
"Mana sih Sa, itu bukan jalan bercabang tapi itu jurang Sasa kalau kita lewat situ yang ada kita bakalan mati terjun ke jurang itu, gimana sih kamu" aku memarahi Sasa tapi dia masih saja ngeyel dia masih saja ingin lewat jalan itu.
Aku melirik ke arah Yanti, meyakinkan Yantii apa yang sebenarnya terjadi kepada Sasa, kenapa dia bisa
seperti ini padabal sebelumnya dia baik-baik saja.
"Yan kamu lihat jalan itu kan, coba deh kamu perhatikan kayaknya lewat situ lebih cepat daripada lewat sana, disana jalannya gelap dan suram aku
gak mau lewat sana lebih baik kita lewati jalan itu saja" sambil menunjuk jurang sebelah kanan.
Jelas-jelas aku tidak melihat jalan yang bercabang sama sekali, ini hanya jalan lurus yang kanan kirinya di penuhi pohon dan di sebelah kanan itu jurang
bukan jalan bercabang seperti yang dilihat oleh si Sasa.
"Wah, ada yang gak beres ini Yan, kenapa Sasa, ingin sekali lewat jalan itu padahal kan itu jurang masak iya kita mau terjun ke jurang, mati dong kita"
aku menatap lekat wajah Yanti berharap dia punya solusi dengan masalah yang kita hadapi saat ini.
"Temen mu ini susah banget di bilangin, kan dari awal aku sudah bilang jangan mudah terkecoh oleh tipu daya hantu penunggu hutan ini, eh dia gak
percaya ya begini akibatnya, dia di tuntun untuk terjun ke jurang itu supaya kalian bisa mati" Yanti berucap dengan sangat ketus.
Aku menyugar rambut ku karena merasa bingung dengan keadaan Sasa, dia semakin merengek untuk pergi ke jurang itu, kalau di turuti bisa bahaya untuk
kita semua, bisa-bisa nanti dia terjun ke sana.
"Gimana Yan sekarang, apa kita ajak Sasa untuk melihat jurang itu agar dia percaya kalau itu bukan jalan" aku meminta pendapat dari Yanti karena
hanya dia yang bisa menolong kami saat ini.
"Gila apa kamu, nanti kalau kamu bawa Sasa kesana terus dia mendapatkan bisikan untuk melompat gimana, apa kamu mau teman kamu ini mati disini"
__ADS_1
Yanti malah memarahiku.
Aku melongo mendengar ucapan Yanti, kenapa bisa jadi seperti ini, Sasa terus saja menarik tanganku agar aku mendekat ke arah jurang itu, padahal itu
sangat berbahaya sekali.
"Sadar dong Sajangan seperti ini, coba kamu lihat baik-baik itu jurang bukan jalan, ayo Sa lihat baik-baik
kamu jangan seperti ini, kamu tau gak kalau ini akan membuat perjalanan kita menjadi semakin lama, kamu kan sudah janji gak akan merepotkan aku dan Yanti lagi, kamu harus ingat sama janji kamu itu jangan seperti ini Sa" aku mencoba membujuk Sasa agar dia cepat sadar.
Hanya itu yang bisa aku lakukan karena aku sama sekali tidak tahu bagaimana caranya untuk membuat Sasa sadar, saat aku melihat Yanti dia juga cuma diam dan memandang Sasa, dia tidak melakukan apapun.
Mungkin saja Yantii marah karena Sasa tidak mendengarkan ucapan dia, tapi aku rasa ini bukan sepenuhnya salah Sasa karena Sasa pun tidak akan pernah menginginkan semua ini terjadi, jadi ini
tidak sepenuhnya salah Sasa.
"Yan, gimana ini apa kita berhenti dulu sejenak sampai Sasa baikan, atau gimana aku bingung ini Yan" aku menatap Yanti karena dia dari tadi hanya
"Jangan, bahaya kalau kalian berhenti di sini karena mereka semua sedang mnengincar Sasa untuk mereka ambil, jadi ayo cepat kita bawa Sasa pergi
dari sini sebelum terlambat, jiwanya bisa di ambil oleh mereka kalau kita terlambat" setelah berucap seperti itu Yanti langsung menuntun Sasa menjauh
dari tempat ini.
Sementara aku masih terpaku di tempat karena masih bingung dengan apa yang menimpa kami saat ini, karena aku masih belum mengerti tentang semua ini, kenapa mereka ingin membawa Sasa pergi.
"Maksudnya gimana sih Yan aku kok gak ngerti sama sekali, siapa yang kamu maksud dan kenapa mereka ingin membawa Sasa apa kesalahannya sehingga dia menjadi seperti ini" aku terus bertanya kepada Yanti karena aku masih sangat bingung.
"Udah, kamu gak usah banyak tanya, sekarang kita harus segera membawa Sasa pergi dari sini sebelum semuanya terlambat nanti setelah aku menemukan
tempat yang aman untuk kita aku akan menceritakan semuanya sama kamu sampai kamu paham" Yanti malah memarahiku karena aku bertanya.
__ADS_1
Akhirnya aku menurut saja dengan ucapan Yanti, daripada terjadi apa-apa dengan Sasa, aku tidak akan memaafkan diri ku jika terjadi apa-apa dengan Sasa.
Yanti terus berjalan sambil memegang tangan Lia dia menuntun Sasa karena Sasa tidak mau pergi dari sini dia masih ngeyel ingin lewat jurang itu, padahal itu sangat berbahaya sekali untuk kita semua.
"Kita mau kemana Yan, jangan lewat situ tempatnya seram masa kamu gak lihat sih, itu ada jalan yang lebih bagus jangan memaksa dong Yan, Andi
kamu juga kenapa diam saja padahal Yanti ingin menyesatkan kita, itu tadi aku lihat Gilang disana ayo kita kesana sekarang, pergi kamu Yan, itu ada Gilang
disana jangan halangi aku" Sasa terus saja meracau di sepanjang jalan dia juga terus memberontalk ingin lepas dari Yanti, untung saja tenaga Yanti lebih kuat dari Sasa jadi Sasa tidak bisa lepas dari yanti.
"Gimana Yan, kita mau berhenti dimana sedangkan Sasa masih seperti orang gila gitu" aku terus melangkah mengikuti Yanti yang terus menggandeng
Sasa jadi mau tidak mau Sasa harus menurut dengan Yanti karena tenaganya kalah kuat dengan Yanti.
"Bentar, kita harus menjauh dulu nanti kita obati teman kamu ini, bandel banget jadi bocah udah di kasih tau juga masih aja ngeyel terus, kaya dia udah
kebal aja" Yantii terus mengomeli Sasa.
Sebenarnya aku tidak tega melihat Sasa seperti itu, seakan dia diseret oleh Yanti, tapi aku tau Yantk pasti akan melakukan yang terbaik untuk Sasa dan aku tau ini pasti yang terbaik untuk Sasa.
"Udahlah Yan percuma juga kamu sekarang memarahi Sasa orang dia sekarang lagi linglung gitu kok, gak bakal denger juga kamu ngomong apa
sama dia, nanti saja kamu memarahi dia kalau dia sudah sadar dan sudah kembali seperti semula, kalau sekarang kan percuma juga" sebenarnya aku
kasihan melihat Sasa terus di marahi oleh Yanti.
Tapi aku di belakang juga tersenyum aku melihat mereka berdua jadi ingat kaya ibu lagi memarahi
anaknya yang nakal, memang Yanti kadang berubah nyebelin kadang juga ngeselin terus juga kadang dewasa, jadi dia bisa ngemong kita berdua layaknya
seorang ibu kepada anaknya.
__ADS_1