Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 67


__ADS_3

Lanjutan...


Aku senang sekali karena Sasa sudah mau mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Yanti, karena Yanti memang mengucapkan yang terbaik untuk aku


dan Sasa.


"Iya Sa kamu sangat benar, pokoknya apapun yang terjadi kita tidak boleh menyerah apalagi hanya menangis tidak ada gunanya sama sekali untuk


keselamatan kita" aku menenangkan Sasa agar dia tidak merasa bersalah lagi seperti tadi.


Wajar saja Sasa menangis karena siapapun yang berada di posisi seperti aku dan Sasa tidak akan bisa tenang dan akan terus menangis meratapi nasibnya,


tapi kalau kita terus berlarut-larut dalam tangis maka itu semua tidak ada artinya sama sekali, karena menangis tidak akan menyelesaikan masalah, lebih baik kita bangun dan berpikir jernih untuk menyelesaikan semua masalah yang ada di dalam hidup kita.


Untung saja Sasa anaknya pemberani jadi walaupun dia menangis tapi masih ada sedikit keberanian dalam dirinya yang membuat dia mampu bertahan


sampai saat ini, dan dia mau berjuang bersama sampai detik ini, itu saja sudah cukup untukku dan aku akan selalu menjaga Sasa semampuku.


Dan aku tidak akan pernah membiarkan apapun terjadi kepada Sasa, karena aku sangat menyayangi dia sampai kapanpun aku akan menjaganya, entah rasa ku ini terbalaskan atau tidak tapi aku akan terus berusaha melakukan yang terbaik untuk dia.


Walau apapun resikonya aku akan selalu menyimpan rasa ini untuknya, tapi aku masih berharap suatu saat nanti aku akan bisa memilikinya.


"Heh, jangan bengong kan tadi Yanti sudah memperingatkan kita untuk tidak melamun, kan tempat ini berbahaya" aku di kagetkan dengan suara Sasa yang tiba-tiba, sambil menepuk pundak ku.


"Pasti kamu melamun sambil mikirin aku kan Ndi, aku tau kok dan itu pasti tidak salah lagi" Yanti tersenyum sambil melihatku.


Mulai lagi deh si Yanti Padahal sepanjang perjalanan ini dia sudah mulai serius, aku kira sikapnya yang


nyebelin itu sudah pergi ternyata aku salah dia malah memulai lagi sikapnya yang nyebelin itu.

__ADS_1


"Apa sih Yan, ini gak ada hubungannya sama sekali sama kamu tau gak, jadi gak usah kepedean deh


kamu, ngapain juga aku ngelamun mikirin kamu" aku mendengus kesal karena setiap yang aku lakukan pasti di hubungkan dengan Yanti.


"Kok kamu malu-malu gitu sih buat ngakuin, gak papa kok sayang" Yanti berkedip sambil menengok ke belakang menghadap wajahku karena memang


posisiku berada di paling belakang.


"Udah Yan kamu fokus pada jalan saja, jangan sampai kita tersesat dan jangan sampai kita salah jalan karena itu akan membuat kita membuang waktu yang sangat berharga ini" aku menasihati Yanti agar dia tetap fokus pada tujuan kami.


"Iya iya, aku akan selalu fokus demi kamu kok sayang" Yanti malah menggodaku membuat aku tambah kesal.


Tapi aku harus selalu bersabar menghadapi si Yanti karena kalau tidak dia bisa marah dan bahkan dia tidak akan mau membantu aku dan Sasa lagi kalau sampai itu terjadi bisa bahaya sekali.


"Udah Yan, ayo kita jalan terus biar cepat sampai" aku menyuruh Yanti untuk berjalan lagi, aku tidak mau kalau kita akan membuang-buang waktu saat ini.


Jujur aku sangat takut kalau Gilang tertangkap oleh hantu pendaki itu, apalagi Antonyang masih terjebak di alam lain membuatku semakin pusing bahkan


kemungkinan besar kalau Gilang juga terpisah dari Heni, aku hanya bisa berdoa semoga mereka semnua baik-baikbsaja saat ini dan semoga kita semua bisa segera berkumpul kembali seperti


semula.


Aku tau kalau Sasa juga sedang memikirkan nasib Heni apalagi mereka sangat dekat dibandingkan dengan kita bertiga aku juga tau kalau Sasa selalu


curhat masalah hidupnya dengan Heni, makanya dia pasti takut sahabatnya itu kenapa-napa, padahal aku juga sama khawatir nya dengan dia, bahkan aku


tidak bisa membayangkan bagaimana kalau aku tidak bersama Sasa pasti aku akan sangat mengkhawatirkan keadaan dia.


Bisa-bisa aku kalut sendiri dan tidak bisa berpikir dengan jernih saat tidak bersama Sasa, karena saat ini Sasa adalah salah satu semangat ku, yang membuat aku selalu yakin untuk bisa keluar dari

__ADS_1


gunung larangan ini dengan selamat.


"Yan, di depan ada jalan bercabang kamu tahu kan jalan mana yang akan kita lewati" Sasa bertanya kepada Yanti.


"Dimana ada jalan bercabang Sa, kok aku gak lihat sama sekali, ini kan jalannya lurus dan tidak ada jalan lain selain jalan lurus ini sedangkan kanan kiri hanya pohon" aku bingung saat Sasa bilang ada jalan bercabang karena aku sama sekali tidak melihatnya.


"Fokus Sa jangan terkecoh bukankah aku dari tadi sudah bilang kalau kita harus fokus tidak boleh


lengah, coba kamu tenangkan dirimu lalu kamu lihat lagi di depan sana tidak ada jalan bercabang sama sekali" Yanti menatap Sasa meyakinkan bahwa Sasa


sedang salah lihat karena aku sendiri tidak melihatnya.


"Maksudnya Sasa sedang terperangkap dengan tipu daya mereka" aku bertanya kepada Yanti untuk


memastikan semuanya.


"Iya makanya kan dari awal aku sudah bilang kalian jangan pernah lengah, apalagi kosong, kalau tidak


mereka akan menyerang kalian karena mereka tidak suka kalian berada di tempat ini, mereka akan melakukan apapun agar kalian terperangkap" Yanti menjelaskan kepada aku dan Sasa.


"Coba kamu perhatikan apa yang dilihat Sasa itu" Yanti menunjuk ke arah yang tadi Sasa tunjuk.


Aku memperhatikan apa yang tadi di lihat oleh Sasa, dan aku sangat terkejut saat melihat yang Sasa bilang jalan tadi sebenarnya adalah jurang, walaupun


tidak terlalu dalam tapi di bawahnya adalah bebatuan kecil jadi jika ada manusia yang terjatuh akan langsung berpindah alam seketika.


"Itu jalan Ndi, aku lihat dengan jelas kalau itu adalah jalan, jalannya sangat bagus Ndu kita lewat sana saja ya kayaknya kita akan segera sampai kalau


kita lewat situ" Sasa masih menunjuk jurang itu dan dia masih melihat kalau itu jalan bahkan dia bilang jalan itu sangat bagus.

__ADS_1


Pasti ada yang tidak beres dan pasti benar apa yang dikatakan oleh Yanti kalau Sasa sekarang sedang masuk ke dalam tipu daya mereka, untung saja hanya Sasa sedangkan aku tidak melihatnya kalau sampai kita semua terperangkap pasti kita akan melewati jalan yang ditunjuk oleh Sasa yang ternyata itu adalah jurang yang penuh dengan batu-batu besar, aku melihatnya saja sudah bergidik ngeri apalagi mendekatinya pasti aku tidak akan berani sama sekali.


__ADS_2