Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 53


__ADS_3

Kembali ketempat Andi dan sasa.


POV Andi.


Ternyata kami tidur sangat pulas dan tidak ada gangguan sama sekali karena Yanti masih setia menunggu dan menjaga kamu dari atas pohon itu.


"Udah pagi ternyata, enak banget aku tidurnya badanku yang tadinya capek-capek sekarang sudah enakan, rasa lelah seketika hilang saat bangun


tidur" aku meregangkan otot-otot ku.


Dan saat aku melihat ke samping ternyata Sasa masih tidur dengan pulas dan dia belum bangun dari tidur nya yang sangat nyenyak itu, aku diam-diam


memandangi wajahnya yang terlihat sangat cantik ketika dia sedang tidur, wajah itu yang membuat aku


bertahun-tahun tergila-gila olehnya, dan gara-gara wajah itu aku sampai sekarang belum juga punya pacar karena hanya ada dua di hatiku sedangkan dia sudah berkali-kali memililki pacar walaupun


pada akhirnya pasti dia akan disakiti,bmungkin memang jodohnya adalah diriku bukan yang lain dan aku akan terus berusaha untuk menunggunya.


Aku hanya bisa berdoa semoga saja kita bisa berjodoh dan kita bisa bersama selamanya, aku akan tetap sabar menunggu saat-saat itu terjadi.


"Aduh" seperti ada yang melempari aku dari atas dan saat aku mendongak ke atas ternyata si Yanti yang melempari aku dengan batu kecil, aku lupa kalau


dia ada di atas sana


"Apaan sih Lo, nimpukin orang sembarangan sakit tau" aku mengelus kepala ku yang ditimpuk oleh Yanti.


"Ngapain kamu lihatin cewek itu terus" ucapnya judes lalu dia melesat turun ke bawah dan tiba-tiba sudah ada di depanku.


"Gak jelas banget sih jadi kuntilanak, siapa juga yang lihatin Sasa, Orang gue cuma mau memastikan


apakah dia benar-benar masih bernafas atau tidak" ucapku ngeles.


"Awas ya kalau kamu lihatin dia lagi, aku akan colok mata kamu pakai kedua tangan ku ini" Yanti sambil melotot ke arah ku.


"Galak banget sih jadi kuntilanak" ucapku kesal dan Sasa mungkin mendengar perdebatan aku dan Yanti karena dia langsung terbangun dari tidurnya, sungguh dia terlihat sangat cantik sekali ketika bangun tidur.


"Apaan sih kalian berdua ini, pagi-pagi sudah ribut aja ganggu orang tidur tau" Sasa masih mengucek kedua matanya.

__ADS_1


"Siapa juga yang ribut orang kita lagi pacaran" Sari menggandeng tanganku.


Sasa melirik aku tanda tidak suka, buktinya dia langsung melengos apakah Sasa cemburu dengan Yanti, aku malah justru tersenyum di dalam hati, seneng banget melihat dia memasang ekspresi


seperti itu.


"Kalau mau berisik jangan disini ganggu orang tidur, sana agak menjauh" dia mendorong aku dan Yanti pelan.


"Heh manusia, ini itu udah jam berapa, jangan keenakan tidur deh kamu kira ini rumah kamu dan kamu kira ini tempat tidur kamu melek dong ini di


hutan enak aja mau tidur lagi" Yanti memarahi Sasa.


"'Suka-suka gue dong lagian Lo itu siapa mau ngatur-ngatur gue segala" Sasa membantah ucapan Yanti.


"Lo mau ngajakin berantem lagi apa, ayo kalo gitu" tantang Sasa.


"Udah gak usah berantem terus, kalian ini masih aja berantem udah ayo kita lanjutin perjalanan dan kita harus menemukan Gilang, Heni, dan Anton" aku


memisahkan mereka berdua.


Mereka berdua langsung terdiam tanpa sepatah kata pun, aku senang karena mereka berdua sama sekali tidak membantah ucapan ku kali ini.


"Kita cari makan yuk'" ucap Sasa.


"Iya ayo kita cari sesuatu yang bisa kita makan biar kita tidak kelaparan dan kita bisa punya tenaga untuk berjalan jauh" kataku dan di balas anggukan oleh Sasa.


Kita melanjutkan perjalanan untuk mencari teman-teman kita, kali ini aku sangat berharap kalau kita bisa segera menemukan mereka karena kita sudah tiga hari berada di tempat ini, dan kita


harus segera pulang karena orang tua kita pasti sangat mengkhawatirkan keadaan kita semua.


"Yanti kemana lagi kita harus berjalan" aku bertanya pada Yanti karena dia yang tau arahnya.


"Kita ke arah sana saja, karena dalam penerawangan ku teman-tenman kalian ada di sebelah sana" dia menunjuk ke sebuah arah.


"Oke kita kesana dan dalam perjalanan kita juga harus mencari makan untuk mengganjal perut kita


yang sebentar lagi pasti akan lapar" ucapku karena kasihan Sasa kalau dia tidak makan pasti dia akan kelaparan.

__ADS_1


"Makan terus sih kalian manusia malah" Yanti meledek kami.


"Emang kamu gak pernah makan" aku bertanya pada Yanti.


"Makann sih, tapi gak sesering kalian sehari harus tiga kali" jawabnya enteng.


"Iya lah, Lo kan kuntilanak gak perlu jalan kaki dan gak pernah ngapa-ngapain jadi pasti jarang makan,


sedangkan kita manusia mau kemanapun harus jalan kaki dulu mau ambil apapun juga harus jalan dulu, kita perlu tenaga yang banyak tau biar kita bisa sehat dan bisa ngelakuin apapun dengan mudah" bantah Sasa.


"Ngeles aja sih kamu" Yanti gak mau kalah.


"Udah lah, nanti kalian malah berantem lagi sekarang kita harus fokus pada tujuan kita, jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh lagi deh kalian" aku memisahkan mereka berdua sebelum mereka berdebat lagi seperti tadi.


"Temen kamu nih ngeselin banget" ucap Yanti dengan manja.


"Gak usah sok cantik deh Lo, sok manja banget sih" ledek Sasa saat yanti berkata manja padaku.


Aku sudah tau pasti mereka berdua akan mulai lagi, pasti akan berantem lagi, dipisahkan juga percuma banget karena mereka masalah dikit aja bisa


jadi bahan untuk mereka berantem.


"Udah ayo fokus jalan lagi jangan pada berantem terus, capek aku dengerin kalian berdua berantem aja


terus" aku menutup kedua telinga ku.


"Itu resiko bawa kuntilanak" ucap Sasa ketus.


"Heh, kalau gak ada aku kamu juga gak akan ada disini" yanti membantah Omongan Sasa.


"Udah ayo jalan" aku menggandeng tangan mnereka berdua agar mereka cepat diam dan mau melanjutkan perjalanan dan berhenti berdebat.


"Romantis banget sih kamu, pakai gandeng tangan aku segala kan aku jadi malu sama kamu" yanti malah memulai lagi.


"Udah diam, aku juga menggandeng tangan Sasa bukan cuma kamu biar kalian berdua cepat diam dan mau melanjutlkan perjalanan lagi, ingat perjalanan kita masih sangat jauh jangan sampai kita terlambat


menyelamatkan Anton" ucapku sambil terus menarik tangan mereka berdua.

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya saling diam dan tidak berbicara lagi, aku sedikit lega karena tidak mendengarkan suara mereka saat berantenm, karena itu juga bisa bahaya buat kita bisa-bisa hantu pendaki itu tau keberadaan kita disini.


"Apa kamu benar-benar yakin kalau teman-teman ku ada di sebelah sini, kamu gak salah kan" aku bertanya pada Yanti dan memastikan kebenarannya.


__ADS_2