Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 59


__ADS_3

"Enak banget ikannya mana daging semua lagi, durinya juga cuman sedikit mana besar lagi ikannya dijamin langsung kenyang nih perut" Sasa terlihat sangat menikmati ikan tangkapan si Yanti.


"Iya kamu benar Sa, ikannya juga sangat manis kok kamu pintar banget sih bakar ikannya, ini enak dan


benar-benar sudah matang terus gak amis juga" mulutku bicara sambil terus menikmati makanan yang ada di tanganku.


Ikan mujair memang enak, apalagi ikan ini tidak terlalu banyak duri di dagingnya jadi tidak perlu khawatir takut durinya kemakan.


"Ya iyalah manis orang itu ikan baru dapat nangkap tadi terus langsung aku bakar jadi masih segar" ucap Yanti sambil menikmati bunga yang tadi dia bawa.


"Emang enak gitu makan bunga" aku bertanya pada Yanti karena dia makan bunga itu dengan lahapnya.


"Enak lah, ini tuh makanan aku sehari-hari kamu mau coba" dia menawariku dan menaruh bunga itu di


depanku.


"Gak terimakasih aku gak doyan, ini ikannya aja enak banget ngapain makan bunga itu, kan aku manusia Yan" aku mengembalikan bunga itu ke depan Yanti.


Dia tersenyum lalu mengambil kembali bunga miliknya itu, dia langsung memakannya lagi, si Yanti juga kelihatan nya kelaparan buktinya dia makan bunga itu dengan sangat rakus, atau mungkin cara bangsa jin makan memang seperti itu aku juga tidak tau.


"Nah itu kamu tau, kalian manusia merasa makanan kalian itu paling enak dan gak akan doyan sama makananku, begitupun dengan ku, menurutku


makananku ini sangat enak sekali sedangkan makanan kalian itu gak enak, kalau ikan mentah sih aku masih dovan dan sangat enak" Yanti terus menikmati makanannya.


"Iya juga sih" aku manggut-manggut memang yang dikatakan yanti benar adanya, kita memang beda alam makanya apa yang kita makan pasti akan berbeda, kalau yang kita makan sama bisa-bisa manusia sama bangsa jin bakalan berantem terus gara-gara rebutan makanan.


Aku sekilas melirik Sasa dia masih makan dengan sangat lahap pasti setelah ini dia akan sangat kenyang dan tidak kelaparan lagi seperti tadi.

__ADS_1


"Kenyang banget perutku sekarang, Alhamdulillah ya hari ini kita bisa makan sampai kenyang dan kita masih punya simpanan makanan untuk nanti malam" aku mengelus perutku yang sudah mulai kenyang dan sekarang aku sudah punya tenaga lagi, tinggal


istirahat sebentar biar makanan ini melorot habis itu aku sudah siap lagi untuk mencari teman-teman ku yang lain.


"Sama aku juga kenyang banget ini, ikannya besar dan dagingnya juga banyak mantep lah pokoknya aku suka banget. Dan Yan kok kamu bisa sih bakar ikan terus pintar banget lagi nyari yang gede" Sasa juga mengelus perutnya yang terasa kekenyangan itu.


"Ya elah, kalau cuma nyari ikan doang gampang banget buat aku, itu sih masalah kecil kan aku juga sering nangkap ikan buat aku makan, tapi aku langsung memakannya gak perlu ribet-ribet di bakar dulu kaya kalian gini nih" Yanti menunjuk ikan kami.


Aku tercengang mendengar ucapan Yanti ternyata bukan hanya bunga makanannya tapi juga ikan dan ikan yang dia makan adalah ikan mentah, aku langsung mual saat mendengarnya padahal ikan mentah kan sangat amis dan bau kok dia bisa makan sih.


"Emang enak ya yan ?" aku kembali bertanya kepada Yanti.


"Enak banget lah, mungkin kalau kalian liat akan mual dan muntah mangkanya aku lebih memilih makan


bunga ini biar gak ganggu nafsu makan kalian berdua" Yanti masih menikmati bunganya.


"Iya juga sih, pasti kita lihatnya akan mual dan jadi gak nafsu buat makan" Sasa menelan ludah ngeri


"Memang manusia itu ribet banget, apa-apa harus dimasak dulu dan makanan juga harus bersih ribet tau gak" Yanti mengejek aku dan Sasa.


"Ya iyalah yan kalau gak dimasak dulu ya kita bisa keracunan terus sakit apalagi makanan gak bersih dan masih mentah pasti baunya gak enak dan


otomatis perut kita akan mnual terus muntah deh" Sasa menjelaskan kepada Yanti.


"Buktinya aku dari dulu makan makanan mentah gak pernah sakit tuh, emang manusia aja yang lemah" dia


masih mengejek aku dan Sasa.

__ADS_1


"Ya iyalah kamu gak sakit dan kamu gak akan punya penyakit beda dengan kami manusia, kita kan bisa sakit terus kalau kita mati gimana gara-gara keracunan makanan mentah" aku merasa kesal dengan Yanti karena dia terus mengejek kami.


Bukan manusia yang lemah dan mau ribet tapi kan ini udah kodrat kami sebagai manusia kita kan harus menjaga kebersihan dan diri kita sendiri karena kalau makanan tidak bersih bisa menimbulkan banyak penyakit, lagian di agama kami juga selalu diajarkan


tentang kebersihan sampai ada kata kebersihan sebagian dari iman.


Emang si Yanti selalu ngeselin, dia juga suka menang sendiri mangkanya Sasa sering sekali bertengkar dengan dia ya karena dia kuntilanak yang ngeselin.


"Tau tuh si Yanti gitu aja gak tau, kita kan berbeda dengan dia, dia kan gak bisa mati karena dia sudah ada didalam jin sedangkan kita kan bisa mati kalau


keracunan, dan lagi dia ditakdirkan berumur ribuan tahun sedangkan kita 100 tahun saja sudah gak sesegar ini, bahkan ada yang sudah lupa dengan


apapun" Sasa juga terlihat kesal dengan ucapan Yanti.


Aku langsung merapikan daun tempat menyimpan ikan tadi, ikannya masih tersisa dua dan ini akan kita


makan untuk nanti malam jadi aku membereskannya dan memasukkan kedalam tas ranselku biar tetap bersih sampai nanti malam.


"Gimana kita mau langsung lanjut atau istirahat disini dulu" aku bertanya kepada Sasa dan Yanti.


"Bentar dong, nunggu makanan yang diperut melorot dulu, ini juga aku masih kekenyangan jadi kita istirahat dulu disini nanti kita baru lanjutin


perjalanan lagi" Sasa memberikan saran, sepertinya dia masih belum bersemangat dan dia masih mengumpulkan tenaga lagi.


"Iya lagian ini juga panas banget, nanti kalau sudah agak adem baru kita lanjutin perjalanan lagi, karena kalau terlalu panas seperti ini bisa-bisa kulitku


terbakar, mangkanya bangsa kami tidak ada yang keluar disiang hari" Yantijuga sangat setuju dengan pendapat Sasa jadi mau tidak mau aku harus menuruti ucapan mereka berdua karena sekarang

__ADS_1


kita bukan hanya sahabat tapi kita juga tim dan kita punya misi dan tujuan yang sama.


Sampai sekarang aku juga belum tau alasan kenapa Yanti mau membantu kami untuk keluar dari gunung larangan ini padahal semua penghuni gunung larangan ini bekerja sama untuk membuat kami tertangkap dan tinggal selamanya di gunung ini.


__ADS_2