
POV Andi
"Ya maaf habisnya aku bingung mau ngapain lagi, dan kayaknya kamu juga udah lelah banget sampai pingsan gitu kan" dia duduk di samping ku.
"Terus kalau tadi kamu kenapa-napa gimana, gue dong nanti yang tanggung jawab kalau di tanya sama teman-teman yang lain, kan lo bareng gue" ucapku masih marah.
Aku memang marah karena Sasa malah pergi sendirian bahkan dalam keadaan kakinya yang masih sakit untuk jalan pun dia masih pincang, aku gak bisa bayangin kalo terjadi apa-apa sama dia pasti gue akan menyesal seumur hidup karena tidak bisa menjaga Sasa dengan baik.
"Udah lah, yang penting sekarang gue udah kembali dan gue gak kenapa-napa, lagian tadi di jalan aman-aman aja kok gak ada gangguan apapun" dia menenangkan aku yang sedang marah.
"Susah banget sih kamu di bilangin" Sasa malah senyam senyum sendiri.
"Ini minum dulu biar badan kamu enakan" dia mengambil kan air untuk ku.
"Jauh gak tadi kamu cari air nya" tanyaku pada Sasa yang menyerahkan air yang di dapatnya tadi.
"Ya lumayan jauh sih" jawabnya dengan enteng.
"Lain kali jangan pergi sendiri lagi ya, kamu gak boleh terpisah dari aku, inget itu" aku memberi peringatan kepada Sasa agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.
"Iya, aku janji" ucapnya lalu dia memegang kening ku.
"Kok badan kamu panas" dia memegang lagi untuk memastikan keadaanku.
"Gak papa kok, paling aku cuma kecapekan aja, nanti juga sembuh sendiri" aku berusaha agar Sasa tidak terlalu khawatir dengan keadaan ku.
"Tapi kamu lagi sakit, pasti kepala kamu juga masih pusing kan" tanyanya lagi.
"Iya" aku mengangguk membenarkan ucapannya.
"Ya udah kita istirahat disini dulu sampai kamu benar-benar sembuh, kayaknya disini tempatnya juga aman karena tertutup pepohonan dan juga semak belukar" Ucap Sasa sambil melihat sekeliling.
"Itu apa yang kamu bungkus" aku melihat bungkusan yang ada di tangannya Sasa.
"Oh, ini ikan tadi aku nangkap ikan di sungai" ucap sasa enteng sambil mengambil ikan yang dia bungkus.
"Kok kamu bisa nangkap ikan" tanyaku penasaran.
"Gampang itu mah, kan waktu kecil aku sering main di sungai dan nangkap ikan bareng teman-teman aku" dia menjelaskan dengan sombongnya.
"Pintar juga ya kamu ternyata" aku tersenyum dan melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Jelas dong, ini ikan sudah aku bersihin tadi di sungai, sudah aku cuci bersih dan untuk aja aku bawa pisau lipat kecil jadi bisa aku pakai buat belah perut ikannya" Sasa menceritakan tentang yang dia lakukan tadi di sungai.
"Pokoknya kamu pintar deh, dapet berapa ikan" tanyaku pada Sasa.
"Nih lihat aku dapet empat ikan yang besar-besar ini bisa kita makan sampai nanti sore, pasti kita akan
kenyang" dia memegang ikan itu.
"Terus gimana masaknya, kan kita gak bawa kompor" tanyaku bingung.
"Kita bakar aja lah, tinggal ngumpulin ranting terus kita bakar ikan ini sampai matang" Sasa memberikan ide kepadaku.
"Ya udah ayo kita cari ranting" aku langsung berdiri dan hendak mencari ranting kering agar bisa digunakan untuk membakar ikan tangkapan Sasa.
"Kamu mau ngapain berdiri" Sasa langsung menatap ku karena aku langsung berdiri.
"Ya mau cari ranting lah, emang mau ngapain lagi" ucapku kepasa sasa.
"Siapa yang nyuruh" dia malah melotot.
"Kan tadi kamu bilang mau bakar pakai ranting" aku kembali duduk di sebelah Sasa
cari jauh-jauh lagi, tinggal ambil" ucapnya dan mencegah ku untuk berdiri.
"Bentar aku ambil dulu" dia langsung berdiri dan mencari kayu kering yang ada di sekitar sini, ternyata
sangat banyak sekali kayu kering di bawah pohon sini.
Setelah mengumpulkan kayu kering yang cukup banyak Sasa kembali menghampiri ku dengan membawa banyak kayu, dia langsung menaruh kayu itu di samping ku dan langsung menatanya agar bisa digunakan untuk membakar ikan.
Saat dia membakar kayu aku membantunya untuk menusuk ikan itu dengan kayu agar kita bisa gampang untuk membakarnya.
"Taruh situ ikannya biar gue yang bakar" ucapnya dan aku langsung menaruh ikan itu di samping nya Sasa mulai membakar ikan di atas bara api dari kayu yang tadi dia cari, aku membantunya mengipasi ikan agar
cepat matang dan bisa segera kita makan, Sasa juga pasti sudah lapar.
"Udah Mateng belum" tanyaku pada Sasa.
"Bentar lagi" sambil mengecek ikannya.
"Masih lama gak, udah laper banget nih" aku bertanya lagi.
__ADS_1
"Sabar dong, bentar lagi juga matang kok, nanti kita makan sampai kenyang habis itu lo tidur lagi sampai
badan lo mulai enakan" jawabnya dengan enteng.
"Habisnya gue udah laper banget" ucapku sambil tersenyum kearahnya.
"Nih udah Mateng, sekarang lo bisa makan sampai kenyang" dia menaruh ikannya dia atas daun, entah dia dapat daun itu dari mana.
"Bener udah mateng kan" tanyaku memastikan.
"Ya iya lah, masak lo gue kasih makan ikan mentah, gini-gini gue itu orang baik bukan orang jahat, walaupun elo jelek dan ngeselin tapi kan tetap aja lo itu salah satu teman terbaik gue" dia terlihat agak kesal.
"Suapin" aku bersikap manja mumpung ada kesempatan siapa tau beneran di suapin sama Sasa dijamin sakit gue bakal hilang seketika.
"Manja banget sih, makan sendiri sana, kan yang sakit kepala nya bukan tangannya" dia malah menolak.
"Aduh tanganku sakit" aku berpura-pura memegangi tangan ku.
"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan, percuma gue tetep gak mau suapin lo, cepetan makan sendiri kalau gak nanti gue habisin ikan Lo" sambil mengambil ikan ku.
"Jangan lah, nanti gue mau makan apa" aku mengambil kembali ikan ku dari tangan nya.
"Ya udah cepat malkan" dia malah melotot.
"Jahat banget sih jadi cewek, udah tau temannya lagi sakit, suapin kek biar cepat sembuh" aku masih ngedumel sendiri.
"Bodo amat yang penting gue makan terus kenyang" sambil memakan ikannya.
"Enak juga ya ikan nya, walaupun gak ada bumbunya sama sekali, manis rasanya, apalagi mnakannya sambil lihat aku" aku menggoda Sasa sambil tertawa.
"Gombal banget sih, ya iya lah ikannya manis kan baru nangkap dari sungai dan ikannya masih segar jadi pasti enak dan manis lah rasanya" dia juga masih menikmati ikannya.
"Ikannya masih dua bisa kita makan nanti malam" dia menyimpan ikan itu dan menutupnya dengan daun yang sangat rapat, katanya biar gak kotor.
"Kenapa gak di bakar nanti malam saja, biar enak saat di makan" tanyaku.
"Ya gak mungkin lah, kalau nanti malam kita bakar-bakaran yang ada itu hantu pendaki bakal tau kalau kita ada di sini" dia menjelaskan.
"Oh gitu" jawabku singkat.
"Gitu aja gak tau" ejeknya.
__ADS_1