
Lanjutan...
Aku mulai memeluk Yanti, entah kenapa hatiku terasa sangat sedih saat mendengar kata-kata Yanti itu dia terlihat sangat sedih, karena aku ingat dia pernah cerita kalau di hutan ini dia sama sekali tidak memiliki teman, karena tidak ada yang mau untuk berteman dengan dia.
"Kok kamu ngomong gitu sih Yan, siapa juga yang mau lupain kamu, gak akan aku lakuin itu, apalagi kamu sudah sangat berjasa bagi hidup kami tanpa
kamu, kami tidak akan tau kabar teman-teman kita bahkan kami mungkin sekarang masih kelaparan
karena tidak menemukan makanan sama sekali, terimakasih banyak ya Yan aku senang berteman sama kamu" aku dan Sasa langsung memeluk Yanti dan Yanti terlihat sangat senang.
"Iya Yan, kamu jangan ngomong begitu karena sekarang kamu sudah menjadi bagian teman kita, jadi tidak mungkin kita akan melupakan semua
jasamu dan kita juga tidak akan pernah melupakan sahabat sebaik seperti kamu" kami masih berpelukan dalam haru.
"Janji ya kalian tidak akan pernah melupakan aku sampai kapanpun walaupun nanti kalian akan keluar dari sini, tetap simpan aku dalam hati kalian sebagai sahabat ya, biar aku tidak kesepian lagi seperti sebelumnya" Yanti sepertinya akan menangis tapi dia
menahannya.
"Kami janji Yan aku dan Sasa tidak akan pernah melupakan kamu, bahkan teman-teman kita yang lain kalau mereka tau kebaikan kamu maka mereka juga akan melakukan hal yang sama seperti aku dan Sasa" aku meyakinkan Yanti.
"Kenapa kamu tidak keluar dari gunung larangan ini bersama kami, dibawah sana kamu pasti akan
menemukan teman sejati yang akan selalu bisa mendampingi kamu, berbagi bersama dalam suka duka seperti yang aku dan teman-teman ku lakukan
selama ini" Sasa memberikan masukan kepada Yanti.
"Iya Yan, apa yang dikatakan oleh Sasa itu benar, kamu harus turun bersama kita disana banyak sekali
kuntilanak yang baik dan pasti mereka juga akan menerima segala kekurangan kamu, gak seperti di gunung larangan ini mereka semua jahat bahkan sama kamu pun mereka jahat" ucapku pada Yanti.
Yanti pernah bercerita kalau di gunung larangan ini semua penghuninya jahat dan tidak ada yang mau berteman dengan Yanti karena Yanti kuntilanak
merah dan karena Yanti baik dan tidak mau menjadi jahat seperti mereka jadi Yanti dikucilkan oleh mereka semua.
Yanti terlihat berpikir mungkin dia juga mencerna omnonganku dan Sasa aku berharap semoga Yanti mau ikut kami keluar dari gunung larangan ini karena
kalau dia masih disini kan kasian dia gak punya teman.
"Aku gak bisa ikut kalian keluar dari gunung larangan ini, aku akan selamanya disini, bahkan sampai kapanpun itu" Yanti terlihat sangat sedih saat dia berbicara seperti itu.
"Tapi kenapa Yan, apa yang kamu cari ditempat ini kamu saja gak punya teman sama sekali di gunung larangan ini, bukankah lebih baik kamu keluar dan mencari teman karena kamu juga berhak untuk bahagia Yan" aku menasihati Yanti agar dia mau ikut keluar dari gunung larangan ini.
Tempat ini sangat tidak baik untuk Yanti, dia selalu sendirian bahkan dia sangat dikucilkan apapun yang yanti lakukan tidak akan pernah ada yang peduli, jadi mana mungkin bisa Yanti hidup dalam kondisi yang seperti itu, hanya akan membuat dia sedih.
"Benar juga yang dikatakan sama Andi yan, kamu percaya deh sama kita pasti kamu akan bahagia dan punya banyak teman di bawah sana" Sasa juga meyakinkan Yanti.
"Bukan itu alasannya, tapi tempat ini sangat berharga untukku karena aku punya banyak sekali kenangan bersama orang-orang yang aku sayang, sebelum
gunung ini dikuasai oleh makhluk jahat yang mengerikan, dulunya gunung ini menjadi gunung yang paling indah, aman dan tentram seperti yang kalian lihat mendaki di gunung ini tidak lah susah medan yang dilalui juga tidak terlalu sulit untuk pemula apalagi yang sudah senior, banyak sekali manusia yang menikmati keindahan alam di gunung ini bahkan gunung ini tidak pernah sepi, begitu juga makhluk seperti kami yang hidup disini kami sangat suka mengikuti para pendaki tanpa ada keinginan untuk mengganggu, kehidupan kami sangat bahagia" Yanti tersenyum sendiri saat dia mengingat masa lalunya, jujur aku juga sangat penasaran.
"Terus kernapa gunung ini menjadi gunung larangan dan kenapa penghuni gunung larangan ini menjadi sangat jahat sekali" aku bertanya kepada Yanti karena aku juga penasaran sekali cerita tentang gunung larangan ini.
"Iya Yan aku juga penasaran sekali" Sasa menimpali ucapan ku lalu aku mengangguk sambil melihat Yanti.
"Hemm, aku tuh kalau cerita tentang ini langsung sedih, tapi ya sudahlah aku akan menceritakan
semuanya kepada kalian. Jadi gunung larangan ini dulunya memiliki penguasa dia sangat baik sekali kepada kami semua, sering sekali diadakan pesta
hiburan untuk kamni para penghuni gunung ini, tapi tiba-tiba ada raja jin yang sangat jahat dia menyerang kerajaan itu dan penguasa gunung ini
__ADS_1
kalah, lalu digantikan oleh raja jin yang sangat jahat, dan sejak itu ada peraturan baru kita diberikan tugas untuk menyesatkan para manusia yang mendaki di gunung ini untuk dijadikan tumbal, raja jin penguasa gunung ini sangat haus akan tumbal manusia, agar
dia bisa semakin kuat, sejak saat itu gunung ini sering sekali memakan korban, lalu lama kelamaan gunung ini ditutup dan tidak ada lagi manusia yang
berani naik ke gunung ini" Yanti menjelaskan dengan panjang lebar.
"Jadi itu asal mula orang-orang menyebut gunung ini sebagai gunung larangan karena raja jin itu selalu
meminta tumbal berupa nyawa manusia untuk membuat dia semakin kuat" aku bertanya lagi kepada Yanti.
"Iya itu sangat betul sekali, lalu mulai saat itu tidak ada yang berani naik ke gunung ini, hanya orang-orang yang bandel seperti kalian yang berani, dan sangat jarang ada orang yang keluar dari
gunung larangan ini dengan selamat, tapi aku berdoa semoga kalian salah satunya" Yanti menjelaskan lagi.
"Iya Yan, aku dan teman-teman ku memang sangat bandel padahal kita sudah di nasihati untuk tidak naik ke gunung larangan ini tapi kami tetap saja
naik dan sekarang ini lah akibat yang harus kami tanggung" aku menundukkan kepala menyesali kebodohan aku dan teman-teman ku.
"Andai saat itu kita mendengarkan apa yang dikatakan oleh nek Ngah pasti ini semua tidak akan terjadi" Sasa juga menyesalkan semua ini terjadi.
Tapi apa boleh buat karena nasi sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya kita menyesali semua ini karena itu tidak akan pernah bisa memperbaiki
keadaan, sekarang kita hanya bisa berdoa dan berusaha supaya kita bisa keluar dari gunung larangan ini dengan selamat.
"Percuma juga kalian menyesal karena itu tidak akan pernah mengubah keadaan, lebih baik sekarang kalian jadikan ini sebagai pelajaran yang berharga untuk hidup kalian, jangan pernah kalian mengulangi kesalahan yang sama seperti saat ini, kalian harus
mengerti" Yanti malah menasihati aku dan Sasa.
Aku tidak menyangka kalau dibalik sikapnya yang nyebelin dan suka bercanda ternyata si Yanti juga bisa berkata dengan serius seperti tadi, dan itu membuat aku dan Sasa tertawa.
"Wah, ternyata kamu bisa ngomong benar juga ya Yan aku sampai tidak menyangka loh kalau kamu bisa seperti itu" aku melihat ke arah Yanti.
"Hihihi, gini-gini kan aku lebih tua dari kalian, kamu berdua ini kan masih sangat muda sedangkan aku mungkin umurku saat ini sudah ada kalau 100
tahun, jadi aku punya pengalaman yang lebih banyak daripada kalian berdua yang masih ingusan" Yanti malah mengejek aku dan Sasa.
Sasa terlihat melongo saat mendengar umur Yanti, mungkin dia tidak menyangka kalau Yanti bilang umurnya sudah hampir 100 talhun, aku juga kaget saat mendengarnya.
"Apa Yan, jadi umur kamu udah 100 tahunan, tapi kok gak keliatan tua sih kamu" Sasa memperhatikan Yanti dengan sangat jeli, dia melihat dari atas sampai
ke bawah.
Aku juga melakukan hal yang sama seperti Sasa, melihat Yanti dari ujung rambut sampai ujung kaki, tidak ada yang keriput sama sekali kulitnya, bahkan masih sangat kencang seperti anak muda pada umumnya.
"Gak usah lihat aku sampai kayak gitu dong, kaya belum pernah melihat cewek cantik aja" Yanti mendengus kesal sambil menatap aku dan Sasa.
"Bukan gitu, gue cuma mau memastikan kalau kulit Lo masih kencang gak kendor kaya nenek-nenek,
kan umur Lo udah 100 tahun tapi kenapa gak ada yang keriput bahkan masih sangat kencang seperti gadis muda" Sasa bertanya kepada Yanti mungkin dia sangat penasaran.
"Enak aja keriput, mau kamu cari sampai kedalam juga gak akan pernah menemukan keriput di kulitku, aku masih kencang tau" Yanti melipat tangannya ke depan mungkin dia kesal dikira sudah keriput.
"Terus kalau kamu beneran udah hampir 100 tahun kenapa kulitmu masih mulus dan kamu juga terlihat masih sangat muda bahkan seperti masih
seumuran dengan kami, atau jangan-jangan kamu juga ikut memakan tumbal makanya kamu bisa awet muda" aku menunduh Yanti dan dia langsung melihat ku dengan tatapan tajam dan siap untuk menerkam.
"Enak aja kamu kalau ngomong, di jaga itu mulut jangan asal ngomong aja, aku tuh bangsa jin bukan manusia seperti kalian, jadi walaupun aku hidup seribu tahun tidak akan pernah menua sampai kapanpun, masak aku di samain kaya manusia yang 100 tahun udah keriputan" Yanti melotot ke arahku.
"Hahaha, cakar aja Yan mulutnya Andi dia itu dari tadi berprasangka buruk terus sama kamu, kayaknya si Andi perlu dikasih pelajaran" Sasa malah mengompori Yanti.
__ADS_1
"Iya Sa kayaknya kamu memang benar, mulut si Andi perlu dikasih pelajaran biar gak mikir negatif terus
terhadap orang lain" Yanti menatapku tajam membuatku bergidik ngeri.
"Apaan sih Sa, jangan jadi kompor deh mendingan sekarang Lo diam aja disitu jangan banyak omong" aku memarahi Sasa.
"Apa kamu bilang, kamu nyuruh aku diam, ayo deh kita berantem sekarang, sini maju Lo" Sasa malah
menantang aku untuk berkelahi.
Mana mungkin aku bertengkar dengan cewek secantik Sasa, lebih baik aku diam dan mengalah daripada aku harus bertengkar dengan Sasa.
"Kenapa diam aja, Lo takut ya sama gue" Sasa masih berkacak pinggang di depanku.
"Terserah kalian berdua deh, mentang-mentang disini gue cowok sendiri terus kalian mau menang sendiri
gitu, lebih baik gue diam aja lah" aku cemberut dan membuang muka agar tidak menatap mereka berdua.
Akhirnya kita bertiga saling diam dan mengakhiri pertengkaran yang tidak jelas ini, karena kalau diteruskan juga tidak akan pernah ada ujungnya sampai kapanpun.
"Gimana apa kalian berdua mau lanjut sekarang apa nunggu nanti sore sekalian" aku bertanya kepada Yanti dan Sasa, karena sekarang kita adalah tim jadi
tidak boleh ada yang mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuan yang lain.
"Terserah" Yanti menjawab dengan sangat acuh.
"Sukurin" Sasa malah mengejekku.
"Udah dong kalian berdua ngambeknya, kita kan bestie sekarang ini" aku memasang wajah melas.
"Kamu itu gimana sih, bukannya kamu sudah berjanji akan meminta maaf kepada Yanti setelah dia
menjelaskan semuanya, tapi ini apa kamu tidak pernah mau mengakui kesalahan kamu sendiri" Sasa memarahiku.
Iya aku ternyata baru ingat kalau aku belum meminta maaf kepada Yanti, karena aku sudah menuduh dia yang tidak-tidak, seharusnya aku peka dan sadar, tapi aku malah lupa.
"Oh iya, aku lupa tentang itu maafkan aku ya Yan karena tadi aku berfikiran buruk tentang kamu, padahal kamu tidak melakukannya, bahkan tadi
aku sempat memarahi kamu saat baru datang kesini padahal kamu membawakan kami makanan yang
begitu lezat" aku menatap Yanti lalu bicara dengan serius karena aku sekarang memang lagi bersungguh-sungguh dalam mengakui kesalahan yang aku buat.
"Makanya jangan selalu berpikir negatif terhadap orang lain karena apapun yang kamu pikirkan itu belum tentu benar adanya, jangan seperti itu" Yanti menasihati aku dan aku mendengarkan dia dengan baik karena memang aku saat ini bersalah.
"lya Yan aku juga tau mangkanya aku sekarang mau minta maaf sama kamu, atas kesalahan yang aku perbuat tadi, tadi tuh aku lapar sekali jadi aku
gak bisa berfikir dengan baik ya mungkin itu juga karena efek lapar" aku tersenyum kearah Yanti dan Sasa.
"Halah tadi aku juga lapar Yan seperti kamu tapi aku gak pernah tuh berpikir negatif tentang Yanti, kamu aja yang selalu berpikir negatif terhadap orang lain" Sasa malah mengompori Yanti agar tidak memaafkan aku.
Untung saja aku sayang sama Sasa, kalau tidak udah aku sumpal tuh mulutnya, bukannya bantuin malah jadi kompor antara aku dan Yanti, bikin orang tambah marah aja.
"Kamu bisa diam gak Sa, orang aku lagi gak ngomong sama kamu kok malah kamu yang jawab sih, kan aku lagi ngomong sama si Yanti bukan kamu,
nemplok aja" aku memarahi Sasa tapi dia juga tidak akan peduli.
"Tuh lihat saja kelakuannya, dinasehati saja dia tambah marah bukannya mengakui kesalahannya,
dasar cowok" Sasa malah menjawab omonganku dengan ketus.
__ADS_1
"Udah, kok kalian malah berantem sih" Yanti melerai kita berdua.