
Dan mereka yang melihat itu langsung aget, bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa memegang manusia bahkan bisa memeluknya juga.
"
Tuh lihat, Gilang itu masih hidup Nek, ini beneran Gilang dan coba kalian semua lihat nih, kaki kita semua nampak di tanah kan dan itu artinya kita semua manusia bukan hantu gentayangan
seperti yang kalian katakan," mereka semua serempak kaget dan melihat kaki Gilang dan teman-temannya.
"Loh iya, kaki mereka menginjak tanah. Apa mungkin mereka semua memang benar manusia," mereka saling berbisik satu sama lain.
Lalu Mbah Kliwon mendekati Gilang, dia seperti membaca mantra mungkin ingin memastikan kalau itu memang benar-benar Gilang bukan hantu ataupun mayat hidup seperti yang mereka pikirkan.
Lalu Mbah Kliwon melempari mereka semua dengan bunga tujuh rupa dan dibacakan doa, Gilang dan teman-temannya semakin bingung.
"Ternyata memang benar mereka ini masih hidup dan ini benar-benar pendaki yang hilang satu tahun lalu, kini mereka semua kembali," Mbah Kliwon sudah percaya kalau memang mereka ini masih hidup.
Mendengar ucapan Mbah Kliwon yang mengatakan kalau mereka sudah tersesat selama satu tahun membuat mereka semua kaget karena mereka
merasa kalau mereka hanya tersesat kurang lebih sembilan hari saja.
"'Satu tahun, apa Mbah salah orang. Kita itu baru tersesat selama sembilan hari doang bukan satu tahun seperti yang Mbah katakan," Gilang menjelaskan apa yang dia rasakan.
"Kamu ini sudah hilang selama satu tahun nak, bahkan orangtua kalian dan teman-teman kalian sudah merelakan dan mengikhlaskan kalian semua," nek Ngah mengatakan yang sebenarnya.
"Tidak nek, kami ingat betul kalau kita hanya tersesat selama sembilan hari, gak mungkin lah nek kalau kita sampai tersesat selama satu tahun," Anton merasa
yakin dengan ucapannya.
Dan teman-temannya yang lain langsung mengangguk dengan bersamaan karena mereka juga merasa kalau mereka ini hanya hilang sekitar
sembilan hari bahkan tidak sampai dua Minggu.
"Sudah kita tidak perlu berdebat, pantas saja mereka merasa kalau mereka hanya tersesat sembilan hari, karena memang dunia manusia dan jin berbeda
jauh, sekarang lebih baik suruh mereka semua masuk dan berikan mereka makanan, pasti mereka semua sangat kelaparan," perintah Mbah Kliwon.
Nek Ngah langsung mengangguk, dia sangat setuju dengan ucapan Mbah Suhu, cucu kesayangannya pasti sangat kelaparan dan mereka pasti belum
makan sama sekali.
Nek Ngah menyuruh mereka semua untuk masuk ke dalam rumahnya, lalu nek Ngah menyiapkan makanan untuk mereka dengan porsi yang sangat
__ADS_1
banyak, lalu Gilang dan teman-temannya yang sudah merasa sangat lapar sekaliblangsung memakan semua masakan yang ada di depan mereka.
Mereka seperti orang yang sudah tidak makan berhari-hari, nek Ngah yang melihat mereka langsung menangis karena ternyata cucu kesayangannya
sudah kembali dan berhasil selamat dari gunung larangan.
Mbah Kliwon yang merupakan orang yang dituakan di desa itu mendekati mereka, mungkin dia juga bingung kenapa ada manusia yang berhasil
selamat dari gunung larangan itu, padahal selama ini orang yang mendaki di gunung larangan dan tidak pulang dalam waktu tiga hari pasti mereka akan meninggal disana.
"Apa kalian sudah kenyang," tanya Mbah kliwon.
"Alhamdulillah sudah Mbah, kita sudah sangat kenyang sekali. Dan terimakasih atas makanannya karena kita tadi memang sangat kelaparan," kata Gilang dengan sopan.
"Apa kalian sekarang bisa menceritakan semua kejadian saat kalian berada di gunung larangan dan
bagaimana caranya kalian bisa selamat dari penguasa gunung larangan yangbsangat jahat itu," tanya Mbah Kliwon.
"Ceritanya sangat panjang sekali Mbah, dan kita pasti akan menceritakan semuanya sedetail mungkin karena kita juga punya informasi yang sangat penting," kata Anton sambil menunduk
"Betul sekali itu Mbah, oh iya kita mau nanya sesuatu, tadi pas kita masuk ke desa ini dari ujung sana sampai kita ke rumah nek Ngah kenapa kita tidak
"Apa kamu tidak tahu kalau malam ini adalah malam gerhana, dan penguasa gunung larangan itu pasti meminta tumbal, nah untuk melindungi diri kami
semua kami berkumpul di lapangan desa dan melakukan upacara adat agar kita tidak menjadi tumbal dari penguasa gunung larangan," Mbah Kliwon menjelaskan kepada mereka.
Pantas saja saat masuk ke dalam desa mereka sama sekali tidak menemukan penduduk desa ini sama sekali, ternyata mereka semua ada di lapangan desa untuk melakukan ritual agar tidak menjadi tumbal penguasa gunung larangan.
Karena malam ini adalah malam gerhana bulan, Gilang mengingat kembali ucapan kakek buyutnya saat mereka belum keluar dari gunung larangan,
karena kakeknya bilang mereka harus segera keluar dari gunung larangan karena malam ini akan ada gerhana bulan.
"Oh pantas saja waktu itu kakek bilang kalau kita harus segera keluar dari gunung larangan saat itu juga karena malam ini adalah malam gerhana
bulan, dan sangat berbahaya kalau manusia berada di sana," kata Andi berbisik kepada temannya.
Banyak sekali jin jahat yang akan mencari mangsa saat malam gerhana bulan, karena saat ini gunung larangan belum sepenuhnya aman dari jin jahat
pengikut penguasa gunung larangan itu.
"Oh begitu, pantas saja desa ini sampai terlihat seperti desa mati," lalu mereka menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Oh iya, apa benar kalau kita sebenarnya sudah tersesat selama satu tahun lamanya," tanya Lia penasaran.
"Benar, tapi kalian tidak akan sadar karena waktu di sana dan di alam manusia sangat berbeda, pasti kalian berpikir kalau kalian hanya tersesat beberapa hari saja kan," tanya Mbah Kliwon.
Tapi mereka tidak menceritakan Yanti dan kakek buyut yang telah membantu mereka, karena ini juga salah satu pesan dari Yanti dan kakek buyut, mereka hanya boleh menceritakan ini kepada nek Ngah dan keluarga besar mereka.
Sedangkan di rumah nek Ngah sekarang masih banyak orang karena warga desa semua pada penasaran dengan kisah mereka.
Karena memang baru kali ini ada manusia yang selamat dari gunung larangan, biasanya kalau ada yang tersesat pasti tidak akan pernah bisa kembali. Bahkan selama gunung larangan di tutup kalau ada orang yang nekad masuk tidak akan pernah bisa
kembali.
"Kok kalian bisa keluar dari gunung larangan, apa ada yang membantu kalian semua untuk bisa keluar dari
gunung larangan," tanya Mbah kliwon kepada Gilang dan teman-temannya.
"Kayaknya tidak mungkin, siapa yang akan membantu mereka, bukankah di gunung larangan tidak ada satupun makhluk yang baik. Mereka semua yang ada di gunung larangan pasti jahat," kata
kepala desa.
Sekarang yang mengintrogasi Gilang dan teman-temannya hanyalah kepala desa, Mbah kliwon yang merupakan tetua desa, Nek Ngah, dan beberapa kerabat dari nek Ngah. Sedangkan warga yang lain di suruh pulang agar kondisi desa
itu kembali tenang.
Karena kalau banyak orang Gilang dan teman-temannya akan terganggu, karena mereka juga pasti sangat membutuhkan waktu untuk istirahat, mereka hidup di gunung larangan sudah
terlalu lama, walaupun menurut mereka hanya satu Minggu lebih tapi itu cukup membuat mereka sangat lelah.
Dan warga desa lain yang penasaran hanya mnenunggu di rumah dan menanti berita tentang Gilang dan teman-temannya. Mereka semua juga
pasti sangat penasaran dengan cerita mereka.
"Tidak kok, tidak semua penghuni gunung larangan itu jahat, pasti ada yang baik," jawab Sasa.
Teman-teman dia yang lain langsung melirik Sasa agar dia tidak keceplosan dan menceritakan tentang
Yanti dan kakek buyut , jangan sampai ada yang tahu tentang mereka.
Sebenarnya mereka tidak menceritakan tentang Yanti dan kakek buyut karena hati manusia berbeda, bahkan tidak ada yang tahu hati manusia. Mereka hanya takut kalau ada orang jahat yang akan
memanfaatkan mereka untuk mencari ilmu atau apapun itu.
__ADS_1