Gunung Terlarang

Gunung Terlarang
BAB 105 Orang Ketiga


__ADS_3

Akhirnya Gilang dan Anton makan bersama, mereka makan ikan yang diberikan oleh Yanti sebelum Gilang


berangkat ke alam gaib ini, dan memang ikan itu sangat bermanfaat bagi mereka, Yanti memang sangat tau apa yang mereka butuhkan.


"Ikannya enak banget ini Lang, empuk banget dagingnya juga banyak, aku tuh tiga hari gak makan sama sekali, ini hari keempat kita di gunung larangan


ini dan aku tadi cuma makan sedikit itupun kakek yang memberikan aku makanan" Anton makan dengan sangat lahap, begitupun dengan Gilang karena dia juga sangat kelaparan.


"Oh iya kek, kenapa kakek tidak ikut makan, ikannya besar kok kek jadi walaupun kita makan bertiga pasti kita akan kenyang kek" Gilang menawari si kakek untuk ikut makan bersama.


"Tidak, kalian saja yang makan kakek sudah kentang, kalian berdua harus makan yang banyak untuk


menambah tenaga kalian, karena orang lapar itu tidak akan bisa berpikir dengan jernih" kakek tersenyum melihat mereka berdua.


"Masyaallah, makan ikan gini doang berasa kaya istimewa banget ya, padahal di rumah hampir setiap hari kita makan ikan tapi tidak ada yang istimewa sama sekali karena kita lupa untuk bersyukur,


di rumah pikirannya pokoknya makan sampai kenyang gitu aja, kalau disini kita makan gini aja udah seneng banget bahkan sangat bersyukur karena kita masih bisa makan" Anton sangat


menikmati makanannya.


Kakek langsung tertawa mendengar ucapan Anton, dia bahkan tidak menyangka kalau Anton bisa berkata seperti itu saat ini, memang manusia bisa berubah setelah mendapatkan cobaan yang berat seperti ini.


"Kalian ini, coba saja kalian tidak pernah merasakan kesusahan seperti ini kakek yakin kalian tidak akan pernah merasa bersyukur dengan apa yang kalian nikmati selama ini, jadi untuk kalian berdua dan semua teman kalian yang lain, kakek hanya berpesan syukuri apapun nikmat yang telah Allah berikan


untuk kalian, dan jangan pernah membantah ucapan orangtua kalian,ingat itu baik-baik setiap kalian akan


melangkah dalam kehidupan ini dapatkan dulu restu dari orangtua, jangan sampai lupa" si kakek menasihati Gilang dan Anton agar mereka lebih baik


lagi menjalankan kehidupan.


"Pasti kek, ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk kehidupan kita kedepannya, kita akan


lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan kita akan selalu menyertakan doa orangtua di setiap


langkah yang akan kita ambil" Anton tersenyum kearah kakek.

__ADS_1


Sekarang Gilang dan yang lain sudah merasakan susahnya bertahan hidup sendiri, dan mereka juga sudah mendapatkan teguran karena tidak mengindahkan peringatan dari orangtua mereka, hidup memang berproses dan kalau mereka tidak merasakan semua cobaan ini pasti mereka sampai saat ini tidak akan bisa bersyukur dengan apa


yang mereka miliki.


"Kek, Gilang sekarang sudah lebih baik, apa kita akan melanjutkan perjalanan sekarangjuga, karena Gilang


takut ini akan membuang waktu apalagi sebentar lagi sudah sore, jadi waktu kita semakin sedikit kita harus mencari pintu keluar itu secepatnya sebelum matahari terbenam" Gilang berusaha untuk menguatkan diri.


"Apa kamu yakin kalau kamu sekarang sudah baik-baik saja dan sudah kuat untuk berjalan, lagian kita berhenti belum ada 30 menit, kamu juga baru


sadar dan baru juga selesai makan, apa kamu yakin dengan keputusan kamu itu" si kakek bertanya kepada Gilang dan memastikan keadaan Gilang saat ini.


"Aku sangat yakin kek, keadaan ku saat ini memang sangat baik kek, kakek tidak perlu mengkhawatirkan keadaan ku, sekarang yang lebih penting adalah


kita harus segera keluar dari alam gaib ini dan kita harus segera kembali ke gunung larangan untuk menemui teman-teman kita kek" Gilang masih tetap


dengan keputusannya yaitu melanjutkan perjalanan sekarang juga.


"Baik kalau memang kamu sudah yakin, mari kita jalan sekarang juga, lagian pintu itu tidak terlalu jauh kok dari sini, jadi kalian ikuti saja langkah kakek dari belakang, kakek akan membantu kalian" kakek langsung berdiri dan diikuti oleh Gilang dan Anton.


persembunyian, mereka selalu mengawasi gerak-gerik Gilang, Anton dan si kakek.


"Kenapa aku sangat merinding sekarang ya, seperti ada yang mengikuti kita dari tadi, kok aneh banget ya


padahal disini tidak ada siapapun selain kita" Anton menggaruk tengkuknya karena merinding.


"Ya kita memang sedang diawasi saat ini, mangkanya kita harus hati-hati karena mereka bisa menyerang kapanpun, mereka sedang mencari titik


lemah kita, ayo Terus berjalan dan kalian harus siap kapanpun untuk bertarung" si kakek memperingatkan


Gilang dan Anton agar terus waspada.


"Mana kek, dari tadi aku perhatikan tidak ada yang mengawasi kita sekali, karena disini memang sangat sepi bahkan hanya ada kita bertiga tidak ada lagi" Gilang ikut bicara karena dia memang tidak melihat siapapun.


"Itu karena memang kamu tidak bisa melihat mereka cucuku, mereka bahkan sangat banyak sekali, oh iya

__ADS_1


nanti kamu gunakan kekuatan kamu yang waktu itu, karena kalau kamu hanya mengandalkan ilmu beladiri kamu akan kwalahan dalam men ghadapi


mereka" kakek memberitahu Gilang.


"Tapi kek, setelah itu Gilang akan langsung tumbang kek, apa yang akan terjadi setelahnya, nanti Gilang tidak bisa kembali kalau Gilang tumbang dan


kehilangan kesadaran, siapa yang akan menolong Gilang" Gilang merasa takut karena waktu dia berubah dia langsung tidak sadarkan diri setelah mengalahkan musuhnya dan dia takut itu akan terjadi lagi.


"Percaya sama kakek, karena kakek tidak akan memberikan kamu jalan yang salah, jangan takut karena kakek akan selalu menolong kamu saat ini kita benar-benar memang tidak punya pilihan lain karena waktu kita sudah semakin sedikit, sebenarnya kita memang bisa melawan mereka menggunakan tenaga kita sendiri tapi itu akan Sangat lama sekali, sedangkan sebelum matahari terbenam kalian


harus sudah kembali sebelum pintu alam gaib tertutup sempurna" kakek menjelaskan dengan sebenar-benarnya agar Gilang memahami apa yang dia katakan.


Gilang terlihat kebingungan mungkin dia memang takut kalau dia akan merasa lemah seperti kemarin, tapi disisi lain dia juga takut kalau dia akan


kehabisan waktu dan tidak akan pernah bisa kembali ke alamnya. Dan itu artinya dia tidak akan bisa kembali untuk selamanya dan akan menjadi penghuni alam gaib ini sampai kapanpun bahkan


kalau dia mati tidak akan ada yang bisa menemukan mayatnya dan dia juga akan menjadi arwah penasaran.


"Berubah gimana sih Lang, kok aku jadi bingung emang kamu bisa berubah menjadi apa, Ultraman atau Hulk atau apa bingung aku tuh" Anton yang


mendengar kakek dan Gilang bicara manjadi bingung karena dia tidak mengerti.


Memang Anton belum pernah melihat Gilang berubah karena waktu itu yang tau adalah Andi, Sasa dan juga Heni jadi wajar saja kalau Anton kebingungan.


"Lo kalau ngomong bisa aja sih Ton, kita itu lagi dalam keadaan genting bisa-bisanya Lo malah ngelawak disini sih" Gilang sedikit kesal kepada Anton.


"Ya kan gue nanya Lang" jawab Anton asal.


"Hulk sama Ultraman itu bukan nyata, kan Lo tau sendiri gimana sih, masak iya ada Hullk di dunia nyata sama Ultraman, gak sekalian Spiderman gitu biar mereka semakin lengkap" Gilang malah menanggapi becandaan Anton.


"Hahaha, bisa aja sih Lang orang gue nanya serius juga malah dia begitu jawabannya" Anton malah tertawa.


"Udah, nanti kamu juga akan tau sendiri semuanya, tanpa bertanya lagi karena walaupun dijelaskan kamu juga akan susah mengerti karena ini memang


diluar logika manusia, jadi lihat aja nanti" Gilang menjawab dengan singkat ucapan Anton.

__ADS_1


Anton hanya diam saja karena dia juga tetap tidak akan mengerti, jadi dia nurut saja dengan ucapan Gilang dan si kakek, sebenarnya Anton juga sangat penasaran apa hubungannya si kakek sama Gilang karena mereka berdua lihat sangat dekat sekali.


__ADS_2