Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 26


__ADS_3

"Haha, ngapain gue cemburu gue nek aja lihat tikah konyol lo itu, asal lo tau ya tadinya gue itu takut sama


kuntilanak karena gue kira kuntilanak itu kejam dan menakutkan, eh ternyata lenjeh juga" ucap Sasa mengejek kuntilanak itu.


"Jaga ucapan mu, mau aku cakar wajah mu yang gak cantik itu" ucap si Kunti.


"Apaan cantikan juga gue" Sasa mengibaskan rambutnya.


"Bener-bener ya ni manusia gak tau diri" mata kuntilanak itu tiba-tiba berubah menjadi merah, sebelum dia marah lebih baik aku tengahi saja.


"Udah udah, gak usah berantem gak ada gunanya kan" aku menengahi mereka.


"Bilangin tuh sama pacar lo, jangan lenjeh biar gak menjatuhkan martabat kuntilanak yang lain, biar mereka masih ada wibawa seram gitu lo" Sasa masih


saja mengoceh.


"Biarin yang penting aku mau sama pacar aku" dia malah bergelayut di tanganku.


"Udah diam kalian bikin kepala ku pusing aja sih kalian ini" aku sambil memegang kepala ku.


Setelah aku bicara seperti itu akhirnya mereka berdua diam sendiri dan tidak melanjutkan acara debat nya, memang cewek gak pernah mau kalah, mangkanya kalau ada cowok berdebat sama cewek jangankan menang, imbang aja udah harus bersyukur.


"Kamu disini aja ya sama aku" ucap kuntilanak itu lagi.


L


"Apaan sih, aku tuh mau cari teman-teman ku yang lain, kita harus segera pergi dari tempat ini secepatnya sebelum kita di jadikan tumbal sama


para hantu pendaki itu" aku melepaskan tangannya.


"Percuma aku kan udah bilang percuma, kalian semua tidak akan bisa keluar dari gunung ini, apa kalian tidak tau kalau gunung ini adalah gunung

__ADS_1


larangan dan siapa pun yang sudah masuk ke sini tidak akan pernah bisa keluar" kuntilanak itu mempertegas.


"Jadi bener gunung ini adalah gunung larangan dan tidak ada manusia yang berani naik ke gunung ini" Sasa mulai bertanya karena dia pun pasti penasaran.


"Emang kalian gak tau apa kalau gunung ini adalah gunung larangan yang gak boleh di masuki oleh sembarang orang" tanya kuntilanak yang sekarang


sudah berubah cantik itu.


"Kita kan bukan orang asli sini, jadi kita gak tau, kan kita niatnya cuma mau liburan ke sini" jawabku karena aku memang benar tidak tau.


"Tapi apa gak pernah ada orang yang ngasih tau kalian saat kalian mau naik ke gunung ini" tanya kuntilanak lagi.


"Ada sih, teman kita kan neneknya warga sini dan dia sudah memperingatkan kita agar kita tidak naik ke gunung ini, bahkan dia juga sedikit bercerita tentang air terjun merah juga" jawab ku tertunduk karena menyesal tidak menghiraukan ucapan nek Ngah waktu itu, bahkan kita malah tega membohongi nya.


"Terus kenapa kalian masih naik ke gunung ini, berarti kalian nakal dan sok tau, sok berani, dasar anak manusia" jawabnya ketus.


Aku tau dan sadar sepenuhnya kalau kita memang salah dan kita memang anak-anak yang nakal, kita


tidak mendengarkan ucapan nek Ngah bahkan di rumah kita juga sering membohongi orang tua kita, kita selalu pamit belajar kelompok tapi kita malah


"Iya, kita memang salah, seharusnya kita mendengarkan nasihat nek Ngah waktu itu bukannya malah sok tau dan malah penasaran tentang gunung ini, kita malah terjebak disini sekarang" aku berkaca-kaca saat mengingat kebodohan kita.


"Oh, jadi teman kalian ada yang keturunan orang asli sini" dia bertanya lagi.


"Iya ada, emangnya kenapa" aku kembali bertanya.


"Anak itu masih beruntung karena dia masih punya kesempatan untuk keluar dari gunung ini, tapi tidak dengan kalian" dia menyilangkan tangan.


"Kenapa begitu" aku bertanya lagi.


"Iya, hanya orang turunan asli dari desa itu yang bisa keluar dari sini, dia masih bisa melihat pintu keluar itupun kalau dia bisa selamat, sedangkan kalian, kalian tidak akan bisa keluar dari gunung ini selamanya" dia langsung tertawa cekikikan.

__ADS_1


"'Selagi masih ada keajaiban, kita tidak akan pernah menyerah begitu saja" ucapku lantang, aku harus optimis karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.


"Ya itu sih terserah kalian" jawabnya singkat.


Terus gimana lo mau lanjutin cerita gak, gue jadi penasaran tentang air terjun merah itu" Sasa bertanya kepada mbak kunti


"Ya udah, karena kalian sangat penasaran sama ceritanya dan kalian sebentar lagi akan menjadi bagian dari kita, aku akan menceritakan semuanya


pada kalian" ucap si Kunti.


"Enak aja, jaga tuh mulut" Sasa mulai kepancing dengan omongan si Kunti.


"Kan kenyataannya begitu" jawabnya dengan suaranya yang di manja-manjain.


"Udah udah, kapan ceritanya kalau kalian dari tadi depan mulu, sesama perempuan kalian tuh harus akur gitu lo, jangan berantem terus" aku juga mulai kesal.


"Jadi, hantu pendaki yang terus mengejar kalian itu dulunya mereka juga manusia yang mendaki di gunung ini, sama persis seperti kalian mereka di sesat kan oleh penunggu gunung ini untuk di jadikan tumbal penjaga air terjun merah, mereka berjumlah lima orang dan persis seperti kalian, mereka


selalu di kejar-kejar sama penunggu gunung ini dan mereka mati di gunung ini, yang membuat mereka marah adalah ada satu teman mereka yang asli


warga sini dia memutuskan untuk meninggalkan gunung ini tanpa membantu teman-teman nya yang lain, emang itu lah sifat manusia" dia menceritakan asal usul hantu pendaki yang terus mengejar kita.


"Oh, jadi itu sebabnya mereka hanya empat orang karena temannya yang satu malah milih nyelametin


dirinya sendiri"' setiap mereka mengejar kita memang jumlahnya hanya 4 orang.


Dari cerita kuntilanak ini, sudah bisa aku simpulkan ternyata hantu pendaki yang mengejar aku dan Sasa dari kemarin dulunya mereka juga manusia sama seperti kita, tapi mereka mati di gunung ini dengan membawa amarah dan dendam, jadilah mereka hantu gentayangan yang terus mengejar para pendaki di gunung larangan ini.


"Iya, arwah mereka menjadi gentayangan sampai sekarang karena mereka ingin mencari teman agar bisa ikut dengan mereka, menjadi pendaki yang abadi di gunung ini" lanjut mbak kunti.


"Bahasanya jangan di baik-baik in, itu bukannya menjadi pendaki abadi tapi jadi arwah penasaran di gunung ini" jawab Sasa ketus.

__ADS_1


"Sama aja lah, kan sama-sama abadi di atas gunung ini dan menjadikannya salah satu dari kita penghuni gunung larangan ini"' si Kunti tidak mau kalah dia tetap mempertahankan omongannya.


"Terserah lo lah Kunti, biar Lo bisa bahagia" jawab Sasa


__ADS_2