Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 57


__ADS_3

POV Andi.


Sebenarnya aku juga kepikiran sama si Yanti kenapa sampai sekarang dia belum juga datang kesini, kemana sebenarnya dia berada kok sampai sekarang belum kembali, aku jadi berpikir apakah Sari tidak akan kembali dan meninggalkan kita berdua ditempat ini.


"Kok aku jadi mikir ya apa mungkin Yanti sengaja gak kembali atau dia punya rencana lain untuk kita" aku berkata serius kepada si Sasa dan dia juga menatapku dengan serius.


"Masa sih, kok kamu berpikiran sampai segitunya sama si Yanti kan selama ini sudah sangat baik dengan kita berdua, bahkan dia sudah menganggap


kita sebagai temannya masa sih dia tega ninggalin kita disini" Sasa terlihat tidak percaya dengan ucapan mu mungkin kali ini jalan pikiran kita berdua berbeda.


"Gak tau juga sih, aku juga sebenarnya kurang yakin dengan pikiran ku ini karena melihat sikap Yanti yang


selama ini selalu siap membantu kita jadi tidak mungkin dia tega berbuat seperti itu, tapi aku juga berpikir kenapa bisa si Yanti selama ini, padahal kan dia bisa terbang dan menghilang kok lama banget" aku jadi bingung apakah harus curiga sama si Yanti atau tidak.


"Aku yakin pasti ada sesuatu yang membuat Yanti lama, tapi dia tidak mungkin meninggalkan kita ditempat ini" Sasa yakin dengan pemikirannya.


"Iya, kayaknya aku harus membuang pikiran yang jelek tentang si Yanti karena gak mungkin dia melakukan itu," aku menundukkan kepala merasa tidak enak karena telah menuduh si Yanti.


Aku dan Sasa sama-sama terdiam kita hanyut dengan pikiran masing-masing, tapi kami masih fokus dengan pikiran ku tenang Yanti.


"Sepi juga ya gak ada Yanti, padahal dia baru 2 jam ninggalin kita disini" Sasa melihatku dia mengingat tentang Yanti.


"Masa udah 2 jam sih, tapi tadi kita tidur lama atau sebentar ya, soalnya tadi aku gak bisa tidur sama sekali jadi waktu berasa kaya cepat aja gitu" aku bertanya pada Sasa untuk memastikan.


"Gak tau juga sih, kan aku juga gak pakai jam tangan jadi ya aku gak tau jam berapa" Sasa menjawab dengan entengnya.

__ADS_1


"Ya kalau itu gue juga udah tau Sa gak usah Lo kasih tau gue juga udah tau, kan kita gak ada yang bawa jam tangan kecuali si Gilang, dia tuh yang selalu bawa jam tangan kemanapun dia pergi" aku


mulai kesal dengan si Sasa.


Saat aku dan Yanti berdebat, tiba-tiba terdengar langkah dari belakang sontak kita berdua langsung melihat ke arah sumber suara untuk memastikan siapa yang mendekat ke arah kita berdua, karena takutnya itu langkah kaki si hantu pendaki.


"Siapa itu Ndi" Sasa bertanya padaku.


"Mana aku tau, kita perhatikan saja dulu kalau sampai itu hantu pendaki ya kita harus langsung lari dari sini kalau gak bisa mati kita ditangan mereka" aku memegang pundak Sasa dengan erat.


"ih jangan sampai lah gue gak mau mati ditangan mereka, masih banyak impian gue yang belum tercapai jadi jangan sampai lah ya itu terjadi" Sasa terlihat ketakutan.


Aku dan Sasa memang merasa takut tapi kami tidak boleh kalah dengan rasa takut itu karena kami harus tetap waspada dengan apapun yang akan terjadi karena kami berada di alam bebas jadi apapun bisa terjadi bukan hanya hantu pendaki saja tapi bisa jadi


Jadi kami harus tetap waspada, jangan sampai terkecoh dengan tipu muslihat dari mereka semua karena itu akan sangat membahayakan untuk


keselamatan kita berdua.


"Yanti, iya benar itu Yanti ndi" Sasa menunjuk ke arah suara dan saat aku melihat ke arah itu benar saja itu yang datang sepertinya si Yanti.


"Iya benar itu sepertinya si Yanti dan dia sudah kembali, tapi kenapa dia jalan dan gak terbang ya" aku heran dengan Yanti karena dia berjalan.


"Apa gak capek itu si Kunti jalan kaki, kenapa dia gak terbang saja biar cepat sampai, padahal kita berdua udah kelaparan nungguin dia dari tadi disini" aku mulai marah dengan Yanti kenapa dia tidak cepat sedikit saja.


Yanti tidak tau apa kalau perutku ini sudah terasa sangat lapar, aku menunggu dia dari tadi berharap dia cepat kembali dan membawa makanan apapun yang penting bisa mengganjal perutku agar aku punya tenaga lagi untuk melanjutkan perjalanan, mana Yanti jalannya pelan banget lagi bikin aku makin kesal saja di buatnya.

__ADS_1


"Kamu dari mana saja sih Yan, tau gak kita berdua itu udah nungguin kamu lama banget tau, kita tuh udah mikir yang enggak-enggak tentang kamu, kami kira kamu udah pergi ninggalin kita dan gak akan kembali" aku memberondong Yanti dengan banyak pertanyaan karena aku begitu jengkel padanya.


Saat aku marah si Yanti malah tersenyum, dia menatapku dengan tatapan yang sangat manja dan dia diam saja saat aku marahi bahkan dia tidak


menjawab sama sekali pertanyaan ku, benar-benar aneh kuntilanak ini, tapi memang dia berbeda dari kuntilanak yang lain.


"Kamu dengerin aku gak sih Yan, kok malah senyam senyum terus dari tadi, kita itu udah lapar banget Yanti gimana sih kamu" aku kembali memarahi Yanti tapi dia masih saja diam.


"Si Yanti itu baru kembali kok malah kamu marahin sih, dia kan udah usaha buat bantuin kita terus kenapa malah di marahin" Sasa menatap tajam ke arah ku.


Aku gak percaya karena Sasa malah membela Yanti padahal mereka berdua sudah seperti musuh bebuyutan karena mereka sering bertengkar dan saling ejek satu sama lain.


"Kok kamu belain si Yanri sih, emang aku gak salah dengar apa" aku melongo karena tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar, biasanya mereka akan bertengkar tapi malah sekarang dia


belain si Yanti.


"Kamu gimana sih, Yanti itu udah mau usaha buat bantuin kita berdua hargain dong usahanya walaupun kamu tidak suka sama dia tapi kamu harus


tetap hargai pengorbanannya, dasar semoga cowok memang sama saja selalu tidak mau mengerti perasaan cewek" Sasa malah cemberut kearah ku lalu matanya melotot melihat ku mungkin dia memberi isyarat agar aku mau meminta maaf kepada si Yanti.


Aku kaget karena tumben banget si Sasa jadi baik banget sama Yanti gak biasanya mereka seperti ini, apa mungkin karena Sasa merasa gak enak karena Yanti mau bersusah payah untuk membantu kami mencari makanan untuk mengganjal perut kami.


Aku melirik Sasa lagi dia masih dengan tatapan yang sama matanya melotot seperti mengintimidasi aku


untuk segera meminta maaf kepada si Yanti

__ADS_1


__ADS_2