Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 85 POV Gilang


__ADS_3

Saat itu aku masih bisa melihat semua teman-temanku merasa kaget karena aku bisa berubah menjadi Harimau putih, aku mengaum dengan keras, amarahku benar-benar sedang


ada di puncak, aku tidak terima sahabatku di seret seperti itu aku tidak akan membiarkan iblis itu menyakiti.


"Benar dugaan ku, ternyata kamu bukan manusia biasa, tapi jangan harap kamu bisa menyelamatkan mereka hanya dengan wujud mu itu" mereka tertawa dan membuat aku semakin marah.


Aku langsung menyerang mereka dengan membabi buta, aku melawan mereka bertiga menggunakan semua kekuatan yang aku miliki, lalu tiba-tiba


aku terpental, tapi aku langsung bangkit dan kembali menyerang mereka dengan mengerahkan semua kekuatan yang aku miliki, pertarungan ini sangat sengit, aku melihat hantu pendaki itu sudah kelelahan menangkis semua serangan ku.


Dan itu aku manfaatkan untuk terus menyerang mereka satu per satu hingga aku bisa mencengkeram salah satu dari hantu pendaki itu, aku menyeret dia seperti apa yang dilakukan oleh hantu


pendaki itu kepada Sasa dan Heni, aku sudah tidak peduli lagi karena sudah tidak ada rasa kasihan lagi dalam diriku, aku sudah terlanjur marah dengan


mereka.


"Lepaskan aku, lepaskan" hantu pendaki wanita itu terus meronta-ronta mungkin dia merasa kesakitan karena aku mencengkeram kakinya lalu menyeret dia tanpa ampun.


"Lepaskan dia, jangan kamu sakiti temanku itu atau kamu akan menyesal" teriak hantu pendaki itu.


Aku tidak mempedulikan ucapan mereka, aku terus menyeret dia tanpa ampun agar mereka merasakan apa yang aku rasakan melihat sahabatku di perlakukan seperti binatang oleh mereka.


Aku tau setelah ini mereka akan menjadi semakin dendam kepadaku tapi aku tidak peduli yang penting sekarang aku akan membalaskan rasa sakit yang


dirasakan Heni dan Sasa.


"Lepaskan dia, aku mohon, aku yang tadi menyeret temanmu jadi aku yang bersalah lepaskan dia, aku akan melepaskan kalian dan aku tidak akan


pernah mengganggu kalian lagi, tolong lepaskan dia" hantu pendaki itu memohon kepada ku agar aku


mengampuni temannya.


Aku berhenti saat mendengar mereka memohon, sekarang aku sudah lega karena sudah membalaskan rasa sakit Heni dan Sasa, jadi aku rasa ini sudah cukup yang penting mereka sudah berjanji tidak akan mengganggu kami lagi.


"Cukup lepaskan dia, lalu kita akan pergi sejauh mungkin dan kita berjanji tidak akan menggangu kalian lagi, jadi kalian bisa pergi dari gunung larangan


ini dengan aman" ucapnya lagi.

__ADS_1


Lalu aku melempar hantu pendaki wanita itu kearah mereka, dia terlihat sangat lemas karena aku menyiksa dia melebihi mereka menyiksa Heni dan Sasa.


"Ayo kita bawa dia pulang lalu kita obati lukanya" tanpa banyak bicara mereka langsung pergi dari tempat itu sambil membopong teman wanitanya.


Setelah mereka pergi aku langsung ambruk dan terkulai lemas dan setelah itu aku langsung berubah kembali menjadi manusia seutuhnya, tapi aku


merasakan tubuhku seperti sudah tidak ada tenaganya sama sekali, bahkan aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.


"Lang, GilangLo gak apa-apa kan Lang" aku mendengar ucapan Andi bahkan dia mengguncang tubuhku dengan sangat keras.


Tapi aku sama sekali tidak bisa merespon dia karena badanku sangat lemas, aku hanya bisa terdiam tapi aku sedikit lega karena aku telah berhasil mengalahkan hantu pendaki itu dan berhasil mengusir mereka.


"Aduh gimana nih, Gilang kenapa ya kok dia gak bereaksi sama sekali, apa dia pingsan" Heni terlihat sangat panik.


Sebenarnya aku ingin sekali menjawab pertanyaan mereka tapi aku sama sekali tidak mampu untuk berucap sepatah katapun.


"Apa kita gendong saja si Gilang ke tempat yang lebih aman" usul Andi.


"Iya, kita harus segera membawa Gilang ke tempat tadi agar dia bisa beristirahat malam ini, kasian badannya pasti sangat lelah sekali" ucap Sasa.


Akhirnya mereka membopongku secara perlahan, aku merasa tidak enak dengan mereka tapi mau bagaimana lagi aku sama sekali tidak bisa menggerakkan badanku babhkan untuk bicara saja sangat sulit sekali.


habis-habisan sama si Gilang" ucap Andi.


"Iya, jangan sampai Gilang terjatuh kita harus hati-hati gak apa-apa lama yang penting kita bisa selamat" ucap Heni.


Walaupun pelan tapi akhirnya mereka berhasil membawa aku kembali ke tempat tadi saat pertama kali aku bertemu dengan mereka, karena Yanti bilang tempat ini yang paling aman untuk kita beristirahat.


"Akhirnya kita sampai juga, aku udah capek banget deh" Sasa langsung membantu Andi untuk merebahkan tubuh ku, lalu dia bersandar pada batu


yang besar.


"Huhuhu" Heni tiba-tiba menangis.


"Kamu kenapa Hen, apa kamu masih takut kalau hantu pendaki itu akan mengejar kita lagi, kamu gak perlu takut kalau tentang itu karena kita sekarang


sudah aman dari mereka" Sasa mencoba untuk menenangkan Heni.

__ADS_1


"Bukan itu Sa, tapi aku sedih melihat kondisi gilang saat ini, karena dia seperti ini gara-gara menyelamatkan aku, seandainya waktu itu aku menuruti semua ucapan Gilang pasti aku tidak akan


tertangkap oleh hantu pendaki itu, dan Gilang pasti tidak akan seperti ini" Heni kembali menangis.


"Ya Allah Hen, aku juga baru sadar tadi aku memarahi Gilang bahkan aku membentak dia, dan aku menyalahkan dia karena kamu tertangkap oleh hantu


pendaki itu" Sasa juga merasa sangat bersalah karena sudah menyalahkan aku tadi.


Aku bisa mendengar jelas semua yang mereka katakan hanya saja aku tidak bisa menggerakkan badanku dan aku juga tidak bisa berbicara.


"Tidak Sa, aku tertangkap bukan salah Gilang justru aku yang bandel dan tidak mau mendengarkan ucapan Gilang, jadi saat kita bersembunyi aku ngotot


ingin keluar dari tempat persembunyian karena ingin segera mencari kalian, padahal Gilang sudah melarang ku, tapi kamu tau sendiri aku keras kepala dan aku tetap keluar tapi ternyata hantubpendaki itu tiba-tiba muncul dan mengejar kami lalu aku tertangkap" Heni menangis sesenggukan mengingat


kejadian tadi siang.


Aku tidak menyalahkan mereka sama sekali, karena tetap saja aku yang bertanggung jawab atas mereka karena aku yang mengajak mereka kesini, bahkan aku sudah berjanji pada diriku sendiri, nyawaku pun akan aku berikan asal mereka bisa keluar dari gunung larangan ini dengan selamat.


"Tadi aku, aku membentak Gilang bahkan aku terus menyalahkan dia atas semua ini, maafin gue Lang, gue salah Lang" Sasa menangis dan memegang


tanganku.


"Apa ini" Sasa menyingkap lengan panjang ku.


"Tangan gilang banyak luka seperti habis terkena duri" Sasa memperhatikan tanganku.


"Ya Allah Gilang, kenapa tadi kamu diam saja kenapa kamu tidak bilang kalau badan kamu sakit, pasti ini


gara-gara aku terus memaksa kamu dan terus menyalahkan kamu" Sasa menangis memeluk tubuhku.


Aku hanya bisa meneteskan air mata, andai aku bisa bicara pasti aku akan mengatakan kalau aku tidak


pernah menyalahkan mereka atas kondisiku saat ini, karena aku sendiri sudah berjanji akan terus menjaga


mereka.


Air mataku benar-benar menetes, mungkin mereka menyadari itu.

__ADS_1


"Lang, kamu kenapa menangis, mana yang sakit Lang, maafin aku ya Lang" Sasa mengusap air mnataku.


Sedangkan Andi yang dari tadi diam sekarang juga ikut memeluk tubuhku, entah apa yang saat ini dia rasakan.


__ADS_2