_3

Dengan berat hati mereka lalu pergi meninggalkan Yanti dan kakek buyut Gilang, walaupun Isak tangis mnasih mengiringi kepergian mereka.


Padahal saat masih tersesat di gunung larangan mnereka sangat ingin sekali pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarga mereka semua, tapi setelah semua itu terwujud mereka sekarang malah terasa sangat berat sekali untuk meninggalkan Yanti dan kakek buyut Gilang.


Tiba-tiba Yanti terbang dan memeluk mereka lagi untuk terakhir kalinya sebelum mereka benar-benar pergi.


"Aku pasti akan sangat merindukan kalian semua dan aku tidak akan pernah melupakan kalian, babkan aku akan berusaha agar aku bisa selalu menemui


kalian nantinya," ucap Yanti sambil menangis.


"Kita juga berharap bisa selalu bersama dengan kamu Yan, kita ingin selalu bersama seperti ini dan kita tentu akan sangat merindukan kamu," ucap


Gilang sambil menangis.


Lalu Yanri melepaskan pelukannya dan dia membiarkan Gilang dan teman-temannya yang lain untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah nek Ngah lagi karena besok pagi pasti orangtua mereka akan menjemput mereka ke rumah nek Ngah.


Tadi sebelum ke rumah Rio mereka sudah menghubungi orangtuanya masing-masing dan minta di jemput besok pagi, sebenarnya mereka ingin


datang sekarang tapi Gilang dan teman-temannya melarangnya.


Karena mereka pasti akan sampai malam hari, perjalanan yang akan dilalui cukup jauh sampai 4 jam itupun kalau tidak terjebak macet, kalau jalanan macet pasti bisa sampai 5 atau 6 jam.


"Ayo cepat sebentar lagi akan malam jadi kita harus cepat sampai di rumah nek Ngah," teriak Gilang.


"Memangnya kenapa kalau kita sampai malam hari, bukankah sekarang semuanya sudah aman dan sudah tidak ada lagi orang jahat yang akan mencelakai kita," tanya Heni penasaran.


"Iya, tapi ini di kampung bukan di kota jadi kalau kita pulang malam pasti nek Ngah akan marah," jawab Gilang dia tahu betul kalau di desa ini setiap habis


magrib pasti sudah sepi tidak seperti di kota.


"Desa ini sangat indah sekali ya bahkan sangat sejuk sekali hawanya, sangat berbeda dengan di kota yang


banyak polusi bahkan selalu bising dengan suara kendaraan," Sasa menghirup udara dalam-dalam.


Mereka juga merasa hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Sasa, jadi mereka merasa betah saat di desa.


Suasana di desa sangat cocok sekali untuk istirahat dari ramainya kota dan padatnya kota, merelka bahkan ingin lebih lama disana.


Sesampainya di rumah nek Ngah mereka sudah di sambut oleh banyak sekali warga yang sudah lama menunggu kedatangan mereka berlima bahkan


mereka juga sudah menyiapkan banyak makanan untuk Gilang dan teman-temannya.


"Ada apa ini, kenapa banyak sekali makanan disini dan kenapa semua warga berkumpul disini," Gilang celingukan karena kebingungan.


"Ini sebagai ucapan terimakasih kami semua kepada kalian, kalau tidak ada kalian pasti akan banyak lagi korban yang berjatuhan di gunung larangan dan

__ADS_1


Rio juga ibunya pasti belum berhenti dan terus mencari korban," kata Mbah Kliwon kepada mereka semua.


Mereka tersenyum bahagia karena ini semua sebenarnya juga berkat bantuan dari kakek buyut Gilang juga Yanti, mereka juga yang telah membantu Gilangdan teman-temannya.


"Seharusnya tidak perlu seperti ini Mbah karena Mbah Kliwon juga sudah banyak membantu kita juga nmembantu kita untuk menghukum Rio dan ibunya


itu. Coba saja Mbah Kliwon tidak percaya pasti mereka juga masih bebas berkeliaran sampai saat ini," kata Gilang sambil tersenyum.


Lalu mereka semua berpesta untuk merayakan kebebasan Gilang dan teman-temannya juga telah


terungkapnya dalam penyebab banyak orang hilang di kampung mereka dan juga di gunung larangan.


Sekarang desa mereka aman dan tidak akan ada lagi manusia yang menjadi korban kejahatan Rio dan


ibunya, juga penguasa gunung larangan karena dia juga sudah musnah karena dikalahkan oleh Gilang dan kakek Semua warga desa terlihat sangat


bahagia sekali menikmati pesta itu karena selama ini untuk keluar malam saja mereka merasa sangat takut sekali.


Bahkan desa mereka setiap malam seperti desa mati yang tidak berpenghuni sama sekali, sangat sepi


karena mereka takut akan menjadi tumbal di gunung larangan.


Malam semakin larut jadi mereka semua memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing karena besok Gilang dan teman-temannya akan pulang dan kembali ke rumah mereka masing-masing di kota.


Di dalam rumah nek Ngah kini hanya ada nek Ngah dan teman-temannya Gilang jadi Gilang merasa


"Nek Gilang sebenarnya ingin bercerita sesuatu dari kemarin tapi karena selalu banyak warga yang datang maka Gilang belum bisa cerita dan sekarang mungkin saat yang tepat untuk Gilang menceritakan semuanya kepada nek Ngah," Gilang mengawali bicaranya


"Apa nak yang ingin kamu ceritakan kepada nenek, katakan saja sekarang sudah tidak ada orang lagi," sambil tersenyum hangat.


"Ini tentang kakek buyut nek, beliau lah yang telah membantu Gilang dan teman-teman saat kita berada di gunung larangan, bahkan kakek buyut yang


selalu melindungi Gilang dari penguasa gunung larangan dan juga dari iblis jahat yang selalu mengincar kita," dia akhirnya menceritakan semuanya tentang kakek buyutnya.


Nek Ngah yang mendengar itu langsung menangis bahkan dia juga merasa tidak percaya dengan ucapan Gilang karena kakek buyut Gilang sudah


sangat lama sekali meninggal dan di kubur di dekat gunung larangan atas permintaannya sendiri.


"Tapi kakek kamu itu sudah sangat lama meninggal nak, jadi mana mungkin kakek buyut kamu itu membantu kamu di gunung larangan," sambil mengusap air matanya.


Wajar saja kalau nek Ngah tidak percaya begitu saja karena orang yang sudah meninggal tidak mungkin bisa bangkit lagi.


"Tapi kenyataannya seperti itu nek, kakek buyut yang selalu membantu kita bahkan dia yang selalu membimbingbkita untuk bisa keluar dari gunung


larangan, nenek lihat saja kalung ini," dia memberikan kalung pemberian kakek buyutnya Kepada nek Ngah.


Saat melihat kalung itu nek Ngah langsung menangis karena itu adalah kalung turun temurun dari keluarganya, bahkan nek Ngah juga memakainya

__ADS_1


karena dia mendapatkan kalung itu dari ayahnya.


Katanya kalung itu bisa melindungi mereka dari makhluk jahat yang berniat untuk mencelakai mereka.


"Iya nak, ini adalah kalung milik kakek buyut kamu dan nenek juga punya," sambil memegang kalung itu.


Setelah itu nek Ngah langsung percaya dengan ucapan Gilang dan Gilang juga menceritakan semua tentang kakek buyutnya dan apa saja yang kakek


buyutnya itu katakan padanya bahkan sampai kekuatan yang kakek buyutnya miliki yang di berikan untuk Gilang.


"Kakek buyut kamu memang dulunya adalah kuncen di gunung larangan bahkan dia mengetahui semua


tentang gunung larangan, kakek buyut kamu dulu juga sangat dekat sekalibdengan penguasa gunung larangan yang dulu," sambil menangis.


Malam itu mereka habiskan dengan cara bercerita satu sama lain dan menceritakan semnua kisah mereka sambil tertawa bersama.


Malam semakin larut lalu Gilang dan teman-temannya langsung tidur karena mereka besok harus kembali ke kota dan bertemu dengan keluarga mereka masing-masing.


Mereka tidur dengan sangat nyenyak sekali malam itu, mereka juga sudah tidak ada yang mengganggu lagi dan sudah tidak mendengar suara aneh-aneh lagi di telinga mereka yang menggangu tidurnya seperti kemarin malam.


Pagi cepat sekali datang lalu nek Ngah menmbangunkan mereka karena mereka belum ada yang bangun sama sekali, nek Ngah mengetuk pintu kamar mereka satu persatu.


Setelah bangun mereka langsung membersihkan diri, mandi dan juga sarapan karena mereka juga harus


menunggu keluarga mereka untuk datang dan menjemput mereka semua.


"Aku sudah tidak sabar sekali ingin bertemu dengan orangtuaku," kata Sasa.


Lama menunggu akhirnya jam 8 pagi orangtua mereka datang secara bersamaan, dan orangtua mereka langsung turun dari mobil dan berlari


memeluk mereka semuanya.


Momen itu membuat para warga dan nek Ngah juga ikut menangis, mereka sudah terpisah selama satu


tahun bahkan keluarga mereka sudah menganggap mereka semua sudah meninggal dunia bahkan sudah mengikhlaskan mereka semua.


Tangis haru langsung pecah begitu saja, mereka semua menangis dalam tangisan haru.


"Mama sangat merindukan kamu nak, bahkan mama sampai sakit selama satu bulan saat mendengar kamu hilang di gunung larangan," kata mama Gilang sambil memeluk erat anaknya.


Yang lain pun sama, mereka menangis karena haru dan babhagia karena telah satu tahun tidak bertemu.


Yanti dan kakek buyut Gilang memandang mereka dari kejauhan, mereka ikut menangis memandang Gilang dan teman-temannya yang sudah berkumpul dengan keluarganya.


Akhirnya kisah mereka berakhir dengan bahagia, mereka merasa sangat senang sekali karena berhasil melewati semua cobaan selama berada di gunung


larangan.

__ADS_1


__ADS_2