
POV Andi
"Kamu yakin Sasa tidak akan kenapa-napa dan dia akan baik-baik saja" aku bertanya pada Yanti untuk meyakinkan hatiku agar tidak lagi gelisah.
"Aku sangat yakin, sekarang kamu lihat saja bibir Sasa yang tadinya membiru sekarang sudah kembali
seperti semula itu artinya dia sudah baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatir kan lagi" Yanti meyakinkan ku.
"Iya kamu benar, badannya juga sudah tidak sedingin tadi, mungkin sekarang suhu tubuh nya perlahan kembali normal lagi" sambil memegangi tangan Sasa dan memastikan keadaan nya.
"Apa aku bilang, Sasa pasti akan baik-baik saja dia itu sebenarnya perempuan yang kuat jadi tidak mungkin hanya karena kedinginan dia bisa kenapa-napa" kata Yanti ambil memperhatikan wajah Sasa.
"Kamu benar Yanti kamu sangat benar aku yakin setelah ini Sasa pasti akan sadar seperti sedia kala" aku sangat bahagia karena keadaan Sasa sudah tidak seburuk tadi.
"Kamu gak bawa alat buat masak" tanya Yanti.
"Tidak, aku tidak membawanya" jawabku.
"Harusnya kamu membuatkannya teh hangat agar badan Sasa lebih hangat" ujar Yanti.
"Iya juga sih seharu nya seperti itu, tapi kamu kok bisa tau sih kalau teh hangat bisa menghangatkan tubuh manusia" tanyaku penasaran.
"Ya tau lah, kalian itu bukan pendaki pertama di gunung ini" jawabnya.
"Jadi kamu suka ngikutin para pendaki yang naik ke gunung ini" aku memasang wajah marah.
"Hehe, ya kalau ada pendaki yang ganteng ya pasti aku ikutin dong" sambil senyum-senyum.
"Dasar kuntilanak ganjen kamu" ucapku.
Aku masih terus menunggui Sasa berharap dia bisa cepat sadar dan kembali pulih seperti sedia kala.
"Ndi, Lo dimana" ucap Sasa.
"Sa, Lo sudah sadar, Alhamdulillah gue takut Lo kenapa-napa sa" aku memeluknya saat tau kalau dia sudah sadar dan baik-baik saja tidak ada yang
mengkhawatirkan.
"Dingin Ndi, dingin banget badan gue" dia masih kedinginan.
"Iya, ini sudah ada api unggun biar badan Lo jadi hangat dan gak kedinginan lagi" ucapku sambil menatap nya.
"Manja banget sih" ketus Yanti Aku tidak mempedulikan ucapan Yanti sama sekali, karena aku sekarang fokus sama keadaan Sasa yang semakin
membaik.
"Gimana kamu sudah baikan kan, badan kamu sudah hangat apa belum atau mana yang sakit" aku mencecar Sasa dengan banyak pertanyaan.
"Aku gak papa Ndi, aku cuma kedinginan tapi sekarang sudah baik-baik saja" ucapnya sambil
tersenyum.
"Alhamdulillah kalau begitu, aku lega dengar kamu baik-baik saja" aku juga tersenyum ke arahnya.
"Kamu matikan saja api unggun nya aku sudah baik-baik saja kok, aku sudah agak mendingan" Sasa mencoba untuk berdiri.
"Jangan berdiri dulu kamu masih lemas, dan api unggun ini tidak akan aku matikan sampai kamu benar-benar sudah tidak kedinginan lagi Sa" ucapku
__ADS_1
pada Sasa.
"Tapi nanti kalau hantu pendaki tau ada api disini pasti mereka akan kesini dan menemukan kita, bisa-bisa kita tertangkap oleh mereka dan usaha yang kita lakukan akan menjadi sia-sia, sudah
matikan saja aku sudah sembuh kok" Sasa meyakinkan ku kalau dia sudah baik-baik saja.
"Kamu gak usah pikirkan tentang hantu pendaki itu, mereka tidak akan tau keberadaan kita, Yanti sudah mencari mereka dan mereka berada jauh dari sini
jadi kita aman disini" aku memberi tahu Sasa agar dia tidak khawatir.
"Terimakasih banyak ya Yan karena kamu sudah bantu aku, ternyata kamu benar-benar baik kamu adalah kuntilanak terbaik yang pernah aku tau" ujar Sasa sambil memeluk Yanti.
"Ya iya gak usah lebay deh, kalau kamu bukan temannya Andi aku gak akan mau nolongin kamu" jawab Yanti ketus.
Aku tersenyum melihat mereka yang sudah mulai akur sampai mereka bisa pelukan semoga saja mereka tidak berantem lagi dan bisa akur terus seperti ini.
"Bau banget sih badan Lo" Sasa sambil menutup hidung.
"Haduh, mulai lagi" aku menepuk jidat ku sendiri.
"Udah di tolongin malah ngeledekin aku, gak tau terimakasih kamu itu" Yanti terlihat marah.
"Habisnya kamu gak bilang kalau badan kamu bau menyan sama melati" Sasa masih menutup hidungnya.
"Badan aku itu udah wangi, emang mulut kamu aja yang dekat sama hidung mangkanya bau" ejek Yanti.
"Jaga mulut kamu ya, emang badan kamu bau malah ngatain orang" Sasa malah marah.
"Apaan orang kenyataannya begitu kok, gak usah ngeles lagi deh emang mulut kamu bau banget gak ngerasa" ejek Yanti
"Bener-bener Lo ya kuntilanak gak bisa nyium bau manusia, orang mulut gue wangi kayak gini kok di bilang bau" Sasa mendengus kesal.
"Elo yang bau dasar kuntilanak" balas Sasa.
"Emang iya gue kuntilanak tapi gue kuntilanak yang harum dan wangi gak kaya elo yang bau bangkai" ejek Yanti lagi.
"Itu perasaan Lo aja kali" sinis Sasa Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar mereka berdua
berantem lagi, aku kira mereka akan baikan dan tidak akan berantem lagi tapi ternyata aku salah besar mereka ternyata tidak akan bisa akur.
"Udah deh gak usah berantem terus gak capek apa kalian berdua berantem terus, aku aja yang dengerin capek apa lagi kalian yang ngelakuin pasti lebih
capek kan" aku memisahkan mereka berdua.
"Tuh teman kamu udah di tolongin bukannya terimakasih malah ngatain aku bau" kilah Yanti.
"Emang kenyataannya bau, harus nya Lo ngomong dulu kalau badan Lo bau jadi gue gak perlu meluk Lo kaya tadi" Sasa juga tidak mau kalah.
"Tau gitu tadi aku jatuhin kamu kebawah biar tau rasa" ucap Yanti dengan nada sinis.
"Enak aja Lo mau jatuhin gue, jadi Lo gak ikhlas tadi nolongin gue" Sasa malah berkacak pinggang.
"Gak, dan aku nyesel banget udah bantuin kamu tau gitu tadi aku biarin aja kamu pingsan dan kita tinggal biar di tangkap sama hantu pendaki kalau gak gitu biar di makan sama binatang buas" teriak Yanti.
"Haha tidak semudah itu kali, kalau tadi Lo gak nolongin gue pasti Andi yang bakal gendong gue dan kita bisa mesra-mesraan" Sasa menjulurkan lidahnya untuk mengejek Yanti.
"Gak akan gue biarin Lo berduaan sama pacar gue" Yanti juga berkacak pinggang.
__ADS_1
"Haduh, bisa diam gak sih kalian berdua ini kenapa berantem terus bisanya, kan tadi udah baikan dan udah pelukan juga, jadi gak usah berantem lagi dong pusing nih kepalaku dengerin kalian berdua yang terus berantem" aku menutup telinga karena sudah capek mendengar mereka beranteman.
"Dia dulu" Sasa menunjuk Yanti.
"Kamu" Yanti membalas menunjuk Sasa.
"Kalian berdua itu sama gak ada bedanya satu diam yang satu yang mulai gitu terus gak ada capeknya, lebih baik kita simpan tenaga kita untuk melanjutkan perjalanan karena perjalanan kita itu masih jauh dan
banyak sekali rintangan yang harus kita hadapi, jadi jangan buang-buang waktu hanya untuk berantem, ingat itu" aku memarahi mereka dan mereka hanya
diam sambil saling sikut.
"Dan kamu Sa sebaiknya kamu istirahat saja, nanti kalau keadaan kamu sudah membaik kita akan melanjutkan perjalanan sama-sama dan sekarang lebih baik kita istirahat dulu, kalian juga pasti sudah capek kan" ucapku pada Sasa.
"Iya Lo benar, gue takut kedinginan kaya tadi lagi, lagian ini kan pas tengah malam jadi kita istirahat dulu besok pagi baru kita lanjutin perjalanan" Sasa menyetujui usulan ku.
"Kalau begitu sekarang lebih baik kalian tidur berdua ya, besok pagi-pagi sekali kita bangun dan lanjutin
perjalanan" aku menyuruh mereka tidur.
"Kamu lupa, aku kan kuntilanak mana mungkin aku malam-malam begini malah tidur ya gak bisa lah" ucap Yanti.
"Oh iya gue lupa kalau Lo itu bukan manusia tapi kuntilanak, ngapain gue nyuruh Lo tidur ya" aku tertawa karena kebodohan ku.
"Ya udah kalian berdua cepat tidur biar aku yang jagain kalian, takut kalau nanti tiba-tiba hantu pendaki datang ke sini" kata Yanti kepada kami.
"Iya kamu benar juga, terimakasih banyak ya Yan kamu memang teman yang terbaik dan kamu selalu nolongin kita saat kita sedang susah" entah sudah
berapa kali aku mengucapkan terimakasih kepada Yanti karena dia selalu saja menolong kita berdua.
Aku sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan Yanti, dia itu benar-benar baik walaupun dia bukan
manusia.
"Kamu gak apa-apa kita tinggal tidur" aku bertanya pada Yanti.
"Gak apa-apa lah, emang kenapa kan biasanya aku juga sendiri di hutan ini" jawabnya.
"Ya udah kita tidur dulu ya, kalau kamu lihat hantu pendaki atau ada apapun langsung bangunin aku ya"
ucapku pada Yanti.
"Oke, aku tungguin kalian di atas pohon ini aja ya, lebih enak kalau di atas pohon" Yanti langsung terbang ke atas pohon dan langsung nangkring di atas sana.
"Dasar kuntilanak, emang tempatnya di atas pohon jadi kalau gak nangkring ya gak enak" ejek Sasa.
"Udah Sa, jangan ngatain Yanti terus nanti kalau dia dengar bisa berantem lagi kan kalian" aku menasehati Sasa.
"Biarin orang kenyataannya begitu kok" ketus Sasa dia langsung memilih tempat yang agak bersih lalu
merebahkan tubuhnya di atas tanah tanpa alas apapun.
Aku dan Sasa langsung tertidur, kita memang sangat lelah karena sudah berjalan cukup jauh, entah harus berapa lama lagi kita akan seperti ini, menyusuri hutan setiap saat dan setiap waktu, tidak kenal lelah dan tanpa memperhatikan kondisi tubuh, tadi pagi
aku yang sakit karena kelelahan sampai pingsan sekarang gantian Sasa yang kedinginan sampai pingsan, entah kejadian apa lagi setelah ini tapi apapun itu kita akan hadapi sama-sama kita
akan berjuang bersama untuk keselamatan kita semua.
__ADS_1
Apapun yang terjadi aku dan Sasa tidak akan menyerah, kalaupun diantara kita ada yang sakit berarti yang sehat yang harus berjuang, kita tidak akan meninggalkan satu sama lain walaupun dalam keadaan apapun, dan aku sangat yakin kalau teman-teman ku yang lain juga melakukan hal yang sama, mereka juga sama-sama sedang berjuang untuk menemukan kita.