
POV Gilang
Setelah si kakek pergi aku langsung terbangun dari tidur, dan aku baru sadar kalau barusan aku hanya mimpi, dan kenapa kakek mendatangiku lewat
mimpi, tapi mimpi itu sangatlah nyata aku masih ingat betul nasihat yang kakek berikan untukku.
"Ternyata aku hanya mimpi, dan kakek memberikan aku pesan lewat mimpi, maafkan aku kek aku akan tetap pada pendirian ku aku tidak akan pernah meninggalkan teman-teman ku di tempat terkutuk ini aku akan selalu berusaha melindungi mereka dan aku akan berusaha semampu ku untuk mengajak mereka keluar dari gunung ini" ucapku sambil menitikkan air mata.
Aku melihat ke luar gua dan ternyata hari sudah pagi, tadi malam ternyata aku tidur dengan nyenyak,
dinginnya angin malam dan banyaknya nyamuk ternyata tidak menggangu tidur ku sama sekali bahkan aku tertidur dengan sangat pulas, begitu pun dengan Heni dia juga sangat nyenyak bahkan
sekarang dia belum juga terbangun dari.
"Nyetak sekali heni tidurnya, sebaiknya aku cek tubuhnya apakah masih demam atau tidak" aku langsung memegang kening Heni untuk mengecek keadaannya apakah masih panas atau tidak.
"Alhamdulillah ternyata Heni sudah tidak demam, untung saja aku membawa kotak obat yang bisa
membantu kami saat seperti ini" gumamku mengucap syukur.
Aku sangat bersyukur dan sedikit lega karena Heni sudah tidak demam lagi, tapi sepertinya kondisinya masih lemas dia mungkin masih butuh istirahat, jadi sekarang aku tidak membangunkan Heni aku biarkan saja dia tertidur dengan nyenyak agar badannya kembali sehat dan tidak lemas lagi.
"Untuk kakinya udah sembuh belum ya, lebih baik aku cek saja dulu semoga sudah sembuh juga kakinya" aku langsung mengecek kaki Henj yang kemarin keseleo.
Aku memperhatikan kaki heni takut kalau makin bengkak dan tambah parah, kalau sampai itu terjadi Heni mungkin sementara waktu tidak bisa berjalan dulu.
"Alhamdulillah kakinya juga sudah tidak bengkak dan luka-luka yang ada di kakinya sudah sedikit mengering, semoga saja Heni sudah bisa berjalan
tanpa merasakan sakit pada kakinya"baku kembali memperbaiki posisi kaki Heni.
"'Sekarang apa yang harus aku lakukan, masak aku hanya diam saja disini tanpa berbuat apa-apa sedang kan kondisi Heni tidak memungkinkan
untuk melanjutkan perjalanan" aku bergumam sendiri.
"Lebih baik aku masak dulu, Heni harus sarapan agar dia bisa minum obat penurun demam lagi dan bisa
menambah tenaga nya" ucapku.
__ADS_1
Walaupun demamnya sudah turun tapi Heni harus tetap meminum obat penurun demam agar dia bisa
benar-benar sembuh dan nanti saat dalam perjalanan dia tidak kumat demamnya lagi.
Aku membuka ransel untuk melihatt persediaan logistik karena seingat ku masih ada stok dua mie instan lumayan bisa buat sarapan pagi ini dan tinggal
mikir buat makan nanti siang dan nanti sore, aku sudah sangat menghemat airbkarena takut kalau kita akan kehabisan air.
"Alhamdulillah, benar masih ada dua mie instan lumayan lah aku dan heni bisa kenyang pagi ini" ucapku dalam hati.
Aku langsung memasak mie instan yang aku bawa dari rumah nek Ngah karena hanya mie instan yang cara memasak nya gampang dan tidak memerlukan waktu yang lama, tinggal di rebus sebentar pasti akan matang.
Setelah mie instan sudah siap aku langsung membuat teh hangat untuk Heni agar bisa menghangatkan tubuh nya pasti tadi malam dia juga
kedinginan, dan setelah semuanya sudah matang dan sudah siap aku akan membangunkan Heni.
Saat akan membangunkan Heni, aku mulai kepikiran dengan Anton, Andi, dan Sasa apakah mereka sudah makan atau belum, apa mereka kelaparan atau bisa menemukan makanan untuk mengganjal perut mnereka dan apakah mereka kehausan atau tidak, aku sangat mengkhawatirkan keadaan mereka.
"Gimana ya keadaan mereka sekarang, kan mereka tidak membawa logistik sama sekali apa mereka bisa bertahan dengan semua ini, apa mereka tidak kelaparan dan kehausan" aku sangat sedih jika mengingat mereka.
membawa logistik ataupun keperluan lain untuk menginap di atas gunung, kita sama sekali tidak membawa tenda untuk tidur ataupun selimut kami tidak membawa sama sekali karena dari awal
kita berpikir hanya satu hari di atas gunung ini kami hanya mau melihat air terjun merah dan setelah itu langsung turun ke bawah ternyata semuanya tidak
sesuai rencana sama sekali.
"Heni bangun, ayo kita sarapan dulu biar kamu ada tenaga dan habis itu kamu bisa minum obat lagi" aku
menggoncang pelan tubuh Heni untuk membangunkan dia.
"Heni ayo bangun" aku melakukannya lagi karena tidak ada respon dari Heni.
"Apa ini udah pagi Lang?" ucap Heni menggeliat di tempat tidurnya.
"Iya ini udah pagi, ayo kita makanbdulu" ajak ku.
Dia langsung bangun daribtempatnya tidur dan langsung duduk menghadap ku sambil menguap dan di tutupi dengan tangannya.
__ADS_1
"Jam berapa ini Lang" Heni kembali bertanya.
"Baru jam 6 sih" kebetulan aku membawa jam tangan, dari dulu aku kemanapun pasti membawa jam tangan dan tidak pernah tertinggal karena kalau
memakai jam tangan aku jadi makin pede saja.
"Mangkanya hawanya masih dingin banget" dia melipat kedua tangannya.
"Nih aku buatin kamu teh hangat biar badan kamu bisa hangat, minum dulu sedikit habis itu kita sarapan" aku memberinya segelas teh hangat.
"Wah, pintar banget kamu tau aja kalau aku lagi pengen minum teh, emang hawanya dingin banget ya" Heni menerima teh dari ku dan langsung
meminumnya.
"Gimana segar kan, teh nya juga masih hangat jadi bisa menghangatkan tubuh kita" ucapku.
"Iya, kamu gak minum teh juga" tanya Heni.
"Iya, ini punya ku" aku menunjukkan gelas ku.
"Yaudah cepetan kamu minum mumpung masih hangat kan teh nya nanti kalau sudah dingin kan gak enak jadinya" Heni menyuruh ku untuk minum teh.
"Oke kita minum bareng" aku lalu meminumnya.
"Sekarang kita sarapan dulu ya biar ada tenaga dan biar tidak kelaparan nantinya" ucapku.
"Iya kamu benar, aku akan makan agar aku cepat sembuh dari demamku" jawab Heni.
Aku langsung memberikan Heni sepiring mie instan yang masih hangat agar dia memakannya.
"Nih mie nya sudah matang cepat kamu makan mumpung masih hangat" perintahku.
"Iya aku akan memakannya" dia menerima piring dariku Kami makan berdua dan walaupun ini hanya mie instan tapi sudah sangat nikmat bagi kami karena habis ini kita sudah tidak punya persediaan logistik lagi dan kita harus pintar-pintar putar
otak supaya kita bisa bertahan hidup di gunung ini.
"Enak juga mie buatan kamu" kata Heni sambil tersenyum
__ADS_1