
Ibunya yang mendengar itu juga terlihat kaget, bagaimana mungkin mereka datang dalam mimpi Ri
sedangkan mereka sedang di tahan oleh penguasa gunung larangan untuk dijadikan budaknya sesuai permintaan dirinya waktu itu.
"Mereka tidak mungkin bisa lepas dari penguasa gunung larangan, jadi kamu tenang saja karena itu pasti hanya mimpi, mungkin karena kejadian
kemarin itu membuat kamu berpikir seperti itu," ibunya mencoba untuk menenangkan Rio yang masih ngos-ngosan.
"Mimpi itu seperti sangat nyata, bahkan tangan mereka masih terasa di tubuhku, ku yakin sekali pasti ada yang tidak beres," dia sangat yakin sekali
dengan pikirannya itu.
Ibunya hanya diam karena dia tahu rio pasti bisa melakukan yang seharusnya dia lakukan, dan mungkin sekarang hanya penguasa gunung
larangan yang bisa menolong mereka.
"Nanti kita harus mencoba melakukan ritual lagi Bu, aku benar-benar tidak tenang kali ini. Aku harus benar-benar memastikan kalau semua masih baik-baik saja dan masih berjalan sesuai rencana," ucapnya dengan tatapan serius.
Di rumah nek Ngah sudah sangat sepi orang, tadi malam Mbah kliwon dan yang lainnya pulang sangat malam, tengah malam mereka baru pulang dan
waktu itu juga Gilang dan teman-temannya baru bisa tidur dengan nyenyak.
Mereka sangat ngantuk sekali tapi masih banyak pertanyaan yang harus mereka jawab karena itu salah satu cara untuk menyelesaikan semua masalah yang mereka hadapi.
Sampai pagi Gilang dan teman-temannya belum ada yang bangun satu pun, mereka tidur di dua kamar, laki-laki dengan laki-laki. Dan perempuan juga tidur dengan perempuan.
Nek Ngah yang tahu kalau mereka belum bangun sengaja tidak membangunkan mereka, karena nek
Ngah tau kalau cucunya dan teman-temannya yang lain pasti sangat kelelahan sekali.
Nek Ngah lebih memilih untuk memasak dengan porsi yang banyak karena nanti saat mereka bangun tidur pasti mereka akan merasa lapar.
"Biarkan saja mereka tidur dulu, lagian tadi malam mereka juga baru bisa tidur tengah malam. Jadi biarkan saja dulu mereka tidur, Lebih baik aku
masak saja untuk mereka, biar nanti kalau mereka sudah bangun mereka tinggal makan," ucap Nek Ngah sambil tersenyum.
__ADS_1
Dia sangat bahagia karena cucu kesayangannya yang sudah dia anggap meninggal dunia ternyata masih hidup sampai saat ini, bahkan Gilang tetap sehat seperti sedia kala tidak kurang satu apapun.
"Tapi kata Gilang aku tidak boleh menghubungi keluarganya dulu karena tugas mereka belum selesai, jadi aku belum boleh memberitahu anakku," nek Ngah berpikir. Tidak apa-apa lah, yang penting sekarang dia sudah kembali dengan selamat," ucapnya lagi.
Gilang dan teman-temannya memang sudah bisa turun dari gunung larangan, tapi entah kenapa mereka masih merasa berada di gunung Larangan. Bahkan mereka masih bisa mendengar suara-suara hewan yang ada di gunung.
Terkadang dalam tidurnya mereka juga masih bisa mendengar suara burung gagak yang beterbangan di atas mereka. Jadi tidur mereka tidak bisa nyenyak sama sekali.
"Sa, kamnu dengar gak sih suara burung gagak dan yang lainnya. Kok suara-suara itu seperti suara waktu kita masih di gunung larangan ya," Heni menutup kupingnya.
Karena suara itu sangat mengganggu dirinya, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman dalam
kondisi seperti itu, dia ingin hidup normal seperti dulu lagi.
"Iya sama, aku masih mendengar suara hewan padahal kita juga sudah berhasil keluar dari gunung larangan. Apa kita selamanya tidak bisa hidup
normal seperti dulu lagi ya," Sasa sudah berpikir negatif.
"Besok kita tanya Gilang dan yang lainnya lalu kita minta tolong saja sama Mbah Kliwon, karena aku yakin dia pasti bisa menolong dan membantu kita,"
Mereka saling menguatkan satu sama lain. Dan tidak saling menyalahkan dengan apa yang telah mereka alami saat ini.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas siang, mereka mulai terbangun dari tidurnya masing-masing. Pasti mereka merasa lapar.
"Udah jam berapa ya sekarang," tanya Andi saat melihat teman-temannya yang lain juga sudah bangun.
"Kayaknya udah siang deh, kita bangun yuk," ucap Gilang.
"Kalian denger gak sih tadi malam tuh aku berada kayak masih ada di hutan, masih dengar suara-suara hewan dan yang lainnya. Jadi kayak suaranya
tuh berputar-putar di telingaku gitu," Anton ternyata juga merasakan apa yang semalam di rasakan oleh Sasa dan Heni.
Gilang dan Andi kaget, apa yang dikatakan oleh Anton itu juga mungkin mereka rasakan, padahal mereka sudah tidak ada di atas gunung larangan tapi
suara-suara itu masih saja ada di telinga mereka.
__ADS_1
"Iya sama, kirain cuma aku doang yang berasa kayak masih ada di atas gunung, ternyata kamu juga. Eh tapi bener kayak nyata banget tau suaranya," Andi pun merasakan hal yang sama.
"Iya aku juga merasakan itu, ya sudah nanti kita tanyakan saja kepada nek Ngah atau Mbah Kliwon, supaya nanti malam kita bisa tidur dengan nyenyak,"
usul Gilang.
Andi dan Anton hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, mereka juga ingin hidup normal seperti
Manusia lainnya, mereka ingin tidur nyenyak setiap malam dan tidak lagi mendengar suara-suara itu lagi.
Gilang dan yang lain lalu keluar kamar, mereka mencari keberadaan nek Ngah, sementara Heni dan Sasa baru keluar kamar dan mereka terlihat seperti
tidak ada semangat sama sekali.
"Kalian kenapa sepertinya tidak bersemangat, padahal sudah tidur dari tadi malam," tanya Gilang menggoda mereka.
Tidur apaan, semalam kita tidak bisa tidur sama sekali mangkanya kitabjam segini baru bangun," jawab Sasa ketus.
"Lah, kenapa emangnya. Apa kalian tadi malam juga mendengar suara aneh saat kita masih di gunung larangan," tanya Gilang memastikan.
"Loh, kalian juga ternyata. Kirain cuma kita berdua saja yangbmendengarnya, itu suara tuh bener-bener kaya suara setiap malam di atas gunung. Apa mungkin karena kita tersesat lama di gunung larangan mangkanya kita masih ingat suara-suara
itu," itu yang dipikirkan oleh Sasa.
"Pokoknya nanti kita harus tanyakan kepada nek Ngah ataupun Mbah Kliwon, karena mereka pasti bisa membantu kita," Gilang ingin masalah itu
segera selesai.
Lalu mereka mencari nek Ngah yang dari tadi tidak terlihat, lalu mereka mencari nek Ngah di dapur. Ternyata nek Ngah masih sibuk mencuci piring
karena tadi malam memang banyak tamu.
"Kalian sudah bangun, sana makan dulu sudah nenek siapkan di meja makan, kalian semua pasti lapar kan," tanya nek Ngah.
"Nek Ngah tau aja apa yang kita rasakan, peka banget deh pokoknya gak kaya si dia yang tidalk pernah peka," Andimalah bercanda.
__ADS_1
Temannya yang lain hanya tertawa, begitu juga dengan Sasa, dia tidak pernah tahu kalau sebenarnya Andi sudah lama menaruh hati kepada dirinya.