
"Setelah ini mereka harus memotong ayam ini secara
bersama-sama, maka ayam ini akan menggantikan mereka yang seharusnya tetap berada di gunung larangan karena mereka telah diincar dan sudah lama ada disana. Mangkanya mereka tidak akan bisa lepas begitu saja," jelasnya.
Gilang dan teman-temannya hanya bisa nurut dan mengikuti saja semua ucapan Mbah Kliwon karena memang dia yang lebih tahu tentang semua ini, yang
penting mereka ingin hidup normal seperti dulu dan tidak lagi mendapatkan gangguan dari penghuni gunung larangan.
"Apa kita harus memotong ayam itu sekarang," Sasa terlihat sedikit ragu karena dia takut.
"Udah tenang saja kamu kan tidak sendiri kita potong sama-sama kok, pokoknya nanti kamu bagian pegang kakinya saja," Andi menghibur Sasa.
"Iya, kalian potong sekarang dan darahnya taruh di tempat sesaji itu sampai habis, jadi jangan lepaskan ayam itu sebelum darahnya habis menetes ditempat itu," sambil menunjuk peralatan sesajinya.
Mereka memang belum pernah memotong ayam sama sekali selama hidupnya tapi mereka harus tetap berani kalau ingin terbebas dari gangguan di
gunung larangan, walau bagaimanapun mereka sudah lama beranda di sana dan pasti ada banyak yang tidak suka kalau mereka bisa keluar dari gunung larangan dengan selamat.
"Biar aku saja yang potong ayamnya, kalian pegang kaki dan sayapnya dengan kuat ya biar ayamnya nanti tidak lari," ucap Gilang sambil memegang
kepala ayam itu.
Walaupun dalam hatinya dia tidak tega tapi memang tidak ada pilihan lain lagi yang harus dia lakukan, karena itu satu-satunya yang bisa mereka lakukan.
Heni dan Sasa yang memegang sayapnya sedangkan Andi dan Anton yang memegang kakinya, karena kalau perempuan yang pegang takutnya
mereka akan melepaskan ayam itu sebelum darahnya habis di tempat sesaji itu.
Dalam hitungan menit Gilang sudah berhasil memotong leher ayam hitam itu, kini tugas yang lain untuk memegang ayam itu kuat-kuat agar tidak terlepas dari tangan mereka.
"Ritual kedua juga sudah berhasil, sekarang saya tanya dimana baju yang kalian pakai untuk mendaki di gunung larangan," tanya Mbah Kliwon.
Setelah sampai rumah Nek Ngah memang mereka langsung ganti baju menggunakan baju seadanya yang di pinjamkan oleh tetangga nek Ngah, dan
baju itu juga masih kotor dan belum di cuci karena mereka berlima baru saja bangun dari tidurnya.
"Baju ada di belakang Mbah, kebetulan belum kita cuci masih kotor sekali, memangnya untuk apa baju itu mbak," tanya Gliwon penasaran.
"Kalian ambil baju itu dan bungkus baju kalian dengan kain kafan ini, lalu kalian kuburkan baju itu di tempat yang sama, terserah kalian mau menguburkannya dimana," sambil menyerahkan kain berwarna putih itu.
Mereka saling pandang satu sama lain sebenarnya sayang sekali kalau baju itu harus di kubur karena baju itu saksi bisu perjuangan mereka untuk selamat
dari gunung larangan, bahkan baju itu bisa dibuat kenang-kenangan agar pinjamkan oleh tetangga nek Ngah, dan baju itu juga masih kotor dan belum di
cuci karena mereka berlima baru saja bangun dari tidurnya.
"Baju ada di belakang Mbah, kebetulan belum kita cuci masih kotor sekali, memangnya untuk apa baju itu mbak," tanya Gilang penasaran.
"Kalian ambil baju itu dan bungkus baju kalian dengan kain kafan ini, lalu kalian kuburkan baju itu di tempat yang sama, terserah kalian mau menguburkannya dimana," sambil menyerahkan kain berwarna putih itu.
Mereka saling pandang satu sama lain sebenarnya sayang sekali kalau baju itu harus di kubur karena baju itu saksi bisu perjuangan mereka untuk selamat
dari gunung larangan, bahkan baju itu bisa dibuat kenang-kenangan agar mereka selamanya bisa mengingat pengalaman mereka saat berada di
gunung larangan.
__ADS_1
"Apa harus di kubur Mbah bajunya," tanya Andi sedikit ragu.
"Iya kalian harus mengubur baju itu dan membungkusnya dengan ini, itu bertujuan untuk membuang sial untuk diri kalian sendiri," jawabnya serius.
Mau tidak mau mereka harus menuruti ucapan Mbah Kliwon karena apapun yang diucapkan Mbah Subu
pasti juga demi kebaikan mereka semua.
Mereka juga tidak mau kejadian itu menimpa mereka lagi, mereka ingin ini yang terakhir kalinya mereka tersesat di gunung.
"Baik mbah kita akan mengambil bajunya lalu akan kita bungkus dengan kain itu," Gilang menyetujui.
Mereka mengambil baju mereka masing-masing lalu mereka membungkusnya dengan kain kafan
yang sudah di siapkan oleh Mbah Kliwon untuk mereka.
Andi mencangkul tanah yang ada di belakang rumah Nek Ngah karena disitu mereka akan menguburkan bajunya itu.
"Sudah belum, gak usah terlalu dalam lah kan cuma baju doang bukan manusia," ucap Sasa menyuruh Andi untuk cepat.
Setelah selesai mereka langsung mengubur pakaiannya satu persatu lalu menimbun kembali tanahnya.
"Apa ritualnya sudah selesai Mbah, atau kita harus melakukan apa lagi," tanya Anton penasaran.
"Ini kalian minum air ini sampai habis jangan lupa sebelum minum kalian baca doa dulu agar kalian
benar-benar terlepas dari gangguan di gunung larangan," perintahnya.
Mereka menerima gelas yang berisi air putih yang sudah di doakan oleh Mbah Kliwon, mereka juga tidak lupa berdoa sebelum meminum air itu.
Karena itu artinya ritual yang mereka lakukan telah selesai dan mereka sekarang sudah kembali seperti
semula, tidak akan mendengarkan suara-suara aneh lagi dari gunung larangan yang tadi malam telah
mengganggu tidur mereka.
"Ritual untuk kalian sudah selesai dan sekarang kalian boleh istirahat untuk memulihkan kondisi kalian, nanti kita akan membangunkan kalian untuk
sama-sama kita menangkap Rio dan ibunya untuk kita adili," ucap Mbah kliwon.
"Tidak perlu Mbah kita sudah baik-baik saja kok, lebih baik kita tangkap mereka sekarang saja biar
semuanya cepat selesai dan kita semua juga bisa hidup dengan tenang tanpa gangguan dari gunung larangan karena pengikutnya sudah mendapatkan
hukuman," ucap Gilang dengan serius.
Dia ingin Rio segera tertangkap dan mendapatkan hukuman dari perbuatannya yang sudah sangat
merugikan banyak orang.
"Tapi saya butuh berkoordinasi dengan yang lain karena kita sudah janjian sore hari untuk menangkap Rio, mereka juga sudah menyiapkan
semuanya," jawab Mbah Kliwon.
Mereka lega karena rio akan segera ditangkap dan mereka juga harus menyaksikan sendiri penangkapan Rio agar Yanti dan kakek buyut bisa
__ADS_1
hidup dengan tenang di gunung larangan, mereka juga ingin segera bertemu dengan Yanti dan kakek buyut lagi.
"Kapan ya kita bisa bertemu dengan Yantii lagi, aku sudah rindu dengan dia," kata Sasa yang sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Yanti lagi, kan sebelum kita keluar dari gunung larangan mereka
sudah bilang kalau setelah Rio tertangkap dan tugas mereka sudah selesai kita bisa langsung bertemu
dengan mereka," ucap Gilang dengan serius.
"Udah gak sabar aku tuh," kata Sasa lagi.
Hari sudah berganti sore dan semua warga sudah berkumpul di rumah Nek Ngah karena mereka juga ingin menangkap Rio, apalagi keluarga mereka yang pernah menjadi korban dari Rio juga terlihat sangat marah dan ingin segera menghukum mereka.
"Bagaimana apa kita berangkat sekarang dan langsung menggerebek rumah mereka saja," kata salah satu warga yang sudah tidak sabar lagi ingin
memberi hukuman kepada Rio.
"Tenang dulu, kita tidak boleh main hakim sendiri dan jangan sampai kita mengotori tangan kita dengan berbuat kejahatan seperti mereka," Gilang mengingatkan.
"Apa lagi yang harus kta pikirkan, manusia jahat seperti mereka itu pantas mendapatkan hukuman yang setimpal pula, mereka sudah menghilangkan
banyak nyawa jadi mereka juga harus kehilangan nyawanya," teriak salah satu warga.
Sepertinya mereka sudah di penuhi amarah dalam diri mereka, Gilang juga tidak bisa berkata apa-apa lagi karena apa yang mereka katakan memang benar adanya.
Tapi Gilang juga membisikkan kepada Mbah Kliwon agar mereka tidak berbuat anarkis dan tidak menyiksa mereka berdua karena itu artinya mereka tidak ada bedanya dengan Rio dan ibunya.
"Sudah, kalian tidak boleh berbuat seperti itu karena kita harus menghukum mereka bukannya malah
meniru perbuatan mereka," ucap Mbah Kliwon.
Dan mungkin hanya Mbah Kliwon yang bisa menenangkan mereka semua, warga sudah semakin banyak yang berkumpul dengan membawa senjata
masing-masing.
Benar-benar sudah tidak bisa di kondisikan lagi, mereka langsung marah saat mendengar apa yang telah Rio dan ibunya lakukan.
"Bagaimana Mbah apa kita akan berangkat sekarang juga," tanya kepala desa.
"Kita akan berangkat sekarang juga kita langsung ke rumah mereka dan jangan lupa ada yang berjaga juga di belakang rumah mereka agar mereka
tidak berlari ke gunung larangan," Mbah Kliwon memperingatkan.
"Kalau masalah itu tenang saja Mbah karena saya sudah menugaskan beberapa orang untuk berjaga disana agar mereka berdua tidak bisa lari ke
gunung larangan," ucap kepala desa.
Lalu mereka secara bersama-sama berangkat ke rumah Rio yang ada di kaki gunung larangan, mereka tidak memiliki tetangga dan hanya hidup
berdua.
Sesampainya di rumah Rio dan ibunya semua warga berteriak sambil memanggil nama mereka berdua, dan mereka juga mengetuk pintu rumah mereka dengan sangat keras sekali.
"Rio keluar kamu, dasar iblis berbentuk manusia keluar kalian," teriak para warga.
__ADS_1
Tapi Rio dan ibunya belum juga keluar, mungkin mereka takut dengan amarah para warga desa.