
Jadi lebih baik mereka merahasiakan semuanya dan hanya akan menceritakan kepada nek Ngah dan orangtua mereka sendiri.
"Apa kalian pernah bertemu dengan makhluk gaib yang baik waktu di gunung larangan, coba deh kalian
ceritakan," tanya Mbah Kliwon.
"Eh tidak, maksud saya kan pasti ada lah hantu yang baik masak tidak ada sih. Kita saja manusia ada yang baik dan ada juga yang jahat," jawab Sasa sambil tersenyum.
Dia tidak ingin mereka curiga dengan ucapan Sasa itu, karena dia juga sudah berjanji tidak akan menceritakan kepada sembarangan orang.
"Oh gitu, tapi kita semua tahu kalau di gunung larangan itu semua jahat dan tidak ada yang baik," kata Mbah kliwon begitu yakin.
"Oh iya, mungkin gak sih kalau hantu pendaki yang mereka maksud itu adalah pendaki yang tersesat sepuluh tahun yang lalu, kalian semua pasti ingat
cerita itu kan. Karena waktu itu kan sangat ramai sekali beritanya bahkan sampai ke mana-mana," kepala desa mengingat kembali kejadian sepuluh
tahun yang lalu.
Dan memang benar, dari buku diary yang mereka temukan waktu itu tertulis jelas kejadian itu ternyata memang benar sepuluh tahun yang lalu, saat Rio
sengaja mengajak mereka untuk mendaki di gunung larangan dan membuat mereka tersesat.
Berarti memang yang di bicarakan oleh kepala desa itu benar adanya.
"Oh berita yang sepuluh tahun lalu itu. Iya kayaknya aku ingat betul padahal waktu itu kita sudah melakukan ritual agar mereka tenang di sana dan
kembali ke alamnya, tapi saat kita ingin melakukan ritual itu terus saja ada hambatan dan kita selalu gagal melakukan," jawab Mbah Kliwon yang biasa melakukan ritual untuk korban yang meninggal di gunung larangan.
Gilang dan teman-temannya saling memandang satu sama lain, mereka terlihat kebingungan dengan ucapan Mbah Kliwon, bagaimana bisa mereka
selalu gagal saat melakukan ritual untuk hantu pendaki itu.
Apa mungkin karena itu juga arwah mereka gentayangan di gunung larangan dan mereka dijadikan budak oleh penguasa gunung larangan.
"Apa mungkin karena mayat mereka semua di sembunyikan di alam gaib mangkanya setiap ada yang ingin mendoakan mereka selalu gagal, karena
memang mayatnya di sembunyikan," Gilang berkata di dalam hati, tapi dia belum yakin dengan pikirannya.
"Maksudnya gagal bagaimana, kita tidak mengerti sama sekali," tanya Anton penasaran.
"'Saat kita mengetahui kalau ada empat pendaki yang tersesat di gunung larangan, pasti kita akan mencari dia menggunakan ritual yang memerlukan beberapa syarat agar kita bisa mengetahui apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal, tapi sayangnya
saat kita akan melakukan ritual itu kepada mereka berempat kita selalu gagal," Mbah kliwon mulai menceritakan tentang pencarian keempat hantu
__ADS_1
pendaki itu.
"Waktu itu kita gagal melakukan karena tiba-tiba saja ada hujan badai yang menmbuat kita cukup ketakutan, lalu besoknya kita akan melanjutkan
ritual yang tertunda dan ternyata alat pendukung yang akan kita gunakan malah hilang semuanya, entah siapa yang melakukannya, kita mencoba terus
menerus tapi usaha kita selalu gagal, lalu kita menyerah dan sama-sama melupakan kejadian itu," Mbah Kliwon menceritakan semuanya dengan jelas
kepada Gilang dan teman-temannya.
Mereka tau apa yang di maksud oleh Mbah Kliwon, dan mereka juga langsung paham dengan kejadiannya, dan yang jelas mereka langsung tahu
siapa yang mencuri peralatan itu.
Karena mereka begitu yakin kalau yang mencurinya adalah Rio, dia pasti sengaja melakukan itu agar
teman-teman dia itu tetap gentayangan dan terombang ambing di gunung larangan dan tidak ada yang bisa membantu mereka.
"Pasti itu semua juga ulah si Rio dan penguasa gunung larangan, pasti mereka tidak mau kalau hantu pendaki itu sampai bisa kembali ke alamnya,"
Gilang dan teman-temannya saling berbisik satu sama lain.
"Apa yang kalian bisikin, kita semua jadi penasaran loh," kata nek Ngah Penasaran.
Mbah kliwon.
Mungkin Gilang dan teman-temannya ingin Mbah kliwon dan para warga desa yang membuka tas itu
dan membaca diary milik Rio dan juga foto Rio bersama keempat temannya yang tersesat di gunung larangan itu.
Itu adalah satu-satunya bukti yang mereka punya untuk memberitahu semua warga kalau sebenarnya Rio dan keluarganya bekerja sama dengan penguasa gunung larangan dan juga rio beserta ibunya menganut ilmu hitam untuk mendapatkan keinginan mereka selama ini.
"Apa ini nak, apa ini tas carrier milik kalian. Terus kenapa kalian memberikan tas ini kepada saya, apa
yang ingin kalian tunjukkan," tanya kepala desa.
"Tapi itu tasnya kenapa sangat lusuh bahkan warnanya saja sudah memudar seperti tas yang sudah sangat lama sekali," Mbah Kliwon memperhatikan baik-baik tas carrier itu.
"Kalian lihat saja isi di dalamnya nanti kalian akan tahu semuanya, dan satu lagi itu tas carrier bukan milik kita, tapi tas itu milik teman dari hantu
pendaki yang tadi kami ceritakan," mereka menjelaskan agar semuanya paham.
Mereka Yang ada disana sangat penasaran dengan isi tas itu, dan mereka pasti akan sangat penasaran apa isinya dan siapa pemiliknya.
__ADS_1
Lalu Mbah kliwon mulai membuka tas carrier itu, dia terlihat sangat penasaran, dia membuka tas itu
perlahan lalu dia mengeluarkan isi dari tas itu, pertama kali yang dia lihat adalah foto.
"Foto apa ini, coba kalian semua perhatikan foto ini, siapa tahu kalian ada yang kenal, " Mbah kliwon
memperlihatkan foto itu kepada semua yang ada di rumah Nek Ngah.
Mereka melihat foto lima anak muda yang sedang tertawa bahagia, foto itu menunjukkan bahwa mereka berlima adalah teman yang sangat akrab, mereka melihat wajah foto itu satu persatu,
hingga ada yang sadar kalau dia mengetahui salah satu orang yang ada di foto itu.
"Tunggu sebentar deh, kok sepertinya wajah anak yang ini tidak asing ya, sepertinya saya sering melihat dia," kepala desa menunjuk salah satu
orang di foto itu.
"Iya betul pak, saya juga seperti tidak asing dengan wajah itu," nek Ngah menimpali, dia juga merasa mengenali wajah itu.
"Loh, ini kan si Rio anaknya Bu Lastri yang tinggal di ujung kampung sini," salah satu warga sadar kalau itu adalah Rio salah satu penduduk desa mereka.
Yang lain langsung memperhatikan lagi foto itu, dan mereka langsung sadar kalau yang ada di foto itu memang benar si Rio yang mereka kenal.
"Iya, dia yang tinggal bersama ibunya di dekat gunung larangan itu kan, kita saja tidak ada yang berani lagi tinggal disana karena tempatnya sangat
seram sekali, dan banyak sekali gangguan disana," ujar salah satu warga yang dulunya tetangga mereka.
"Berarti Rio kenal dengan keempat pendaki yang hilang itu kan, terus kenapa dia diam saja kalau dia kenal dengan mnereka," tanya Mbah kliwon.
"'Saya ingat betul waktu itu Rio yang memberitahu kalau ada pendaki yang tersesat, tapi dia tidak pernah cerita kalau itu teman dia. Karena waktu itu
dia hanya bicara kalau dia hanya menemani mereka saja kan," kata salah satu warga.
"Iya, dan kenapa waktu itu dia tidak mengizinkan kita bertemu dengan keluarga mereka dengan alasan mereka masih trauma, apa jangan-jangan
memang ada sesuatu yang kita tidak tahu dari Rio.
Dan tiba-tiba berita itu hilang begitu saja kan," kata kepala desa.
Waktu itu Rio memang melarang siapapun bertemu dengan keluarga pendaki yang hilang, dan keluarga
mereka hanya di rumah Rio dengan alasan rumah Rio yang paling dekat dari gunung larangan.
Tapi sayangnya waktu itu tidak ada yang curiga sama sekali dengan tingkah Rio dan keluarganya, mereka semua langsung mempercayai ucapan Rio
__ADS_1
begitu saja.