
POV Gilang.
"Lari Lang, lari jangan sampai kamu tertangkap ayo lari Lang" Heni berteriak menyuruh aku untuk berlari
dan saat itu aku langsung tersadar dari lamunanku, lalu aku berpikir keras bagaimana caranya agar aku bisa bebas dari mereka, apapun caranya aku harus
keluar dari tempat ini, setelah aku aku pasti bisa menyelamatkan Heni.
"Aku harus bisa lolos" ucapku dan aku langsung berusaha melepaskan tangan mereka.
Aku langsung menendang mereka berdua yang memegang tanganku, memang mereka ada empat orang tapi yang memegangi aku hanya dua orang
yang dua hanya melihat karena dia laki-laki jadi yang memegangi aku hanya yang laki-laki.
Dan dengan tenaga yang aku miliki dan ilmu beladiri yang aku kuasai akhirnya aku bisa melepaskan tangan mereka dari tubuhku, aku langsung mendorong mereka lalu aku segera berlari meninggalkan mereka dan juga Heni, dan sambil berlari aku berteriak kepada Heni.
"Kamu jangan takut aku akan segera kembali" ucapku sambil berteriak, aku memang tidak melihat Heni secara langsung karena aku takut terjatuh dan
akan tertangkap lagi, tapi aku tau dan aku sangat yakin kalau Heni pasti mendengar ucapan ku, aku sudah berjanji akan selalu menjaga Heni.
Saat aku melihat ke belakang ternyata hantu pendaki itu mengejar ku, hanya dua laki-laki yang mengejar ku
dan yang dua pasti sedang menjaga Heni karena mereka pasti takut kalau Heni akan kabur dari tempat itu.
Aku sangat yakin kali ini mereka pasti akan menjaga tempat itu dengan sangat ketat sekali setelah kejadian ini.
"Sial sekali, kenapa aku tidak berhati-hati dalam bertindak dan kenapa aku tadi tidak waspada dulu,
untung saja aku tidak tertangkap oleh mereka semua, kalau sampai aku tertangkap bisa bahaya" aku marah-marah sambil terus berlari karena hantu pendaki itu terus saja mengejar ku dan jangan sampai mereka menemukan aku.
Aku terus melihat ke belakang, takut kalau mereka semakin mendekat jadi aku mengerahkan semua tenaga yang aku miliki untuk berlari dengan sangat kencang dan tidak aku pedulikan tubuhku yang menerjang rumput ilalang, sakit dan perih memang tapi itu tidak ada apa-apanya di Bandingkan dengan
rasa sakit saat aku tertangkap oleh mereka berdua.
__ADS_1
"Hei jangan lari kamu" suara itu terdengar sangat menakutkan membuat bulu kuduk berdiri dan mereka terlihat sangat marah padaku.
Ya tentu saja mereka marah padaku, kan mereka sudah bersusah payah untuk menangkap ku tapi malah aku berhasil untuk kabur pasti saja mereka
sangat marah.
"Berhenti kamu, atau aku akan membunuh teman mu" mereka berucap sangat keras membuat aku berpikir sesaat.
"Apa mereka akan membunuh Heni, tidak itu tidak boleh terjadi sama sekali, apa sekarang yang harus aku lakukan apa aku harus menyerahkan diriku
kepada mereka agar mereka tidak membunuh Heni, apa yang harus aku lakukan sekarang" aku bergumam bingung sekarang harus apa, kalau aku
terus berlari mereka akan mnembunuh Heni, tapi kalau aku menyerah aku juga tidak akan bisa menyelamatkan Heni.
"Kalau kau tidak mau menyerahkan diri, maka hari ini juga kamu tidak akan bisa bertemu dengan sahabat kamu itu" teriaknya lagi lalu terdengar suara gelak
tawa dari mereka berdua.
Aku berpikir apakah mereka benar-benar akan membunuh Heni, aku di buat bimbang oleh mereka.
dari kejabhatan mereka" aku masih bimbang.
Kalau sampai mereka serius dan benar-benar ingin membunuh Heni maka aku akan menyalah kan diriku
sendiri sampai kapanpun, dan aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri karena aku gagal untuk menyelamatkan Heni dan aku lah yang bertanggung
jawab atas segala yang terjadi kepada teman-teman ku karena aku lah yang mengajak mereka ke gunung larangan ini.
Aku berhenti sejenak lalu aku kembali berpikir apa yang harus aku lakukan apa mungkin aku harus
menyerahkan diri.
"Pergi naik, jangan dengarkan ucapan merek" aku seperti menden gar ucapan kakek buyut ku.
__ADS_1
"Tapi kek, kalau aku tetap lari mereka akan membunuh Heni kek, lalu aku harus apa, aku takut mereka benar-benar akan membunuh Usna kek,
kasian dia" aku menyahuti ucapan kakek buyut ku sambil menangis karena aku bingung harus apa.
Aku masih menangis karena bingung harus bagaimana, dan aku masih terus mengawasi hantu pendaki itu yang masih terus mengejar ku, selama masih ada waktu untuk berpikir lebih baik aku kembali berlari karena aku masih membutuhkan waktu untuk berpikir dengan sangat matang.
"Lari cu, percaya apa yang kakek katakan, lari sekencang-kencangnya jangan sampai kamu tertangkap atau kamu akan menyesal" teriak si kakek
lagi.
Aku yang mendengarkan ucapan si kakek langsung berlari dengan kencang lagi, aku takut kalau mereka akan menemukan aku lagi seperti tadi, tapi jujur aku masih ragu karena aku takut mereka akan sungguh-sungguh membunuh Heni setelah ini.
"Jangan bimbang cucuku percayalah dengan ucapan kakek, karena kakek mu ini tidak akan pernah
menyengsarakan kamu cu, mereka tidak akan pernah membunuh teman mu itu, karena rencana mereka adalah menumbalkan kalian kepada penguasa
gunung larangan ini, jadi tidak mungkin mereka akan membunuh teman kamu itu, karena kalau mereka melakukan itu maka mereka tidak akan bisa mencapai tujuannya" suara kakek masih terdengar
di telingaku walaupun kakek buyut tidak menampakkan wujudnya tapi aku masih bisa mendengar suaranya.
"Apa benar yang kalkek katakan itu kalau mereka tidak akan membunuh Heni, karena aku akan sangat merasa bersalah kek kalau sampai Usna di bunuh oleh mereka" ucapku lagi.
"Tidak akan cu, percayalah dengan ucapan kakek, jadi cepat kamu berlari jangan pernah kamu mempercayai Ucapan para setan laknat itu, karena
mereka akan menyesatkan kamu cucuku" ucap si kakek lagi.
"Terimakasih banyak ya kek, aku akan terus berlari menjauh dari mereka" aku tersenyum lega setelah mendengar ucapan kakek, aku jadi tidak bimbang
lagi dan aku bisa semakin bersemangat untuk berlari menjauh dari para setan terkutuk itu.
"Berhenti kamu manusia sialan, atau aku akan membunuh temanmu sekarang juga dan kamu tidak akan pernah bisa bertemu dia lagi untuk selamanya karena sebentar lagi dia akan menjadi bagian dari kami" lalu mereka tertawa dengan sangat keras, membuat ku menutup telinga karena kali ini suara
tawa mereka terlihat sangat menakutkan di telingaku.
__ADS_1
"Aku tidak mau percaya dengan ucapan mereka, karena kakek bilang mereka tidak akan membunuh Heni saat ini, jadi kata-kata mereka tidak akan pernah bisa menipuku lagi" gumamku pelan.