Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 19


__ADS_3

Masih POV Andi.


"Lo bilang apa tadi" ucap sasa sambil matanya mulai melotot mungkin dia marah karena ucapan ku barusan.


"Gak, gue gak ngomong apa-apa" aku pura-pura polos saja padahal dalam hati aku tertawa.


"Jangan pura-pura bodoh deh, orang tadi jelas-jelas gue denger omongan Lo kok" ucap Sasa cemberut karena marah.


"Apaan sih, salah denger kali, atau mungkin telinga Lo kotor" aku malah menggoda Sasa agar tambah marah.


"Bener-bener Lo ya, kurang ajar banget sih jadi cowok, gak ada perasaan" ucapnya langsung melengos.


"Hahaha" dasar manja.


Aku malah mentertawakan dia yang sedang marah, wajah nya terlihat sangat cantik saat dia marah, aku diam-diam tersenyum sambil mencuri pandang melihat wajahnya yang manis itu.


"Apa lihat-lihat" ternyata dia merasa kalau sedang aku perhatikan.


"Gue lagi lihat wajah Lo yang tambah jelek saat marah, udah jelek gak usah di jelek-jelekin lagi jadi tambah jelek banget" aku menggodanya.


"Awas ya kalau tiba-tiba Lo suka sama gue, bakal gue sorakin Lo sampai puas" ucapnya sambil melipat kedua tangannya.


"Idih, siapa juga yang mau suka sama cewek cengeng dan tukang marah kayak elo" aku menjulurkan lidah untuk mengejeknya.


"Bodo amat sekarang gue lagi gak mood buat berantem sama elo, lebih baik gue makan sampai kenyang biar ada banyak tenaga buat cari teman-teman ku yang lain" dia langsung memakan buah yang tadi malam aku dapat.


"Makan terus sampai kenyang, karena nanti belum tentu kita bisa nemuin makanan lagi, jadi selagi masih ada lebih baik kita makan yang banyak" ucapku sambil makan.


Kita pun makan buah yang tersisa semalam sampai habis, agar kita bisa kenyang dan bisa melanjutkan perjalanan sampai bisa bertemu dengan teman-teman kita yang lain nya.


"Gimana dengan persediaan air" tanya si cantik Sasa.


"Masih aman lah, kayaknya cukup sampai nanti siang, nanti kita bisa cari mata air lagi agar kita bisa ngisi botol lagi" jelas ku kepada Sasa.


"Ayo kita lanjutin perjalanan mumpung belum panas ini" aku membereskan ransel dan botol minum ku.


"Ayo" Sasa juga beres-beres dan kembali menaruh rasel nya di punggung.

__ADS_1


Kita memulai perjalanan dan meninggalkan tempat tadi, kita terus berjalan menyusuri hutan, ternyata hutan ini sangat indah bahkan tidak ada satu pun sampah yang berserakan, tidak seperti gunung yang lain.


"Apa kita terus berjalan tanpa arah seperti ini" ucap Sasa kepada ku.


"Ya mau bagaimana lagi, kita kan memang tidak tau arah dan jalan, ini kan pertama kali kita naik gunung ini" jawabku.


Kita memang hanya berjalan tanpa arah dan tujuan, karena kita tidak pernah tau dimana keberadaan teman-teman kita yang lain.


Saat dalanm perjalanan aku seperti melihat gerombolan para pendaki yang tadi malam mencari kita, tapi sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan kita.


"Ayo pergi" aku langsung menarik tangan Sasa dan mengajak nya berlari.


"Ada apa sih" protesnya.


"Lihat ke belakang" perintah ku


"Itu kan rombongan hantu pendaki itu" ucapnya dan malah lari lebih kencang dan menarik tangan ku.


"Itu mereka" teriak rombongan hantu pendaki yang terus mengejar kita.


"Lebih cepat lagi" teriak ku dan Sasa terus memegang tangan ku sambil berlari.


"Aauuu" tiba-tiba Sasa terjatuh karena kakinya kesandung batu besar.


"Kamu gak apa-apa kan Sasa, kaki kamu sakit ya" tanyaku khawatir dengan keadaan nya.


"Kaki ku sakit banget ini, gimana dong mereka semalkin dekat" Sasa meringis menahan kaki nya yang sakit.


"Ayo aku gendong" tawarku


"Apa kamu kuat, pasti aku sangat berat dan akan merepotkan kamu, lebih baik kamu lari saja, tinggalkan aku disini" ucapnya sambil terus meringis


kesakitan.


"Ayo aku gendong" tanpa banyak bicara aku langsung menggendong Sasa di belakang tubuh ku dan aku kembali berlari.


"Udah Ndi, kamu pasti sangat capek" Sasa mungkin merasa tidak enak dengan ku, padabhal aku dengan senang hati membantu nya.

__ADS_1


"Udah Lo diem aja, tinggal diem dan gue akan berusaha untuk menyelamatkan kita dari kejaran hantu pendaki itu" aku menyuruh nya untuk diam agar aku bisa lebih konsentrasi dan mencari tempat untuk bersembunyi.


Aku memang merasa sangat lelah karena tubuh Sasa memang sangat berat, padahal si Sasa ini tidak gemuk tapi kenapa berat sekali badannya, aku sampai hampir terjatuh berkali-kali.


"Kita sembunyi di balik pohon itu aja" dia menunjuk salah satu pohon yang cukup besar.


"Oke, kita kesana" aku langsung mendekati pohon yang di maksud si cantik Sasa dan segera bersembunyi di balik pohon yang besar agar tidak terlihat.


Aku menurunkan tubuh Sasa yang sangat berat itu, mungkin dia makan terlalu banyak hingga membuat tubuhnya sangat berat.


"Berat banget sih badan lo, kebanyakan dosa atau apa" ucapku pada Sasa


"Ngomong apa lo, gue jitak kepala lo baru tau rasa" ucap nya sambil berkacak pinggang.


"Emang kenyataannya lo itu berat, berarti lo itu gendut" aku mengejeknya.


"Mata lo katarak apa gimana, gak lihat apa gue seksi gini di bilang gendut" dia terlihat sangat marah.


"Dasar gendut, udah gendut tapi gak ngerasa" aku menjulurkan lidah agar dia semakin marah.


"Kan tadi gue udah bilang, tinggalin aja gue disana ngapain lo sok-sok an nolongin gue segala" dia semakin marah dan matanya sambil melotot, gue cuma bisa ketawa dalamn hati karena berhasil menggodanya dan membuat dia marah.


"Tadinya gue kira lo itu enteng dan gak berat karena kelihatan nya badan lo kecil, eh gak taunya berat banget udah kayak ngangkat beras dua karung" aku masih terus mengejeknya.


"Dasar cowok kurang ajar" dia menjitak kepalaku.


"Jahat amat sih, udah di tolongin bukannya ngucapin terimakasih malah main jitak aja" aku mengelus kepala ku yang agak sakit.


"Bahkan kalau di sebelah gue ada sapu atau apapun udah gue pakai buat mukul elo" sambil menunjuk muka ku.


"Untung gak ada ya, jadi gue masihbaman dong" aku menertawakan dia.


"Gak usah tertawa, lo kalau ketawa makin jelek bukan makin cakep" ejeknya.


"Sialan lo emang" jawabku.


Sepertinya para hantu pendaki itu sudah semakin dekat, jadi aku memberi kode pada Sasa untuk diam agar tidak ketahuan kalau kita bersembunyi di sini.

__ADS_1


Mereka terus mencari keberadaan kita, bahkan mereka berpencar mungkin biar cepat menemukan kita, benar-benar niat banget mereka nyari kita sampai gak berhenti.


Aku duduk dan memeluk lutut karena aku juga sebenarnya merasa takut karena selalu dikejar-kejar oleh mereka, entah sampai kapan kita bisa bertahan dari kejaran mereka, belum lagi gangguan dari para hantu penunggu gunung larangan ini.


__ADS_2