
Masih POV Andi
"Bentar lagi sudah agak dekat kok, sabar dulu" ucapnya lagi.
"Jangan cepat-cepat kamu terbangnya nanti aku malah tertinggal" teriak ku pada Yanti.
"Lama banget sih kamu larinya, dasar manusia yang malas olahraga" dia malah mengejekku.
"Enak saja, ya beda lah terbang sama lari kalau kita samna-sama bisa terbang pasti gue akan sampai lebih cepat" kilahku. Tapi kamu kalau marah lebih
ganteng loh" godanya
"'Serius Yanti, ini keadaan genting begini kamu masih sempat-sempatnya buat becanda sih" aku memarahinya.
"Ini serius kamu lebih ganteng Lo" dia tertawa sambil melihatku.
"Sari awas ada pohon" aku memperingati Yanti karena di depannya ada pohon besar takut kalau dia
menabraknya.
"Gak perlu khawatir sayang, aku gak akan kenapa-napa kok, kan aku bisa nembus pohon jadi gak akan kenapa-napa kok kamu gak perlu khawatir begitu" dia malah kepedean dan senyum kearah ku.
"Kalau itu aku juga udah tau, tapi lihat dong kamu kan sedang bawa Sasa dia kan gak bisa nembus pohon kayak kamu yang ada dia akan jatuh ke bawah" aku memarahi dia lagi.
Yanti itu entah apa pikiran nya, dia susah sekali di bilangin dan bahkan dia lupa kalau sedang membawa Sasa, tapi aku akui dia memang kuntilanak yang sangat baik dan dia selalu mau menolong kita saat dalam kesusahan ya aku bersyukur karena bisa bertemu dengan Yanti walaupun kadang aku di buat jengkel dan risih dengan sikapnya yang selalu manja dengan ku dan selalu bergelayut manja di tanganku.
"Masih jauh gak" tanyaku lagi karena aku sudah sangat khawatir dengan keadaan Sasa.
"Itu di depan sana" dia membawa Sasa turun di bawah batu besar yang kanan kirinya di kelilingi pohon besar dan semak belukar, memang tempatnya
sangat tersembunyi dan agak susah untuk berada di balik pohon itu.
"Kamu yakin tempat ini aman untuk kita" aku nemastikan.
"Aku yakin sekali kalau tempat ini sangat aman untuk kita, tadi aku sudah terbang mencari keberadaan hantu pendaki itu dan mereka berada jauh dari sini, jadi mereka tidak akan pernah tau" ucapnya.
"Kamu baringkan Sasa di sini dulu" aku menyuruh Yanti sambil menunjuk tempat yang agak bersih untuk membaringkan Sasa.
"Oke" lalu dia membaringkan Sasa dengan hati-hati.
"Terus gimana nih, mata Sasa masih tertutup dia belum juga sadar, sedangkan tubuhnya sangat dingin
sekali aku takut dia kenapa-napa aku khawatir dengan keadaan nya" aku memeluk tubuh Sasa.
"Kamu lepaskan jaket mu dan tutupi tubuhnya" kata Yanti.
"Iya kamu benar, lalu apa lagi yang harus kita lakukan" tanyaku pada Yanti dan dia berpikir sejenak mencari akal, jujur jalan pikiran ku rasanya sudah buntu aku gak tau harus bagaimana lagi.
"Kita buat api unggun saja gimana, seperti yang kalian lakukan saat di gua kemarin pasti tubuh Sasa akan kembali hangat seperti sedia kala dan dia bisa tersadar" Yanti membuatku terkejut kenapa dia bisa tau.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa tau kalau aku dan Sasa kemarin membuat api unggun di dalam gua waktu hujan" aku bertanya pada Yanti.
"Hehehe" dia malah senyum-senyum gak jelas.
"Jawab, di tanya malah senyum doang" aku cemberut.
"Kan aku sudah bilang, aku ngikutin kalian sejak kalian naik ke gunung ini, kan aku juga sudah bilang kalau aku suka sama kamu" dia bergelayut di tanganku lagi dan membuat ku risih di buatnya.
"Kamu itu gak ada kerjaan banget sih, ngapain juga kamu ngikutin aku terus" aku memarahinya.
"Kan memang aku gak punya pekerjaan lain selain gangguin kamu" dia kembali tertawa yang membuatku geli.
"Dasar kuntilanak gak ada kerjaan" hardik ku.
"Udah sekarang cepat kamu cari ranting biar aku disini jagain Sasa, aku akan membuat tubuhnya agak hangat biar dia cepat sadar jadi kamu harus cepat cari ranting" kata Yanti.
Tanpa pikir panjang aku langsung mencari ranting pohon yang kering untuk membuat api unggun agar bisa menghangatkan tubuh Sasa biar dia bisa cepat sadar dan juga cepat sembuh.
"Disini banyak ranting kayaknya" aku langsung memungut setiap ranting yang aku temui agar cepat terkumpul dengan banyak.
"Cukup apa belum ya, takutnya nanti kalau apinya mati Sasa kembali kedinginan" aku bermonolog.
Aku kembali mencari kayu yang lebih banyak lagi agar bisa cepat kembali ke tempat tadi, kali ini aku tidak terlalu khawatir saat meninggalkan Sasa karena aku percaya kalau Yanti akan menjaga Sasa dengan baik.
Saat ranting sudah terkumpul banyak aku lalu kembali ke tempat tadi membawa ranting yang cukup banyak agar nanti kalau mati bisa buat api
"Gimana sudah dapat rantingnya" tanya Yanti saat aku baru sampai.
"Sudah, ini aku dapat sangat banyak jadi bisa kita gunakan untuk menghangatkan tubuh Sasa yang menggigil karena kedinginan" Ujarku kepada Yanti.
Aku langsung menyusun kayu-kayu yang sudah aku dapat dan menyalakan api unggun agar Sasa cepat sadar.
"Gimana Sasa sudah sadar apa belum" aku bertanya pada Yanti.
"Belum, badannya masih kedinginan kita tunggu saja sebentar lagi pasti dia bangun" ucapnya.
Aku hanya mengangguk dan memperhatikan wajah Sasa yang pucat itu, kenapa dari kemarin ada saja gangguan yang harus kita hadapi, kenapa semua
tidak bisa berjalan dengan mulus, lalu kapan kita akan bertemu dengan Gilang dan Heni kalau ada saja kendala yang harus kita hadapi, aku hanya kasian sama Anton dia pasti sekarang sedang kebingungan mencari jalan keluar dan dia pasti menanti kita di sana.
"Kamu kenapa bengong, jangan ngelamun nanti ada yang datang dan pinjam tubuh kamu" Yanti mengagetkan ku.
"Aku hanya berfikir kenapa ada saja halangan untuk aku mencari teman-teman ku" aku tertunduk sedih.
"Kamu harus sabar dan ikhlas pasti ada jalan kok, ini salah satu ujian yang harus kalian hadapi, kalian harus bisa melewati semua ujian ini untuk mencapai tujuan kalian, dan dari awal bukankah aku sudah memperingatkan kalian kalau jalan ke sini akan banyak sekali rintangan yang harus kalian hadapi dan saat itu kalian bilang siap untuk menghadapi nya jadi sekarang jangan mengeluh dong" Yanti mencoba menghiburku yang sedang bimbang.
"Terimakasih banyak ya yan atas semuanya" aku tersenyum sambil melihat nya.
"Terimakasih Mulu dari tadi, kan aku ikhlas nolongin kamu sayang" dia menyenderkan kepalanya di bahuku.
__ADS_1
"Terus aku harus ngomong apa dong buat ngucapin terimakasih sama kamu, kamu kan udah baik banget sama kita" ucapku pada Yanti.
"Cium dong sayang" dia memanyunkan bibirnya ke dekat bibirku aku langsung reflek menjauh dari Yanti.
Dasar kuntilanak cabul, ada aja yang dia mau dasar aneh benar saja tidak ada yang mau sama dia habisnya dia ganjen banget sih kalau lihat cowok, mungkin hantu cowok yang mau dekat sama dia pada ilfil duluan karena sifatnya yang nyebelin dan ganjen terus sama cowok
"Lo jadi cewek gampangan banget sih, jual mahal dikit dong biar banyak yang mau sama Lo" ucapku.
"Gak peduli lah, ya mau gimana lagi kan ini sudah sifat ku" dia malah manyun.
"Ya terserah kamu saja lah" jawabku singkat.
Yanti memang gak bisa di bilangin dia selalu saja ganjen dan selalu mencari kesempatan agar bisa terus bergelayut manja dengan ku, padahal aku sudah berusaha untuk jaga jarak tapi dia tetap saja mendekati aku, dan ada saja kelakuan nya.
"Emang kamu kalau di dunia gaib juga begitu ya sama laki-laki ganjen gitu terus mepet terus" tanyaku pada Yanti.
"Ya enggak lah, kan aku sudah bilang sama kamu kalau di alam aku itu tidak ada laki-laki yang tampan kayak kamu" sambil mencolek pipi ku dan aku langsung menepis tangan nya.
"Masak satu pun gak ada sih" tanyaku.
"Gak ada lah, mereka semua itu wajahnya jelek dan gak ada yang sesempurna kamu mangkanya aku suka sama kamu dan gak mau jauh-jauh dari kamu sayang" dia mulai manja lagi.
"Di bilangin susah banget sih jadi Kunti, jangan manja-manjain bisa gak sih gak usah gelayutan kaya monyet aja" aku memarahinya tapi bukannya takut dia malah semakin menjadi saja dia malah mengeratkan pelukannya sampai aku susah untuk bernafas.
"Kamu ini masak aku udah cantik banget kayak gini di samain sama monyet sih, monyet kan jelek dan bau gak kaya aku yang wangi dan juga cantik" dia mengedipkan matanya ke arah ku.
"'Siapa juga yang bilang kalau kamu cantik, gak ada tau" aku mengejeknya.
"Kamu" jawabnya sambil mencubit hidung ku.
"Dasar aneh, kapan juga aku bilang kamu cantik gak pernah tuh" jawabku.
"Pokonya aku cantik gak seperti monyet yang jelek" dia tetap tidak mau kalah.
"Biarpun monyet itu jelek tapi monyet itu nurut gak kayak kamu yang gak bisa di bilangin" ejek ku.
"Kalau kamu yang ngomong aku pasti akan selalu nurut kok, aku janji deh bakal nurut terus sama kamu" ucap Yanti dengan suara dan di buat-buat.
"Terserah" aku menjawab dengan cuek karena percuma juga ngomong sama Yanti gak ada gunanya sama sekali.
Sekarang yang aku pikirkan hanya kesembuhan Sasa dia harus selamat bagaimanapun caranya aku akan terus berjuang demi Sasa dan akan melakukan apapun demi kesembuhan nya.
Api unggun sudah aku nyalakan dan hawa dingin sedikit menghilang menjadi hangat karena api dari api unggun yang aku nyalakan dan semoga saja badan Sasa cepat hangat agar dia bisa kembali sadar dan cepat pulih kembali seperti sedia kala.
"Sa, ayo sadar dong jangan seperti ini terus aku jadi khawatir sama kamu, ini sudah hangat dan kamu sudah tidak kedinginan lagi" aku mengelus tangan
Sasa berusaha membangunkannya agar dia segera sadar.
"Tenang saja, dia cuma tidur kok karena tadi kedinginan memang tadi kesadarannya sedikit menurun tapi sekarang dia sudah baik-baik saja" Yanti menenangkan aku.
__ADS_1