
Dengan sekali pukulan kakek Gilang terluka, dia tidak sadar kalau di belakangnya ada jin yang bersiap untuk memukulnya, Anton yang melihat itu sangat kaget dan tubuh si kakek terhuyung ke belakang bahkan hampir saja jatuh, untung Anton dengan sigap menangkap tubuh renta itu.
"Kek, apa kakek baik-baik saja katakan sesuatu kek, Anton harus berbuat apa untuk menyelamatkan kakek, ayo bangun kek, jangan seperti ini" Anton menggoyang tubuh si kakek agar kakek sadar.
Si kakek langsung sadar, dan setelah sadar kakek merasakan sakit ditubuhnya karena jin itu memukul
kakek dengan cukup keras jadi kakek pasti kesakitan.
"Cu, kakek tidak apa-apa mungkin kakek hanya butuh waktu untuk istirahat sebentar, nanti pasti luka ini
akan sembuh dengan sendirinya, tolong kamu ambilkan air yang kakek gunakan untuk menyembuhkan Gilang tadi"' kakek memberikan perintalh kepada Anton untuk mencari air saktinya.
"Baik kek, kakek tunggu saja disini karena Anton akan segera kembali dengan membawa air yang kakek maksud, istirahat saja disini jangan kemana-mana kek" Anton merebahkan tubuh si kakek.
Gilang masih fokus untuk menghabisi seluruh jin jahat yang telah menghalangi dia sampai dia tidak menyadari kalau kakeknya sedang terluka, mungkin kalau Gilang tau dia akan langsung membunuh
mereka semua dengan satu pukulan.
"Ini kek, sekarang kakek minum dulu, Anton akan pergi kesana untuk membantu Gilang mengalahkan mereka" Anton meminumkan air itu ke mulut si kakek.
Dengan usaha yang sangat berat dan melelahkan akhirnya Anton dan Gilang sudah berhasil mengalahkan semua jin jahat itu, dan Heru langsung berubah menjadi manusia biasa, sekarang pintu sudah terlihat dan mereka sudah bisa kembali keluar.
"Akhirnya, oh iya mana kakek kenapa kakek tidak ada disekitar sini" tanya Gilang sambil celingukan mencari kakeknya.
"Itu kakek ada disana," Gilang melihat kakek dengan senyum, lalu dia menghampirinya.
"Oh iya Ton, kamu keluar saja dulu" Anton langsung mengangguk dan segera keluar karena dia juga harus memastilkan keadaan diluar.
Tanpa disadari waktu hanya tinggal lima menit lagi, Gilang berjalan menghampiri kakeknya dan menuntun Kakek untuk keluar dan saat akan sampai di pintu keluar Anton mendapatkan serangan secara tiba-tiba.
"Gilang" Anton menjerit saat melihat Gilang terlempar dan pintu langsung tertutup.
Anton menangis histeris saat melihat Gilang kembali masuk ke alam gaib, dia bingung dan tidak tahu harus berbuat apalagi karena dia sudah terlanjur
__ADS_1
keluar dari alam gaib, Anton mencoba berjalan kembali ketempat walktu dia masuk ke alam gaib tapi hasilnya nihil, dia tidak bisa keluar lagi, entah apalagi yang harus dia lakukan.
Akhirnya Anton bersandar dibawah pohon yang cukup besar, dia masih menangis karena kepikiran dengan nasib Gilang yang masih belum bisa keluar, lalu dengan hati yang masih syok dia berdoa dan menatap langit.
"Tuhan, sudah cukup kesusahan yang selama ini kami lakukan, kami ketempat ini juga bukan untuk merusak alam ciptaan mu, tolong bantu kami dan
lindungi Gilang sahabat ku, karena Gilang orang baik dia tidak pantas mendapatkan hukuman dari iblis jahat itu, apakah engkau akan membiarkan jin itu menang" Anton berdoa sambil menangis.
Dia semakin kebingungan karena tidak tau harus berbuat apa, Anton hanya berteriak dan memanggil nama Gilang, tapi percuma karena Anton tidak akan
pernah bisa mendengar suaranya.
Tiba-tiba terdengar suara letusan yang sangat kencang hingga membuat tanah bergetar.
"Dooorr"
"Hah suara apa itu tadi, kenapa sangat kencang sekali, jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi" Anton melihat sekeliling.
"Gilanggg" sedangkan Anton yang mendengar namanya dipanggil langsung menengok kearah suara dan dia langsung berdiri dan berlari kearah suara itu.
"Ya Allah Gilang, aku kira kamu tidak akan pernah bisa kembali karena pintu itu sudabh tertutup, tadi juga aku lihat kamu diseret masuk lagi oleh jin jahat
itu, aku benar-benar takut kalau kamu tidak bisa kembali Gilang" Anton melepas pelukannya.
"Heh, sejak kapan sih Lo jadi cengeng seperti ini, selama tiga tahun kita berteman kayaknya gue belum pernah lihat Lo nangis sampai seperti ini,
udah tenang saja gue baik-baik saja kok'" Gilang tersenyum kearah Anton.
"Apaan sih Lo Her, Lo kita gue ini batu apa gak bisa nangis, siapapun orangnya bahkan sekuat apapun
manusia pasti ada masanya dia bisa menangis, gimana sih kan gue juga manusia" Anton menghapus air matanya.
Lalu mereka berdua tertawa bersama, saking senangnya bisa melewati satu cobaan lagi, tapi mereka sadar kalau mereka masih harus berjuang untuk keluar dari gunung larangan ini, pasti akan ada cobaan dan masalah yang lebih besar lagi dari ini
__ADS_1
dan sebelumnya.
Mereka hanya bisa saling menguatkan satu sama lain dan saling melindungi, itulah gunanya sahabat,
apalagi saat ini mereka menghadapi masalah yang sama di gunung larangan ini.
Si kakek belum juga kelihatan batang hidungnya, entah dimana kakek sekarang, Anton juga celingukan mencari keberadaan si kakek yang tidak balik
bersama Gilang, apalagi terakhir mereka bertemu kakek sedang terluka.
"Oh ya Lang, dimana kakek kok kamu gak balik sama dia sih, apa kakek baik-baik saja, karena tadi dia sedang terluka apa kakek baik-baik saja sekarang?" Anton bertanya kepada Gilang.
"Oh iya, kakek aman kok dan memang kakek itu cuma datang saat kita dalam babaya, jadi karena sekarang kita sudah aman jadi kakek pergi ke tempatnya" Gilang menjelaskan.
"Emang siapa sih sebenarnya si kakek itu, gue tuh masih penasaran sama dia karena dia itu sangat sakti, nih Lo lihat tangan gue yang tadinya terluka
dan memar langsung sembuh saat dipegang sama si kakek tau gak" sambil menunjukkan tangannya kepada Gilang.
"Hebat banget ya berarti kakek itu, dia juga kan yang menyembuhkan gue tadi waktu pingsan" Gilang malah balik bertanya.
"Iya, itu juga dia mangkanya gue tuh penasaran banget tau, si kakek baik banget lagi, bahkan gue gak bisa bayangin gimana nasib kita tadi kalau tidak ada dia" Anton masih penasaran dengan kakek.
Gilang memang tidak menceritakan siapa kakek itu sebenarnya, entah apa tujuannya dia masih menyembunyikan kalau si kakek adalah kakek buyutnya Gilang, padahal Anton juga sudah melihat
kakek. Atau mungkin memang belum saatnya Gilang bicara jujur dengan teman-temannya, dia juga pasti akan sangat bingung gimana cara menjelaskan kalau mereka bertanya lagi kenapa Gilang bisa berubah menjadi harimau putih karena itu pasti sangat
tidak masuk akal untuk mereka semua.
Setelah memastikan keadaan mereka baik-baik saja, Gilang langsung mengajak Gilang untuk mencari
teman-teman mereka yang lain, agar mereka bisa segera berkumpul dan memutuskan cara agar mereka bisa keluar dari gunung larangan.
Sebenarnya Gilang sudah bicara dengan kakek dan dia harus menyelamatkan hantu pendaki itu,
__ADS_1
bagaimanapun Gilang kasian dengan mereka karena hantu pendaki itu juga korban, sama seperti dia dan
teman-temannya, sekarang yang ada dalam pikiran Gilang hanya bagaimana caranya agar dia bisa menyampaikan pikiran dia ini kepada teman-teman nya, dan apakah mereka setuju atau tidak karena ini memang cukup beresiko untuk mereka.