Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 144


__ADS_3

Agar tidak ada yang bisa mengalahkan dia setelah itu, padahal malam ini adalah malam gerhana bulan


yang terakhir dan setelah itu penguasa gunung larangan akan mendapatkan ilmu kebal, dan tidak akan ada yang bisa mengalahkan dia setelah itu.


Tapi Gilang dan teman-temannya sudah berhasil menggagalkan rencana itu bahkan Gilang juga sudah berhasil membuat penguasa gunung larangan itu


musnah begitu saja.


Ritual itu dilaksanakan, Rio dan ibunya mandi kembang tujuh rupa di malam hari, bahkan mereka berendam bersama bunga itu, tidak sampai disitu


mulut mereka juga mengucapkan mantra yang entah apa isinya karena mereka mengucapkan dengan sangat cepat sekali.


Lalu mereka memejamkan matanya sambil merapalkan mantra yang lebih banyak lagi sambil terus berendam di air kembang tujuh rupa.


Setelah dianggap selesai Rio langsung berdiri dan membersihkan tubuhnya dari bunga-bunga yang masih menempel di tubuhnya, dia juga membantu ibunya itu untuk berdiri, mereka menggunakan jarik untuk melilit tubuh mereka demi kuat.


"Apa ibu kedinginan malam ini," tanya Rio yang khawatir kalau ibunya sakit karena kedinginan.


"Tidak nak, sekarang lebih baik kita langsung melakukan ritual selanjutnya, kita harus segera tau apa yang sebenarnya terjadi, dan apakah penguasa gunung larangan butuh tumbal baru untuk menggantikan posisi mereka, karena takutnya kita yang akan dijadikan tumbal kalau dia tidak mendapatkan tumbal baru," sang ibu menjelaskan.


Rio hanya mengangguk, dia tahu ibunya pasti sangat khawatir kalau mereka akan dijadikan tumbal oleh


penguasa gunung larangan.


Setelah itu Rio menyalakan dupa dan membakarnya, dia mengelilingi dupa itu dengan bunga tujuh rupa yang tadi dia gunakan untuk mandi dan berendam.


Dia lalu membacakan mantra untuk bisa membuat penguasa gunung larangan mendengar suara mereka dan mereka bisa berkomunikasi.


Rio dan ibunya bersila seperti orang yang sedang bertapa, mereka lalu membaca mantra yang sangat aneh sekali, mantra itu sangat panjang bahkan bahasanya juga tidak jelas, tapi mereka berdua sepertinya memangsudah biasa untuk merapalkan mantra itu.


Tiba-tiba petir menyambar dengan sangat keras, dan itu membuat mereka kaget luar biasa, tidak biasanya ada kejadian diluar nalar seperti itu, dan apakah itu adalah sebuah pertanda untuk mereka berdua. Tidak ada yang tahu juga.


"Ada petunjuk apa ini, kenapa tiba-tiba petir menyambar seperti ini, apa yang harus kita lakukan sekarang Bu ," Rio terlihat ketakutan.


Ibunya masih memejamkan mata dan terus memanggil penguasa gunung larangan, dia ingin penguasa gunung larangan segera datang dan menemui dirinya, dia hanya ingin bertanya apa


yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Kenapa saat ini alam seperti tidak bersahabat dengan dirinya. Padahal selama ini dia selalu memberikan tumbal sesembahan sesuai kesepakatan, seharusnya alam selalu mendukung


mereka berdua.


"Pasti ada yang tidak beres, ibu yakin sekali. Biasanya setiap kitamelakukan ritual kita pasti akan


langsung terhubung dengan penguasa gunung larangan ataupun anak buahnya, tapi sekarang kenapa kita seperti tidak bisa terhubung dengan mereka," si ibu juga terlihat kebingungan.


"Apa Rio harus pergi dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi Bu, sepertinya memang ada yang tidak beres, kita sama sekali tidak bisa terhubung


dengan penguasa gunung larangan," Rio ingin sekali mencari tahu.


Mereka diam dan saling berpikir, mungkin mereka tidak akan pernah bisa lagi terhubung dengan penguasa gunung larangan karena dia sudah berhasil di kalahkan oleh Gilang, penguasa gunung


larangan itu sekarang sudah musnah dan tidak akan kembali


"Besok saja kamu pergi dan cari informasi sebanyak mungkin, malam ini sangat mencekam sekali dan sepertinya alam sedang marah kepada kita, lebih


baik kamu tetap di rumah saja malam ini, jangan kemana-mana," ibunya menasihati Rio.


Setelah itu Rio memutuskan untuk tidur saja karena besok dia harus segera mencari tahu apa yang terjadi kepada penguasa gunung larangan sampai ada manusia yang bisa lolos dari cengkramannya, dia tidur dengan sangat nyenyak sekali sampai dia tidak mendengar lagi suara petir di luar.


"Manusia jahat kamu Rio," teriak hantu pendaki itu.


"Kamu akan mendapatkan karma dari perbuatan terkutuk kamu itu, bahkan kamu akan merasakan lebih sakit lagi dari ini, tunggu saja karma mu" hantu pendaki itu berteriak di depan Rio.


"Tidak, kalian semua sudah mati pergi kalian dari sini dan jangan pernah datang lagi, pergi," Rio berlari karena dia dikejar oleh keempat hantu pendaki.


Dia adalah teman Rio sendiri, keempat hantu pendaki itu terus mengejar Rio sampai dia kehabisan tenaga, selama ini penguasa gunung larangan dan sesembahannya selalu saja melindungi dirinya dari gangguan arwah yang ingin balas dendam kepada dirinya.


"Tidak, kalian itu sudah mati jadi tidak seharusnya kalian ada disini, pergi kalian atau penguasa gunung larangan akan menghukum kalian lebih parah lagi" dia menggertak hantu pendaki agar berhenti mengejar dirinya.


"Hahaha. panggil Junjungan kamu itu dan minta bantuan kepada dia, karena dia sekarang sudah mati dan sudah lenyap dari muka bumi ini. Sekarang dia tidak akan bisa melindungi kamu lagi," mereka berempat tertawa bersama-sama.


Mereka menertawakan ketidakberdayaan Rio saat ini, mereka senang melihat Rio seperti itu, karena itu artinya dia akan segera mendapatkan balasan dari semua perbuatannya selama ini.


"Tidak mungkin, dia tidak akan bisa mati karena dia itu abadi, justru kalian yang sudah mati dan kalian pantas mendapatkan itu semua, kalian yang jahat karena kalian hanya memanfaatkan aku saja, pertemanan kalian itu hanya palsu," Rio berteriak

__ADS_1


kepada mereka.


Tapi kita tidak sejahat kamu yang tega membunuh banyak manusia hanya demi kepuasan kamu semata, kamu memang bukan manusia, kamu seperti binatang yang tidak memiliki hati," teriaknya di depan Rio.


Rio tidak bisa berbuat apa-apa karena sekarang keempat hantu pendaki sudah ada di depannya, dia juga sudah tidak bisa lari kemanapun karena mereka tentu saja lebih cepat dan di belakang Rio adalah jurang yang sangat dalam.


Jadi dia tidak mungkin untuk mundur walaupun hanya selangkah, kini dia hanya bisa menatap keempat mantan sahabatnya yang sengaja dia


tumbalkan untuk penguasa gunung larangan.


"Manusia serakah, kamu akan segera mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan," teriak


mereka lagi.


"Tidak, maafkan aku. Aku terlanjur sakit hati kepada kalian, kalau saja waktu itu kalian tidak memanfaatkan aku dan tulus berteman denganku pasti aku juga tidak akan setega itu kepada kalian," Rio hanya bisa menangis dan meminta maaf.


"Tidak ada kata maaf untuk seorang pembunuh seperti kamu, kita akan membunuh kamu sekarang juga'' mereka semua tertawa puas melihat penderitaan Rio.


"Tidak tolong jangan. Maafkan aku, aku tahu kalau aku salah," Rio menangis.


Tapi itu semua tidak membuat hantu pendaki itu luluh, dia mendorong Rio ke jurang hingga rio terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam.


"Aaaaaaaa" teriak Rio.


"Rio, ada apa Rio. Kenapa kamu nak ada apa sampai kamu berteriak seperti itu," ibunya yang kaget saat


mendengar Rio yang tiba-tiba berteriak langsung membangunkan Rio.


Rio langsung terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal, dia seperti habis lari jauh dan dia sangat ketakutan, terlihat sekali dari cara dia menatap ibunya.


"Aku takut Bu," ucapnya sambil memeluk sang ibu.


"Cerita nak, ada apa sebenarnya," ibunya terlihat khawatir.


"Tadi aku bermimpi kalau aku ada di gunung larangan, disana aku dikejar oleh teman-teman ku yang waktu itu aku tinggal di gunung larangan, dan mereka datang untuk membalas dendam kepada


aku," Rio masih syok dengan mimpinya itu.

__ADS_1


__ADS_2