
"Apapun kamu lakukan asal itu yang terbaik untuk Sasa aku akan selalu percaya sama kamu" aku menatap wajah Yanti berharap dia serius ingin membantu Sasa.
"Ayo kamnu juga harus cepat biar kita bisa cepat sampai ke tujuan" Yanti meneriaki aku dari atas.
Aku berlari mengejar Yanti yang membopong tubuh Sasa, aku berharap Sasa bisa segera sadar karena kita masih punya tugas untuk menolong teman-teman kita yang lain.
Aku seperti mengingat beberapa hari yang lalu, waktu itu Yanti juga yang membopong tubuh Sasa saat dia pingsan karena kecapekan dan sekarang hal itu terulang kembali saat ini aku sangat bimbang, mana mungkin Yanti tega membunuh hantu pendaki itu sedangkan aku lihat Yanti sangat baik kepada kami, kalau pun dia ingin mencelakai kami seharusnya dia bisa melakukannya sekarang karena Sasa sudah ada di tangannya seharusnya dia
bisa menjatuhkan Sasa dari atas kalau memang dia ingin mencelakai kami, tapi buktinya Yanti tidak melakukannya itu berarti dia memang tidak mempunyai niat jahat sama sekali kepada aku dan
Sasa.
"Aku tidak boleh meragukan Yanti lagi dan aku harus yakin kalau Yanti memang sangat baik buktinya dia mau menolong kami dan dia juga di serang oleh jin jahat gara-gara Yanti menolong kami, jadi aku harus yakin dengan kebaikan Yanti" aku bermonolog.
Aku masih terus berlari sampai ngos-ngosan berharap Yanti cepat berhenti karena alku sudah sangat lelah sekali, aku capek karena harus berlari
dari tadi, tapi harapanku sia-sia karena Yanti malah terbang dengan cepat tanpa melihat kebawah sama sekali aku sampai kualahan dalam mengejarnya
aku takut dia semakin cepat dan bisa-bisa aku tertinggal di belakang.
Jangan sampai itu terjadi karena kalau sampai aku ketinggalan jejak Yanti bisa-bisa aku tersesat di hutan yang sangat angker ini, dan hutan ini sangat
berbahaya karena para hantu pendaki itu mereka tinggal disini, jadi aku takut kalau tertangkap oleh mereka semua bisa-bisa bahaya dan aku tidak mau mati sia-sia di gunung larangan ini, masih banyak yang belum aku lakukan dalam hidupku, cita-cita ku juga masih menjadi angan-angan saja dan aku belum bisa memenuhinya.
"Lagian si Gilang juga ngapain sih di sini, kenapa dia malah mendekati sarang hantu pendaki, harusnya kan dia malah menjauhinya bukan malah mendekati
sarang mereka, cari mati memang si Gilang ini ngeselin banget sih dia" aku merasa kesal pada Gilang kenapa dia malah mendekati sarang dari hantu pendaki itu.
__ADS_1
"Yanti apa tempatnya masih jauh, aku sudah sangat lelah, kakiku juga udah ngilu ini lari terus dari tadi" aku meneriaki Yanti yang masih terbang di atas.
"Bentar lagi lagian jadi cowok lemah banget sih baru lari sebentar aja sudah capek, usaha dikit dong Sasa kan teman kamu" dia malah mengejekku.
Aku merasa kesal dengan ucapan Yanti karena gampang banget itu mulutnya bilang kalau aku baru lagi bentar aja capek, padahal semua manusia kalau habis lari pasti kan capek juga, padahal tadi kita sudah lari cukup jauh.
"Ya kamu gak akan capek orang kamu terbang gak pakai kaki jadi kamu gak akan capek sedangkan aku lari dari tadi ya pastinya capek lah" aku memarahi Yanti.
Tidak lama setelabh itu Yanti turun ke bawah dan itu artinya kita sudah sampai di tempat yang aman untuk kita istirahat, dan aku sangat bersyukur dan sangat senang karena akhirnya aku bisa
beristirahat sebentar saja untuk meluruskan kaki yang sudabh sangat lelah.
Rasanya kaki ku sangat sakit saking lelahnya tadi saat berlari, tadi aku berlari sangat kencang dan tidak berhenti sama sekali karena Yanti terbang
dengan cepat jadi aku takut kalau tertinggal oleh Yanti.
"Akhirnya aku bisa istirahat juga, capek banget deh rasanya bikin kaki ku sakit" aku meluruskan kakiku, waktu di sekolah guru olahraga ku selalu bilang
bandel.
"Kamu baru begitu saja capek, aku yang sambil bolong Sasa saja tidak capek sama sekali, dasar lemah kamu, laki-laki kok seperti itu sih" Yanti terus saja mengejekku.
"Halah orang kamu terbang kok, kalau saja aku terbang aku juga tidak akan kelelahan seperti ini" bela ku aku tidak mau kalah enak saja dia
mengejekku padahal aku berlari tidak terbang.
"Halah alasan saja kamu, bilang saja kalau kamu laki-laki yang lemah" dia masih mengejekku.
__ADS_1
"Terseralh kamu saja lah Yanti aku capek mau istirahat dulu disini, nih kamu lihat nafasku ngos-ngosan belum stabil ini, nanti kalau nafasku sudah lancar lagi baru kamu ngajak debat lagi
ya" aku memang sangat lelah sekali.
Andai saja aku bisa terbang seperti Yanti pasti aku tidak akan lelah seperti ini, dan kalau aku bisa terbang pasti dengan sangat mudah aku akan menemukan Gilang dan Heni, karena dengan terbang
bisa lebih cepat dan juga dari atas pasti bisa melihat dengan jelas area hutan ini jadi Gilang pasti akan cepat ketemu.
Aku melihat Yantii menidurkan tubuh Sasa yang masih lemas itu, terlihat Yanti sangat ikhlas melakukan nya, dia meletakkan tubuh Sasa dengan sangat hati-hati, aku melihatnya tanpa berkedip
sama sekali, betapa baiknya Yanti kepada kami, dan apakah pantas Yanti di curigai.
"Apa setelah melihat ini semua aku masih harus menanyakan kepada Yanti tentang kematian hantu pendaki itu, padahal sudah sangat jelas di depan mata kalau Sari sangat baik kepada kami berdua bahkan dia juga memperlakukan Sasa dengan sangat baik sekali jadi Yanti tidak pantas di curigai" aku berkata dalam hati.
Justru sekarang aku semakin bimbang, haruskah aku mengatakan semua kepada Yanti, apakah aku harus
menceritakan apa saja yang dikatakan oleh jin yang tadi merasuki tubuh Sasa.
Aku jadi semakin bimbang.
"Gimana keadaan Sasa, apa kita bisa menyembuhkan dia" aku mengalihkanbpikiran ku dengan menanyakan keadaan Sasa Kepada Yanti.
"Ya Sasa sudah semakin membaik, dia pasti akan segera sembuh tapi separuh sukmanya sudah di tahan oleh mereka, jin jahat yang selalu mengincar
manusia" Yanti tertunduk saat mengucapkan kata-kata itu.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana Yanti apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Sasa dan
__ADS_1
membuat dia sadar dengan sepenuhnya" wajah Yanti juga terlihat bingung sama seperti yang aku rasakan saat ini.
"Kamu istirahat saja nanti, nanti kita pikirkan sama-sama karena kita saat ini butuh tenaga yang cukup banyak untuk menghadapi ini semua" Yanti langsung duduk di sebelah Sasa.