Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 128


__ADS_3

Saat Gipang mencoba untuk membuka tas carrier itu terlihat lagi foto yang kemarin mereka lihat, foto itu


menunjukkan wajah keempat hantu pendaki itu bersama satu manusia lagi, mereka berjumlah lima orang lalu Gilang mencoba mengambil foto itu dan


melihat lebih jelas lagi tentang foto itu.


Saat melihatnya Gilang kembali teringat oleh ucapan hantu pendaki saat dia mengikuti mereka dulu, waktu Heni tertangkap oleh mereka, Gilang mendengar banyak sekali ucapan mereka waktu itu, dan salah satunya tentang hantu pendaki itu sengaja di


tinggal oleh temannya di gunung larangan ini sehingga mereka tidak bisa keluar.


Karena teman mereka itu adalah warga desa asli di sekitar gunung larangan ini jadi dia sama persis seperti Gilang, dan seharusnya orang itu bisa menyelamatkan temannya karena memang hanya dia yang bisa keluar dan melihat pintu keluar dari gunung larangan ini.


"Bentar deh, aku tuh ingat banget waktu hantu pendaki itu bilang kalau mereka itu diajak oleh temannya untuk naik ke gunung larangan ini, dan teman mereka itu adalah keturunan asli dari warga desa sini, lalu dia meninggalkan hantu pendaki itu dan malah pergi pulang sendiri dan meninggalkan


mereka," Gilang mengingat kembali apa yang waktu itu dia dengar.


Oh iya, Yanti waktu itu juga cerita tentang gunung larangan ini sehingga mereka tidak bisa keluar. Karena teman mereka itu adalah warga desa asli di sekitar gunung larangan ini jadi dia sama persis seperti Gilang, dan seharusnya orang itu bisa


menyelamatkan temannya karena memang hanya dia yang bisa keluar dan melihat pintu keluar dari gunung larangan ini.


"Bentar deh, aku tuh ingat banget waktu hantu pendaki itu bilang kalau mereka itu diajak oleh temannya untuk naik ke gunung larangan ini, dan teman mereka itu adalah keturunan asli dari warga desa sini, lalu dia meninggalkan hantu pendaki itu dan malah pergi pulang sendiri dan meninggalkan


mereka," Gilang mengingat kembali apa yang waktu itu dia dengar.


"Oh iya, Yanti waktu itu juga cerita karena tahu kalau Anton sampai mau bunuh diri waktu dia berada di alam jin dan dia sudah benar-benar menyerah buntuk hidup" ucap Gilang melanjutkan.


Mereka menertawakan Anton yang ingin bunuh diri padahal Anton adalah anak gunung yang memiliki banyak sekali pengalaman dalam mendaki gunung tapi malah dia menyerah begitu saja.


"Apaan sih, orang gak jadi juga. Emang belum waktunya gue meninggoy kali," Anton merasa kesal.


"Emang waktu Lo mau bunuh diri Lo gak ingat sama pacar Lo dirumahnya " kata Sasa meledak Anton.


Anton hanya diam saja tidak menjawab omongan mereka, pasti dia sangat malu karena waktu itu dia


hampir saja ingin bunuh diri di bawah pohon karena saking tidak kuatnya menahan lapar dan sendirian di tempat itu.


Karena dia sudah sangat ketakutan dan kalut sendiri jadi pikiran dia tidak bisa berpikir dengan jernih saat itu.

__ADS_1


"Udah, jangan gitu kasihan si Anton udah malu gitu, sekarang lebih baik kita buka dulu semua isi tas milik mereka dan kita lihat satu persatu apa saja


isinya," Yanti menengahi mereka yang terus menggoda Anton.


"Gak, tapi aku masih curiga dengan foto itu, apa mungkin foto pria itu adalah teman hantu pendaki yang telah meninggalkan mereka di gunung


larangan ini," Andi mnelihat foto itu dan memperhatikannya.


"Kayaknya apa yang Andi katakan itu benar, mungkin yang ada di dalam foto itu adalah teman yang telah


meninggalkan mereka," Gilang sepertinya sependapat dengan Andi.


Yanti lalu mengambil foto itu dari tangan Gilang karena dia ingin melihat foto itu, karena Yanti memang hafal betul dengan wajah-wajah mereka semua yang saat itu naik ke gunung larangan.


"Bentar aku lihat dulu fotonya, karena aku kayaknya masih ingat dengan wajah teman mereka itu, karena


aku memang mengikuti mereka dari awal mereka naik ke gunung larangan ini," kata Yanti lalu mengambil foto itu.


"Coba kamu lihat dengan teliti, siapa tau memang benar dia orangnya, kalau kita sudah tahu wajah dia berarti kita akan lebih gampang membuka


misteri ini, karena bagaimanapun kita harus menghentikan manusia itu untuk memberikan tumbal untuk penguasa gunung larangan, dia tidak boleh terus melakukan kejahatan itu," Sasa memberikan perintah kepada Yanti.


gunung larangan ini bersama hantu pendaki.


"Iya benar, apa yang kalian katakan benar, aku ingat betul dengan wajah ini, dia yang baik bersama hantu pendaki.


"Aku kasih hafal betul dengan wajah itu," kata Yanti sambil menunjuk foto itu.


"Kita lihat semua yang ada di dalamn tas carrier ini," kata Andii.


Mereka lalu membongkar tas itu dan melihat isinya, dan terlihat hanya ada foto yang sudah hampir pudar, lalu ada sarung tangan, dan ada buku.


Tapi mereka takut saat hendak membuka buku itu karena mereka takut itu adalah buku yang sama seperti yang kemarin mereka temukan, mereka juga


sangat takut kalau makhluk berwajah rata itu datang lagi saat mereka membuka buku itu.


"Ih buku apa ini, aku takut kalau buku itu mengundang bahaya untuk kita seperti kemarin, jangan-jangan itu buku yang sama seperti kemarin," Heni langsung bergidik ngeri saat melihat

__ADS_1


buku itu.


"Gimana ini Yan, aku takut kalau buku ini sama persis seperti buku yang kemarin, aku takut kalau kita


membukanya mahkluk berwajah rata itu akan muncul lagi,"" kata Gilang dan tidak berani membuka buku itu.


Sedangkan Yanti hanya diam saja dan tidak membalas ucapan Gilang dan teman-temannya, tapi Yanti diam bukan berarti dia tidak peduli, tapi sepertinya Yanti sedang melihat sesuatu melalui


mata batinnya.


Mulut Yanti juga komat Kamit entah apa yang dia baca, tapi Yanti terlihat sangat serius saat membacanya, dia juga menutup mata seperti menerawang sesuatu. Dan setelah agak lama Yanti


membuka mata lalu dia tersenyum melihat kearah Gilang dan teman-temannya.


"Malah senyum sih Yanti," kata Heni.


"Iya nih, Orang lagi serius juga, senyuman kamu itu seperti sangat menakutkan tau, lebih baik jangan


senyum malah bikin kita takut," Sasa malah memarahi Yanti.


"Tidak, itu bukan buku yang seperti kemarin karena saat aku melihatnya tidak ada aura hitam di dalamnya sama sekali, dan itu artinya buku itu aman dan tidak mengandung ilmu apapun di dalamnya," Yanti menjelaskan.


Gilang dan teman-temannya yang mendengar itu langsung tersenyum lega, akhirnya mereka bisa mencari petunjuk baru lewat buku itu, dan mereka tidak perlu takut lagi kalau ada sesuatu yang aneh di dalam buku itu.


"Kalau begitu aku akan membukanya," kata Gilang.


Lalu Gilang membuka lembar pertama buku itu, dan terlihat seperti buku diary di dalam buku itu.


22 Oktober 2012


Aku memiliki sahabat yang sangat baik, mereka selalu ada disaat aku senang maupun aku susah, mereka juga selalu membantu disaat aku kesusahan,


makanya aku selalu menuruti apapun yang mereka inginkan, tapi aku sangat bahagia karena menmiliki sahabat seperti mereka.


Hari ini di sekolah mengadakan lomba membuat puisi, semua sahabatku itu tahu kalau aku sangat


pandai membuat puisi jadi mereka meminta bantuan ku untuk membuatkan mereka puisi sebagus

__ADS_1


mungkin.


Aku sebagai sahabat pasti menuruti keinginan mereka, aku langsungvmembuatkan mereka puisi sebagus mungkin untuk mereka berempat.


__ADS_2