
"Udah gak usah ribut terus, nih aku udah tulis mantra tadi disini, tapi ingat ya jangan sampai tulisan ini hilang, karena ini sangat penting untuk kalian
bisa membantu Gilang disana" ucap Yanti sambil menyodorkan daun yang berisi mantra yang tadi dia baca.
Andi dan kawan-kawan kaget dan terheran-heran saat melihat daun yang diberikan oleh Yanti, dan saat mereka melihat daun itu ternyata benar memang berisi tulisan tentang mantra yang tadi di ajarkan oleh Yanti.
"Kok daun sih Yan, gak jelas ini tulisannya" ucap Andi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa memangnya, kan yang penting kalian bisa baca tulisan itu jadi gak masalah dong, terus kalian kira aku harus mnenulis di mana, di buku atau di
handphone gitu" tanya Yanti meledek mereka bertiga.
Sedangkan mereka bertiga hanya melongo saat mendengar ucapan Yanti, mereka bingung kenapa Yanti bisa tau tentang handphone sedangkan dia hidup di atas gunung yang tidak ada manusia yang datang ke tempat ini.
"Kok kamu tau handphone sih Yan, memangnya kamu tau dari mana sih" tanya Sasa penasaran.
"Terseralh aku dong tau dari mana, lagian kalian kepo banget sih jadi manusia" Yanti meledek kearah mereka.
"Terserah kamu lah Yan, tapi ini gimana tulisan kamu gak jelas sama sekali" protes Sasa.
"Itu sih urusan kalian, kan kalian udah besar pasti kalian bisa membaca dong, ya udah baca tuh sampai jelas, kalau bisa hafalkan mantra itu jadi kalau setiap saat kalian membutuhkannya gak perlu lagi baca-baca kalau udah ada di dalam otak" ucap Yanti ketus.
"Ngeselin banget sih ni Kunti, lagian kalian Nemu kuntilanak model begini dimana sih, gak jelas banget jadi kunti" ucap Heni karena dia kesal dengan
tingkah Yanti.
"Tau nih si Andi yang nemuin dia, gak tau deh dapet dari mana" ucap Sasa sambil mengangkat bahunya.
"Enak saja, orang dia datang sendiri bukan gue yang nemuin, kan dia yang terus ngintilin gue dimana pun gue pergi" ucap Andi tidak mau di salahkan.
"Ngomong apa kalian bertiga" tiba-tiba terdengar suara Yanti.
"Gak apa-apa kok, jadi kunti gak usah kepo deh" jawab Sasa asal.
Mereka pun terdiam dan kembali duduk di tempat semula, mereka takut kalau nanti tiba-tiba Heru dalam bahaya lagi, jadi mereka segera menjaga api itu lagi dan menaruh daun yang berisi mantra itu tadi di depan mereka bertiga.
__ADS_1
"Aku mau pergi dulu, kalian jaga lilin itu baik-baik pokoknya jangan sampai mati, dan ingat nanti kalau
apinya akan mati atau goyang-goyang kalian langsung berpegangan tangan dan baca mantra itu sebanyak tiga kali, dan ingat kalian harus menahan nafas saat membaca mantra itu, kalau tidak kalian
tidak akan bisa menyalurkan energi kalian ke tubuh Gilang" Yanti kembali mengingatkan kami tentang mantra itu.
"Gak jelas Yan tulisannya" rengek Sasa lagi.
"Baca dan di hafalkan, kenapa kalian gak mengerti juga sih dari tadi, goblok banget deh kalian bertiga" ucap Yanti mengejak mereka.
"Enak aja kamu ngatain kita goblok, gini-gini gue kalau sekolah dapat juara terus tau" ucap Sasa sambil berkacak pinggang.
"Kapan Lo pernah jadi juara, seingatku gak pernah tuh gue denger kalo Lo dapat juara" ucap Andi yang
membuat darah Sasa mendidih.
"Hahaha, ketahuan bohongnya ya, udah tau goblok tapi di bilang goblok gak mau, gimana sih kamu ini" Yanti mengejek Sasa.
*****
menyelamatkan Anton.
"Iblis itu sudah musnah sekarang aku akan melanjutkan perjalanan untuk mencari Anti, semoga saja Anton baik-baik saja dan waktu ku mumpung masih banyak jadi aku akan terus berjalan lurus ke depan, lagian tempat ini juga tidak memiliki banyak cabang jadi semoga saja aku bisa segera menemukan Anton " ucapnya sambil bangkit dan dia
akan melanjutkan perjalanan.
Langkah Gilang memang sudah sangat tepat sekali, tapi dia tidak tahu iblis yang tadi menyerangnya itu
hanyalah permulaan untuk menyambut kedatangan dia, setelah ini Gilang akan mendapatkan banyak sekali rintangan dari penunggu gunung larangan ini,
mereka tidak akan membiarkan Gilang dan Anton keluar dari alam gaib ini dengan mudah.
Mereka memang sengaja tidak mengganggu Anton di tempat ini karena mereka tau, tanpa mereka mengganggu Anton dia tetap tidak akan bisa keluar dari alam gaib ini, karena Anton tidak akan pernah bisa melihat pintu keluar dari alam gaib ini karena dia bukan keturunan asli dari warga desa sini.
Sedangkan Gilang, dia adalah keturunan asli dari warga desa sini jadi dia bisa melihat pintu keluar dari alam gaib ini, mangkanya bagi mereka Gilang adalah musuh yang sebenarnya karena nanti pasti Gilang akan menjadi penghalang mereka, sedangkan bulan
__ADS_1
purnama tinggal menghitung hari.
Saat bulan purnama tiba, maka mereka akan mengadakan upacara sesembahan untuk penguasa gunung larangan ini, akan diadakan pesta
besar-besaran untuk menyambut tumbal yang akan diberikan untuk penguasa gunung larangan ini.
Jadi Gilang dan kawan-kawannya hanya memiliki waktu beberapa hari untuk bisa keluar dari gunung larangan ini dengan selamat, karena setelah bulan
purnama itu tiba semua pintu akan di tutup dan mereka alkan tetap di tangkap oleh penunggu gunung larangan ini, sedangkan mereka para hantu pendaki akan dinyatakan gagal dalam misinya
dan mereka harus menanggung konsekuensinya yaitu selama akan menjadi budak di gunung larangan ini.
Kecuali Gilang dan teman-temannya mau berbaik hati untuk mencari jasad mereka dan menyempurnakannya, dengan begitu hantu pendaki itu akan terbebas dari jeratan penguasa gunung
larangan ini dan mereka bisa melanjutkan perjalanan menuju alam mereka yang semestinya.
Seharusnya mereka sudah tidak berada di dunia ini, tapi keadaan yang memaksa mereka untuk tidak bisa
melanjutkan perjalanan.
"Antooonnn " Gilang terus berteriak dengan
memanggil nama Anton.
Bahkan Gilang berteriak dengan sangat keras, dia berharap Anton akan mendengarkan suaranya, dia tidak tahu kalau Anton masih berada jauh dari tempat dia saat ini.
"Kemana lagi gue harus mencari keberadaan Lo sih Ton, kenapa Lo sampai bisa berada di tempat ini sih dik, apa Lo gak sadar waktu Lo masih ke alam gaib, ini bukan tempat kita Ton" Gilang terlihat sangat lelah.
Sudah pasti dia lelah karena dia baru saja selesai berduel dengan iblis jahanamn yang menggangunya.
Gilang berhenti sejenak lalu dia minum air yang dia bawa, pasti Gilang sangat haus sekali karena tempat ini sangatlah panas berbeda dengan alam manusia yang biasa dia tempati.
"Panas banget sih, apa mungkin ini udah siang, tapi jam ku masih jam 9 tapi kenapa sepanas ini sih suasananya" ucap Gilang sambil mengelap keringat yang ada baju Gilang sekarang sudah basah kuyup karena keringat dari badannya, dia sudah tidak peduli lagi dengan rasa lelahnya maupun keringat yang terus saja membasahi bajunya.
Karena yang ada dalam pikiran dia hanya menemukan Anton segera.
__ADS_1