
Di tempat lain teman-teman Gilang sedang gelisah karena sudah terlalu lama mereka menunggu Gilang tapi belum juga ada hasil, apa lagi sebentar
lagi akan menjelang sore, jadi waktu Gilang sudah semakin sedikit tapi belum ada kabar juga dari Gilang.
"Gimana nih Gilang belum juga kembali apa yang harus kita lakukan sekarang, apa kita harus menyusul Gilang aja ya" ucap Sasa yang sudah sangat gelisah.
"Gimana caranya kita nyusul Gilang, kamu lupa kan Yanti bilang yang bisa melihat pintu untuk masuk kedalam alam gaib ya cuma Gilang, mana mungkin
kita nyusul Gilang sedangkan kita sendiri tidak tau dimana pintu itu berada" Andi kesal dengan omongan Sasa.
"Ya habisnya gimana lagi kita harus apa sekarang ini, aku khawatir banget sama Gilang, lihat itu apinya sudah semakin kecil aku khawatir kalau Gilang tidak selamat" Sasa malah menangis.
"Yanti kemana ya, kita butuh banget bantuan Yanti sekarang ini, kenapa dia tidak juga datang ketempat ini" Andi celingukan mencari keberadaan Yanti.
Sampai sekarang Yanti memang belum kembali, entah urusan apa yang Yanti maksud padahal saat ini hanya Yanti harapan mereka yang bisa membantu
Gilang dan Anton.
Dari kejauhan mereka mendengar suara langkah kaki, entah siapa sebenarnya tapi mereka mengira kalau
itu adalah suara langkah kaki dari Yanti, karena biasanya Yanti yang datang.
"Kalian dengar gak itu ada suara langkah kaki, darimana ya asalnya, terus siapa ya, apa jangan-jangan itu Yanti bersama Gilang dan Anton" ucap Heni sambil tersenyum.
"Wah, iya aku juga dengar dan semoga itu memang suara Gilang dan Anton bersama Yanti" jawab Sasa yang menghapus air matanya.
Mereka sangat senang karena mereka mengira itu sahabat mereka yang sudah kembali, tapi mereka lupa kalau mereka masih berada di gunung larangan yang penghuninya masih terus mengincar mereka.
"Hahaha. Itu mereka ada disini sekarang juga kita tangkap mereka dan bawa mereka ke markas kita" ternyata itu adalah hantu pendaki yang sudah
mengetahui keberadaan mereka semua.
__ADS_1
"Itu hantu pendaki, tapi bagaimana mungkin mereka bisa menemukan kita, bukankah Yanti bilang kalau tempat ini aman dan mereka tidakakan mengetahui keberadaan kita" Heni sangat ketakutan saat melihat hantu pendaki itu.
"Hahaha, apa kamu bilang Yanti, asal kalian semua tahu ya Yanti itu bagian dari kita dan dia selama ini hanya berpura-pura baik didepan kalian agar
dia bisa membantu kami untuk menangkap kalian semua" lalu mereka semua tertawa sangat senang.
Tidak mungkin, aku tidak percaya dengan ucapan kalian, Yanti itu sahabat kami jadi dia tidak akan tega melakukan semua itu" teriak Sasa kesal.
"Heh manusia bodoh, justru Yanti yang telah menyesatkan kalian semua, dia juga yang membuat kalian terpisah dan ternyata usaha Yanti gagal karena kalian kembali bertemu, tapi Yanti membawa kalian kesini agar kita lebih cepat menangkap kalian" teriak hantu pendaki itu sambil menunjuk Sasa.
"Kami tidak akan pernah mendengar omong kosong kalian itu, kalian memang jahat jadi kalian tidak
perlu membawa nama Yanti alam kejahatan kalian, paham kalian" kali ini Andi yang menjawab omongan mereka.
Andi dan Sasa tentu saja tidak akan langsung percaya dengan apa yang diucapkan oleh hantu pendaki itu, karena mereka sudah sangat dekat
dengan Yanti bahkan sudah menganggap Yanti sebagai sahabat mereka sendiri.
Mereka bertiga sangat kaget saat melihat Yantj sudah berubah menjadi kuntilanak seperti pertama kali Andi bertemu dengan dia.
Selama ini memang Yanti berubah menjadi manusia biasa yang selalu mengikuti kemanapun mereka berada dan hanya Andi dan Sasa yang pernah
melihat sosok asli dari Yanti.
"Bagus Yan, misi kamu sudah berhasil, lihatlah betapa terkejutnya manusia bodoh ini, karena mereka terlalu mempercayai kamu bahkan mereka lupa kalau kamu adalah salah satu penghuni gunung larangan ini, kamu memang sangat hebat sekali Yanti
sampai berhasil mengelabuhi mereka" mereka kembali tertawa.
Hantu pendaki itu terlihat sangat senang melihat ekspresi wajah Andi dan teman-temannya, sampai mereka selalu tertawa karena mentertawakan
kebodohan Andi dan teman-temannya, sedangkan Yanti hanya diam saja tidak berkata sama sekali bahkan dia hanya menunduk.
__ADS_1
"Yanti, apa yang mereka katakan salah kan Yan, kamu bukan seperti itu kan ayo Yanti jawab jangan hanya diam saja, aku masih yakin kalau kamu masih
sahabat kami kan" Sasa menatap Yanti dalam-dalam sedangkan Yanti masih tetap diam.
Sasa langsung terduduk dan menangis, dia sudah menyadari bahwa memang yang dikatakan oleh hantu pendaki itu benar, buktinya Yantii hanya
diam saja tanpa berkata sepatah katapun, Andi dan Heni yang melihat Sasa seperti itu langsung dengan sigap menyuruh Sasa berdiri dan menghapus air matanya.
"Untuk apa kamu menangisi dia Sa, dia tidak pantas mendapatkan airmata kamu ini, dia bukan sahabat kita sebaiknya kamu hapus air matamu itu,
karena airmata kamu itu terlalu berharga untuk jin jahat seperti dia" Andi langsung menghapus air mata Sasa.
Hantu pendaki yang melihat itu malah tertawa, sedangkan Yantii dia hanya diam saja dan entah apa yang ada dipikiran Sari saat ini, entah dia merasa
bersalah atau malah dia tidak peduli sama sekali.
Andi terlihat sangat marah sekali saat ini, mungkin dia juga sakit hati dengan Yanti, sudah berhari-hari mereka bersama dan Andi juga sudah menganggap Yanti sebagai sahabat dia sendiri.
"Wah wah wah, apa perlu kita disini juga menangis karena terharu dengan persahabatan kalian hah, kita harus tepuk tangan gitu, dengar kalian ini bukan drama sudah lebih baik kita tangkap saja mereka" ucap hantu pendaki itu.
"Heh Yanti gak tau diri ya kamu, dasar jin jahat kamu ya, kamu berpura-pura baik untuk melancarkan
rencana jahat mu itu, ingat kamu tidak akan pernah bahagia Yan karena kamu Sudah membuat sahabatku menangis" teriak Heni dia juga terlihat emosi saat melihat Sasa sahabatnya menangis karena ulah Yanti.
"Yan, Sasa memang selama ini sering berantem sama kamu kalian sering berbeda pendapat dan aku tau itu, tapi dia juga sudah menganggap kamu
sebagai sahabat dia dan bahkan dia sama sekali tidak peduli entah kamu manusia atau bukan, dia tetap menganggap kamu sahabat, jahat sekali
kamu Yanti telah mematahkan hati seseorang" Andi marah sambil menunjuk Yanti.
Apalagi yang akan terjadi dengan mereka setelah ini, mungkin mereka sudah merasa jera dan lelah menghadapi semua ini, tapi apapun itu harus mereka
__ADS_1
terima dengan lapang dada, tidak boleh menyerah karena ini bukan waktunya untuk menyerah dengan keadaan, sudah banyak yang mereka lalui selama 4 hari ini, dan itu yang membuat mereka semakin kuat dalam menghadapi masalah.